NovelToon NovelToon
Gerhana Sembilan Langit 3

Gerhana Sembilan Langit 3

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Menjadi NPC / Fantasi Timur
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kokop Gann

(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 3)

Setelah menaklukkan Benua Kuno, Han Luo dan Long Tian bertujuan menginjakkan kaki di Cakrawala Suci—pusat dunia kultivasi yang sesungguhnya.

Di benua super-masif ini, kekuatan Jiwa Baru Lahir hanyalah prajurit biasa, dan para dewa Pemutus Roh menguasai langit. Menjadi buronan faksi raksasa akibat kematian Jian Wuji, Han Luo terpaksa menyembunyikan taringnya.

Dan saat rahasia sebenarnya di balik 'Dao Langit' dan Penjara Benua Kuno mulai terkuak, Han Luo bersiap menyalakan api pemberontakan terbesarnya. Di negeri para dewa, gerhana akan membuktikan bahwa ia mampu menelan matahari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panen Sang Gerhana

Area Pembuangan Limbah Giok di sektor timur Kota Gerbang Astral adalah sebuah kawah buatan yang sangat luas dan dalam. Di siang hari, tempat ini digunakan untuk membuang sisa-sisa batu spiritual yang energinya sudah terkuras habis.

Namun di malam hari, tempat ini sunyi senyap, gelap gulita, dan sering menjadi lokasi pembuangan mayat tanpa nama.

Han Luo (Xie Yan) berjalan terseok-seok menuruni jalan setapak yang berbatu, sesekali terbatuk keras hingga bahunya berguncang. Di belakangnya, Long Tian (Hei Mian) berjalan dalam diam, dengan mudah memanggul sangkar besi besar yang tertutup kain tebal dengan satu tangan.

"Hah... hah... udara malam ini sangat dingin," keluh Han Luo dengan suara parau yang menyedihkan.

Tiba-tiba, tiga sosok berpakaian serba hitam melompat keluar dari balik tumpukan limbah giok, menghalangi jalan setapak di depan mereka.

"Udara malam memang dingin, Pak Tua. Tapi pedang kami jauh lebih dingin," seringai salah satu dari mereka, memancarkan aura Inti Emas Akhir.

Dari arah belakang, lima orang lainnya melompat turun dari dinding kawah, memotong jalur mundur Long Tian.

"Serahkan sangkar itu dan cincin penyimpananmu. Kami akan berbaik hati membiarkanmu mati dengan tubuh utuh."

Han Luo berpura-pura panik. Dia mundur hingga punggungnya menabrak sangkar besi yang dipegang Long Tian. "T-Tuan-tuan! Tolong jangan bunuh kami! Ambil saja gadis ini, tapi biarkan aku menyimpan sisa uangku untuk berobat!"

Prok... Prok... Prok...

Suara tepuk tangan pelan namun arogan terdengar dari atas tumpukan giok tertinggi di area itu.

Sebuah kristal cahaya dilemparkan ke udara, menerangi kawah tersebut. Di atas tumpukan batu, berdirilah Tuan Muda Yan dengan jubah mewahnya, didampingi empat pengawal elit tingkat Jiwa Baru Lahir Awal.

"Luar biasa. Seekor anjing tua memang tahu kapan harus menggonggong dan kapan harus merintih," Tuan Muda Yan menatap Han Luo dengan tatapan merendahkan yang absolut.

Kehadiran Tuan Muda Yan membuat kelompok perampok lain (yang merupakan kultivator liar) langsung berkeringat dingin dan mundur beberapa langkah. Mereka tidak berani bersaing dengan pewaris Klan Bintang Jatuh di wilayah ini.

"T-Tuan Muda Yan!" Han Luo menjatuhkan dirinya ke tanah, berlutut dengan tubuh gemetar. "Anda datang untuk menyelamatkan saya dari para perampok ini?!"

Tuan Muda Yan tertawa terbahak-bahak hingga air matanya keluar.

"Menyelamatkanmu?! Hahaha! Tua bangka bodoh! Aku datang untuk mengulitimu!" Tuan Muda Yan melompat turun dengan anggun, mendarat sepuluh langkah dari Han Luo.

"Kau berani mempermalukanku di rumah lelangku sendiri. Kau memaksaku membayar harga yang tidak masuk akal. Hari ini, aku tidak hanya akan mengambil gadis roh itu dan seluruh Mutiara Laut-mu, tapi aku juga akan memotong lidahmu dan memberikannya pada anjing peliharaanku!"

Tuan Muda Yan memberi isyarat pada para pengawalnya.

"Bunuh pengawal bisunya. Tangkap kakek tua itu hidup-hidup."

Empat ahli Jiwa Baru Lahir Awal melangkah maju dengan pedang terhunus, memancarkan tekanan spiritual yang membuat udara di kawah itu terasa seberat timah.

