NovelToon NovelToon
SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tak Diundang di Kamar 1201

​Lobi Apartemen Cempaka yang mewah terasa dingin saat aku melangkah masuk. Marmer putih yang mengkilap di bawah kakiku seolah memantulkan bayangan diriku yang baru—bukan lagi Larasati yang rapuh dan lumpuh, melainkan seorang wanita yang siap menjemput keadilannya. Di sampingku, Pak Surya dan dua petugas polisi berpakaian preman berjalan dengan langkah pasti menuju lift.

​"Anda sudah siap, Laras?" tanya Pak Surya pelan, matanya menyiratkan kekhawatiran sekaligus rasa bangga.

​Aku mengangguk mantap. "Sangat siap, Pak. Luka di kaki saya tidak ada apa-apanya dibanding luka yang mereka buat di hati saya dan kehormatan orang tua saya."

​Angka di layar lift terus bergerak naik. 10... 11... 12. Ting!

​Pintu lift terbuka. Koridor lantai 12 itu sangat sunyi, hanya suara karpet tebal yang meredam langkah kaki kami. Aku berjalan di depan, memimpin jalan menuju kamar yang nomornya sudah terukir di kepalaku sejak pesan misterius itu masuk: 1201.

​Aku berhenti tepat di depan pintu kayu jati yang kokoh itu. Di dalam sana, mungkin Maya sedang bersantai, menghitung digit angka di buku tabungan ibuku, atau mungkin sedang merencanakan pernikahan mewahnya dengan suamiku. Tanganku gemetar sedikit saat hendak mengetuk, namun aku segera mengepalkan tinju.

​Tok! Tok! Tok!

​"Mas Dimas? Kok cepat sekali pulangnya? Katanya mau mengurus wanita lumpuh itu dulu?"

​Suara manja Maya terdengar dari dalam, diikuti suara langkah kaki yang mendekat. Jantungku berdegup kencang. Begitu kunci pintu berputar dan daun pintu terbuka sedikit, salah satu petugas polisi langsung menahannya dan mendorong pintu itu hingga terbuka lebar.

​"Aaaaa!" Maya menjerit histeris. Ia berdiri di sana hanya mengenakan jubah mandi sutra berwarna merah, wajahnya yang tadi ceria seketika pucat pasi melihat rombongan yang datang. "K-kalian siapa?! Berani-beraninya masuk tanpa izin!"

​Matanya beralih padaku. Ia ternganga, tangannya menunjukku dengan gemetar. "Laras?! Bagaimana mungkin... kamu... kamu bukannya tidak bisa jalan?"

​Aku melangkah masuk dengan tenang, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Di atas meja ruang tamu, aku melihat tas koper kecil yang terbuka, memperlihatkan tumpukan uang tunai dan beberapa perhiasan emas yang sangat kukenali—itu adalah set perhiasan pernikahan ibuku yang disimpan ayah di brankas ruang kerja.

​"Kejutan, Maya," ucapku dingin. "Sandiwara kelumpuhanku ternyata jauh lebih meyakinkan daripada sandiwara kesetiaan suamiku, bukan?"

​Maya mencoba meraih ponselnya di atas meja, namun Pak Surya lebih cepat. Ia menghalangi tangan Maya. "Jangan repot-repot menghubungi Dimas, Maya. Dia sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dan sekarang, giliranmu."

​"Aku tidak melakukan apa-apa! Dimas yang memberikan semua ini padaku! Aku hanya menerima pemberian kekasihku!" Maya berteriak, mencoba membela diri dengan wajah tanpa dosanya.

​"Kekasihmu?" aku terkekeh getir. "Maksudmu suami orang? Dan barang-barang ini... ini bukan pemberian, Maya. Ini barang curian. Kamu tahu persis dari mana Dimas mendapatkan uang dan perhiasan ini."

​Aku melangkah mendekati meja dan mengambil buku tabungan yang tergeletak di sana. Hatiku mencelos. Nama di sana adalah nama almarhumah Ibuku, namun di bawahnya sudah ada surat kuasa palsu yang ditandatangani Dimas.

​"Kamu tahu, Maya? Sejak awal aku sudah tahu kalian bermain di belakangku. Tapi aku diam. Aku ingin melihat sejauh mana kalian bisa bertindak jahat," aku menatapnya dengan tajam. "Kamu tidak hanya menghancurkan pernikahanku, kamu mencoba merampas sisa kenangan orang tuaku yang sudah tidak ada. Itu adalah dosa yang tidak akan pernah kumaafkan."

​Petugas polisi mulai memeriksa kamar tersebut dan menemukan sebuah map berisi dokumen deposito yang belum sempat dicairkan. "Ibu Maya, Anda kami tahan atas dugaan penampadahan barang curian dan konspirasi penipuan aset."

