NovelToon NovelToon
ART Yang Diremehkan Itu Ternyata Pewaris Konglomerat

ART Yang Diremehkan Itu Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: ThiaSulaiman

Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Elara Pergi Tanpa Menoleh

Malam kota dipenuhi cahaya lampu ketika iring-iringan mobil hitam meninggalkan hotel gala charity.

Jalanan basah oleh sisa hujan tipis. Pantulan lampu gedung berkilau di aspal. Kendaraan lain otomatis memberi jalan saat deretan mobil mewah itu melaju tenang menuju pusat kota.

Di dalam mobil utama, Elara duduk diam di kursi belakang.

Gaun putih gadingnya masih rapi. Riasan wajahnya tetap sempurna. Tidak ada tanda lelah, tidak ada tanda puas, tidak ada tanda kemenangan.

Seolah malam besar itu hanyalah rapat biasa.

Viktor duduk di depan, beberapa kali menatapnya lewat kaca spion.

“Anda baik-baik saja, Nona?”

“Kenapa bertanya begitu?”

“Karena Anda lebih diam dari biasanya.”

Elara menatap jendela.

“Diam sering lebih berguna daripada bicara.”

“Apakah karena Damian Moretti?”

Ia tak langsung menjawab.

Lampu kota berganti-ganti di wajahnya.

“Aku hanya bosan melihat orang menyesal saat semuanya terlambat.”

Viktor mengangguk pelan.

Ia tahu jawaban itu tidak lengkap.

Namun ia juga tahu tak semua luka suka dijelaskan.

Di depan hotel, Damian masih berdiri di trotoar saat mobil Elara menghilang di tikungan.

Tangannya masuk ke saku jas.

Matanya mengikuti lampu belakang kendaraan itu sampai benar-benar lenyap.

Ia merasa aneh.

Di tengah ratusan orang tadi, ia baru saja ditinggalkan dengan cara paling sunyi.

Tanpa makian.

Tanpa drama.

Tanpa menoleh.

Dan justru itu yang paling menghancurkan.

Selene keluar dari pintu hotel sambil memegang clutch kecil.

“Kak.”

Damian tak menoleh.

“Kau kelihatan menyedihkan.”

“Pulanglah.”

“Aku cuma ingin bilang satu hal.”

Damian akhirnya menatap adiknya.

Selene mengangkat bahu.

“Kalau perempuan pergi sambil marah, masih ada kemungkinan dia peduli.”

Ia tersenyum tipis.

“Kalau pergi tanpa menoleh… hati-hati.”

Selene berjalan menuju mobilnya sendiri.

Damian berdiri sendirian lagi.

Untuk pertama kali, ia berharap seseorang menamparnya lebih keras daripada nasihat adiknya.

Di penthouse Vasiliev, Elara masuk tepat pukul sebelas malam.

Staf rumah menyambut hormat.

Gaun, sepatu, dan perhiasannya dilepas oleh asisten pribadi.

Ia berjalan ke jendela besar ruang tengah sambil memegang segelas air.

Pemandangan kota terbentang luas.

Begitu banyak lampu.

Begitu banyak manusia.

Begitu banyak topeng.

Viktor datang membawa tablet.

“Media memuji pidato Anda.”

“Biarkan.”

“Saham naik lagi tiga persen setelah acara.”

“Bagus.”

“Dan satu hal lagi…”

Ia berhenti sejenak.

“Damian Moretti menolak pulang bersama keluarganya.”

Elara tersenyum tipis.

“Informasi tidak penting.”

Viktor menunduk.

“Terkadang yang dianggap tidak penting justru paling diperhatikan.”

Elara menatapnya datar.

“Kau semakin berani.”

“Karena saya semakin tua.”

Ia pamit mundur.

Elara kembali menatap kota.

Damian menyesal.

Bagus.

Namun penyesalan lelaki kaya terlalu sering datang saat mereka tak lagi jadi pusat dunia.

Di mansion Moretti, suasana rumah meledak tak lama setelah Damian pulang.

Seraphina berdiri di ruang utama dengan gaun yang belum sempat diganti.

“Apa maksudmu bicara begitu di rumah tadi?”

Damian melepas jasnya pelan.

“Maksudku jelas.”

“Kau mempermalukanku.”

“Ibu tidak butuh bantuanku untuk itu.”

Tamparan hampir melayang, tapi Damian menangkap pergelangan tangan ibunya di udara.

Ruangan membeku.

Ini pertama kali dalam hidupnya ia menahan tangan Seraphina.

Tatapan keduanya bertemu.

Wajah Seraphina pucat.

