NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku Pria Desa Mempesona

Suami Kontrakku Pria Desa Mempesona

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Pernikahan Kilat / Nikah Kontrak
Popularitas:35.4k
Nilai: 5
Nama Author: Whidie Arista

Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.

Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?

Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!

“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 - Pasta

Cahaya lilin menyala di tiap penjuru ruangan ini, Asep sengaja menyalakannya agar Ziya tak merasa takut karena gelap.

“Neng mau saya bikinin Pastanya sekarang?” tawarnya setelah dia selesai dengan pakaiannya yang basah.

“Besok aja, lagian lu pasti capek habis bawa mobil seharian,” tolak Ziya.

“Nggak ko saya gak capek, ayuk atuh kita ke dapur,” ajaknya.

“Tapi ini udah malem Sep.”

“Bukan malem lagi atuh Neng, udah mau subuh,” kekehnya sambil berjalan menuju dapur dan Ziya mengekor di belakangnya.

“Ya udah kalau lu maksa, lagian gue gak ngantuk lagi, buatinnya yang enak ya, awas kalau gak enak,” ujarnya sembari duduk di atas kursi kayu yang ada disana.

“Siap Neng geulis,” sahutnya.

Ziya berusaha menahan senyum yang hampir mengembang di bibirnya, kata-kata Asep barusan sukses membuat bunga-bunga seolah bermekaran di hatinya.

Tak berselang lama dua piring Pasta buatan Asep pun tersaji di atas meja, Ziya bertepuk tangan untuknya, sedang dia memberi penghormatan ala-ala Chef di tv.

“Wah good Job, lu pinter masak juga ternyata Sep, belajar dimana?” tanya Ziya sembari mencicipi Pasta tersebut.

“Dari Mbah Google, nanya apa pun pasti ada aja jawabannya,” kekehnya, “gimana rasanya enak?” tanyanya meminta pendapat.

Ziya mengangkat dua jari jempolnya. Asep kembali bangkit dia mematikan api kompor, entah apa lagi yang dia masak di dalam panci.

“Neng mau minuman Jahe?” tawarnya, sembari mengisi gelas dengan air berwarna putih kekuningan itu.

“Boleh-boleh,” sahut Ziya.

“Wah wangi banget, dingin-dingin begini emang paling enak minum yang anget-anget,” ujarnya sambil menghirup aroma asap dari minuman Jahe yang Asep berikan.

“Dimakan dulu Sep Pastanya, kalau dingin gak enak,” ucap Ziya dengan mulut penuh makanan.

Dia mengulum senyum, “Neng suka Pastanya?”

Ziya mengangguk penuh semangat, “kalau gitu makan juga punya saya,” dia mendorong piring miliknya kearah Ziya.

“Lah, emangnya lu gak laper, lu baru pulang berpergian jauh loh,” ucap Ziya dengan ekspresi wajah heran.

“Saya udah kenyang liat Neng makan,” kekehnya.

“Dih emangnya lu Jin liatin orang makan ikut kenyang. Udah jangan ngadi-ngadi makan dulu, lagian nih ya perut gue gak akan muat makan dua porsi sekaligus, gue juga takut gendut makan mie banyak-banyak,” ujar Ziya.

“Gak mungkin gendut dalam semalam atuh Neng, tapi beneran gak mau lagi?” Asep meyakinkan, pasalnya dia melihat Ziya begitu lahap memakan Pasta buatannya itu.

“Iya udah cepet makan.”

Akhirnya Asep pun memakannya karena paksaan dari Ziya. Setelah makan dia beranjak turun, separuh dapur ini memang sengaja tidak di pasang lantai hanya berupa tanah yang memadat karena sering di injak. Ziya menilik penasaran apa yang ingin di lakukan Asep kali ini, ternyata dia menyalakan api menggunakan kayu bakar.

“Neng tahu apa ini?” ujarnya. Ziya menggeleng pelan.

“Ini tungku, orang tua jaman dulu masaknya pake ini, namanya Hawu kalau di Sunda. Tapi saya udah jarang pake karena males, paling dinyalakan pas lagi butuh aja, itung-itung buat penghangat ruangan,” ungkapnya sambil memasukkan kayu ke api.

