Kinan Malika, Gadis berusia 23 tahun yang menempuh pendidikan hukum selama 4 tahun, dan setelah lulus dia melamar pekerjaan sebagai notaris dan ingin menjadi pengacara.
Sayangnya, tidak ada yang percaya dengan kemampuannya. Hingga dia di terima di sebuah perusahaan besar untuk menjadi asisten pribadi seorang bos yang tidak pernah terpikir olehnya.
Baskara Rama Jaya, seorang laki-laki berusia 30 tahun. Bos perusahaan besar yang terkenal dingin dan tidak memiliki belas kasih terhadap karyawannya.
Memiliki trauma masa lalu dan mengindap insomnia akut, menyebabkan dirinya susah tidur ketika malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demam Tinggi
Selama satu Minggu ini, mereka terus bekerja keras sampai malam. Bahkan bukan hanya Kinan saja, tapi Rafli dan Rifki juga ikut bekerja keras bersama mereka meninjau proyek besar kali ini.
"Kinan, periksa email yang masuk. Setelah ini kita akan berangkat ke Bali untuk proyek selanjutnya." kata Baskara pada Kinan yang mulai terbiasa dengan sistem kerja Baskara.
"Baik, Bos. Oh iya, apa perlu saya pesankan makan malam? Bos belum makan malam bukan?" tanya Kinan pada Baskara yang masih sibuk dengan laptop miliknya.
"Nanti saja." tolaknya secara halus.
Tapi Kinan tetap memesan makanan tersebut. Dia tau baskara belum makan dan jika tidak di paksa Baskara tidak akan makan sampai besok.
Mereka kembali bekerja, sampai dimana Kinan mendapatkan telepon jika makanan yang di pesannya susah datang dan dia segera mengambilnya.
Baskara melihat itu. Dia hanya menggelengkan kepalanya melihat Kinan yang kembali memesan makanan padahal dia baru saja menghabiskan set makan malamnya tadi.
Sampai di mana tiba-tiba Kinan datang membawa semangkuk bubur ke hadapannya.. "Apa ini?" tanya Baskara pada Kinan.
"Makan dulu Bos. Saya pesan bubur dan sup untuk anda." Baskara meletakan pena miliknya dan menatap Kinan dengan intens.
"Kinan, apa maksudnya ini?" tanya Baskara saat Kinan menyuapkan satu sendok bujur hangat ke arahnya.
"Kamu tau kan kalau saya-"
"Saya tau dan paham benar. Tapi saat ini kita hanya bekerja. Dengan saya membantu anda untuk makan, maka pekerjaan anda tidak terganggu sama sekali bukan? Lagi pula kita harus menyelesaikannya malam ini agar besok pagi bisa pergi ke Bali bukan?" jawab Kinan.
Baskara kembali menatapnya dan memikirkan semua ini. Benar yang Kinan katakan. Mereka harus cepat, agar semuanya bisa bekerja sesuai dengan yang dia inginkan.
Melihat Baskara yang melahap bubur darinya membuat Kinan tersenyum. Tapi memang benar jika dia tidak memiliki perasaan apapun terhadap Baskara.
Karena memang semua dia lakukan nya demi uang. Demi gaji yang tinggi dan bonus yang telah Baskara janjikan untuknya.
Tanpa sadar, bubur tadi sudah habis tanpa sisa sedikitpun. Benar-benar sangat hebat bukan?
"Ayo pulang. Kau harus berkemas untuk besok dan jangan sampai terlambat."
"Oke!" jawab Kinan yang mulai terbiasa dengan sikap Baskara yang perfeksionis.
Mereka bersiap untuk pulang. Namun, tiba-tiba saja saat berjalan menuju mobilnya, Baskara oleng. Pandangannya mulai buram, seperti banyak kunang-kunang di depannya.
Melihat ada yang aneh dengan Baskara membuat Kinan bertanya padanya. "Bos? Apa anda baik-baik saja?" tanya Kinan panik melihat wajah Baskara yang sudah pucat.
"Saya baik-baik saja." jawab Baskara yang mencoba terlihat baik-baik saja, padahal sudah sejak tadi dia merasa badannya menghangat.
Dia kembali mencoba berjalan, namun hal yang sama terjadi. Bahkan jika tidak karena Kinan, mungkin dia sudah tersungkur ke tanah.
"Bos? Badan anda panas sekali." panik Kinan, saat mengetahui badan Baskara demam tinggi.
"Saya baik-baik saja, Kinan. Besok kita harus ke Bali dan-"
"Bos, anda sedang sakit. Tidak bisakah untuk tidak membicarakan tentang pekerjaan?" kata Kinan padanya.
"Kinan! Sudah saya katakan saya baik-baik saja!" kata Baskara dengan suara yang mulai melemah.
"Terserah anda! Biar saya yang menyetir!" ujar Kinan membawa Baskara ke kursi penumpang, dan dia yang akan membawa mobil kali ini.
Bagaimanapun di rumahnya ada mobil. Hanya saja dia ingin membuktikan pada keluarganya jika dia bisa sukses tanpa bantuan mereka.
Baskara tidak menjawab. Matanya terasa berat, kepalanya seperti di putar-putar membuatnya tidak tahan lagi.
"Bos, rumah anda dimana?" tanya Kinan menyetir mobil.
"Bos?" panggilnya lagi melihat Baskara ternyata tidur.
"Hah...." Kinan menyerah dan membiarkan Baskara tidur. Tapi kemana dia membawanya?
"Halah, bodo amat deh. Bawa dulu ke rumah. Yang penting gak mati di jalan." gumamnya membawa Baskara ke rumahnya lebih dulu. Karena keadaannya saat ini tidak memungkinkan.
Setidaknya dia bisa merawatnya saat demam bukan?
"Kali aja dapat bonus karena udah jagain pas demam." gumam Kinan lagi membayangkan hal itu
***