NovelToon NovelToon
Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.

Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.

Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.

Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.

Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.

Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.

Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…

Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Jarak yang Tidak Terlihat

Langit sudah duduk di depan laptopnya sejak pagi. Ruang kerja itu dulunya kamar kecil di sisi belakang rumah. Jendelanya menghadap halaman yang dipenuhi cahaya matahari siang.

Layar laptop menampilkan dokumen yang seharusnya ia selesaikan sejak tadi. Namun selama hampir dua puluh menit terakhir, tidak ada satu kalimat pun yang bertambah. 

Langit membaca paragraf yang sama berkali-kali. Pikirannya tidak benar-benar berada di ruangan itu. Mimpi semalam masih meninggalkan bayangan yang tidak mau pergi.

Ketukan pelan terdengar di pintu. Langit mengangkat kepala.Ishani berdiri di sana.

Tangannya memegang sisi pintu, seolah ia sendiri ragu apakah harus masuk atau tidak.

“Kak… makan siang.” Suara Ishani pelan, hati-hati.

Langit menoleh ke jam di layar laptop.

Sudah lewat jam satu. “Aku belum lapar.”

Ishani tidak langsung pergi. “Supnya sudah dingin.”

“Aku bisa hangatkan nanti.”

Beberapa detik mereka hanya saling memandang tanpa kata. Ada sesuatu yang tidak terlihat di antara mereka. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terasa sejelas ini.

Ishani akhirnya berkata lagi, “Kakak sejak pagi belum keluar kamar.”

Langit menutup laptopnya perlahan.

Gerakannya tenang, tapi ada kelelahan yang samar di wajahnya. “Baik. Aku keluar.”

Ia berdiri dan berjalan melewati Ishani menuju dapur. Ishani mengikutinya beberapa langkah di belakang.

Langit duduk di meja makan dan mulai makan tanpa banyak bicara. Ishani duduk di kursi seberangnya, sementara Bu Rina menyibukkan diri di ruang tengah. 

Ia memperhatikan Langit beberapa detik sebelum akhirnya menyentuh sendoknya sendiri. “Kak…”

Langit mengangkat kepala sedikit.

“Kerjaan Kakak lagi banyak, ya?”

“Lumayan.”

Jawaban singkat.

Ishani mengangguk kecil. “Apa nggak apa-apa, Kakak sering WFH?”

Langit menaruh sendoknya sebentar. “Nggak ada masalah. Lagipula sekarang lebih mudah kalau aku di rumah.”

“Karena aku?”

Pertanyaan itu keluar tanpa rencana. Begitu kata-kata itu terucap, Ishani langsung menunduk. “Maaf. Aku cuma tanya.”

Langit tidak langsung menjawab. Tatapannya sempat berhenti pada wajah Ishani, lalu kembali ke mangkuknya. “Tidak apa.”

Suara sendok kembali terdengar. Ishani akhirnya mulai makan juga, tapi gerakannya lambat. Seolah ia sedang memikirkan sesuatu yang tidak tahu bagaimana mengatakannya.

“Kak.”

Langit kembali menoleh.

“Semalam Kakak tidur?”

Pertanyaan itu membuat Langit berhenti sebentar. Hanya satu detik. Tapi cukup untuk disadari.

“Tidur.”

“Sebentar?”

Langit menatapnya. “Kenapa kamu tanya begitu?”

Ishani ragu sebelum menjawab. “Aku sempat bangun.”

Langit tidak berkata apa-apa.

“Kakak lewat depan kamar.”

Beberapa saat tidak ada suara yang terdengar. 

“Aku cuma mau ambil air,” kata Langit akhirnya.

Ishani mengangguk pelan. “Hmm.”

Ia tidak melanjutkan. Namun sesuatu di dalam hatinya terasa tidak sepenuhnya yakin.

Langit kembali makan.

“Kak… kalau aku ganggu pekerjaan Kakak, bilang saja.”

Langit mengerutkan kening. “Kamu tidak mengganggu.”

“Tapi Kakak seperti menghindar.” Kalimat itu hampir seperti bisikan.

Langit tidak langsung menjawab. Ia menatap meja makan beberapa detik sebelum berkata, “Aku tidak menghindar.”

