Warning 21+ guys ... harap cek umur dulu sebelum baca.
***
Arya seorang Presdir di sebuah perusahaan terjebak pesona sekretaris pribadinya sendiri yang setiap hari sering berinteraksi dengannya.
Suatu hari mereka terpaksa tinggal satu kamar dan tidur satu ranjang. Bisakah Arya bertahan dengan godaan ranjang dari sekretaris mudanya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Aku Pengen, An
"Ternyata ini toh maksud dari Tuan Arya. Kasian Nyonya Nisa diam-diam diselingkuhi. Padahal kalau dilihat-lihat masih bagusan Nyonya Nisa ke mana-mana. Ya, meski Nyonya Nisa tidak secantik pelakor itu, tapi ... kalau aku yang jadi suami Nyonya Nisa, nggak bakalan aku berpaling dari wanita yang baik akhlaknya itu," batin sang supir yang berkali-kali mencuri pandang ke arah jok belakang melalui spion dalam mobil.
***
Tidak terasa sudah satu tiga bulan perselingkuhan Anna dan Arya berjalan dan masih belum ketahuan oleh istri atau pun anak-anaknya.
"Mas, lihat deh!" ucap Anna menunjukkan sebuah gambar yang ada di ponselnya. "Lucu ya kalungnya."
"Iya, lumayan," jawab Arya singkat.
"Dari kemarin aku pengen banget beli kalung ini, tapi nggak sempet-sempet," curhat Anna. "Nanti siang jadwal kamu kan longgar, boleh nggak kalau aku ijin buat beli kalung ini ke Toko HDM?"
"Kamu mau beli sendiri?"
"Iya, Mas." angguk Anna.
"Kenapa nggak minta tolong dianter sama aku?"
"Kamu kan pasti capek ngurusin kerjaan. Masa pas jam istirahat makan siang aku minta kamu nganterin aku keluar beli kalung."
"Cuma itu alasannya?"
"Iya, Mas. Cuma itu alasannya. Emangnya ada alasan lain."
"Aku nggak suka ya," tekan Arya.
"Lho kok malah nggak suka?"
"Aku nggak suka kalau kamu terlalu mandiri kayak gitu. Harusnya kamu minta aja dianterin sama aku. Aku nggak apa-apa kok. Masalah kerjaan bisa dikerjakan nanti."
"Beneran, Mas?" tanya Anna dengan mata yang berbinar.
"Beneran lha." angguk Arya.
"Makasih ya, Sayang." cup, Anna pun mengecup pipi Arya dan memeluk tubuh lelaki itu yang kini sedang memangku tubuhnya di kursi meja kerja.
"Sama-sama," jawab Arya sembari membalas pelukan sekretarisnya itu.
Anna memang pandai membuat Arya menuruti apa kemauannya tanpa terlihat seperti sedang memoroti lelaki itu, atau mungkin Arya lah yang terlalu baik sehingga memberikan apa pun yang diinginkan oleh selingkuhnya itu.
Meski Arya bilang kalau dia akan mengantarkan Anna, tapi percayalah, lelaki itu pasti bukan hanya mengantarkannya saja, kalung yang diinginkan oleh Anna pasti akan dia belikan juga dengan uangnya sendiri.
Mungkin sifat royal yang diberikan dan ditunjukkan oleh Arya adalah seperti sebuah balasan untuk setiap kepuasan ranjang yang dia dapatkan dari Anna selama tiga bulan terakhir ini.
Sama halnya seperti sekarang, Arya yang memang sudah terbangun adik kecilnya mulai berbisik di telinga Anna.
"An, pintu masuk kantorku tadi kamu kunci nggak?"
"Emangnya kenapa?" tanya Anna dengan tangan yang mulai nakal menari-nari di dada bidang Arya.
"Pengen," bisik lelaki itu.
Anna tersenyum dan berbisik ke telinga Arya.
"Pintunya ke kunci kok."
"Boleh?" tanya Arya dengan sorot mata memohon.
"Terserah kamu, Mas," jawab Anna yang kini mulai mengendurkan dasi yang dipakai oleh Arya.
Mereka pun melakukan hubungan badan kembali di atas kursi meja kerja Arya dengan semangat yang menggebu.
Di tempat lain, Nisa sedang dalam perjalanan menuju ke kantor Arya karena ingin mengantarkan dokumen penting yang tadi malam lelaki itu kerjakan sampai larut malam di meja kerjanya.
"Mas Arya gimana sih, kok bisa-bisanya ninggalin berkas sepenting ini," gumam Nisa.
Sesampainya di gedung kantor tempat kerja suaminya, Nisa mulai melangkah masuk ke dalam gedung dan menuju ke ruang kantor suaminya.
"Selamat pagi, Bu," sapa para pekerja di gedung itu.