Ardian dan kebahagiaan nya.
Kembali berkumpul dengan putrinya serta menikah dengan wanita yang merubah dirinya menjadi pria dengan pribadi yang baik, membuatnya sangat bahagia walaupun cerita masalalu yang sedikit demi sedikit terbuka.
Jidan dan kisah cintanya.
Tidak sama seperti tuannya yang memilih berlabuh ke hati lain dan berdamai dengan masalalu nya. Jidan malah terjebak dengan perasaan nya yang belum benar-benar mencintai wanita lain. Seakan takdir berputar-putar ditempat nya, membuat Jidan selalu terjebak dengan perasaan sendiri, walaupun ada hati lain yang menariknya untuk beralih.
Bagaimana kisah selanjutnya? Simak yuk, biar nggak penasaran bagaimana kisah mereka selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Nada menatap kos-kosan yang tidak terlalu besar itu. Dia menyimpan tas nya ke atas lantai lalu menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Kos-kosan itu memang kecil tapi lengkap dan Nada suka dengan pilihan Jidan yang sangat pas dengan keinginannya.
"Rasanya lelah sekali, mana besok harus magang lagi." Ucap nya dengan mata menatap langit-langit kamarnya."Ayo semangat Nada besok hari pertama mu magang. Kamu harus lebih semangat dan ingat jangan sampai kesiangan." Ucap nya lagi menyemangati dirinya sendiri.
Tubuhnya memang berbaring tapi matanya tidak kunjung tertutup, gadis itu terus berbicara pada dirinya sendiri untuk mencari ngantuk yang tidak kunjung mendatangi nya. Saat kantuk datang, suara dering ponselnya membuat wanita itu membuka matanya.
"Ihh siapa sih yang ganggu. Padahal aku tinggal tidur saja ini." Rengek nya kesal dengan wajah yang sudah berubah menjadi cemberut. Walaupun kesal tangan nya tetap meraih ponselnya dan melihat siapakah orang yang sudah mengganggu nya itu. Nada terdiam melihat nama sang penelpon.
Rasanya Enggan menjawab, tapi Nada tidak bisa melakukannya. Dengan terpaksa dan juga berat hati gadis itu memencet layar ponselnya untuk mengangkat panggilan yang sudah ke dua kalinya menelpon.
"Gadis bodoh! Kenapa baru di angkat sekarang. Saya yakin kamu mengabaikan telpon saya kan!" serkas nya di seberang sana berhasil membuat bibir nada tertutup."Mentang mentang kamu mau magang kamu. Sampai lupa siapa yang biayai kamu!" Oceh nya di seberang sana membuat Nada menjauhkan ponselnya.
"Maaf Abi, Nada tadi ada di toilet."jawab Nada menjelaskan agar tidak mendengarkan ocehan pria di seberang sana yang tidak lain adalah ayahnya sendiri.
"Alah malah berbohong kamu anak sialan! Ingat baik-baik kamu jangan sampai lupa siapa kamu!"
"Iya Abi, Nada salah. Nada minta maaf. Lain kali Nada tidak mengulanginya lagi." Nada mencoba untuk mengalah agar sang ayah tidak terus mengoceh di seberang sana.
Karena menurut Nada, dia sangat lelah jika terus menanggapi kemarahan sang ayah yang selalu melampiaskan nya ke ia. Nada tau, ayah nya itu sedang marah dengan seseorang tapi karena tidak terlampiaskan makanya dia menelponnya.
"Kamu melawan Nada!"
"Ya Allah Abi, rasanya Nada ingin marah karena selalu disalahkan. Kapan sih Nada di hargai sedikit saja!" Batin nya menjerit tapi dia berusaha untuk sabar lagi dan lagi.
Nada menghela nafasnya, kata Maaf dia lontarkan untuk yang kesekian kalinya. Nada hanya mengatakan maaf saat sang ayah mengoceh tidak henti-hentinya di seberang sana yang teus menyalahkan dirinya.
Ini bukanlah pertama kalinya dia seperti ini melainkan berkali-kali. Dia harus memahami emosi ayah nya jika ayah nya itu sedang marah dengan seseorang.