Di saat yang sama, kelompok perampok liar yang berada di sana menyadari bahwa mereka tidak akan mendapat bagian. Mereka berniat mundur diam-diam.

Namun, Han Luo yang sedang berlutut di tanah tiba-tiba berhenti gemetar.

Suara batuknya yang menyedihkan lenyap.

"Hei Mian," suara Han Luo mengalun pelan. Bukan lagi suara serak seorang kakek yang penyakitan, melainkan suara berat, dingin, dan penuh dengan arogansi predator. "Aktifkan Formasi Pengunci Suara. Jangan biarkan satu pun lalat keluar dari kawah ini."

Long Tian, yang sedari tadi diam, menyeringai buas. Dia tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menginjakkan kakinya ke tanah.

Seketika, empat pilar energi hitam melesat dari empat sudut kawah (yang sudah diam-diam dijatuhkan Han Luo saat berjalan turun tadi), membentuk kubah kedap suara dan kedap cahaya yang mengunci area pembuangan itu sepenuhnya.

Tuan Muda Yan mengerutkan kening. "Formasi?! Apa yang kalian lakukan?!"

Han Luo perlahan berdiri dari posisi berlututnya.

Tubuh bungkuknya mulai tegak. Tulang-tulangnya berderak pelan, bergeser kembali ke posisi semula. Ilusi pada kulitnya yang keriput meleleh seperti lilin panas. Rambutnya yang diikat rapi kini tergerai panjang, berubah warna dari hitam kusam menjadi perak yang berkilau di bawah cahaya kristal.

Jubah cendekiawan lusuhnya terbelah oleh Qi yang meledak dari dalam, menampakkan jubah sutra biru gelap yang elegan dan mematikan.

Di depan mata Tuan Muda Yan dan belasan perampok yang kini membeku dalam horor, kakek penyakitan itu telah bertransformasi menjadi pemuda berambut perak dengan mata semerah darah.

Bai Ze. "T-Transformasi fisik?! Ilusi?!" salah satu pengawal Jiwa Baru Lahir mundur selangkah, merasakan ancaman insting yang luar biasa. "Kau... kau bukan Xie Yan!"

"Xie Yan sedang sakit dan butuh istirahat," Bai Ze tersenyum miring, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya yang dingin. "Jadi dia meminta hantu untuk menggantikannya malam ini."

Tuan Muda Yan menelan ludah, tapi arogansinya menolak untuk tunduk.

"Peduli setan siapa kau! Kau hanya satu orang! Kami punya lima ahli Jiwa Baru Lahir! Bunuh dia!"

"Lima?" Bai Ze memiringkan kepalanya. "Kalian terlalu meremehkan matematika."

Bai Ze menjentikkan jarinya.

Domain Gerhana: Gravitasi Bintang Mati!

BLAAAAARRR!

Sebuah tekanan gravitasi yang tidak masuk akal, jutaan kali lebih berat dari baja, menimpa seluruh kawah.

Bukan hanya para perampok Inti Emas yang langsung meledak menjadi kabut darah karena tubuh mereka hancur terhimpit. Keempat pengawal Jiwa Baru Lahir Awal milik Tuan Muda Yan juga ikut berlutut paksa, lutut mereka menghantam tanah limbah giok hingga tulang mereka remuk.

"AGGGHHHH!"

Mereka menjerit, memuntahkan darah segar. Mereka mencoba memanggil Bayi Jiwa mereka untuk melawan tekanan itu, tapi Bai Ze hanya mengangkat tangan kanannya.

Mata Dewa Gerhana di mata kirinya berkedip dengan cincin biru es yang mengerikan.

"Ruang kalian adalah milikku."

Bai Ze mengepalkan tangannya.

Empat ahli Jiwa Baru Lahir Awal itu terdistorsi secara fisik. Ruang di sekitar tubuh mereka dipelintir dan dilipat seperti kertas. Tulang, daging, dan organ dalam mereka diremukkan menjadi bola daging berdarah sekecil kepalan tangan sebelum akhirnya dihapus ke dalam Kekosongan.

Mati instan. Tanpa sisa. Tanpa sempat melawan.

Dalam waktu kurang dari lima detik, lima belas kultivator elit telah musnah.

Kini, hanya tersisa Tuan Muda Yan.

Pemuda bangsawan itu berdiri mematung. Kakinya gemetar hebat, celananya basah oleh air seni. Wajahnya yang tadinya angkuh kini dipenuhi air mata dan ingus. Akal sehatnya hancur melihat empat pelindung terkuatnya dihapus dari eksistensi hanya dengan satu kepalan tangan.

"T-Tidak... jangan... aku mohon..." Tuan Muda Yan merangkak mundur, menjauhi Bai Ze yang melangkah mendekatinya dengan santai. "Ayahku adalah Patriark... K-Klan kami akan memberimu apapun..."

