NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Rumah yang Sunyi

...

Gema hantaman pintu depan yang dibanting oleh Karina masih menyisakan dengung tipis di telinga Zidan. Pria itu berdiri mematung di tengah ruang tamu yang berantakan. Tatapan matanya lurus menatap lantai marmer abu-abu yang kini mulai tampak kusam karena tidak lagi dipoles setiap pagi.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, keangkuhan narsisistik Zidan tidak mampu membantah kenyataan pahit di depannya. Karina pergi. Wanita yang dipujanya karena dianggap lebih berkelas dan mampu menaikkan ego sosialnya itu, membuangnya tanpa ragu begitu badai pertama datang menerpa.

Zidan perlahan melangkah menuju sofa beludru, lalu menjatuhkan tubuhnya yang remuk di sana. Dia menyandarkan kepala pada sandaran sofa, memejamkan mata rapat-rapat sembari memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Bayangan amukan ayahnya di ruang ICU beberapa jam lalu kembali berputar di otaknya bagai kaset rusak.

'Rumahmu, duniamu yang mewah itu, sebentar lagi akan runtuh total tanpa sisa!'

"Sialan," umpat Zidan dengan suara serak yang bergetar. Dia meremas rambutnya sendiri, meluapkan emosi dan rasa frustrasi yang selama tiga hari ini dia tahan di balik topeng pangeran dinginnya.

Suara langkah kaki yang ragu-ragu terdengar dari arah koridor dalam. Mama berjalan keluar dengan jubah tidur suteranya yang kini tampak kusut. Wajahnya yang biasa dipenuhi riasan tebal kini terlihat pucat dan dipenuhi gurat kecemasan yang amat sangat.

"Zidan... itu tadi suara apa? Siapa yang banting pintu?" tanya Mama dengan suara pelan, hampir seperti bisikan takut. "Terus... Karina ke mana? Kenapa koper-kopernya sudah gak ada?"

Zidan membuka matanya, menatap ibunya dengan tatapan yang begitu dingin dan kosong. "Karina pergi, Ma. Dia pulang ke apartemennya."

"Apa?! Pergi?!" Mama mertua terbelalak, tangan kanannya refleks memegangi dadanya. "Kok bisa pergi?! Dia kan lagi hamil anakmu, Zid! Kenapa kamu biarkan dia keluar malam-malam begini? Kamu gak coba tahan dia?"

Zidan mendengus sinis, senyuman pahit terukir di bibirnya yang kaku. "Tahan dia pakai apa, Ma? Dia bilang rumah ini sudah kayak neraka jahanam. Dia gak sudi tinggal di sini kalau rumahnya berantakan, bapak sakit-sakitan, dan pelayan gak ada yang becus kerja. Dia mau kemewahan dan ketenangan, bukan urusan sampah keluarga kita."

Kata-kata Zidan yang tajam dan jujur itu seperti sebuah tamparan keras yang menghantam wajah Mama mertua. Wanita paruh baya itu terdiam seketika, bibirnya bergetar tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri. Keangkuhannya sebagai nyonya besar di rumah ini mendadak runtuh, menyisakan rasa bersalah yang lambat laun mulai merembes masuk ke dalam batinnya.

Keysha yang mendengar keributan itu dari balik kamarnya, mengintip dari lantai atas dengan wajah ketakutan, tidak berani melangkah turun. Rumah mewah yang biasanya penuh dengan suara tawa sombong dan perintah-perintah angkat dagu itu, malam ini resmi berubah menjadi sebuah bangunan semen yang sunyi, dingin, dan mencekam.

...

Keesokan paginya, ratusan kilometer jauhnya di kota pinggir pantai yang damai, alarm alami berupa kokok ayam jantan dan deru ombak membangunkan Pamela tepat pukul lima subuh. Wanita itu membuka matanya dengan binar yang segar, tidak ada lagi rasa malas atau ketakutan yang biasa menghantui paginya di kota.

Setelah melakukan ibadah subuh dan mandi dengan air sumur yang segar dan dingin, Pamela bersiap-siap. Dia mengikat rambut panjangnya dengan rapi, mengenakan celemek kain motif bunga matahari miliknya sendiri, dan membawa tas belanja anyaman bambu yang dipinjamkan oleh Mbok Darmi. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja secara resmi di kedai "Selasih".

Langkah kaki Pamela terasa sangat ringan saat menyusuri jalanan setapak menuju pasar tradisional yang terletak di dekat dermaga ikan. Udara subuh yang dingin menusuk kulitnya, namun rasa hangat di dalam dadanya jauh lebih dominan. Dia merasa hidup kembali.

Di pasar, Pamela dengan cekatan memilih bahan-bahan terbaik untuk menu camilannya hari ini. Tepung beras organik, gula aren asli yang masih wangi cetakan bambu, dan beberapa lembar daun pandan segar berukuran besar. Keahliannya dalam menawar barang dengan sopan dan senyumannya yang tulus membuat para pedagang pasar menyambutnya dengan ramah.

"Ini bumbunya pas, Mbak. Segar-segar semua baru diturunkan dari kapal," ucap seorang ibu penjual parutan kelapa sambil menyerahkan bungkusan.

"Terima kasih banyak, Bu," jawab Pamela manis, membayar dengan uang pas dari dompet kecilnya.

Tepat pukul setengah tujuh pagi, Pamela sudah berdiri di depan pintu dapur kedai "Selasih". Ibu Sarah yang baru saja membuka pintu depan kedai tampak terkejut sekaligus senang melihat karyawannya sudah datang lebih awal dengan bahan belanjaan yang lengkap.

