NovelToon NovelToon
Bayang Koridor Di Utara

Bayang Koridor Di Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Romantis
Popularitas:854
Nilai: 5
Nama Author: nana_2

Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.

Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.

Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 — Panggilan dari Lantai Tiga

“Kenapa… kamu tinggalin aku…”

Suara Evelyn menggema lirih dari lantai atas.

Membuat seluruh tubuh Naresha langsung dingin.

Koridor mendadak terasa lebih gelap.

Lampu-lampu berkedip tidak stabil.

Ctek.

Ctek.

Ctek.

Arven membeku di tempatnya.

Wajah cowok itu pucat.

Tatapannya lurus ke arah tangga menuju lantai tiga.

Dan untuk pertama kalinya…

Naresha melihat ketakutan yang benar-benar nyata di matanya.

“Ven…”

Namun Arven seperti tidak mendengar.

Suara Evelyn terdengar lagi.

Lebih pelan.

Lebih sedih.

“Arven…”

Tok.

Tok.

Tok.

Suara langkah kaki menyeret mulai terdengar dari lantai atas.

Pelan.

Mendekat.

Naresha refleks memegang lengan Arven.

“Kita pergi aja.”

Namun Arven justru bergerak menuju tangga.

Deg.

“Hah? Lo mau ke mana?!”

Cowok itu tidak menjawab.

Langkahnya tetap berjalan naik.

Satu per satu.

Pelan.

Seolah ditarik sesuatu.

“ARVEN!”

Naresha buru-buru mengejarnya.

“Lo gila ya?!”

Arven akhirnya berhenti di tengah tangga.

Tatapannya masih lurus ke atas.

“Dia manggil gue.”

“Ya jangan disamperin!”

Namun Arven menggenggam pagar tangga kuat-kuat.

Rahangnya menegang.

“Kalau Evelyn memang masih di sini…”

Suaranya mengecil.

“Gue harus tahu kenapa.”

Deg.

Naresha menatap punggung cowok itu beberapa detik.

Ia ingin marah.

Ingin bilang kalau semua ini berbahaya.

Tapi di saat bersamaan…

Ia tahu Arven sudah hidup bertahun-tahun dengan rasa bersalah itu.

Dan mungkin…

Cowok itu memang tidak pernah benar-benar bisa pergi dari malam kematian Evelyn.

Tok.

Tok.

Tok.

Langkah kaki di lantai tiga kini terdengar semakin jelas.

Dan perlahan…

Suara perempuan tertawa kecil mulai terdengar bercampur dengan tangisan.

“Hehehe…”

“Hiks…”

Bulu kuduk Naresha langsung berdiri.

“Ini ga bener…”

Arven kembali berjalan naik.

Dan akhirnya mereka sampai di lantai tiga.

Sunyi.

Lorong panjang itu gelap seperti biasanya.

Lampu berkedip redup.

Rantai besi yang menutup ujung koridor bergerak pelan terkena angin.

Krekk…

Krekk…

Naresha merasakan napasnya mulai tidak teratur.

Setiap kali berada di lantai ini, dadanya selalu terasa sesak.

Seolah tempat itu memang dipenuhi sesuatu yang tidak terlihat.

“Evelyn?” panggil Arven pelan.

Tidak ada jawaban.

Hanya suara angin dingin.

Naresha langsung menatap Arven tidak percaya.

“Lo ngajak ngobrol hantu sekarang?”

Namun sebelum Arven sempat membalas—

Ctak.

Semua lampu mati.

Gelap total.

Naresha langsung refleks memegang tangan Arven.

“Ven…”

Suara napas pelan terdengar tepat di depan mereka.

Bukan napas Arven.

Napas lain.

Pelan.

Berat.

Naresha menahan napas.

Lalu perlahan…

Lampu menyala kembali.

Ctak.

Dan sosok Evelyn berdiri tepat beberapa langkah di depan mereka.

Diam.

Rambut panjangnya menutupi sebagian wajah.

Seragam putihnya penuh darah.

Namun kali ini…

Ia tidak terlihat marah.

Melainkan sedih.

Arven langsung membeku.

“Evelyn…”

Perempuan itu perlahan mengangkat wajahnya.

Matanya tidak hitam seperti sebelumnya.

Kini terlihat normal.

Penuh air mata.

Dan untuk pertama kalinya…

Ia terlihat seperti manusia biasa.

“Aku takut…” bisiknya lirih.

Deg.

Naresha merasakan tenggorokannya kering.

Evelyn melangkah pelan mendekati Arven.

Namun anehnya…

Langkahnya tidak menimbulkan suara.

“Aku ga mau mati…”

Suara itu retak.

Penuh kesedihan.

Arven mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Siapa yang bunuh lo?” tanyanya pelan.

Evelyn berhenti berjalan.

Tatapannya perlahan bergeser ke arah ujung lorong yang gelap.

Tubuhnya mulai gemetar.

Dan ekspresinya berubah takut.

Sangat takut.

“Dia masih di sini…”

Deg.

Naresha langsung merinding.

“Siapa DIA?” tanya Naresha cepat.

Namun Evelyn tidak menjawab.

Sebaliknya…

Matanya perlahan melebar.

Seolah melihat sesuatu di belakang mereka.

Wajahnya berubah pucat.

Dan tiba-tiba—

“LARI!”

Suara Evelyn berubah menjerit keras.

Brakkk!

Rantai besi di ujung lorong tiba-tiba putus sendiri.

Lampu pecah satu per satu.

Prang!

Prang!

Prang!

Koridor langsung berubah kacau.

Dan dari ujung lorong gelap itu…

Seseorang mulai berjalan mendekat.

Tok.

Tok.

Tok.

Pelan.

Tinggi.

Memakai seragam sekolah lama.

Namun wajahnya…

Tidak terlihat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!