Ziya ikut duduk di samping Asep di kursi yang terbuat dari bambu. Hening menemani hanya suara api yang melahap kayu bakar yang terdengar, sesekali mereka menyesap minum Jahe dari cangkir masing-masing.

“Sep, lu gak takut apa pulang di cuaca begini tadi kan hujan badai kalau sampai air di jembatan itu meluap gimana?” ucap Ziya.

“Takut atuh Neng. Tapi mikirin Neng sendirian di rumah teriak-teriak, Asep! Gue takut Sep, saya gak tega, jadinya saya terpaksa pulang!” dia menirukan nada suara Ziya.

“Dih apaan, gue gak gitu ya,” sanggah Ziya dengan ekspresi wajah menahan malu.

“Masa, yakin, Neng tadi gak teriak-teriak manggil saya,” goda Asep.

Dia berdecak sambil membuang muka kearah lain.

“Akhir-akhir ini sering banget mati lampu, apa saya pasang genset kali ya?”

Ziya berpikir sejenak, ‘tunggu kalau si Asep pasang genset disini itu berarti dia gak bakal nemenin gue terus kaya sekarang dong, wah gak bisa dibiarin ini,’ batin Ziya.

“Jangan lah Sep, pasang genset itu kan mahal, lagian gue juga gak akan lama tinggal disini, sayang juga kan uangnya” dusta Ziya, berusaha menggagalkan rencana Asep.

“Gak papa atuh Neng, lagian kan berguna juga untuk jangka panjang,” sahutnya.

“Ya terserah lu deh kalau gitu,” Ziya menyerah dia bingung harus mengatakan apa lagi sebagai alasan.

“Neng udah ngantuk belum? Kayanya lampunya gak bakal nyala malam ini” komentar Asep.

Ziya menggeleng pelan, “Sep ini minuman Jahenya enak, buatin lagi ya lain kali,” ucap Ziya, tanpa sadar dia sudah menghabiskan minuman di gelas miliknya.

“Iya, nanti saya buatin lagi.”

Tiba-tiba suasana pun menjadi hening, bahkan kini api di dalam tungku pun hampir padam, Asep melirik kearah Ziya, rupanya gadis itu sudah tertidur dengan posisi kepala menengadah keatas dan mulut menganga serta rambut terburai menutupi separuh wajahnya.

Dia tertawa pelan melihatnya, Asep bangkit kemudian memangku tubuh Ziya ala bridal bermaksud memindahkannya ke kamar, kali ini Asep berhasil karena Ziya sama sekali tidak terbangun seperti sebelumnya. Setelah itu iya pun kembali ke kamarnya sendiri.

***

Ziya menggeliat pelan, lagi-lagi matahari sudah meninggi saat dia terbangun, “hoam, jam berapa sekarang?” dia melihat layar ponselnya, ternyata ini sudah jam sepuluh siang, seperti biasa Asep pasti sudah pergi ke ladang.

Ziya berjalan keluar kamar dengan tampang acak-acakan, saat langkahnya hampir mencapai dapur, tiba-tiba dia membalikkan badannya seketika. Ternyata Asep ada di rumah, dia tidak pergi ke ladang seperti biasanya.

“Pagi Neng,” sapa Asep, dia sudah tampak segar sepertinya dia baru habis mandi, bahkan aroma shamponya pun dapat tercium oleh Ziya.

‘Ah sial, gue kira dia gak ada di rumah, mana tampang gue lagi jelek banget pasti’ keluhnya dalam hati.

“Neng mau ke kamar mandi sok atuh, atau mau saya masakin air dulu?” tawarnya karena melihat Ziya hanya berdiri mematung sambil memunggunginya.

“Gak usah, sekarang gue udah mulai terbiasa sama suhu air disini,” tolak Ziya berusaha menghindari tatapan Asep.

“Oh syukur kalau gitu Neng,” Asep kembali terdiam pun dengan Ziya.

Hening sejenak, “Neng,” panggil Asep lagi.

“Apaan lagi sih Sep?”