​"Tidak! Ini tidak adil! Dimas menjanjikan aku rumah itu! Dia bilang Laras akan segera mati setelah meminum obat itu!" teriak Maya frustrasi.

​Aku tersentak. Mati? Jadi rencana mereka bukan hanya melumpuhkanku, tapi melenyapkanku secara perlahan?

​"Obat itu... jadi kalian berniat membunuhku?" suaraku bergetar karena amarah yang memuncak.

​Maya menyadari dia baru saja membocorkan sesuatu yang fatal. Ia menutup mulutnya, namun sudah terlambat. Pak Surya langsung mencatat pernyataan itu. "Percobaan pembunuhan berencana. Terima kasih atas pengakuannya, Maya. Ini akan memperberat hukuman kalian berdua."

​Saat polisi menggiring Maya keluar dengan tangan diborgol, ia terus meronta dan memaki. Penghuni apartemen lain mulai keluar dari kamar mereka, berbisik-bisik melihat wanita cantik yang biasanya terlihat glamor itu kini diseret seperti kriminal biasa.

​Aku berdiri di ambang pintu kamar 1201, menatap punggung Maya yang menghilang di belokan koridor. Rasanya aneh. Ada rasa lega, namun ada lubang besar di hatiku. Rumah tanggaku hancur, suamiku terbukti ingin membunuhku, dan sahabat yang kupikir tulus ternyata adalah ular yang berbisa.

​"Laras, Anda baik-baik saja?" Pak Surya menyentuh bahuku lembut.

​"Saya baik, Pak. Hanya saja... saya tidak menyangka mereka sekejam itu," jawabku lirih.

​"Keadilan sudah ditegakkan. Sekarang kita harus mengamankan semua aset ini kembali ke tangan Anda," ucap Pak Surya.

​Saat kami berjalan menuju lift untuk turun, ponselku bergetar lagi. Sebuah pesan dari nomor misterius itu masuk.

​"Rubahnya sudah ditangkap. Selamat, Larasati. Kau telah memenangkan babak pertama. Temui aku di kafe seberang apartemen jika kau ingin tahu siapa yang memberikan racun itu pada Dimas. Meja nomor 7."

​Aku tertegun. Jadi ada orang lain di belakang semua ini? Siapa yang menyediakan zat kimia berbahaya itu untuk Dimas? Dimas hanyalah seorang pengacara, dia tidak akan tahu dosis obat saraf serumit itu tanpa bantuan seseorang.

​"Pak Surya, silakan Bapak ke kantor polisi duluan untuk mengurus berkas Maya. Ada seseorang yang harus saya temui sebentar," ucapku.

​"Apa itu aman, Laras?"

​"Saya rasa orang ini adalah orang yang membantuku dari awal. Saya harus tahu kebenarannya."

​Aku melangkah keluar dari lobi apartemen, menyeberang jalan menuju sebuah kafe kecil yang terlihat tenang. Di sana, di meja nomor 7 yang terletak di sudut ruangan, duduk seorang pria dengan kemeja hitam polos. Wajahnya tidak terlihat jelas karena ia sedang membaca koran, namun aura yang dipancarkannya terasa sangat akrab.

​Begitu aku sampai di depan meja tersebut, pria itu menurunkan korannya. Jantungku seolah berhenti berdetak sesaat.

​"K-kau?" bisikku tak percaya.

​Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan banyak rahasia. "Sudah lama tidak bertemu, Laras. Kau melakukannya dengan sangat baik. Sandiwara yang luar biasa."

​Aku menatapnya dengan bingung. Pria ini adalah sosok dari masa laluku, seseorang yang seharusnya tidak ada di sini. Seseorang yang kupikir sudah lama melupakanku.

​"Kenapa kau membantuku? Dan apa maksudmu dengan siapa yang memberikan racun itu?" tanyaku bertubi-tubi.

​"Duduklah dulu, Larasati. Cerita ini ternyata jauh lebih panjang dari naskah novel yang kau tulis. Dimas dan Maya hanyalah pion kecil. Ada seseorang yang jauh lebih besar yang menginginkan kehancuran keluarga besarmu... seseorang yang bahkan tidak kau duga."

​Ia menggeser sebuah dokumen kecil ke arahku. Di sana tertera sebuah nama yang membuat duniaku terasa berputar kembali.

​"Sandiwara yang sebenarnya... baru saja dimulai."

1
Anonim
PADAHAL KAU BISA MENJALIN KONTRAK DENGAN IBLIS DIAVLO LARAS
kozci
PENASARAN BANGET
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!