NovelToon NovelToon
Celestia Online

Celestia Online

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Aksi / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: alicea0v

Seorang gadis terbangun di tengah rimbunnya hutan benua Vlagria tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai disana. Ini adalah dunia Celestia Online, sebuah MMORPG megah yang menjanjikan petualangan tanpa batas. Namun, bagi Alice, petualangan itu berubah menjadi teka-teki mematikan. Bisakah Alice pulang ke dunia nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alicea0v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC 1-Keberhasilan Atau Kekacauan

Keesokan harinya, saat fajar baru saja menyingsing menyentuh cakrawala, Alice terbangun oleh simfoni yang tidak biasa. Suara hantaman kayu dan sorak-sorai gotong royong merembes masuk melalui celah jendela tempatnya menginap.

Tak.. Tak.. Tak..

Bunyi palu yang beradu dengan kayu terdengar beruntun dari luar penginapan.

"Uuhhm... Xena? Vio? Suara berisik apa itu?" Alice menggeliat, suaranya serak khas orang yang baru saja ditarik dari alam mimpi.

Ia menoleh ke sisi kanan dan kiri, namun hanya menemukan bantal yang kosong. Alice bangkit berdiri, berjalan dengan langkah gontai menuju jendela. Begitu ia menyibak tirai, matanya seketika membelalak lebar. Kantuknya hilang tak berbekas.

​Di sebuah lahan kosong yang tak jauh dari pusat desa, puluhan warga sedang sibuk bekerja bagaikan koloni semut yang teratur. Ada yang mengangkut batu besar, memahat kayu jati dengan teliti, hingga meratakan tanah dengan semangat membara.

Alice segera membuka pintu dan berjalan ke halaman, di mana ia mendapati Violet sudah berjaga di sana.

​"Apa yang sedang mereka lakukan?" tanya Alice heran, matanya menyapu kesibukan yang luar biasa itu.

​"Mereka sedang membangun kuil untukmu, Nona Kelinci," sahut Violet pelan. Ia duduk dengan santai di atas pagar kayu sembari mengamati pekerjaan warga sejak fajar belum menyentuh bumi.

​"Kuil?!" Alice tertegun. "Bukankah ini terlalu berlebihan?"

"Ufufufu... Mungkin saja, tapi bukankah ini menyenangkan? Semakin banyak kuil, semakin banyak persembahan yang datang dalam bentuk makanan atau... Darah segar?" Violet menyeringai bahagia, membayangkan aliran orang yang akan memuja sosok di sampingnya itu.

"Ah... Ya.. Hebat sekali.." Balas Alice menatap penduduk yang bekerja dengan tatapan malas.

​Ia mencoba menghampiri salah satu warga untuk menghentikan kegilaan ini.

"Maaf.. Pak, bisakah pembangunan ini dihentikan?" Tanya Alice pada seorang warga.

Pertanyaan itu memicu reaksi yang janggal. Seketika, aktivitas di sana berhenti. Pria itu menoleh, menatap Alice dengan mata bergetar, lalu langsung jatuh berlutut.

"Dewi?? Am... Ampuni kami..!!! Kami hanya membangun kuil suci engkau, seperti Kuil suci yang sudah berdiri di Surga...!!" Pria itu bersujud, tangannya gemetar hebat di atas tanah.

"Kuil? Di surga?" Tanya Alice heran.

"Tentu saja dewi yang maha pengasih!!! Teman anda mengatakan bahwa disurga kuil telah menjulang tinggi sampai ke langit-langit. Kami hanya membangun kuil semampu kami dewi..!!! Maafkan ketidakmampuan kami...!!!" Pria itu bergetar hebat, tak berani sedikit pun mengangkat wajahnya.

Di belakangnya, penduduk lain ikut berlutut ketakutan. Alice menghela napas, rasa kasihan mulai merayap di hatinya. Daripada memperkeruh suasana, ia terpaksa melegitimasi pembangunan itu.

