NovelToon NovelToon
Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:20k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."

Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di Ruang Komisaris

Pagi hari berikutnya, layar televisi di ruang kerja Rania menayangkan berita bisnis dengan grafik merah yang menukik tajam. Headline berita pagi itu terasa seperti hantaman gada besi: "Sistem Logistik Arania International Lumpuh Akibat Serangan Siber, Saham Anjlok Enam Persen dalam Pembukaan Perdagangan."

​Rania berdiri di dekat jendela, memegang cangkir kopinya yang sudah mendingin. Matanya menatap tajam ke arah jalanan ibu kota yang mulai padat. Di bawah sana, puluhan wartawan media gosip dan ekonomi sudah berkumpul di depan lobi gedungnya, menunggu pernyataan resmi.

​Tok! Tok! Tok!

​Maya, sekretarisnya, masuk dengan langkah tergesa-gesa, wajahnya dipenuhi kecemasan. "Ibu Rania... Dewan Komisaris sudah berkumpul di ruang rapat lantai atas. Mereka... mereka menuntut penjelasan segera mengenai kelumpuhan sistem dan anjloknya saham kita pagi ini. Suasananya sangat tidak kondusif, Bu."

​Rania membalikkan tubuhnya dengan tenang. Tidak ada kepanikan di wajahnya, melainkan ketenangan yang dingin. "Siapa saja yang memprovokasi para komisaris, Maya?"

​"Bapak Haryo, Bu. Beliau sejak pagi sudah membawa kliping berita dan rilis pers yang disebarkan oleh pihak Baskoro Group," jawab Maya pelan.

​"Baik. Mari kita temui mereka," ucap Rania sembari meletakkan cangkir kopinya. Ia merapikan blazer berwarna merah marunnya—warna yang sengaja ia pilih untuk menunjukkan bahwa ia tidak sedang tunduk pada tekanan apa pun.

​Sementara itu, di sebuah kafe mewah yang terletak tidak jauh dari gedung pengadilan, Tyas Wijaya sedang duduk santai sembari menikmati croissant dan kopi latte mahal. Di depannya, beberapa lembar koran bisnis sengaja ia sebar di atas meja marmer.

​Ibu Ratna duduk di sampingnya, sibuk mematut diri di cermin kecil, mengagumi anting emas murni baru yang baru saja dibelikan Tyas menggunakan uang muka dari Tuan Baskoro.

​"Lihat ini, Bu," Tyas menunjuk headline koran dengan kukunya yang baru saja di-manicure.

"Baru satu hari Tuan Baskoro bergerak, perusahaan Rania sudah goyang. Sahamnya anjlok. Teman-teman kuliahku yang kemarin menjauh, sekarang mulai mengirim pesan lagi, bertanya apakah aku sekarang bekerja di Baskoro Group."

​Ibu Ratna tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Memang anak Ibu yang satu ini paling pintar! Tidak seperti kakakmu yang bodoh itu, mau-maunya ditipu Gisela dan Rania. Sekarang, biarkan Rania merasakan bagaimana rasanya menjadi miskin dan diusir dari tempat kerjanya sendiri!"

​Tyas menyesap kopinya dengan anggun, meniru gaya para wanita sosialita yang sering ia lihat di media sosial. "Ini baru permulaan, Bu. Aku sudah meminta tim media Baskoro Group untuk terus menggoreng isu ini. Aku ingin memastikan dewan komisaris Arania International mendesak Rania untuk mundur dari jabatannya. Setelah dia tidak punya jabatan, Elang Danuarta juga pasti akan mendepaknya. Siapa yang mau dengan janda miskin pembawa sial?"

​Keserakahan dan dendam telah sepenuhnya membutakan mata Tyas. Ia merasa posisinya di samping Tuan Baskoro adalah takhta yang aman, tanpa menyadari bahwa ia hanyalah sebuah pion kecil yang sedang dimanfaatkan untuk menabrak dinding batu.

​Kembali ke Gedung Arania International, Ruang Rapat Utama lantai 12.