Ishani tersenyum tipis.

“Tapi Kakak hampir tidak bicara sejak pagi.”

Langit menaruh sendoknya. “Aku sedang banyak pikiran.”

Ishani mengangguk kecil. “Karena keputusan kemarin?”

Langit mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu.

Ishani segera menambahkan, “Kalau Kakak tidak nyaman… kita bisa bicarakan lagi dengan keluarga.”

“Tidak perlu.”

“Benarkah?”

Langit menatapnya beberapa detik. “Kamu menyesal?”

Ishani terdiam. Ia tidak langsung menjawab. Bukan karena tidak ingin, tapi karena ia sendiri tidak benar-benar tahu jawabannya. 

“Aku… tidak tahu.” Suara Ishani lebih pelan dari sebelumnya. “Semua terjadi sangat cepat.”

Langit mengangguk. Ia mengerti maksud kalimat itu lebih dari yang Ishani sadari.

“Kemarin semua orang bicara seolah itu keputusan terbaik,” lanjut Ishani.

“Itu memang keputusan terbaik.”

Ishani menatapnya. “Untuk siapa?”

Langit tidak menjawab. Beberapa detik berlalu sebelum ia berkata pelan, “Untuk kamu dan bayimu.”

Ishani menunduk. Tangannya bergerak pelan di atas meja, seolah mencari sesuatu untuk dipegang. “Tapi bagaimana dengan Kakak?”

Langit menghela napas pendek. “Aku baik-baik saja.”

“Kak--”

“Aku sudah memikirkan semuanya.” Nada suaranya tenang. Terlalu tenang. Seolah kalimat itu sudah ia ulang berkali-kali di dalam kepalanya sendiri.

Ishani terdiam. Beberapa saat kemudian ia berkata lagi, “Aku tidak ingin Kakak merasa… terpaksa.”

Langit menatapnya. “Aku tidak pernah terpaksa melakukan sesuatu yang aku pilih sendiri.”

“Kalau begitu…”

Ishani berhenti.

“Kakak kenapa berubah?”

Langit terdiam. Pertanyaan itu sederhana.

Namun ia tidak tahu bagaimana menjawabnya tanpa membuka sesuatu yang bahkan ia sendiri belum siap menghadapinya. Ia berdiri dari kursinya dan membawa mangkuknya ke wastafel.

“Supnya enak.Tolong bilang terima kasih sama Bu Rina.”

Ishani menatap punggungnya. “Kak.”

Langit berhenti.

“Kalau Mas Biru masih ada…” Kalimat itu terpotong sendiri.

Ishani langsung menutup mulutnya. Ia menyesal begitu kata-kata itu keluar. “Aku tidak seharusnya bilang begitu.”

Langit tetap berdiri membelakangi meja makan. “Kamu tidak salah.”

“Tapi--”

“Kamu tidak perlu menahan diri.”

Ishani menatap lantai. “Aku masih sering memikirkan dia.”

Langit akhirnya berbalik. “Itu wajar.”

“Aku takut Kakak salah paham.”

“Aku tidak akan salah paham.”

Ishani menghela napas kecil. “Kadang aku merasa bersalah.”

“Untuk apa?”

“Karena semua orang seperti… mendorongku melangkah lagi.”

Langit tidak menjawab.

“Aku bahkan belum benar-benar mengerti perasaanku sendiri.”

Langit mengambil gelasnya. “Kamu tidak harus mengerti sekarang.”

Ishani menatapnya. “Lalu kapan?”

Langit meminum airnya sebelum menjawab. “Pelan-pelan saja.”

Ishani mengangguk. Namun setelah beberapa detik ia berkata lagi, “Kak.”

Langit menoleh.

“Kalau suatu hari Kakak berubah pikiran…”

Langit mengerutkan kening.

“Kamu boleh bilang.”

“Kamu ingin aku berubah pikiran?”

“Bukan begitu.”

“Lalu?”

Ishani menunduk lagi. “Aku hanya tidak ingin Kakak merasa terikat karena janji pada Mas Biru.”

Langit diam. Beberapa detik ia hanya memandang meja makan di antara mereka. “Aku tahu apa yang aku lakukan.” 