"Tidak apa-apa pak.. Berdirilah, ayo semua berdiri..!!" perintah Alice dengan senyum canggung yang dipaksakan.

Warga saling pandang dengan ragu, namun beberapa detik kemudian mereka bangkit dengan semangat yang lebih berkobar.

"TERIMA KASIH DEWI YANG MAHA PENGASIH!!!" teriak mereka serempak.

Alice membalas kata-kata mereka dengan senyuman yang anggun, sangat anggun dan menyimpan maksud tersembunyi.

"Kalau aku boleh tahu, siapa yang memberikan informasi tentang kuil di surga tadi?" ucapnya ramah.

"Teman dewi yang memberi tahu kami tadi pagi, sebelum ia berangkat bersama Tuan Arthur dan yang lainnya membeli ramuan mana di desa sebelah." ujar pria itu jujur.

"Xena? Hmmm siapa lagi? Tunggu dulu? Apa memang benar Xena? Oke, tenang Alice. Mari kita lihat sisi baik dan buruknya dulu sebelum menghukum si ceroboh itu." Batin Alice penuh pertimbangan.

"Terima kasih pak, selamat bekerja." Alice tersenyum sekedarnya dan berbalik melangkah menuju Violet yang sejak tadi memperhatikan. Ia lalu duduk di bangku dekat Violet.

Warga yang melihat Alice duduk memperhatikan mereka, membungkuk hormat, lalu bekerja 2 kali lebih cepat dengan semangat yang buta. Mulai dari membangun tiang fondasi, memeriksa kualitas lantai, serta mengukir batu, semuanya di kerjakan dengan sangat teliti.

"Hebat kan Alice.. Disana nanti akan dibangun patung dirimu!" Violet menunjuk ke arah pintu masuk desa.

"Patung? Siapa yang mengizinkan itu?" Tanya Alice tenang.

"Tentu saja Xena, dia bahkan menerka-nerka berapa ukuran pinggul dan uuhhmm" mulut Violet di bekap Alice yang wajahnya sudah memerah.

"Apa yang kau katakan Vio? Ini... Ini pencemaran estetika...!! Ya... Benar..!!" ucap Alice gugup sembari melepas bekapannya. Jantungnya berdegup kencang, wajahnya merona.

Alice lalu melirik kesana kemari, mencari sosok Xena di Desa. Namun ia tidak menemukan tanda-tanda keributan yang biasanya terjadi akibat tingkah penyihir ceroboh itu.

"Apa Xena benar-benar ke desa sekitar Vio? Arthur dan Albertio juga?" Alice bertanya pelan, wanita itu sudah mulai tenang. ia terpaksa menerima semua kefanatikan ini sekali lagi.

"Benar nona kelinci, Mereka menjalankan perintahmu semalam." Violet tersenyum senang. Perlahan ia mendekatkan wajahnya, membisikkan sesuatu ke telinga Alice. "Menyebarkan ajaran Dewi sambil berdagang. Sssrp.. Sepertinya Desa ini akan jadi ramai setelah ini." Violet menjilat telinga Alice lembut, Membuat gadis itu merinding dan terdiam seketika.

"Vi... Vio?.." Alice menahan rasa geli di telinga kanannya. Tangannya mencengkram sisi bangku hingga buku jarinya memutih.

Violet menjauhkan wajahnya dari Alice sambil tersenyum simpul. Membuat wanita itu harus mengatur nafas sedemian rupa demi menenangkan diri.

Alice menghela nafas pelan.

"Huuuh... Baiklah, aku mengerti.." Kemudian menatap warga Desa yang bekerja. "Semoga mereka tidak menimbulkan lebih banyak masalah lagi." Batinnya.

Krriiiukk...!!!

Violet menatap perut Alice dengan mata terbelalak. Panggilan alam memanggil mereka berdua, bunyi perut yang lapar itu memicu tawa dari kedua buronan kerajaan paling absurd di Eltra Celestia.

