NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.

Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.

Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14: Jejak Pertama Sang Ular

Malam merayap lambat di atas kawasan pelabuhan Tanjung Priok.

Bau asin air laut bercampur dengan sisa pembakaran minyak bakar dari kapal-kapal kargo raksasa yang bersandar di dermaga menciptakan atmosfer yang berat dan pekat.

Di dalam kantor semi-permanen PT Mitra Kilat yang hanya dibatasi dinding triplek dan kaca nako buram, Doni Salman duduk di balik meja kayu tua.

Sebuah lampu meja kecil menerangi lembar-lembar manifest pengiriman barang harian.

Namun, konsentrasi Doni malam ini tidak tertuju pada angka-angka kubikasi kontainer, melainkan pada sebuah memo internal yang baru saja mendarat di mejanya sore tadi.

Memo itu berisi pengumuman singkat dari manajemen pusat: sebuah perusahaan pengembang infrastruktur dan logistik bernama PT Santoso Karya akan melakukan inspeksi lapangan ke gudang Mitra Kilat besok pagi.

Mereka sedang mencari mitra sub-kontraktor lokal untuk mendukung distribusi material proyek jalan tol lingkar luar Jakarta yang baru saja diresmikan oleh Devan Santoso.

Doni menyandarkan punggung mudanya ke kursi kerja yang berdecit.

Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ritme yang konstan di keheningan malam. Sebuah seringai dingin terukir di wajah tirusnya.

"Jadi, takdir mulai menggerakkan bidaknya lebih cepat dari yang kuperkirakan,"

gumam Doni, suaranya terdengar seperti desisan angin malam yang menyusup lewat celah jendela.

Di kehidupan pertamanya, inspeksi inilah yang menjadi awal mula petaka.

Saat itu, Devan Santoso tidak datang sendiri; ia mengutus tangan kanan kepercayaannya sekaligus seorang pemuda ambisius yang baru saja lulus dari fakultas ekonomi universitas ternama Andreas.

Pada masa itulah, Doni muda yang naif terpesona oleh karisma, pembawaan, dan kebaikan palsu Andreas yang berpura-pura ingin menjadikannya sahabat dekat, sebelum akhirnya menyusupkan Amanda ke dalam lingkaran hidup Doni untuk merampas segalanya.

Doni bangkit dari kursinya, melangkah menuju kaca nako yang terbuka sedikit, menatap ke arah pelataran gudang yang diterangi lampu sorot kuning.

Di bawah, tampak beberapa kuli angkut sedang beristirahat di atas palet kayu sambil menghisap rokok kretek.

Mereka tertawa lepas tanpa beban, sangat kontras dengan isi kepala Doni yang dipenuhi oleh kalkulasi geopolitik bursa dan strategi kepailitan korporat.

Ia melirik jam tangan digital murah di pergelangan tangan kirinya. Pukul sepuluh malam.

Doni kemudian meraba saku celananya, mengeluarkan telepon seluler monokrom format lama miliknya yang layarnya sudah sedikit retak di bagian sudut.

Ia membuka menu peramban WAP sederhana untuk memeriksa pergerakan bursa saham penutupan sore tadi.

Kode saham BUMI: Rp910 per lembar.

Hanya dalam waktu singkat sejak eksekusi pembelian rahasianya di bilik warnet dan galeri sekuritas dua minggu lalu, harga saham PT Bumi Resources Tbk sudah mulai merangkak naik, lepas dari zona jenuh terendahnya.

Keuntungan semua di atas kertas dari dana 10,5 miliar rupiah yang ia tanam sudah menyentuh angka ratusan juta rupiah.

Nilai yang sangat fantastis untuk ukuran tahun 2006, namun bagi Doni, ini barulah cipratan air pertama dari air bah finansial yang sedang ia bendung.

"Uang itu sudah mulai bekerja di kegelapan,"

bisik Doni sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

"Sekarang, tinggal bagaimana aku menyambut kedatangan sang ular besok pagi."

Doni tidak merasakan ketakutan atau kecemasan sedikit pun.

Alih-alih gemetar seperti di masa lalu ketika harus berhadapan dengan perwakilan dari perusahaan raksasa, darah di dalam tubuh mudanya justru bergolak oleh adrenalin yang murni.

Jiwa seorang CEO kawakan berusia 46 tahun yang bersemayam di dalam dirinya sudah sangat merindukan lantai negosiasi tingkat tinggi.

Ia tahu persis setiap kelemahan struktur finansial PT Santoso Karya saat ini termasuk fakta bahwa proyek jalan tol yang mereka banggakan di televisi itu sebenarnya dibiayai oleh pinjaman sindikasi bank yang memiliki klausul penalti sangat ketat jika terjadi keterlambatan pasokan material.

Ia kembali ke mejanya, mengambil sebuah map dokumen berwarna merah.

Dengan menggunakan pulpen hitam murahan, Doni mulai menuliskan beberapa poin penawaran kerja sama logistik yang sangat spesifik.

Setiap baris kalimat yang ia susun dirancang dengan bahasa hukum korporat yang sangat rapi, mengalir bebas, namun memiliki jebakan-jebakan kecil di bagian klausul denda operasional yang hanya bisa dibaca oleh seorang ahli hukum bisnis tingkat tinggi.

Doni sengaja menyusun dokumen ini untuk diperlihatkan kepada Andreas besok.

Ia ingin membuat Andreas terpukau, terkejut, sekaligus merasa menemukan sebuah 'permata tersembunyi' di dalam gudang kumuh ini.

Ia akan membiarkan Andreas merasa bahwa dirinya adalah orang yang jenius karena berhasil merekrut Doni ke dalam lingkaran bisnis keluarga Santoso.

Tepat pukul sebelas malam, Doni mematikan lampu meja kerjanya. Kantor gudang itu seketika tenggelam dalam kegelapan.

Sambil melangkah keluar menuju motor bebek tua miliknya di pelataran parkir, Doni menatap ke arah gerbang luar gudang yang berkarat.

"Datanglah, Andreas."

"Bawa seluruh ambisi kotor dan keserakahanmu itu bersamamu,"

kata Doni dengan suara yang sangat tenang namun sarat akan ancaman maut yang tertahan.

"Aku sudah menyiapkan panggung terbaik untuk menyambut pertemuan pertama kita di kehidupan kedua ini."

"Dan kali ini, akulah yang akan menulis naskah permainannya hingga selesai."

Di bawah guyuran angin malam pelabuhan yang membawa aroma garam dan solar, Doni Salman memacu sepeda motornya membelah jalanan Jakarta Utara yang sunyi.

Langkah kedua dari cetak biru balas dendamnya kini telah siap dipentaskan di bawah terang matahari esok hari, dan tidak akan ada satu pun detail yang luput dari perhitungan sang master korporat yang telah bangkit dari kematian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!