Astrid mengorbankan segalanya untuk keluarga. Namun, pengorbanannya justru dibalas dengan hinaan.
Setelah melahirkan, tubuh Astrid berat badannya naik drastis hingga membuat Lucas, suaminya yang seorang dokter, merasa malu memiliki istri sepertinya. Tak hanya itu, Marta, sang mertua, juga menganggap Astrid sebagai wanita tidak berguna karena tidak memiliki pekerjaan maupun prestasi yang bisa dibanggakan.
Puncaknya terjadi saat Lucas dan Marta mempermalukannya di depan banyak tamu undangan. Harga dirinya diinjak-injak tanpa belas kasihan, seolah seluruh pengorbanannya selama ini tidak pernah berarti. Hari itu, Astrid memutuskan untuk berhenti menangis.
Dengan bantuan Mateo, Astrid bangkit dan mengubah hidupnya. Saat satu per satu kesuksesan berhasil diraihnya, orang-orang yang dulu merendahkan mulai menyadari kesalahan mereka.
Kini giliran mereka yang memohon, sementara Astrid tak lagi peduli. Karena ada penghinaan yang bisa dimaafkan, tetapi tidak pernah bisa dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Sore itu langit mulai berubah jingga ketika sebuah mobil berhenti di depan sebuah apartemen yang berdiri di kawasan yang cukup tenang. Mateo keluar lebih dulu. Ia berjalan menuju bagasi untuk mengambil beberapa koper milik Astrid dan Ariana. Sementara itu, Astrid berdiri di samping putrinya yang sejak tadi sibuk memperhatikan gedung tinggi di hadapan mereka dengan mata berbinar.
"Ini lumah Om Mateo," celetuk Ariana sambil mendongakkan kepala.
Mateo tersenyum kecil. "Om tinggal di gedung apartemen ini. Tinggi, kan?"
Ariana mengangguk antusias.
"Tangganya banyak, ya, Om?"
Pertanyaan polos dari anak berusia tiga tahun kurang itu membuat Mateo terkekeh pelan.
"Nanti kita naik lift kayak di kantor. Kalau malam hati bisa lihat banyak lampu kota."
"Wah ...." Mata Ariana langsung membesar penuh rasa penasaran.
Sementara itu, Astrid berdiri diam memperhatikan bangunan di depannya. Perasaannya campur aduk. Sejak kejadian tempo hari hidupnya terasa berubah begitu cepat. Gugatan cerai, pertengkaran dengan Marta, penangkapan Lucas. Dan sekarang ia harus meninggalkan rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat tinggalnya.
Meski begitu, anehnya ia tidak merasa kehilangan. Yang ia rasakan justru ketenangan yang sudah lama tidak hadir dalam hidupnya.
Mereka pun masuk ke dalam lift menuju lantai dua puluh.
Mateo menoleh ke arah Astrid. "Aku rasa untuk sementara kamu dan Ariana tinggal di sini dulu."
Astrid mengalihkan pandangan dari papan tombol yang baru saja ditekan oleh Mateo. Lalu, menatap pria itu. "Agar aku tidak diganggu oleh mertuaku?"
Mateo mengangguk pelan. "Bukan cuma karena dia."
Nada suara Mateo berubah lebih serius. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana sambil menatap ke arah jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan. "Aku nggak tahu siapa saja yang bakal mulai bergerak setelah berita ini keluar."
Astrid memahami maksudnya. Kasus Lucas bukan lagi masalah rumah tangga. Masalah itu sudah berkembang menjadi perkara hukum yang melibatkan banyak orang.
Jika ada pihak yang merasa terancam atau ingin mencari jalan keluar, Astrid dan Ariana bisa saja ikut menjadi sasaran. Karena itu Mateo tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun.
Mateo menatap Astrid beberapa saat. Tatapan yang selama bertahun-tahun selalu sama. Penuh perhatian, rasa kepedulian, dan perlindungan yang tidak pernah dimintanya.
Sejak dulu, jauh sebelum Lucas hadir dalam kehidupan Astrid, Mateo sudah membuat janji kepada dirinya sendiri. Janji yang tidak pernah ia ucapkan kepada siapa pun. Ia akan menjaga Astrid selama ia mampu dan selama ia masih bernapas.
Bukan karena mengharapkan balasan atau karena ingin memiliki. Melainkan karena melihat wanita itu terluka selalu menjadi hal yang paling sulit ia terima. Sekarang, ketika badai mulai menghantam kehidupan Astrid dari segala arah, Mateo hanya ingin memastikan satu hal, Astrid dan Ariana tetap aman.
"Itu sebabnya aku lebih tenang kalau kalian tinggal di sini dulu," lanjut Mateo dengan suara lembut.
Astrid menatapnya beberapa saat. Ada rasa hangat yang mengalir di dalam dadanya. Ia tahu Mateo selalu ada. Selalu membantu tanpa banyak bicara. Serta selalu menjaga tanpa meminta penghargaan.
"Terima kasih, Mateo," ucap Astrid tulus.
Pria itu hanya mengangguk pelan. "Simpan ucapan terima kasihnya nanti saja. Yang penting sekarang kamu dan Ariana istirahat."
Mateo lalu membuka pintu apartemen.
Begitu pintu terbuka, Ariana langsung berlari kecil masuk ke dalam. "Waahhh!"
Suara gadis kecil itu menggema memenuhi ruangan. Mata bulatnya langsung bergerak ke sana kemari, memperhatikan setiap sudut ruangan dengan penuh rasa penasaran.