“Kau berani menyentuh ibumu?”

“Aku hanya menghentikan kebiasaan buruk.”

Ia melepaskan tangan itu perlahan.

“Mulai malam ini, jangan pernah angkat tangan pada siapa pun di depanku lagi.”

Selene yang berdiri di tangga hampir bertepuk tangan.

Seraphina gemetar antara marah dan tak percaya.

“Semua ini karena perempuan itu!”

Damian menatap lurus.

“Tidak.”

Suara rendahnya dingin.

“Semua ini karena kita.”

Di kamar tidurnya, Damian tak bisa memejamkan mata.

Ia membuka laci meja dan mengeluarkan buku catatan kecil milik Elara.

Ia membaca halaman demi halaman.

Prediksi saham.

Analisis pasar.

Catatan kecil tentang kebiasaan penghuni rumah:

Madam suka marah saat lapar.

Selene berbohong saat bicara terlalu cepat.

Tuan Damian minum kopi pahit saat tak bisa tidur.

Tangannya berhenti.

Di bawah catatan terakhir tertulis kecil:

Pria itu tampak dingin. Mungkin hanya terlalu lama hidup di rumah tanpa kehangatan.

Damian menutup buku perlahan.

Dadanya terasa sesak.

Ia bahkan diperhatikan lebih dalam daripada yang pernah ia lakukan padanya.

Pagi berikutnya, Elara menghadiri rapat direksi Vasiliev Group.

Ruang rapat utama penuh para eksekutif senior.

Cassian duduk di sisi kiri meja dengan senyum tipis.

“Kudengar malammu menarik.”

Elara membuka dokumen tanpa melihatnya.

“Kudengar auditmu lebih menarik.”

Cassian tersenyum lebar.

“Kau masih percaya bisa menyingkirkanku?”

“Aku tidak percaya.”

Ia mengangkat pandangan.

“Aku menghitung.”

Beberapa direktur menahan senyum.

Cassian menegakkan punggung.

“Dan hasil hitunganmu?”

“Orang sepertimu jatuh bukan karena lawan kuat.”

Ia membalik halaman.

“Tapi karena terlalu lama dibiarkan.”

Ruangan mendadak dingin.

Sementara itu di Moretti Holdings, Damian datang lebih pagi dari biasa.

Seluruh staf merasakan suasana berbeda.

Ia masuk ruang rapat dan langsung berkata pada tim hukum,

“Tinjau ulang semua kontrak yang bergantung pada koneksi sosial ibuku.”

Semua terdiam.

Salah satu direktur tua bertanya hati-hati,

“Tuan Damian… maksud Anda?”

“Kita terlalu lama menjalankan bisnis lewat gengsi, bukan fondasi.”

Ia menatap satu per satu.

“Itu berakhir sekarang.”

“Apakah ini terkait Vasiliev?”

Damian menjawab datar,

“Ini terkait harga diri.”

Siang harinya, Seraphina menerima kabar itu.

“Apa maksud Damian membatalkan dua proyek charity board-ku?!”

Asistennya gugup.

“Tuan Damian bilang perusahaan fokus restrukturisasi.”

Seraphina melempar pena ke meja.

“Dia memberontak.”

Namun jauh di dalam dirinya, ia tahu ini lebih buruk dari pemberontakan.

Ia kehilangan kendali.

Di penthouse, Elara sedang makan siang ringan saat Viktor masuk.

“Tuan Damian membatalkan banyak keputusan lama keluarganya.”

“Dan?”

“Dia juga menolak wawancara media yang menyerang Anda.”

Elara meletakkan garpu.

“Aku tidak minta perlindungan.”

“Benar.”

Viktor tersenyum kecil.

“Tapi seseorang tampaknya mulai berubah.”

Elara menatap piringnya beberapa detik.

Perubahan.

Kata yang indah.

Tapi sering datang terlambat.

Sore hari, Damian datang ke satu tempat yang tak pernah ia datangi sebelumnya.

Pasar tradisional kecil di pinggir kota.

Alamat itu ia temukan di salah satu halaman belakang buku catatan Elara.

Nama pemilik warung tua yang dulu membantu ibunya saat kecil.

Ia turun dari mobil mewahnya dan langsung menarik perhatian warga.

Seorang nenek penjual bunga menatapnya curiga.

“Mau cari siapa?”

“Ibu Mira.”

Wanita tua itu menunjuk warung sederhana.

Damian masuk.

Seorang perempuan paruh baya menoleh.

“Ya?”

“Anda kenal Elara?”

Wajah wanita itu berubah lembut.

“Elara kecil?”

