Hari ini adalah hari ulang tahun Arla yang ke-18, dimana ia sudah dianggap dewasa dan 'matang'. Sehingga sudah saatnya ia dipanen dan dijual oleh rumah lelang ini.
Sebagai seorang gadis yang dijual oleh keluarganya sendiri, ia dirawat oleh rumah lelang ini untuk dijual kepada para laki-laki hidung belang dengan harga yang lebih mahal. Meski begitu, keluarganya sering datang dan mengatakan bahwa mereka menyesal menjualnya dan berjanji untuk membelinya kembali agar dapat pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya lagi.
Akan tetapi saat malam ulang tahunnya datang, tak ada satupun keluarga yang datang untuk menebusnya. Sehingga ia terpaksa dijual kepada laki-laki yang tidak ia kenal.
Bagaimana nasib Arla setelah dibeli oleh laki-laki itu, dan apakah ia akan berakhir menyedihkan seperti para budak nafsu yang telah mati karena kekerasan, seperti yang dialami oleh banyak gadis yang keluar dari tempat ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Q Lembayun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu
“Selamat atas rencana pernikahanmu,” ujar Abimana sambil bersulang untuk kesekian kalinya. Keduanya saling berhadapan, namun hanya Abimana yang hampir kehilangan kesadaran. Meski begitu, ia tak henti-hentinya mengucapkan kata selamat.
“Selamat karena bisa menikahi Diana.”
Mendengar hal itu, perasaan Reza menjadi semakin bahagia. Ia mengira Abimana mungkin terlalu senang karena sahabatnya sebentar lagi akan memulai biduk rumah tangga. Akan tetapi, di sisi lain Reza juga merasa sedih karena hingga saat ini Abimana belum menemukan tambatan hati.
“Ya, ya, kamu mengatakannya berulang kali. Aku sebentar lagi akan menikah, lalu bagaimana denganmu?”
“Tentu saja aku juga akan menikah. Istriku sangat cantik, dia memiliki paras yang lembut. Walaupun harganya agak mahal, tapi dia memiliki masakan yang enak.”
Mendengar ocehan Abimana, Reza pun kaget. Ia belum pernah mendengar Abimana membicarakan seorang gadis. Bahkan ketika Abimana sudah hampir kehilangan kesadaran saat minum, ia tidak akan pernah menyebut gadis lain selain Diana. Hal tersebut membuat Reza sedikit berpikir, mungkinkah Abimana juga diam-diam berkencan dengan orang lain?
“Apakah dia lebih cantik dari Diana?” ucap Reza iseng.
“Tentu saja dia jauh lebih cantik dari Diana. Wajahnya kecil dan dia pandai menyenangkan ku. Setiap kali dia berbicara, aku akan dibuat tertawa. Dapurku juga menjadi lebih wangi daripada biasanya. Dia sangat cantik, tentu saja lebih cantik dari pacarmu.”
“Kalau kamu sudah punya tambatan hati, kenapa tidak memperkenalkannya padaku? Jangan bilang kalau gadis itu hanya khayalanmu saja. Lagi pula, gadis mana yang berani mendekatimu selain Diana? Kamu punya wajah yang jutek dan dingin. Kalau bukan soal pekerjaan, kamu enggan dekat-dekat dengan mereka.”
“Kalau aku memperkenalkannya padamu, nanti aku diselingkuhi lagi.”
“Lagi?”
Abimana pun terdiam. Laki-laki itu telah kehilangan kesadaran sepenuhnya dan tidak menjawab apa pun lagi dari pertanyaan Reza.
Melihat sahabatnya sudah tertidur pulas seperti orang mati, Reza tertawa kecil. Sejak dulu ia selalu tahu, sikap Abimana yang terkesan dingin dan sulit didekati sebenarnya hanya kamuflase. Laki-laki itu sebenarnya adalah orang yang lembut dan perhatian.
Abimana tidak pernah menanggapi gadis mana pun karena ia tidak ingin memberikan harapan palsu kepada mereka. Walaupun caranya sedikit kasar, itu cukup ampuh untuk membuat para gadis menjauh darinya. Menurut Abimana, lebih baik mereka membencinya sekarang daripada menangis nanti karena sudah terlanjur memiliki rasa yang lebih dalam.
Akan tetapi, perkataan Abimana barusan membuat Reza sedikit penasaran. Apakah itu hanya omongan orang mabuk yang tidak berarti apa-apa, atau sebenarnya Abimana memang memiliki seorang kekasih saat ini?
“Hei, bangun. Bagaimana aku akan mengantarmu pulang kalau berjalan saja kamu tidak bisa.”
