NovelToon NovelToon
KESEMPATAN KEDUA

KESEMPATAN KEDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:13.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Seorang wanita yang bernama Karamel, di detik-detik kematiannya, sebelum menutup mata, dia melihat sosok pria berlari menuju ke arahnya dan langsung memeluknya dari api yang berkobar.

Pria itu adalah mantan suaminya yang dia ceraikan, pria yang sudah dia sakiti. Tapi pria itu masih datang untuk menolongnya, tapi sayang sekali, Karamel sudah tidak bisa bertahan, nafasnya sudah sudah berat dan matanya sudah mulai tertutup.

Tapi, ada suatu hal yang terjadi dan sulit dimengerti. Karamel kembali hidup di masa lalu, di mana dia masih menjadi seorang Istri.

Dengan kesempatan kedua yang dia dapatkan, tentu Karamel tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

Mampukah Karamel membalas semua luka yang dia dapat kan di kehidupan pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Perubahan Sikap

Setelah makan bersama, Tama memberanikan diri untuk mengajak Kara untuk berbicara berdua di ruang tengah.

Lagi-lagi dia buat bingung dengan sikap Kara yang berbeda. Tama mengeluarkan berkas yang dia bawa dari kantor dan meletakkannya di meja.

"Maaf, berkasnya baru selesai!" Dia awalnya berpikir, Kara tidak keluar kamar karena ingin buat masalah lagi, terkait permintaannya yang belum dipenuhi.

Karamel mengambil berkas di atas meja lalu membacanya. Namanya tertulis dengan 50% saham di Di Taka Grup, dan Nama Arka Pradipta dengan 20% saham.

Dan berkas lainnya, adalah beberapa properti yang ada di luar Kota. Semua yang dibaca saat ini, juga terjadi di masa lalu.

Tapi yang memberikan berkasnya adalah Pak Rudi, dan dia langsung pergi mencari Arka dengan perasaan yang begitu bahagia.

Karamel menatap Tama dengan seksama, selama tiga tahun pernikahan mereka tidak pernah satu kamar.

Krek..

Sreeekk..

Kara merobek berkasnya dengan beberapa bagian, lalu meletakkannya di atas meja. "Aku tidak membutuhkannya!"

Tangan Tama terkepal erat, dia menoleh dan bertanya. "Kenapa? Ini sudah sesuai yang kamu inginkan! Atau masih ada yang lain? Katakanlah!"

"Tidak!" sentak Kara dengan suara sedikit meninggi. Matanya sudah berkaca-kaca, kenapa dia membenci suami sebaik ini?

"Lalu apa yang kamu inginkan? Aku akan berusaha memenuhinya. Kecuali perceraian!" suaranya sedikit berat.

Air mata Kara sudah menetes, "Siapa yang ingin bercerai denganmu?" tanyanya dengan tersendat.

Tama teridam mematung, bukankah Kara mengancamnya dengan perceraian jika dia tidak memenuhi semua permintaannya? Kenapa sekarang dia bertanya seperti itu?

"Jadi apa yang kamu inginkan?" tanya sekali lagi.

Kara sangat ingin mangatakan apa yang ada di dalam hatinya. 'Aku ingin minta maaf, aku ingin memelukmu, aku ingin kamu dapat melihat kembali'.

Tapi dia tidak berani, dia sudah membuat banyak kesalahan. Bahkan penyebab Tama buta adalah karena melindungi dirinya, dia juga baru mengetahui hal itu setelah dia bercerai di kehidupan lalu.

"Aku tidak ingin apa-apa!" setelah mengatakan itu, Kara segera beranjak dan naik ke atas. Dia takut tidak bisa menahan diri, dan menerkam Tama.

Tama makin bingung, dia memanggil Pak Rudi dan menanyakan kegiatan Kara beberapa hari yang lalu, tapi setelah mendengarnya semua tampak normal, tidak ada hal aneh.

"Tuan, maaf jika saya lancang! Saya tidak sengaja melihat Nyonya mengeluarkan air mata."