Damian tercekat.

Kecil?

“Dia sering datang ke sini dulu,” kata wanita itu sambil tersenyum. “Anak baik. Selalu sopan. Selalu membantu.”

Damian diam mendengar cerita demi cerita tentang sisi Elara yang tak pernah ia kenal.

Saat keluar dari warung, ia sadar satu hal pahit:

Ia tinggal serumah dengannya dua tahun…

namun orang asing justru mengenalnya lebih baik.

Malam kembali turun.

Elara pulang ke penthouse lebih larut dari biasa.

Saat lift privat terbuka, ia melihat sebuah kotak kecil diletakkan di meja foyer.

“Apa ini?”

Asisten menjawab, “Kurir pribadi mengantar. Tanpa nama.”

Elara membuka kotak itu.

Di dalamnya ada buku catatan miliknya… yang dulu tertinggal di mansion.

Dan secarik kertas.

Tulisan tangan rapi.

Ini milikmu.

Aku tak berhak menyimpannya.

— Damian

Elara memegang buku itu lama.

Tak ada bunga.

Tak ada hadiah mewah.

Tak ada rayuan.

Hanya mengembalikan sesuatu yang memang bukan miliknya.

Ia tersenyum tipis tanpa sadar.

Viktor yang melihat dari jauh berkata pelan,

“Setidaknya dia belajar langkah pertama.”

Elara menutup buku itu.

“Langkah pertama tak berarti jika orang terlambat memulai.”

Namun malam itu, saat kembali berdiri di depan jendela kota…

ia mengingat trotoar hotel.

Damian berdiri diam saat ia pergi.

Dan untuk pertama kali sejak meninggalkan ballroom…

Elara bertanya dalam hati:

Kenapa pria itu masih ada di pikirannya… padahal tadi malam ia pergi tanpa menoleh?

1
Noey Aprilia
Msih aja iri.... orng kl udh biasa jd psat prhtian,trs tiba2 d acuhkn psti mkin bnci....pdhl kn dia sndri yg slah.....
Noey Aprilia
Mga aja elara udh mnyiapkn blsan buat spa aja yg mngusiknya,kli nu jgn ksih ampun.....bsmi smp k akarnya biar ga tmbuh lg s msa dpn...
Himna Mohamad
notif yg ditunggu2
Noey Aprilia
Yg koar2 emng biasanya krna ktakutan,yg diam jstru lbh brbhya...
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
Noey Aprilia
Mngkn krna dia trbiasa brkuasa,saat sprti itu pun blm jg sdar....mskpn kl dia dtng buat mnta maaf sm elara,blm tntu jg d maafkn...tp mnimal dia tau lh apa kslahnnya....ni mlah mkin dndam.....cckk....
Noey Aprilia
Apa lg yg lbih mnyiksa slain pnyesalan yg trlambat....dan damian sdng mrsakannya.....so,slmt mnkmti....
Noey Aprilia
Mkin d rgukan,elara mkin smngt.....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
Nurhartiningsih
seru
Noey Aprilia
Dlu elara bkrja krna pelarian,skrng smua orng brgntung sm dia......tp ykin bgt kl dia bkln jd pmimpin yg tgas dn sukses d msa dpn.....
Himna Mohamad
lanjut kk
Istia Ningsih
luar biasah
Istia Ningsih
terimakasih 😍🙏
Himna Mohamad
ditunggu notifnya kk
Istia Ningsih: siaaapp
total 1 replies
Noey Aprilia
Ank orng kya mnja,trnyta jd pncuri d rmhnya sndri.....alasannya btuh uang,plus cmburu.....jdilh elara yg jd krban....glirn fkta trungkap,nyesel brjmaah.....🙄🙄🙄
Noey Aprilia
Hmmmm......
jd pnsran....sbnrnya elara ada prsaan ga y sm damian????mskpn dia psti kcewa sih sm skpnya dlu yg sllu diam,tp htinya spa yg tau.....
Istia Ningsih: tetappp semangaat tungguin updatenya
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Noey Aprilia
Bgtulh mnusia.....
kl udh tau spa dia sbnrnya,bru mrsa brslah dn mnyesal....dlu kmna aja wooyyyyy.... 🙄🙄🙄
Himna Mohamad
kereeen kk👍👍👍👍👍
Istia Ningsih: alhamdulillah masya allah terimakasih
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Istia Ningsih: siap siap
total 1 replies
Noey Aprilia
Brsa lngsng kna tikam,tepat d jntung....mngkn bntr lg bkln ada yg pingsan.....😛😛😛
Istia Ningsih: nacep bner yaa kaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!