NovelToon NovelToon
SEKALI TEMBAK JADI ANAK!

SEKALI TEMBAK JADI ANAK!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: SariRani

Guntur Abimanyu, seorang CEO muda yang hampir berumur 30 tahun dipaksa untuk menikah tapi tidak ingin menikah.

"JIKA AKU MENIKAH HANYA UNTUK MENGHASILKAN ANAK, AKU BISA LAKUKAN SEKALI TEMBAK KEPADA WANITA MANAPUN! JADI TIDAK PERLU MENIKAH" serunya kepada kakek serta ayah ibunya.

Rustam sang kakek yang memegang kendali perusahaan ingin cucu laki laki satu satunya ini segera menikah. Begitupun Randi dan Ela, orang tua Guntur juga ingin segera menikahkan putra sulungnya itu.

"Baiklah kalau begitu, buktikan kemampuan menembak benihmu kepada wanita yang kakek dan orang tuamu pilih" ucap sang kakek.

"OKE SIAPA TAKUT!!" seru Guntur menerima tantangan.

Tapi ternyata takdir berkata lain, setelah kesepakatan ini dibuat, Guntur bertemu dengan wanita yang meninggalkannya dengan cinta terdalam.

Jadi siapa yang menang dalam taruhan keluarga ini? Apakah wanita yang kembali datang atau wanita yang dipilihkan kakek serta orang tuanya, mampu membuat Guntur membuktikan keperkasaannya? Baca novel ini dan dukung terus yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MUALNYA PRIA DEWASA

Setelah Guntur pulang, Ratih pun masuk ke panti dengan raut wajah gundah.

Mendengarkan ucapan dan harapan pria itu mengenai kemungkinan kehamilan yang bisa terjadi membuat Ratih kepikiran.

"Bagaimana jika aku tidak hamil? Bagaimana jika aku benar benar hamil?" pertanyaan kebalikan ini berputar dikepalanya.

Dengan pikiran penuh ragu ini, Ratih memilih membersihkan diri lalu bersiap siap berkemas untuk besok pagi keberangkatan ke Batam serta mengajukan pengunduran diri dari yayasan panti.

Ia juga harus berpamitan kepada sang ibu, pagi pagi, saat ibunya sudah bangun.

Ratih mempersiapkan diri untuk menjalani hidup lebih baik. Berjuang demi cinta.

.

Di Paris, Yulanda mendapatkan panggilan dari sang ibu, Dora.

"Kamu harus pulang minggu ini, mommy udah ada janji sama Jeng Ela bakal kenalin kamu sama Guntur Abimanyu" paksa Dora.

"Aku kan udah pernah bilang ke mommy dan daddy, please jangan paksa aku untuk menikah dengan pria yang tidak aku cintai. Jika kalian tidak mau menerima Faris, maka aku tidak akan pernah menikahi siapapun" tolak Yulanda.

"Astaga Yulanda, mommy sampai gak habis pikir sama kamu ya. Selama ini mommy dan daddy sudah berusaha memberikan apapun untuk kamu, apa yang kamu minta selalu kami turuti, tapi sekali kami tidak setuju dengan permintaanmu terkait seorang pria, kamu melupakan kami sebagai orang tua?" serang Dora.

"Aku tidak bermaksud begitu, mom. Aku sudah 28 tahun, aku wanita dewasa. Aku tidak ingin menikah karena harta" ujar Yulanda.

"Tapi pria miskin itu pasti nikahin kamu karena harta. Kapan sih kamu sadarnya hah?" ujar Dora.

Yulanda menghela nafas panjang. Kalau dia melawan terus, hati mommynya tidak mau melunak.

"Baiklah. Begini saja, bagaimana jika Guntur Abimanyu, mommy minta untuk datang ke Paris? Beneran minggu ini aku ada fashion show, gak mungkin aku tinggal" ucap Yulanda.