"Ahaha... Ayo vio, kita makan dulu." Alice berdiri dengan tenang, berjalan ke arah warga desa di ikuti oleh Violet yang tersenyum tipis. Kebutuhan biologis mereka lebih penting dari pembahasan politik manapun.

Tidak jauh dari Desa Tura, sebuah kereta dagang bergerak lambat menyusuri jalan setapak menuju Desa Vhalha. Xena, Albertio, Arthur, dan seorang kusir duduk di atasnya. Arthur menatap Xena dengan pandangan lelah, penyihir itu sedang sibuk mencorat-coret daftar belanjaan di bukunya.

"Mana potion murni.. Jantung beruang, hmmm... Lidah buaya darat." Gumam Xena serius mencatat daftar item pada bukunya.

Albertio mengernyitkan alis mata sejenak, "Lidah apa? Hah... Xena, berhentilah bermain-main apa yang kau cari tidak ada di Desa kecil itu." keluh Albertio, menyerah pada sikap Xena yang konyol.

"Memang kau sudah pernah ke sana? Belumkan?" Tanya Xena balik dengan wajah polos.

"Biarkan dia Berimajinasi, Albertio. Kita fokus saja pada penjualan makanan dan berita Tentang dewi yang akan kita sebarkan." Arthur memijat pelipisnya, kepalanya mulai terasa berat melihat tingkah Xena.

"Kau butuh itu semua untuk apa?" Albertio menopang dagunya dengan satu tangan menatap Xena.

"Aku butuh jantung beruang untuk menambah vitalitas! Lidah buaya untuk vitamin rambut!" Balas Xena mantap.

"Tidak ada warga yang memburu beruang di Desa kecil itu, bisa bertahan hidup saja mereka sudah bersyukur Xena." balas Albertio tenang.

"Kau ini mudah menyerah ya, pantas saja kau tidak punya pacar!" Xena dengan polosnya menyiram minyak ke dalam api.

Kening Albertio berkedut hebat. Ia menarik napas panjang, menahan diri agar tidak melempar penyihir itu dari kereta.

"Hmmmm..... Fuuuuh.."

Arthur menatap lelah ke depan jalan.

"Berapa lama lagi kita sampai?" tanya arthur tenang.

"Tidak lama lagi tuan Arthur, sebentar lagi kita akan sampai." Kusir menjawab sambil fokus ke depan.

Di kejauhan, terlihat siluet Desa Vhalha. Desa yang cukup asri, pepohonan hijau nan rimbun berjejer di sepanjang jalan menuju Desa. namun tetap saja tidak seindah kota-kota sekitar yang lebih maju.

Tidak butuh waktu lama bagi kereta dagang itu sampai di gerbang Desa. Kendaraan itu tidak berhenti, tetap berjalan pelan, ditarik oleh 2 ekor kuda menuju Alun-alun desa Vhalha. Warga Desa yang mereka lewati menatap mereka tajam, ada yang waspada, ada yang bingung karena melihat kesatria seperti Arthur malah mengunjungi Desa kecil mereka, ada juga yang segera menutup pintu rumah.

Arthur dan rombongan berhenti di tengah Alun-alun desa, ia turun perlahan dengan zirah beratnya, diikuti oleh Albertio dan Xena. lalu menatap ratusan pasang mata dari jarak 50 meter.

Kepala Desa Vhalha maju dari kerumunan warga. "Tuan kesatria, ada apa gerangan anda datang ke Desa kami? Bukankah kami sudah membayar pajak Desa minggu lalu?" tanya kepala Desa Sopan.

Arthur mengangkat satu tangan ke udara, menunjukkan sikap yang tidak mengintimidasi pada warga yang menonton.

"Kepala Desa, saya dan rombongan saya kemari ingin berdagang. Juga ingin menyampaikan suatu hal yang penting." ucap Arthur mantap.

Di balas oleh anggukan cepat dan canggung dari kepala Desa.