​Atmosfer di dalam ruangan berkapasitas dua puluh orang itu terasa sangat panas. Begitu Rania melangkah masuk, keheningan mendadak pecah oleh suara dehem sengit dari beberapa komisaris senior.

​"Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian," sapa Rania dengan suara jernih sembari mengambil tempat duduk di kepala meja.

​Bapak Haryo, seorang komisaris bertubuh tambun dengan rambut beruban, langsung menggebrak meja dengan dokumen di tangannya. "Tidak ada yang selamat pagi, Ibu Rania! Lihat papan perdagangan saham kita! Enam persen lenyap dalam waktu dua jam! Sistem logistik kita di pelabuhan macet total! Kerugian kita per jam mencapai ratusan juta rupiah!"

​"Saya memahami kekhawatiran Anda, Pak Haryo. Tim IT kami sedang bekerja dua puluh empat jam untuk melakukan isolasi dan pembersihan sistem," jawab Rania, tetap menjaga nadanya agar tidak terpancing emosi.

​"Bekerja? Sampai kapan?!" timpal komisaris lainnya. "Kami mendengar rumor dari luar bahwa serangan ini terjadi karena masa lalu Anda! Adik mantan suami Anda bekerja di Baskoro Group dan membawa dokumen rahasia perusahaan ini! Ini artinya, masalah pribadi Anda telah menyeret aset kami ke dalam bahaya!"

​Pak Haryo mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Rania dengan pandangan menuntut. "Kami tidak mau tahu, Ibu Rania. Proyek logistik di Cikarang harus tetap berjalan. Jika Baskoro Group memegang tanah itu dan meminta lima ratus miliar, maka bayar saja! Atau... jika Anda tidak mampu menyelesaikan masalah ini dalam waktu dua hari, kami dari Dewan Komisaris akan menggunakan hak kami untuk melakukan pemungutan suara demi menonaktifkan Anda dari jabatan CEO!"

​Tekanan di dalam ruangan itu bener-bener nyata. Beberapa komisaris yang dulu mendukung Rania kini hanya bisa menunduk, tidak berani membela karena angka kerugian di layar monitor memang tidak bisa dibohongi. Rania benar-benar dipojokkan oleh situasi yang diciptakan Tyas dan Baskoro.

​Rania menatap satu per satu wajah para komisaris di depannya. Ia menarik napas panjang, meresapi tekanan tersebut. Ini adalah benturan pertama yang harus ia hadapi sebagai seorang pemimpin. Ia tidak boleh terlihat lemah, ia juga tidak boleh berbohong tentang kondisi sistemnya.

​"Pak Haryo, dan Bapak-Ibu Dewan Komisaris yang terhormat," Rania berdiri dari kursinya, kedua telapak tangannya menumpu di atas meja. Tatapan matanya berkilat tajam, memancarkan aura otoritas yang kuat. "Jika saya membayar lima ratus miliar kepada Baskoro hari ini, itu artinya kita menyerahkan leher kita untuk disembelih kapan saja oleh kompetitor. Itu bukan solusi, itu adalah bunuh diri bisnis."

​Rania mengetuk layar proyektor di belakangnya, menampilkan estimasi waktu pemulihan. "Sistem kita akan kembali online dalam waktu tiga puluh enam jam dari sekarang dengan proteksi yang jauh lebih kuat. Mengenai tanah di Cikarang... saya meminta waktu tiga hari. Saya jamin, Danuarta Group dan Arania International tidak akan membayar satu sen pun kepada Baskoro, dan proyek nasional kita akan tetap berjalan tepat waktu."

​"Bagaimana jika Anda gagal?!" tantang Pak Haryo dengan suara keras.

​"Jika dalam tiga hari masalah ini tidak selesai," Rania menatap Pak Haryo lurus-lurus, tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya, "saya sendiri yang akan meletakkan jabatan saya sebagai CEO di meja ini, tanpa perlu Anda lakukan pemungutan suara."

​Seluruh ruangan seketika senyap. Janji potong kepala yang dikeluarkan oleh Rania menunjukkan tingkat keberanian yang luar biasa, sekaligus perjudian yang sangat berisiko tinggi.