Bai Ze berjongkok di depan Tuan Muda Yan. Dia mengambil sebuah saputangan bersih dari cincinnya dan dengan lembut mengusap air mata dari pipi pemuda yang sedang ketakutan setengah mati itu.

"Tuan Muda," bisik Bai Ze lembut. "Tadi di rumah lelang... kau bilang kau akan mengulitiku hidup-hidup, bukan?"

"S-Saya bercanda! Saya hanya sombong! Tolong, Tuan! Saya punya banyak uang!"

"Aku tahu," Bai Ze tersenyum. "Karena itu aku membawamu ke mari."

Bai Ze mencengkeram leher Tuan Muda Yan, mengangkatnya ke udara dengan satu tangan.

"Sebagai ganti nyawamu, aku akan mengambil Cincin Penyimpananmu, ingatanmu tentang pertahanan kotamu, dan tentu saja... jiwamu."

Raja Ulat Sutra Penenun Hampa melesat dari bahu Bai Ze, masuk langsung ke dahi Tuan Muda Yan.

Jeritan penderitaan yang merobek pita suara menggema di dalam kubah kedap suara itu. Bai Ze menguras habis memori sang pemuda tentang tata letak Kota Atas, kelemahan Klan Bintang Jatuh, dan lokasi harta karun tersembunyi.

Setelah proses yang menyiksa itu selesai, Bai Ze mematahkan leher Tuan Muda Yan dengan satu putaran pelan.

KRAK.

Tubuh tanpa nyawa itu dilemparkan ke tumpukan limbah giok.

Bai Ze memungut lima cincin penyimpanan tingkat tinggi yang berceceran di tanah (milik Tuan Muda Yan dan empat pengawalnya).

"Panen yang sangat memuaskan," gumam Bai Ze, auranya kembali tenang seolah tidak pernah terjadi apa-apa. "Dan jika klan ini menemukan mayatnya, mereka hanya akan mencari buronan berambut perak bernama Bai Ze. Sang Kakek Tua Xie Yan yang malang akan tetap bebas dari kecurigaan."

Di belakangnya, Long Tian hanya bisa menggelengkan kepala kagum. Tuannya ini merencanakan dua langkah ke depan bahkan saat dia sedang "dirampok".

Tiba-tiba, sebuah suara decitan halus terdengar dari balik kain tebal yang menutupi sangkar besi.

Bai Ze menoleh. Dia berjalan mendekati sangkar itu dan menarik kainnya.

Di dalam sangkar, gadis Roh Es Primordial itu sedang meringkuk. Namun, matanya tidak lagi kosong dan mati seperti saat di panggung lelang.

Mata biru kosmiknya kini menatap lurus ke arah mata kiri Bai Ze (Mata Dewa Gerhana). Tubuhnya gemetar, tapi bukan karena takut. Itu adalah resonansi murni. Afinitas Es Mutlak dan Hampa yang dimiliki Han Luo menarik esensi primordial gadis itu.

Gadis kecil itu perlahan merangkak mendekati jeruji sangkar. Dia mengulurkan tangan mungilnya yang pucat, mencoba menyentuh jubah Bai Ze.

"T-Tuan..." suara gadis itu seringkih lonceng kaca, pertama kalinya dia berbicara. "Di dalam dirimu... ada badai musim dingin abadi."

Bai Ze menatap gadis itu. Dia tidak melihatnya sebagai manusia, melainkan sebagai sumber energi berjalan yang bisa menyempurnakan Sutra Hati Es Abadi-nya.

"Mulai hari ini," kata Bai Ze, menggunakan pedangnya untuk membelah gembok sangkar itu menjadi dua. "Kau bukan lagi budak rumah lelang. Kau adalah milik Aliansi Gerhana."

Bai Ze mengulurkan tangannya. "Namamu sekarang adalah Xue'er. Dan kau akan membantuku membekukan dunia ini."

Gadis kecil itu ragu sejenak, lalu menyambut tangan Bai Ze yang hangat oleh darah namun sedingin es di dalamnya.

Di malam yang gelap itu, Sang Dalang tidak hanya mendapatkan ratusan ribu kristal purba dari para perampoknya, tetapi dia juga mendapatkan sebuah artefak hidup yang akan menjadi kunci untuk menaklukkan Cakrawala Suci.

1
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yup yup yup 🔥🌽
Mamat Stone
/Smirk/💥
Mamat Stone
/Joyful/💥
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
👻🤣
Mamat Stone
🤣👻
Mamat Stone
🤣
Mamat Stone
👻
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Joyful/
Mamat Stone
👻
Mamat Stone
🤣
Mamat Stone
senggol tabok 👊💥
Mamat Stone
senggol bacok /Cleaver/💥
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
Jagoan Neon /Casual/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!