"Ba.. Baik... Jika tuan kesatria hanya ingin berdagang, silahkan.. Dan sampaikanlah hal yang ingin tuan sampaikan." Kepala Desa mempersilahkan.

Arthur melangkah maju ke tengah-tengah kerumunan warga dengan postur tegap, diikuti oleh Xena dan Albertio di sisi kiri dan kanannya. Lalu Arthur menancapkan pedang besarnya ke atas tanah, memegangnya dengan dua tangan.

Traaang...!!!

Penduduk Vhalha pada awalnya saling lirik penuh kegelisahan, namun Arthur langsung membuka suara lantang dan berwibawa.

"Penduduk Desa Vhalha, kami disini datang tanpa niat buruk sedikitpun!!" teriak Arthur, matanya menyapu kerumunan warga.

"Kami hanya ingin berdagang, dan menyampaikan berita baik bagi kalian semua!" Tambah Arthur, di iringi oleh suara Xena, gadis itu bermaksud mengiyakan perkataan Arthur. "Hummp!!" Ucap Xena bersemangat, tersenyum menggemaskan.

Bisik-bisik warga mulai terdengar riuh,

"Berita baik? Apa maksudnya?"

"Paling hanya janji kosong seperti biasanya.. Kerajaan selalu begitu!"

"Benar juga, jangan tertipu."

"Tapi jarang ada kesatria berdagang?"

Suara mereka menggema di telinga Arthur, tapi Arthur tetap teguh pada pendiriannya. Menyampaikan racun ini adalah harga mati. Demi melihat dunia yang lebih baik lagi, sesuai janji Alice padanya.

"Dengar!!" Arthur bersuara keras memecah kebisingan sekitar.

"Di kerajaan kita yang tercinta, telah turun seorang dewi kehidupan bernama Alice!"

"Hummp!!!" Xena menambahkan. Setiap Arthur berpidato, suara gadis itu menjadi latar belakang pemecah fokus.

"Dewi telah turun di Desa...", " Hummmp!!".

"Tura, beliau telah menyembuhkan berbagai...", "Hummp!!!"

"Penyakit, Anak kepala desa yang bernama...", "HUMMMPP!!"

"lukas telah selamat dari kematian..", "HUUUUUMMP..!!! "

Hening.

Wuuuushhh...!!!

Angin berembus, menerbangkan sehelai daun di antara mereka yang terpaku.

Xena menatap penduduk dengan mata berkaca-kaca, merasa sangat bangga dengan 'aktingnya yang ia pikir terlihat anggun'. Sementara itu, Arthur mematung dengan wajah datar. Seluruh pidato megah yang ia susun di kepalanya sejak di atas kereta tadi, hancur berantakan akibat interupsi dari Xena.

Warga Desa saling tatap-menatap bingung. Albertio mendekati Arthur dan berbisik pelan.

"Sudah ku bilangkan, kita tinggalkan saja dia di Desa Tura." bisik Albertio di telinga Arthur tanpa merubah ekspresi seriusnya.

Tiba-tiba seorang remaja berlari dari kerumunan lalu berlutut di depan Mereka. "Tuan? Dewi kesembuhan? Apa Dewi itu bisa menyembuhkan adik saya yang sakit?" tanya pria itu tergesa-gesa.

"Tentu saja, Dewi Alice bisa menyembuhkan kalian semua, Asalkan kalian membawa persembahan terbaik untuknya!!! Jangan lupa anggur ya!" Xena menambahkan dengan senyum riang.

Seketika sorak sorai pecah dari kerumunan warga. Mereka berteriak histeris, mendapat harapan baru untuk menyembuhkan orang-orang yang mereka sayangi. Selama ini, mereka hanya mengenal kerajaan yang hanya mementingkan pajak, tanpa peduli pada hidup mereka.

"WOOOH KITA KE DESA TURA SEKARANG!!"

"AKU YANG PERTAMA, SIAPA CEPAT DIA DAPAT!!"

"Dewi ini bisa memperhalus kulit?"