"Ide bagus. Ya boleh kalau begitu, seharusnya Jeng Ela juga setuju" sahut Dora dengan antusias.

"Yaudah ya mom, aku harus menyelesaikan tugasku yang kubawa pulang karena besok Senin ada meeting pagi. Mommy dan daddy sehat sehat ya, mungkin ketika Guntur kesini, kalian bisa ikut" ujar Yulanda.

"Okeh, nanti mommy sampaikan ke daddy, semoga aja dia mau ke Paris lagi karena minggu lalu kan sudah dari sana" sahut Ela.

"Oke, ma" ujar Yulanda.

Panggilan pun berakhir.

Yulanda menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang sambil memijat pelipis yang terasa pusing.

"Ck..mommy dan daddy tidak akan menyerah untuk menjodohkan ku" lirihnya.

Drrrt...drtttt...

Ternyata panggilan dari sang kekasih.

"Halo sayang" sapa suara lelaki saat Yulanda menerima panggilan itu.

"Hai" jawab Yulanda lemas.

"Kamu kenapa yang? Lagi gak enak badan apa banyak kerjaan?" tanya Faris yang bisa mengenali nada wanita yang diteleponnya.

"Hmm..capek banget aku" jawab Yulanda.

"Capek apa? Perlu aku ke Paris kah?" ujar Faris.

"Besok Senin, nggak mungkin kalau kamu kesini sayang. Malah kamu yang capek dijalan" sahut Yulanda.

"Nggak capek. Aku otw sekarang" ucap Faris.

"Nggak usah sayang. Aku gapapa, cuma lagi pusing aja. Habis ini aku makan malam terus minum vitamin" tolak Yulanda.

Faris menghela nafas panjang.

"Kalau ada masalah bilang aku. Meskipun aku gak bisa bantu banyak tapi setidaknya gak jadi beban kamu sendiri" minta pria itu.

"Apa ada masalah sama orang tua mu lagi?" lanjutnya.

"Hmmm...ya selama mereka tidak merestui kita, ya itu masih jadi pikiran buatku..aku gak mau menikah kalau gak sama kamu" ujar Yulanda.

Faris terdiam. Ia juga sangat ingin menikahi Yulanda tapi tidak bisa memaksa orang tua dari kekasihnya itu menerima status sosialnya.

Keduanya jadi terdiam beberapa saat, hingga Yulanda menyeletukkan sesuatu yang membuat Faris terkejut.

"Bagaimana jika aku hamil?" ucap Yulanda.

Deg.

Faris langsung berdiri dari duduknya.

"Ka..kamu serius yang? Ka.kamu..hamil?" tanya baliknya.

"Gak tau...aku udah telat 2 minggu dan sebelum kemarin, kita ngelakuinnya tanpa pengaman kamu inget?" jawab Yulanda.

Faris memutar ingatan sekitar 3 minggu yang lalu saat Yulanda mampir ke kosannya di Oerlans.

"Aku ke tempatmu sekarang, kita bahas ini secara langsung" sahutnya lalu mematikan ponsel.

Faris mengambil jaket dan menuju stasiun karena masih ada kereta menuju Paris jam 7 malam. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam.

Yulanda pun menghela nafas panjang saat panggilannya diputus sepihak oleh Faris.

Lalu ia melihat perutnya dan spontan tangannya terangkat untuk ia letakkan disana.

"Kenapa aku baru sadar jika aku telat datang bulan hari ini? Apa pusingku seharian ini karena sesuatu sudah tumbuh disini?" lirihnya.

"Apapun hasilnya, jika memang aku hamil, aku akan menjaganya. Jika tidak ya sudah" lanjutnya.

Menyadari jika Faris akan datang satu jam lagi, Yulanda memasak makan malam untuk dirinya dan sang kekasih. Yang tadinya malas makan, sekarang malah semangat mau makan.

1 jam kemudian, Faris benar benar datang ke apartemen Yulanda dan hal yang tidak diduga oleh sang kekasih adalah pria ini membawa 4 alat testpack berbagai merk.

