NovelToon NovelToon
Istri Seksi Tuan Arnold

Istri Seksi Tuan Arnold

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Duda / Aliansi Pernikahan / Nikah Kontrak / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Putrichou

"Menikahlah dengan ku dan berikan aku keturunan. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan, termasuk kesejahteraan,"

Anjani tidak menyangka di usianya dua puluh tahun, harus menghadapi tawaran gila dari pria konyol yang dia bantu. Di sisi lain ia ingin memperbaiki hidup, sedangkan di sisi lain ia tidak ingin melakukan hal bodoh itu.

Namun melihat pengorbanannya Arya, keputusan besar akhirnya ia ambil untuk mereka berdua, bersiap menikah dan memberikan Arnold keturunan. Akankah mereka berdua berubah pikiran dan menjalin hubungan tanpa aliansi apapun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putrichou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENYUSUL ARNOLD

"Arya kembalilah ke kota,"

Arya, pria itu tertegun mendengar permintaan dari seorang di seberang telepon. Suara itu berat seperti menahan sesuatu, ia tak tahu pasti apa itu.

"Arya?"

Arya tersadar dari lamunannya. menatap langit malam dari rumah sederhananya, rumah yang sudah ia renovasi agar nyaman untuk di tempati kembali. Sudah hampir tiga Minggu lamanya ia tak bertemu dengan Anjani, itu bukan kemauannya, tapi sebuah kesepakatan lama yang kembali mencuat ke permukaan.

Kesepakatan lama dengan Arnold. Ia mengenal Arnold bukan sekedar mengenal, walaupun Arya sudah menjadi anggota keluarga Airlangga secara sah, tapi pria itu enggan menaruh nama marga itu di belakang namanya.

"Aku tidak bisa,"

Terdengar helaan napas panjang di seberang sana. Ia tahu kalau permintaan dari pria di seberang telepon bukan sekedar permintaan semata. bila dirinya menyetujui untuk kembali ke kota, tepatnya ke keluarga Airlangga, maka dirinya harus merelakan desa asri. Ia tak bisa kembali ke desa kelahirannya.

"Adik mu sudah menikah dengan putra dari Fero Darmawangsa, kenapa kamu masih menolak untuk kembali?"

"Ayah, aku hanya belum siap."

Keluarga Airlangga Bukanlah keluarga asri Cemara, keluarga itu sungguh toxic. Putra semata wayang dari tuan Airlangga adalah seorang menyimpang, menyukai sesama jenis adalah sebuah kejahatan dan kriminal.

Arya memutus telepon sepihak, meremat ponselnya dengan kuat untuk merendam amarahnya. Ia takut kalau Anjani mengetahui rahasianya, rahasia yang ia simpan selama ini, yaitu menjadi Keluarga dari Keluarga orang lain. Arya hanya di tawarkan dan di berikan kesepakatan tanpa balasan.

"ARYA!"

Arya terkejut saat seorang wanita seumuran dengannya melambaikan tangan dari luar rumah. Arya memutar matanya malas dan terpaksa menyapa kembali. "Iya, Dira."

"Kamu kenapa ngelamun dari tadi? Mikirin aku ya?" tanya Dira dengan menopang dagu di gerbang kayu rumah Arya.

Arya tertawa pelan, Dira adalah teman bermainnya dulu hingga sekarang, hanya saja Dira sudah pulang pergi ke kota untuk bekerja, tapi wanita itu tak kunjung menikah ataupun membawa calon pulang ke desa. Dira adalah keponakan dari Pak Harto, tak jarang Dira menginap di rumah Pamannya, hingga membuat mereka bertemu setiap hari.

"Kamu masih bisa menggoda ku ternyata ya?"

Dira tertawa lepas, "baiklah, aku pulang dulu ya."

Arya menatap kepergian wanita itu, ia jadi teringat dengan Anjani kembali. Dira adalah wanita yang cukup secara materi dan ekonomi, putri tunggal dan seorang yatim sejak remaja, sama seperti dirinya dan yang membedakan hanyalah Dira memiliki sanak saudara.

DRTTT ...

Ponsel pria itu kembali berdering, menatap dengan datar layar ponselnya. Nathan Sakha Airlangga. Ia hanya menatap layarnya hingga kembali mati, beberapa detik kemudian kembali berdering.

"Iya, Ayah?"

"Apa yang harus Ayah lakukan agar kamu bisa kembali ke kota dan memimpin perusahaan ku, Nak?"

Arya terdiam, ini lah yang ia tunggu sedari tadi. Ia menyunggingkan senyum tipis dan tertawa pelan. "Apakah Ayah serius?"

"Iya, katakan apa kemauan kamu, Arya."

"Aku memiliki syarat."

...****************...

"Sayang, lihatlah ini. Kamu harus mencobanya!"

Anjani menatap banyaknya paperbag berbagai toko di hadapannya, sepertinya Jasmine habis berbelanja sendiri. Bik Santi tampak mengelap keringat dan memberikan segelas air sari lemon kepada Jasmine.

"Mama yang membeli semua ini?" tanya Anjani. Jasmine mengeluarkan semua isi paperbag dan menarik menantunya untuk duduk di sebelahnya.

