“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.
Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.
“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.
“Apa maksudmu butuh aku?”
Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“
Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.
Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 16.
Malam itu, Liora benar-benar kesulitan tidur. Dewangga memeluknya erat seperti boneka kesayangan. Satu lengannya masih melingkar di pinggang Liora, sementara salah satu kakinya menindih kaki perempuan itu. Kalau bukan karena kondisi mental Dewangga, mungkin sudah ia tendang pria itu dari ranjang.
Pelan-pelan Liora mencoba menggeser tubuhnya. Namun baru bergerak sedikit, Dewangga langsung mengerutkan kening dalam tidurnya.
"Jangan pergi..." Pelukannya kembali mengencang.
Liora memejamkan mata, dan menyerah. Akhirnya ia pun ikut tertidur.
Pagi harinya, Liora terbangun lebih dulu. Namun sebelum benar-benar membuka mata, ia merasa ada sesuatu yang aneh. Tangannya tanpa sadar sedang menyentuh sesuatu yang keras.
Dalam kondisi setengah sadar, ia mengernyit pelan dan masih meraba benda itu beberapa kali, berusaha memahami apa yang sedang disentuhnya.
Keras.
Panas.
Dan ukurannya... super besar.
Tunggu! Ini bukan bantal atau guling.
Otak Liora yang masih mengantuk perlahan mulai bekerja, perempuan itu membuka matanya lebar-lebar. Beberapa detik kemudian, ingatannya kembali utuh. Semalam mereka tidur di ranjang yang sama. Dan sekarang... tatapannya perlahan turun ke arah tangannya sendiri.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
"AAAAAAAHHHHH...!!!"
Liora langsung melompat turun dari ranjang seperti tersengat listrik, wajahnya memerah sampai ke telinga. Teriakan Liora mengguncang seluruh kamar, Dewangga yang masih tertidur langsung terbangun kaget.
"Hah? Ada apa?!"
Liora menunjuk pria itu dengan wajah merah padam. "Kamu! Kamu! Kamu—!"
"Dewangga kenapa?" Pria itu berkedip bingung.
Liora bahkan sampai kehilangan kata-kata, sementara Dewangga akhirnya menunduk melihat bagian tubuhnya di bawah sana.
"Oh," Pria itu terlihat berpikir, lalu menjawab dengan polos. "Dewangga bangun tidur sering begitu, Codet bilang gapapa."
Liora memegangi dahinya, wajahnya tampak frustasi.
Ya Tuhan! Kenapa dia malah menjelaskan?!
"Liora marah?"
"Aku kaget!" Liora mendelik kesal.
"Oh." Pria itu mengangguk, Dewangga benar-benar tidak mengerti apa pun.
Apa dia cuma pura-pura? Kenapa reaksinya seperti pria normal? Ah... nggak mungkin! Mustahil! Keivan, Tuan besar, bahkan seluruh penghuni Mansion nggak mungkin bohong soal kondisinya. Dia emang nggak ngerti apa-apa, aku pasti cuma terlalu banyak mikir.
Liora berulang kali menarik dan mengembuskan napas, berusaha meredam emosinya yang hampir meledak. Ketika suasana akhirnya sedikit tenang, pintu kamar diketuk.
Tok. Tok. Tok.
"Nyonya Liora?" Suara Codet terdengar dari luar.
"Ada apa?"
"Pihak catatan sipil sudah datang."
Liora mengernyit. "Untuk apa?"
"Hari ini pengurusan administrasi pernikahan." Jawab Codet dari luar pintu kamar.
Liora menghembuskan nafasnya dengan pelan. “Oke.“
Tak berapa lama, seluruh dokumen selesai diurus. Tuan Besar bergerak sangat cepat, tidak ada yang berani menghambat proses tersebut. Saat petugas menyerahkan dokumen itu, Dewangga langsung mengambil buku nikah lebih dulu.
"Liora."
"Hm?"
Pria itu membuka halaman buku nikah tersebut, lalu menunjuk nama mereka berdua. Matanya berbinar seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah.
"Itu aku."
"Iya."
"Itu Liora."
"Iya."
Dewangga tersenyum lebar. "Liora jadi keluarga Dewangga."
Sementara di samping mereka, Keivan diam-diam mengeluarkan ponselnya lalu memotret buku nikah itu.
Klik.
Liora langsung menoleh. "Kamu ngapain?"
"Mengabadikan momen penting."
"Kamu terdengar seperti orang tua berusia enam puluh tahun."
"Terima kasih."
Liora langsung memutar bola matanya, sedangkan Dewangga masih memeluk buku nikah itu dengan wajah bahagia seakan dia takut seseorang akan mengambilnya. Dan saat itu, Liora mulai menyadari satu hal. Apa pun yang akan terjadi setelah ini... ia benar-benar sudah terlibat terlalu jauh dengan keluarga itu.
“Sekarang... Dewangga boleh dimandiin Liora, kan?”
Senyum Dewangga masih polos seperti biasa, bahkan matanya berbinar penuh harap seolah baru saja mengajukan permintaan yang sangat wajar.
Sebaliknya, wajah Liora langsung membeku. Sudut bibirnya berkedut pelan, sementara kedua matanya perlahan melebar. Semua emosi yang sejak tadi susah payah ia tekan, tergambar jelas di wajahnya. Ada keterkejutan, rasa malu, kekesalan, dan kepasrahan yang bercampur menjadi satu di wajah perempuan itu.
Liora memejamkan mata sesaat lalu mengembuskan napas panjang. Ia benar-benar merasa kesabarannya yang dikumpulkan sejak bangun tidur mulai runtuh sedikit demi sedikit. Dan saat membuka mata kembali, tatapannya jatuh pada Dewangga yang masih menunggu jawaban dengan ekspresi polos tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Dan kepolosannya, justru membuat Liora semakin sulit marah pada pria itu. Karena masalahnya Dewangga bukan sengaja membuatnya kesal, pria itu benar-benar tidak mengerti kenapa permintaannya terdengar sangat mengerikan bagi Liora.
Ya Tuhan... kenapa hidupku jadi seperti ini? Secara mental dia memang anak kecil, tapi secara fisik? Dia pria dewasa! Huhuhu... aku benar-benar ingin kabur.
sebab, dia takut
korupsi di perusahaan akan terungkap
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tau jika ada perubahan dari ayahnya
karna mengingat semuanyaa
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
dihadapan tetua 🏃
kalo emnk si ibu tiri terlibat baik dg liora maupun dewangga ,, berarti masalah ny gx semudah yg di bayang kn ,,
malu ny sampe ke ubun2 ,, 😒😒😒😒😒😒😒
semoga kamu akan kembali pulih seperti sedia kala