“Punten atuh saya mau ke kamar,” ujarnya membuat Ziya sontak menoleh.

“Eh, so-sorry.”

‘Ugh sial, sejak tadi gue berdiri di depan kamarnya Asep ternyata, Ziya Ziya lu tuh ko oon banget sih, astaga,’ rutuknya pada diri sendiri.

Setelah itu Ziya pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, rasa malu dalam dirinya kini jadi berlipat ganda.

1
Hardware Solution
Wkwkwkk
Arin
Perempuan kan gitu..... Kalau yang di rayu gak mempan. Gantian dia yang marah🤣🤣🤣. Gantian yang laki kalang kabut😁😁😁😁
Arin: Tapi kalau aku gak mempan. Makin aku diam karena marah, suami juga diam cuek gak ada rayu-rayunya😁😁😁😁. Paling dia ajak keluar, jalan, makan atau belanja🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Susi Akbarini
lanjutttt..
❤❤😍💪💪
Susi Akbarini
Aa Asep..

jgn lama2 marahnyaa.

🤣🤣😄❤❤😍💪💪💪
Arin
Siap-siap dirumah buat rayu Asep Ziya..
Pasti taulah dirayu pakai apa biar Asep luluh🤭🤭🤭🤭
juwita
biar sarah sm si regan ngerasain dinginnya penjara Ziya. coba pikir klo seandainya Bpk km g bertindak udh pasti si regan nyelakain km bahkan bisa" km di perkosaan sm dia
Arin
Beneran Ziya maafin Regan dan Sarah? Kalau suatu saat mereka masih berulah lagi bagaimana?
sitanggang
jelek kali ceritanya kek gini🤣🤣🤣
Whidie Arista 🦋: Kamu yang gak ngerti perbedaan mengkritik dan menghujat. Keritik "Membangun" Menghujat "Merendahkan" paham? aku biasanya gak pernah ngerespon orang2 tukang hujat, hanya saja aku liat kamu banyak menghujat orang lain dan mereka mendiamkan kamu, aku mencoba untuk saling mengingatkan kak, bahwa cara kamu berkomentar di cerita orang itu salah. Aku bukan merasa cerita aku udah bagus enggak, aku sadar aku banyak ke kurangan hanya saja komentar yang kakak tulis itu jatohnya menghujat bukan mengkritik 🙏
total 5 replies
Susi Akbarini
kira2 siapa ya yg kasih tau ayah xiya kalo ziya diculik...

❤❤❤😍😍💪💪💪
Susi Akbarini
penyesalanmu tiada berguna re...
mkanya jadi org jgn mokondo...
❤❤❤😍😍😍💪💪💪
Susi Akbarini
widiiihhh..
akhiranya Aseplah pangeran ber pick up itu yg menyelamatkan ziyaaa..

❤❤❤😍😍😍💪💪💪
juwita
ieu beda pangeran na. lain tina kuda putih tp. tina pickup putih🤣🤣🤣
Whidie Arista 🦋: 🤣🤣🤣✌️
total 1 replies
Arin
Semoga Ziya cepat bisa tertolong
juwita
asep tlpn Bpk Ziya biar si regan sm si sarah kena tangkap.
Susi Akbarini
mkasi ya thoooorrr ...
double up hari ini..


❤❤😍😍😍💪
Whidie Arista 🦋: masama Kak❤️
total 1 replies
Susi Akbarini
siapa ya yg akan nolongin ziyaaa

❤❤❤😍💪
Susi Akbarini
waduhhhh.

tegang bangett..
ini..
❤❤😍💪💪💪
Susi Akbarini: 🤣🤣😄😄😍😍
total 2 replies
sitanggang
goblok ziya ternyata, tinggal teriak🤦
Susi Akbarini
ayo sepppp..
buruan datangggggg..
❤❤❤😍😍😍💪💪1
Susi Akbarini
aduhhhh ziyaaaa..
mumpung diperhatikan banyak orang..
gigit tangan regan.

teriak penculik3..
biar regan digebukin orqng se SPBU ..
🤣😄😄😍😍❤💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!