"Ha? Kapan kau melihatnya?" Tanya Tama dengan khawatir, mungkin hal ini membuat Kara jadi bertingkah aneh.

"Emm itu.. Tadi Nyonya membentak Tuan, jadi saya reflek berlari untuk menengahi seperti biasa. Tapi saya malah melihat Nyonya Kara menangis."

Tama mecoba mengingatnya kembali, dan ternyata benar, dia juga sempat mendengar suara Kara yang parau.

Tama kembali ke kamarnya untuk beristirahat, dia tidak kembali lagi ke kantor. Badannya sedikit lelah karena banyak berpikir dengan perubahan Kara yang mendadak.

***

Di malam hari, Kara baru saja ingin membuka pintu untuk turun makan malam. Tapi seseorang lebih dulu mengetuk pintu.

"Pasti mereka datang antar makanan!" gumamnya.

Dia membuka pintu, dan melihat pelayan membawa makanan dengan troli. "Bawa turun! Aku ingin makan di bawah.!"

"Baik Nyonya." balasnya dengan sopan tapi sedikit gugup. Semua orang yang ada di rumah itu dibuat bingung dengan perubahan sikapnya.

Kara jalan terlebih dahulu, lalu turun dengan lift bersama pelayan yang membawa makanan. Jangan tanya kabarnya, dia sudah berkeringat dingin berdeketan dengan Kara. Karena Kara selalu memperingati mereka untuk tidak terlalu dekat dengannya.

Tiba di meja makan, Kara melihat Tama yang juga bersiap untuk makan. "Letakan di atas meja!" pintanya.

"Baik Nyonya!" Pelayan itu bernafas lega, dan meletakkan semua makan yang ada di troli ke atas meja.

"Apa ada masalah dengan makanannya?" tanya Tama dengan lembut. Dia suami yang tidak pernah bersikap kasar atau meninggakan suara kepada Istrinya meski cara bersikap kasar kepadanya.

Aruna tersenyum keci, tapi Saya sekali Tama tidak bisa melihatnya. Tapi berbeda dengan Pak Rudi, dia berdiri tidak jauh di belakang Tama tentu melihatnya dengan jelas, apalagi dia juga sedang menunggu jawaban Kara.

"Tidak. Aku ingin makan di sini." balas Aruna.

Tama lagi-lagi dibuat speechless, apa yang sebenarnya Kara rencanakan? "Baik, aku.."

"Temani aku makan!" potong Kara.

Tama mengangguk, lalu keduanya mulai makan bersama. Tidak ada obrolan yang terdengar, mereka makan dengan pikiran yang berbeda-beda.

Tiba-tiba seseorang masuk begitu saja dan langsung duduk di samping Kara. Dia seperti melihat sepasang suami-istri sedang makan bersama dengan romantis.

"Ckck.. Tumben kau mau makan bersama dengannya?" tanyanya dengan nada mengejek sambil menatap Tama.

Tangan kara yang memegang sumpit mengeras, saking kuatnya sumpit itu patah. "Kenapa ada masalah?" suara sengat tajam, wanita ini salah satu target balas dendamnya.

Wanita itu bernama Sarah, dia berteman dengan Kara sudah dari lama saat mereka sekolah di kampus yang sama, dia jugalah yang memperkenalkannya kepada Arka.

Sarat sedikit bingung dengan nada bicara Kara, dia dengan cepat berpikir dan mengira Kara sedang marah dengan Tama, dan pada akhirnya dia juga terkena getahnya.

"Kau tanya kenapa? Bukannya kau jijik makan dengannya?"

Tangan Tama yang berada di bawah meja terkepal erat. Jika Sarah sudah berkata seperti itu, biasanya Kara menimpali dengan kata-kata yang makin kasar.

Braaakkk..

"Pak Rudi, tolong antar tamu keluar!" pintanya dengan mata yang memerah.

"Kau, Kara apa maksudmu? Kau marah? Kau sendiri yang mengatakannya!" ujar sarah, dia tidak terima diusir seperti penjahat.