Berbeda dengan Nada. Gadis lain juga mendapatkan tekanan yang sama. Bedanya ini sang ibu yang terus menuntut nya mengikuti semua ambisi nya hingga tidak mau tau anaknya bahagia atau tidak.
Nyonya Xia memasuki kamar putri nya yang saat ini sedang bersiap-siap. Tidak ada senyuman selain wajah murung setelah hari di mana dia berdebat dengan sang mami dimalam pertunangan itu. Guratan kesedihan dan penuh tekanan itu sangat terlihat tapi nyonya Xia seakan tidak peduli sama sekali.
"Enzo berada di bawah. cepatlah bersiap-siap. Jangan membuat dia lama menunggu." ucap nyonya Xia menghampiri putri nya yang saat ini sedang bercermin.
"Iya mami."
"Tersenyumlah, jangan biarkan wajah murung mu itu dilihat oleh Enzo." Peringkat nyonya Xia. Mendapatkan lirikan penuh luka dari Yaya. Tidak ada tatapan bahagia lagi yang biasa diperlihatkan selain tatapan kesedihan di sana.
"Mami tenang saja, aku akan selalu menjaga perasaannya saat berada di depannya nanti. Wajah murung ini tidak akan dia lihat."
"Jangan berkata seperti itu Yana. Kamu putri mami, semua ini mami lakukan untuk kebahagiaanmu di masa depan. Enzo dan keluarganya adalah keluarga baik untuk mu." Jawab nyonya Xia meraih tangan Yana lalu menciumnya dengan lembut."Kamu putri mami satu-satunya, tidak mungkin mami membiarkan mu terluka di masa depan."
"Tapi mami melukai ku, hanya untuk ambisi mami semata. Andaikan mami mengerti kalau aku tidak bisa bahagia bersama dengan Enzo. Mereka baik tapi mereka bukan pilihan ku." Sahut Yaya memberitahukan rasa yang beberapa hari ini menekan nya.
"Jangan memulai nya Yana. Kamu masih mengingat pembicaraan kita hari itu bukan?"
"Tapi aku tidak ingin di tekan seperti ini mam. Aku ingin bahagia dengan jalan ku!" Jawab Yaya kembali, dia tidak memperdulikan apa ancaman mami nya lagi nanti.
"Mami tidak ingin ada perdebatan lagi Yana. Ingat baik-baik. Jika kamu terus menerus memberontak seperti ini, jangan salahkan mami kalau fasilitas yang kamu dapatkan akan mami tarik!" Kesal nyonya Xia tapi berusaha untuk tetap tenang.
"Jika itu yang mami mau, maka cabutlah. Aku tidak menginginkan harta mami sama sekali, jika aku selalu dikendalikan bagaikan boneka."
"YANA YAKIRA SUH AGA!!" Tangan nyonya Xia terangkat tapi tertahan oleh tatapan berani yang diperlihatkan oleh Yaya.
Kamar itu terasa sangat panas sekali akibat perdebatan dari keduanya. Apalagi tidak ada yang menengahi di sana.
"Kenapa mami tidak jadi menampar ku?"
"Jangan menarik mami melakukan kejahatan Yana. Jika bukan karena papi mu, mami bisa saja menghukum mu." Ucap nyonya Xia berbalik."Turunlah, jangan berani-berani mengatakan yang tidak tidak pada Enzo jika kamu masih ingin mami menyayangimu seperti anak mami sendiri." Lanjut nya lagi sebelum wanita paruh baya itu melangkah keluar dari kamar nya.
Setelah kepergian mami nya. Yaya terduduk di atas kursi meja riasnya lalu menangis. Sakit saat sang ibu lebih mementingkan ambisinya ketimbang mementingkan kebahagiaan nya.
Dengan cepat Yaya menghapus air matanya. Dia harus menemui Enzo dan mengatakan yang sebenarnya walaupun mami nya mengancamnya.
"Enzo harus tau kalau aku tidak bisa menjalani hubungan ini tanpa perasaan sama sekali.”
Bersambung…