Apartemen tersebut memang cukup luas. Jendela-jendela besar menghadap langsung ke pemandangan kota. Cahaya sore masuk memenuhi ruang keluarga yang masih terlihat rapi meski lama tidak ditempati.
Ariana berputar-putar di tengah ruangan dengan wajah gembira.
"Mama, liat ada matahari becal!" katanya sambil menunjuk jendela besar.
Astrid tersenyum kecil. "Iya, Sayang. Kita bisa melihat pemandangan langit di sini."
Ariana terkekeh senang lalu berlari lagi mengelilingi ruang tamu dengan langkah pendeknya. "Mama, ada kucing!" Gadis kecil itu tertawa penuh antusias melihat boneka kucing yang kaki depannya bergerak melambai-lambai.
Beberapa saat kemudian gadis kecil itu menghampiri Mateo yang sedang meletakkan koper di dekat sofa. Tanpa ragu Ariana memeluk kaki pria itu.
Mateo menunduk sambil tersenyum. "Ada apa, Ariana?"
Ariana mendongakkan kepala. Wajah kecilnya terlihat cerah. "Om Teo baik!"
Mateo tertawa pelan. "Menurut kamu, Om Mateo baik, ya?"
Ariana langsung mengangguk cepat. Tangannya yang mungil menepuk-nepuk kaki Mateo.
"Iyaaa, Ana cuka Om Teo," balas Ariana cadel.
Gadis kecil itu belum bisa mengucapkan huruf "S" dan "R" dengan jelas. Beberapa kata juga masih belum jelas. Namun, justru itulah yang membuat ucapannya terdengar begitu polos dan menggemaskan.
Kalimat sederhana itu membuat Mateo tertawa kecil. Namun entah kenapa, ada rasa hangat yang memenuhi dadanya. Ia pun berjongkok, lalu mengusap kepala gadis kecil itu dengan lembut.
"Om Mateo juga sayang sama Ariana."
Ariana langsung tersenyum lebar. Kemudian memeluk leher Mateo tanpa ragu.
Sementara Astrid yang melihat dari kejauhan hanya bisa tersenyum tipis. Di tengah hari yang penuh kekacauan itu, tingkah polos Ariana terasa seperti secercah ketenangan yang menenangkan hati mereka. Lalu, masih ada orang-orang yang membuat hidup terasa lebih ringan.
Malam perlahan turun. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu. Sementara di berbagai penjuru negeri, berita yang sama mulai memenuhi layar televisi.
Kasus dugaan penggelapan dana. Pencucian uang. Penyalahgunaan jabatan. Telah menyeret nama-nama yang selama ini dikenal publik mulai disebut satu per satu.
Di antara nama-nama itu terdapat nama Lucas. Wajah pria itu muncul di layar televisi. Lengkap dengan rekaman saat dirinya digiring memasuki kantor polisi.
Judul berita terus berganti. Namun, inti beritanya tetap sama. Kasus besar yang sedang menjadi perhatian publik.
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di pusat kota, Starla sedang menyaksikan semua itu dengan wajah pucat. Wanita itu berdiri membeku di depan televisi.
Remote yang semula berada di tangannya terlepas begitu saja dan jatuh ke lantai. Namun, ia bahkan tidak menyadarinya.
"Tidak ...!" bisiknya lirih.
Mata Starla tidak berkedip menatap layar. Berita itu terus diputar. Nama Lucas terus disebut berulang kali. Dan setiap kali nama itu terdengar, dada Starla terasa semakin sesak. Tubuhnya mulai gemetar. Bukan karena sedih atau karena khawatir terhadap kondisi Lucas. Akan tetapi, karena ketakutan yang perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Starla ketakutan akan satu hal. Skandal.
Jika kasus ini terus membesar, media pasti tidak akan berhenti pada urusan keuangan saja. Mereka akan menggali semuanya. Riwayat kehidupan Lucas, keluarganya, lingkungan pergaulannya. Semua hal yang berhubungan pria itu akan dikorek habis-habisan.
Dan ketika itu terjadi nama Starla bisa ikut terseret. Hubungan rahasia mereka. Perjalanan cinta terlarang yang selama ini disembunyikan. Semua bisa terbongkar.
Starla mundur selangkah. Napasnya mulai memburu, tangannya terasa dingin, dan pikirannya kacau.
Selama ini Starla selalu menekan Lucas agar segera menceraikan Astrid. Ia memberi waktu tiga bulan agar hubungan mereka bisa publikasikan. Baru saja sebulan berlalu dari permintaannya itu, sekarang situasinya berubah total.
Kini yang dipertaruhkan Starla jauh lebih besar. Reputasi, karier, dan masa depan. Starla memejamkan mata sejenak. Namun, bayangan wajah Lucas yang muncul di layar televisi terus menghantuinya.
Baru kali ini sejak menjalin hubungan dengan pria itu, ia benar-benar merasa takut. Karena kini bukan hanya Lucas yang berada di ambang kehancuran. Dirinya juga mulai melihat jurang yang sama terbuka tepat di depan mata.
***
Maaf, ya, sekarang tidak bisa update banyak-banyak karena kondisi kesehatan aku yang sedang baik-baik saja sebulan belakangan ini makin parah dan bolak-balik ke dokter. Tapi, aku usahakan tiap hari update. Untuk perhatiannya aku ucapkan terima kasih.