"Dewa lama kita saja sudah tidak peduli!!"

Seorang warga langsung berlari ke kandang kuda, menaiki pelana tanpa pikir panjang dan memacu kuda tersebut. Ia ingin lebih dulu di berkahi Dewi Alice ini.

Tap.. Tap.. Tap.. Tap...

Kuda pria itu berlari menjauh. . .

Sunyi sejenak...

Seketika semua orang berlari menuju kandang kuda. Berdesak-desakan, saling dorong, bahkan ada yang terjatuh di tanah. Mereka menaiki pelana segera menyusul pria yang tadi pergi terlebih dahulu.

"WOOOOOHH...!!!"

"MINGGIR!! INI KUDAKU!"

"KAU YANG MINGGIR!!"

"Sayang, tolong tanyakan obat kecantikan pada Dewi Alice"

"AKU DULUAN, NENEKKU SAKIT!!!"

Arthur hanya menatap pemandangan Desa yang kini mulai sepi itu dengan wajah datar. Ratusan warga berbondong-bondong menuju Desa Tura, mereka meyakini tempat itu sebagai tempat persinggahan sang Dewi. Apa yang akan terjadi setelah ini? Akankah kehidupan Alice menjadi lebih baik, atau... Lebih kacau?

1
T28J
buset, kebablasan bah, jauh banget 20 meter 🤣
alicea0v: Eh, Kejauhan kah🤭🤭🤭 gomenasaai..
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
aku akan selalu mendukungmu/Rose/
Manusia Ikan 🫪
TUH SUDAH AKU DUGA DARI AWAL CHAPTER 🤣
Manusia Ikan 🫪: insting ku ini cukup kuat loh/Doge/
tidak ada yang kebetulan untuk nama author dan MC yang sama... kecuali keduanya saling terhubung🥴
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
inilah tantangannya :v
Manusia Ikan 🫪
semangat ya, aku juga gitu T_T
cape😅
alicea0v: makasih bg 🤣 semangat atta halilintar.
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
Hai sayang☺
Manusia Ikan 🫪
is is iiis :v
Manusia Ikan 🫪: iyaa, cantik kok kayak authornya🌹
total 6 replies
Manusia Ikan 🫪
wow bisa ganti POV gitu ya dari sudut pandang ketiga ke pertama... menarik manrik... 🥴
Manusia Ikan 🫪
ooh bagus bagus, aku bakal copy skill ini untuk ceritaku selanjutnya😜
Manusia Ikan 🫪: iya iyaaa :v
total 4 replies
Manusia Ikan 🫪
baru juga aku selesai nulis pertempuran di reruntuhan kuno juga, sama sama di ganggu oleh debu yang bikin sedak sama sakit mata😹 malah ketemu bab ini di sini, kebetulan macam apa ini. 😹
Manusia Ikan 🫪
segala ada lubang 😹
Manusia Ikan 🫪: iyaaah, maap baru hadir :v
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
uweeek daging orc🥴
Manusia Ikan 🫪
temaram artinya apa?
Manusia Ikan 🫪: oalaaah :v
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
agak kejam juga aturannya😹
alicea0v: kan dunianya jadi real gitu🤭
total 1 replies
T28J
cantik. juga si Hestia /Drool/
alicea0v: Ehehe... 🤭 apa ceritanya udah bagus kak? apa yang kurang?
total 1 replies
T28J
kasih bunga untuk 3 jam nya /Rose/
alicea0v: Terima kasih /Drool/
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
bahaya, bisa meninggal oleh tersedak kalau kayak gitu🥴
alicea0v: Roti bantal bang.. gak kesedak kok.. 😄
total 1 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
T28J
/Sob/ gak jadi sedih deh gue🤣
alicea0v: Wah makasih banyak kakak, kalau ada kritik yang membangun jangan segan-segan ya.. 🙏🙏😍😍
total 3 replies
T28J
/Sob//Sob//Sob//Sob/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!