Jawabannya tenang. Namun kali ini ada sesuatu yang lebih berat di dalamnya.

Ishani tidak melanjutkan.

Beberapa saat kemudian Langit mengambil piringnya. “Aku kembali kerja.”

Ia berjalan menuju ruang kerja.

Sebelum masuk, ia berhenti sebentar. “Kamu harus istirahat.”

“Iya.”

Di dalam ruangan itu Langit berdiri lama di dekat pintu. Percakapan di dapur masih terngiang di kepalanya.

Kalau Mas Biru masih ada…

Ia mengusap wajahnya. Ia tahu Ishani tidak bermaksud menyakiti. Namun kalimat itu tetap terasa seperti membuka sesuatu yang belum ia selesaikan di dalam dirinya sendiri.

Langit duduk di belakang meja kerjanya. Melalui celah pintu, ia bisa melihat 

Ishani masih duduk di meja makan sendirian. Ia tidak makan lagi. Ia hanya duduk diam sambil memegang gelas. 

Langit menatapnya untuk beberapa detik. 

Laptopnya masih terbuka. Namun pikirannya tetap berada di luar ruangan itu.

Untuk pertama kalinya sejak Ishani pindah ke rumah itu… Langit mulai menyadari sesuatu yang membuatnya tidak tenang.

Keputusan yang mereka ambil kemarin mungkin memang yang paling masuk akal.

Namun masuk akal tidak selalu berarti mudah. Dan jarak yang tiba-tiba muncul di antara mereka hari ini… mungkin baru permulaan.

1
Lisa
Moga aj Langit dpt menepati kata² nya.
Lisa
Tetap bertahan ya Shani..
☠️⃝🖌️M⃤ʟɪʟʏ vey༉‧♬⃝♥
nahkann, langit pasti uda mulai tertarik sama ishani, sedikit demi sedikit pelan tapi pasti😄
Xlyzy
menikah bukan hal yang bisa di putuskan dengan mudah lebih baik fikiran dulu matang matang
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
bisa lho ada orang yang segininya banget 😭
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
bener lho yg dibilang bu maura ini 😭
Three Flowers
akhirnya Ishani menerima wasiat dari sang suami, dan mungkin itu akan menjadi awal yang indah bagi mereka untuk mengarungi rumah tangga, tanpa melupakan Biru
PrettyDuck
kalo kamu di sisi ishani karena sayang, akui aja
biar ishani gak ngerasa cuma jadi beban
tapi kalo cuma karena kasihan dan tanggung jawab sama biru, mending gausah dinikahin
kasih nafkah aja tiap bulan
PrettyDuck
tapi kamu mau teruss
kalo gak nyaman harusnya nolak aja
bukan kewajiban kamu kok
PrettyDuck
langit mau nikahin ishani bukan cuma gara2 biru nih
emang dia udah mau jadi suami dan ayah untuk ishani sama anaknya
PrettyDuck
bukan tugas langit jaga biru
mereka sama2 masih anak2
kalian yg dewasa yg harusnya jaga mereka
-Thiea-
sepertinya akan sulit menghadapi ayahnya.
-Thiea-
memang gak mudah di terima akal sehat. tapi kalo keduanya udah setuju dan sama-sama menerima, restui aja sudah.
Cimol krispy
kemarin berarti adalah kondisi terminal luciditas. sedih banget/Sob/
Miu Nuha.
kamu tetep punya hak atas dirimu sendiri, lang. tapi berusahalah bersikap bijak karena kamu udh dewasa 😌,, segala memang masih rumit sekarang...
Filan
lah... tapi pas mati maksa Langit berkorban juga...
Ini hanya mimpi sih ya...
Filan
Kasihan Langit yang harus selalu dipaksa kuat demi Biru ya.

Sebenarnya, kalau Langit ga jatuh cinta sama Ishani, kayak yang ga adil sih buat dia. kayak yang ga punya kehidupan sendiri. 🥲
Mentariz
Kamu juga berhak bahagia, lang
Mentariz
Mimpinya terasa nyata dan sangat buruk
Mentariz
Dari kecil, hidup langit udah gak adil 🥲 ibunya kayak pilih kasih gitu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!