"Astaga, kamu langsung beli ini yang?" tanya Yulanda tak habis pikir.

"Aku ingin segera memastikannya. Aku tidak akan melepaskanmu jika benar benar hamil. Meskipun aku akan dihajar oleh keluargamu, aku akan tetap menikahimu segera" jawab Faris serius.

Yulanda tersenyum lalu menggandeng tangan pria itu.

"Yaudah, kita makan dulu aja, baru setelah itu aku akan pakai alatnya" ujar pemilik apartemen.

"Hmm, baiklah" sahut Faris.

Lalu mereka duduk berhadapan di kursi meja makan.

Yulanda memasak nasi goreng.

"Aromanya enak sekali, sayang" puji Faris yang moodnya naik seketika saat menghirup aroma masakan sang kekasih.

"Ya awas aja kalau kamu bilang gak enak, tak suruh pergi dari sini" canda Yulanda.

"Hahaha kamu memang bisa membuat moodmu membaik secepat ini, i love you" sahut Faris.

"I love you too, sayang" balas Yulanda.

Namun saat Faris akan menyuapkan nasgor itu ke mulutnya, tiba tiba perut bergejolak alias mual.

"Kenapa mendadak mual begini?" batinnya.

Melihat Yulanda sudah menikmati masakannya, Faris tidak ingin mengecewakan usaha wanita itu untuk memasakkannya.

Ia paksa memakan nasgor tersebut sambil menahan mualnya.

Tak lama kemudian, Yulanda sudah menghabiskan nasgornya dan mendapati Faris belum menghabiskannya. Padahal kalau makan pria itu selalu cepat habis dibanding dirinya.

"Nasi gorengnya gak enak ya yang?" celetuk Yulanda.

"Nggak kok...enak banget..." sahut Faris.

"Tapi kenapa tumbenan kamu makannya pelan dan terlihat terpaksa gitu? Gak kayak biasanya" ujar Yulanda.

"Hmm...gak tau nih..tiba tiba perut ku mual" jujur Faris karena udah dibatasnya.

"Mual?" heran Yulanda.

Belum juga bisa menjawab, Faris berlari menuju kamar mandi dan memutahkan isi perutnya di closet.

Yulanda pun menyusul pria itu.

Hoeeek!! Hoeek!!

Suara Faris muntah.

Karena pintu kamar mandi tidak ditutup, Yulanda bisa masuk dan memijat tengkuk leher pria itu.

Setelah merasa lega, Faris membersihkan mulutnya dengan air westafel.

Yulanda memperhatikan wajah pucat Faris.

"Mau ke klinik?" tawarnya.

Faris menggelengkan kepala.

"Gapapa kok, mungkin masuk angin biasa karena baru pertama kali keluar malam naik kereta dari Oerlans ke Paris" ujarnya.

Yulanda menuntun Faris untuk duduk di ruang tengah.

"Kamu istirahat disini dulu" minta Yulanda.

"Mau kemana yang? Aku lemes banget" manja Faris mendadak.

"Bersihin meja makan sama habisin nasi gorengmu, mubazir kalau kebuang" sahut Yulanda.

"Gapapa kan aku makan sisa nasi gorengmu?" lanjutnya.

"Ya gapapa banget..kalau aku gak kayak gini, udah habis tuh jatahku" ujar Faris.

"Tunggu disini ya, mau aku ambilin air?" tawar Yulanda lagi.

Faris menggelengkan kepala.

"Gak usah yang. Aku bisa ambil sendiri. Maaf ya gak bisa bantu bersihin meja makan kali ini" ujarnya.

Yulanda tersenyum dan mengelus kepala pria itu kemudian berjalan menuju meja makan lalu melanjutkan menghabiskan nasi goreng dipiring Faris sebelum ia bereskan semua.

Sedangkan Faris memilh berbaring di sofa ruang tengah apartemen sang kekasih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!