​Setelah rapat selesai dengan kesepakatan waktu tiga hari tersebut, Rania kembali ke ruangannya. Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan punggungnya ke pintu, mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat. Bahunya sedikit turun. Tekanan dari dewan komisaris dan serangan media dari Tyas benar-benar menguras energinya.

​Pintu penghubung ke ruangan sebelah terbuka, dan Elang Danuarta melangkah masuk dengan wajah penuh rasa bersalah. "Rania... aku mendengar tentang keputusan rapat tadi. Kamu terlalu berani mengambil risiko dengan mempertaruhkan jabatanmu."

​Rania berjalan menuju sofa, menjatuhkan dirinya di sana dengan letih. "Aku tidak punya pilihan, El. Jika aku tidak memberikan jaminan itu, mereka akan menonaktifkanku siang ini juga, dan Baskoro akan langsung menang tanpa perlawanan."

​Elang duduk di samping Rania, meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya erat, memberikan kekuatan emosional yang sangat dibutuhkan Rania saat ini. "Kita akan hadapi ini bersama, Nia. Tim hukumku sedang mencari celah lain dari transaksi tanah Cikarang itu."

​Rania menatap genggaman tangan Elang, kemudian perlahan sebuah senyuman tipis yang dingin kembali terukir di wajahnya. Rasa lelahnya perlahan menguap, digantikan gairah bertempur yang membara.

​"Terima kasih, El. Tapi aku tidak ingin hanya sekadar memenangkan tanah Cikarang itu," bisik Rania, matanya menyipit penuh perhitungan.

"Tyas dan Baskoro mengira mereka bisa menggunakan media untuk menghancurkanku. Mereka lupa... bahwa setiap tindakan kesombongan selalu meninggalkan celah. Aku ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan pribadi Baskoro, El. Terutama... tentang siapa sosok yang mengendalikan keuangan asli di balik nama besar Baskoro Group."

​Elang tertegun sejenak, sebuah senyuman penuh arti muncul di wajah gagahnya. "Maksudmu... Nyonya Besar Baskoro? Istri sahnya yang menguasai tujuh puluh persen saham keluarga mereka?"

​"Ya," Rania menegakkan punggungnya, tatapannya mendingin. "Jika Tyas ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi konsumsi publik... maka aku akan memberikan panggung terbesar dalam hidupnya. Panggung yang akan menghancurkan harga dirinya sampai ke dasar tanah."

​Malam itu, badai di luar gedung semakin kencang, persis seperti badai taktik yang mulai disusun Rania di dalam kegelapan ruang kerjanya.

1
Anonim
Yah begitu..... BUAT MEREKA MENDERITA
aku
kan bener lagi kata tetanggaku, tidak ada yg lebih mengerikan selain tidak ada uang adalah wanita yg bls dendam krn skt hati 😌😌
aku
lagian lu udh dikasih kesempatan bukannya lnjut hdp lbh baik malah cari mati. hedehh gk pinter 😁
Dwi Setyaningrum
wah wah penyesalannya hanya Krn terpuruk wkt itu setelah ekonominya mulai membaik berbuat ulah lagi..hadehhh..
Dwi Setyaningrum: minta dirujak thor..🤭😂
total 2 replies
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
tanpa rania kamu bukan apa" rendra🤭
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
ternyata gisela itu anak buah perusahaan lain
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
iya tinggalin aja wes Rendra
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
suami jahat Rendra
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
hukuman rania belum sbrpa ini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
korupsi demi apa ini baskoro
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
wah nyonya datang
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
tiket exclusive😄😄😄😄
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
ini sih cari mati dia🤣🤣🤣
pst dapat cap pelakor😄🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
badainya terlalu dasyat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
seorang ibu bisa ngomong kasar begini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
kena jebakan balik kah
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
menghamliri kalian past
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
enam bulan ga bisa bikin kamu tobat tyas
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
akhirnya mereka di penjara
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
walau jauh bisa memantau lewat cctv
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!