"Mama berbelanja, kamu harus mencoba yang ini,"

Anjani semakin melongo saat Jasmine menyodorkan lebih dari tujuh paperbag lainnya, tak lama supir dan satpam datang dengan membawa berbagai macam ukuran dan warna paperbag. Anjani terdiam, hatinya menjerit ngilu melihat Jasmine dengan santainya membeli barang mewah tanpa melihat harga.

"Ma, ini semua ...." Anjani kehabisan kata-kata saat Jasmine kembali menyodorkan paperbag yang lebih banyak. Wajah wanita itu sangat senang, mungkin dirinya belum terbiasa di lingkungan Arnold, hingga sedikit terkejut melihat banyaknya belanjaan dari Jasmine.

"Ayo coba sana, Sayang." Anjani menurut dan masuk ke kamar mandi untuk mencoba gaun yang di berikan oleh wanita itu. Gaun pendek warna coklat muda yang sangat cantik. Setelah memakainya, Anjani menatap pantulan dirinya di cermin, lekuk tubuhnya benar-benar tercetak jelas. Ia tak pernah memakai pakaian terbuka dan seksi seperti ini.

"Sayang? Apakah cocok?" tanya Jasmine di luar sana. Anjani gelagapan dan bergegas keluar. Jasmine menatap penampilan menantunya yang sungguh cantik, bik Santi melongo melihat kecantikan istri dari Arnold.

"Omo, kamu sungguh cantik! Astaga, Bik cepetan video call putra ku!"

"Ma, jangan, Anjani malu." Jasmine menggerakkan jari telunjuknya, artinya Anjani tak bisa membantahnya. Anjani menghela napas dan hanya mengikuti langkah wanita itu dengan jalan yang kurang nyaman.

Bik Santi menyerahkan ponsel yang sudah terhubung ke Arnold. "Ma, kenapa ...."

"Arnold, lihat istri kamu!"

Anjani menunduk malu saat Jasmine memperlihatkan wajah Arnold. Pria itu seberang sana pun sama, terbeku melihat kecantikan istrinya.

"Sayang?"

Anjani menadah sedikit, ia malu dan takut kalau Arnold akan marah kepadanya. "Iya, Mas?"

"Kamu sangat cantik," puji Arnold dengan suara berat.

Wajah Anjani memerah seketika, walaupun Arnold sudah sering memuji dirinya, Anjani tak bisa menahan malunya. Jasmine mendengus dan mematikan telepon sepihak.

"Nak, bawa lah semua paperbag ini." kata Jasmine dengan menarik satu lengan Anjani. Menyematkan kembali selang berlian indah di lengan menantunya.

"Ma, ini terlalu banyak."

Jasmine menggeleng, ia memiliki maksud lain memberikan Anjani semua barang mewah ini, bukan semata-mata ingin memperlihatkan kalau Anjani adalah menantu dan istri dari Arnold.

"Anjani, Tiara itu bisa saja berbuat nekat, jalan pikirannya pendek, jadi kamu harus berhati-hati dengannya."

Hati Anjani terasa mengganjal Jasmine menyebut nama Tiara. Ia tak tahu mengapa, ia merasa kalau Tiara bukanlah seorang yang bisa di remehkan.

"Kenapa, Ma?"

Jasmine terdiam sebentar. "Hanya suami mu yang bisa menjawab nya, Anjani."

Lagi dan lagi Anjani tak mendapatkan jawaban yang ia inginkan. Sebenarnya apa yang di sembunyikan oleh Arnold hingga Jasmine tak bisa mengatakan secara langsung.

"Baiklah, Ma. Terima kasih banyak,"

Di bantu oleh Bik Santi dan beberapa pelayan, Anjani melenggang pergi menuju kamarnya. Tak lama terdengar suara langkah kaki dari pintu mansion, mengundang tatapan penuh tanya dari Jasmine.

"Kamu sudah pulang?"

"Anjani di mana, Sayang?" tanya Fero setelah mengecup kening istrinya.

"Baru saja pergi ke kamar. Apakah ada sesuatu?"

Fero mengangguk, meminta Bik Santi untuk memanggil Anjani kembali. Anjani menyambut kepulangan Ayah mertuanya dengan suka cita.

"Ada apa, Pa?"

"Kemasi pakaian kamu, Nak."

Jasmine melotot tajam. "Papa mau mengusir Anjani?!"

Fero tersenyum tipis dan menggeleng. "Dia akan menyusul suaminya,"

"Apa?" Anjani tertegun mendengarnya. Ia akan pergi menyusul Arnold ke kota lain?

"Tapi kenapa tiba-tiba sekali?"

"Sayang, kamu tidak pernah muda saja." Fero melirik Anjani yang nanya mematung. "Papa akan mengantar kamu menemui Arnold.

"Ba ... Baik, Pa."

1
partini
pesikopet dia mah ,najani the next korban berikutnya OMG moga aja ga methong
partini
tekdung
partini
dua puluh tahun masih SMA Thor sehhh
partini: ok ,, soalnya jarang sih Thor di tempat ku lulus SMA umur 20th kebanyakan 18 dan 19 th
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!