Pak Rudi yang sudah menerima perintah segera menarik Sarah, bahkan dia sengaja menariknya dengan kasar, dia sangat membenci orang ini.

"Aargghh.. Sakiiit. Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri..,!" Sentaknya dengan marah.

Pak Rudi terpaksa melepas tangannya, dan membiarkan dia berjalan terlebih dahulu.

"Kara kau ada masalah? Besok aku datang lagi, siapa tau kau butuh teman curhat!" ucapnya menahan sakit di pergelangan tangannya.

Melihat Kara hanya diam, sarah akhirnya keluar dengan perasaan dongkol. Datang dengan niat untuk minta uang, dan menyankan tentang saham, malah kena apes.

Di meja makan, suasana jadi canggung dan sedikit tegang. Kara beranjak, lalu berkata "Pak Rudi, ingatkan semua orang untuk tidak membukakan pintu untuknya!"

"Baik Nyonya!" balasnya tanpa ragu.

Kara kembali ke atas, saat masuk kamar, dia langsung menangis sambil bersandar dibalik pintu. Dia memukul-mukul dadanya karena sakit hati dengan perkataan Sarah, dan dialah orang pertama yang mengatakan hal itu.

"Hiks hiks... Maaf, maafkan aku.." Dia baru merasakannya sehari, bagaimana dengan Tama di kehidupan lalu?

Tama hanya akan diam jika dirinya melontarkan kata-kata kasar. Kara bahkan menjelek-jelekkannya di depan teman-temannya..

Enam tahun pernikahan, hanya untuk dijadikan bahan ejekan. Dan pada akhirnya Tama mau menandatangani surat perceraian yang diajukan Kara.

Tok Tok Tok Tok...

.

.

.

1
neni onet
ga sabar nunggu kecebongnya netes lah . . . 😁
Wati Ningsih
senengnya 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
neni onet
pantas rasanya kara membalas dengan perlahan tapi mematikan klo tau apa yang Sarah lakukan dimasa lalu . . .🫣
Liza Syamsu
di part ini tama sdh tdk buta ya bisa pakai laptop dan gendong kara, artinya aku dong yg ketinggalan cerita di bagian mana ya
Fii: Hai kk untuk menggunakan laptop ada penjelasan di bab-bab selanjutnya yaa..

Kalau untuk menggendong, anggap saja Tama sudah menghafal tata letak tempat tidurnya yaa🙏😁
total 1 replies
Wati Ningsih
aduhhhh siapa yg mau nampung arka tuhhhh😙😙😙😙😙😙😙
Wati Ningsih
karmaaaa😏😏😏😏😏😏
Wati Ningsih
ketahuan kamu mitaaaaa 😃😃😃😃😃
한스Hans
semangat Thor 🙏
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Wati Ningsih
kasian si Dion🥺🥺🥺🥺🥺🥺
Wati Ningsih
rasakan itu sarah
neni onet
apakah mereka sedang menikmati ketupat lebaran, sepaket sama opor ayam dan sambal goreng balado . . .
selamat idul Fitri thor, maafkan kami yang selalu minta crazy up yaa 😄
Fii: 🤣🤣🤣🙏🙏
total 2 replies
Sribundanya Gifran
lanjut
neni onet
ceritanya keren, reader ikut menerka2 alur ceritanya, menebak apa kejadian dimasa lalu yang membuat seorang Kara menjadi jahat sama Tama dan berusaha membalas satu persatu kejahatan Sarah CS ...
Fii: Makasih supportnya kak😍
jangan lupa mampir di Novel yang sdah tamat😁🙏
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
neni onet
please jangan sampe kebablasan, besok udah sholat Ied lhoo, ini othor juga sambil ngetik, sambil bikin opor kan, biar jadi THR an buat reader nya . . . 😄
Fii: wkwk iya nih.
makanya UP cuman 1 bab😭🙏🙏

Aduuhh THR nya belum bisa ditarik bulan ini 😭😭
total 1 replies
Sribundanya Gifran
lanjit
Sribundanya Gifran
lanjut
Sribundanya Gifran
lanjut thor💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!