Meski Reza berulang kali berusaha membangunkan Abimana, laki-laki itu sudah terlalu mabuk. Tidak ada sedikit pun gerakan pada kelopak matanya. Hal itu membuat Reza menghela napas kasar, sepertinya ia harus menggendong Abimana lagi seperti biasanya.
Reza membawa Abimana pulang dengan taksi karena ia sendiri juga sedang mabuk saat ini. Walaupun belum kehilangan kesadaran sepenuhnya, mengemudi dalam keadaan seperti itu sangat berbahaya. Jadi saat mereka tiba di apartemen Abimana, ia segera meminta sopir untuk menunggunya sedikit lebih lama.
Reza membopong Abimana hingga ke depan pintu apartemen laki-laki tersebut. Ia berulang kali mencoba membangunkan Abimana untuk menanyakan password pintu. Akan tetapi, semua itu sia-sia karena Abimana benar-benar sudah kehilangan kesadaran.
Saat Reza mulai putus asa dan berpikir untuk membawa Abimana kembali ke apartemennya sendiri, akan tetapi suara pintu yang terbuka membuatnya terkejut. Ia melihat seorang gadis muda berdiri di ambang pintu dan langsung menatap mereka.
“Ka-kamu siapa?”
Reza sempat berpikir mungkin ingatannya salah dan ia masuk ke apartemen yang berbeda. Namun ia merasa cukup yakin, mustahil ia mengetuk pintu yang salah.
Arla sudah lama menunggu dan telah menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Akan tetapi setelah menunggu cukup lama, Abimana belum juga pulang. Meski begitu, Abimana memang sudah berpesan bahwa terkadang ia bisa pulang tengah malam atau bahkan tidak pulang sama sekali. Hal itu karena jam kerja seorang dokter terkadang terlalu fleksibel, dan banyak hal bisa terjadi secara mendadak sehingga jadwal pulang bisa tertunda.
Jadi saat Arla sudah membereskan makan malam, ia sempat berpikir mungkin Abimana tidak pulang malam ini. Namun beberapa saat kemudian, ia mendengar sedikit keributan di depan pintu apartemen mereka. Arla pun membuka kamera dan melihat Abimana sedang digendong oleh seorang laki-laki yang sebaya dengannya. Hal itu membuat Arla segera keluar dan menyapa mereka.
Kondisi Abimana yang sangat mabuk terlihat begitu menyedihkan. Ia pun segera mempersilahkan Abimana masuk bersama laki-laki itu.
“Letakkan saja dia di atas sofa. Sepatu serta bajunya masih sangat kotor, dia pasti tidak akan nyaman jika tidur dalam keadaan seperti itu.”
Reza menganggukkan kepalanya, namun perhatiannya tidak pernah lepas dari gadis cantik di hadapannya. Ia belum pernah melihat gadis lain berada di sekitar Abimana selain Diana dan sepupu-sepupu Abimana. Dengan rasa penasaran, Reza pun akhirnya bertanya.
“Apa hubunganmu dengan Abimana, kenapa kamu berada di apartemennya?”
Arla terdiam sejenak. Ia tidak tahu apakah ia boleh mengatakan hal itu atau tidak. Namun ia melirik ke arah Abimana yang masih terdiam, dan hal itu membuatnya memberanikan diri untuk berkata jujur.
Arla pun mengulurkan tangan sebagai simbol perkenalan, dan hal itu entah kenapa membuat Reza merasa gugup.
“Nama saya Arla dan saya adalah istrinya Abimana.”
Mendengar hal itu, tubuh Reza terasa kaku, seolah berubah menjadi patung. Ia kesulitan mencerna informasi sebesar itu mengenai sahabatnya. Mereka telah bertahun-tahun bersahabat, namun ini pertama kalinya ia mendengar bahwa Abimana dekat dengan seorang wanita, dan status mereka ternyata adalah sepasang suami istri.
Reza tidak tahu harus berkata apa. Ia terlalu kaget hingga bahkan lupa memperkenalkan dirinya sendiri. Ia segera berpamitan dan pergi, seolah ingin keluar secepat mungkin agar bisa mencerna informasi itu dengan tenang.
Saat Reza benar-benar pergi, Arla mendekat ke arah Abimana dan duduk di sebelahnya. Ia menatap wajah laki-laki itu dengan seksama—wajah yang sangat merah, jelas ia sangat mabuk saat ini. Arla pun duduk lebih dekat dan membelai pipi merah itu dengan lembut dan penuh kasih sayang, seolah setiap sentuhan tangannya adalah obat yang menghapus semua luka yang ada di hati Abimana.
“Sampai kapan kamu akan berpura-pura tidur seperti ini?”