"Wah, Pamela... kamu rajin sekali. Padahal jam kerja kita baru mulai setengah jam lagi," puji Ibu Sarah dengan senyuman hangatnya yang keibuan.

"Saya lebih suka bersiap-siap lebih awal, Bu. Biar adonan kue serabinya bisa diistirahatkan dulu sebelum toko dibuka, jadi nanti teksturnya bisa lebih empuk dan bersarang sempurna," jelas Pamela sambil meletakkan bahan belanjaannya di atas konter dapur bersih.

Ibu Sarah mengangguk puas. "Bagus sekali. Kamar dapur ini sekarang sepenuhnya jadi tanggung jawabmu ya. Lakukan yang terbaik."

Pamela langsung bergerak lincah. Dia mulai menyalakan kompor, memeras santan murni dengan tangannya sendiri, dan meracik adonan rahasia kuah kencana. Di dalam ruang dapur yang harum oleh uap rebusan daun pandan ini, Pamela merasa seolah seluruh luka batinnya perlahan-lahan menguap bersama udara. Tidak ada lagi makian yang menunggunya, tidak ada lagi keangkuhan dingin yang harus dia layani. Di sini, setiap keringat yang keluar dari tubuhnya dihargai dengan sebuah senyuman dan rasa hormat yang jujur.

...

Kembali ke kota besar, jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, namun suasana di dalam rumah mewah Zidan masih seperti rumah hantu yang tak berpenghuni.

Zidan berjalan turun dari lantai dua dengan pakaian kantor yang sudah rapi, namun wajah tampannya tampak sangat kusut dan dipenuhi lingkaran hitam di bawah mata karena tidak bisa tidur semalaman. Dia melangkah menuju ruang makan, berharap setidaknya ada segelas air hangat atau kopi hitam yang menunggunya sebelum dia pergi ke rumah sakit dan kantor.

Namun, begitu dia sampai di ruang makan, meja makan kayu jati yang panjang itu kosong melongpong. Tidak ada piring, tidak ada sendok, bahkan tidak ada selembar tisu pun yang tersedia.

Di sudut dapur, Bi Sumi dan Bi Inah sedang sibuk mencuci piring-piring kotor sisa masakan katering kemarin malam dengan wajah cemas.

"Bi... kopi saya mana?" tanya Zidan dengan suara dingin yang tertahan, menekan emosinya yang mulai tidak stabil sejak pagi.

Bi Sumi menoleh dengan tubuh bergetar kaku, melepaskan sarung tangan karetnya dengan terburu-buru. "Mo-mohon maaf, Pak Zidan... biji kopi premium yang biasa Bapak minum habis di lemari penyimpanan. Saya... saya tidak tahu takaran mesin kopinya juga, takut salah buat seperti kemarin..."

Zidan memejamkan matanya, rahangnya mengatup rapat hingga mengeluarkan bunyi gemertak yang kentara. "Lalu kenapa tidak dibeli dari kemarin, Bi?!"

"Biasanya... biasanya Non Pamela yang selalu cek stok barang setiap hari Selasa dan memesannya langsung ke distributor, Pak. Kami... kami pelayan luar tidak pernah diberi akses atau tahu nomor kontaknya..." cicit Bi Sumi sambil menundukkan kepala sedalam-dalamnya.

Zidan tidak membalas. Pria narsis itu mengepalkan tangannya di samping tubuh, meraba saku celananya tempat ponselnya berada. Rasa frustrasi dan kemarahan yang lambat laun berubah menjadi rasa hampa yang mencekam kembali menggerogoti dadanya.

Dia berjalan keluar dari ruang makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Saat melewati ruang tengah, dia melihat Ryan dan Riana duduk di atas karpet dengan seragam sekolah yang tampak kusut dan rambut yang diikat asal-asalan oleh Keysha. Kedua anak kembar itu tampak diam, tidak ada keceriaan yang biasa mereka tunjukkan jika pagi hari digendong oleh ibunya.

"Papa... Ryan lapar... Tante Keysha cuma kasih biskuit kering dari tadi," keluh Ryan dengan mata berkaca-kaca saat melihat ayahnya lewat.

Zidan menghentikan langkahnya sejenak, menatap kedua anaknya dengan pandangan yang teramat rumit. Hatinya yang dingin diremas oleh rasa bersalah yang kian menumpuk. Dia, sang kepala keluarga yang memiliki aset miliaran, pagi ini bahkan tidak mampu menyediakan sarapan yang layak untuk anak-anaknya sendiri karena kepergian satu orang wanita yang selalu mereka injak-injak harga dirinya.

"Nanti di jalan Papa belikan makanan di restoran ya. Sekarang ayo masuk mobil," ucap Zidan kaku, mencoba menutupi kegagalannya sebagai ayah.

Saat mobil sportnya bergerak meninggalkan pelataran rumah megah itu, Zidan melirik sekilas lewat kaca spion ke arah bangunan rumahnya yang besar. Rumah itu tampak begitu megah dari luar, namun di dalamnya, kehancuran dan penyesalan yang lambat kini resmi mengunci mereka semua dalam sangkar penderitaan yang mereka ciptakan sendiri atas nama kesombongan.

...

1
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
Himna Mohamad
kereeen👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
rasain
Himna Mohamad
lanjut kk
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




saling support sabi kali ya😉
kikyoooo: siapp... gue kan baik dan tidak sombong hihihi😍 btw semangat thorr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!