Dalam satu perjalanan malam,
Nara dan Arka dipaksa menghadapi kembali masa lalu yang belum selesai.
Dan kali ini… tidak ada lagi tempat untuk lari.
Karena di antara dua perhentian,
beberapa perasaan tidak pernah benar-benar hilang
hanya menunggu waktu untuk kembali menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sunyi yang Tersisa
Tidak semua kehilangan terasa seperti badai.
Ada yang datang…
pelan, hening, dan justru itu yang paling menyakitkan.
Setelah malam itu, hidup tetap berjalan.
Seolah tidak ada yang berubah.
Orang-orang tetap tertawa.
Jalanan tetap ramai.
Pagi tetap datang seperti biasa.
Tapi tidak untuk Nara.
Dia bangun di pagi hari… dengan perasaan kosong yang tidak bisa dijelaskan.
Bukan sedih yang meledak-ledak.
Bukan tangis yang deras.
Tapi seperti… ada sesuatu yang hilang, dan dia tidak tahu harus mencari ke mana.
Ponselnya tidak berbunyi lagi seperti dulu.
Tidak ada pesan “udah bangun?”
Tidak ada “jangan lupa makan”
Tidak ada nama Arka yang tiba-tiba muncul dan membuatnya tersenyum tanpa alasan.
Dan yang paling aneh
bukan karena itu hilang.
Tapi karena Nara masih menunggunya.
Refleks.
Tanpa sadar.
Tangannya kadang membuka chat lama.
Membaca ulang percakapan yang dulu terasa biasa.
Sekarang… terasa seperti sesuatu yang tidak akan pernah kembali.
Dia pernah mencoba menghapusnya.
Beberapa kali.
Menekan tombol delete.
Tapi selalu berhenti di detik terakhir.
Karena menghapus chat itu…
terasa seperti menghapus bagian dari dirinya sendiri.
Hari-hari berlalu.
Nara tetap pergi kerja.
Tetap tersenyum di depan orang lain.
Tetap terlihat… baik-baik saja.
“Tapi lo keliatan capek banget, Nar.”
Salah satu temannya berkata suatu siang.
Nara hanya tersenyum kecil.
“Cuma kurang tidur.”
Padahal… bukan itu.
Dia bukan kurang tidur.
Dia hanya… terlalu banyak memikirkan sesuatu yang tidak bisa dia ubah.
Malam hari adalah yang paling berat.
Saat semuanya sepi.
Saat tidak ada distraksi.
Saat pikirannya bebas… untuk kembali ke satu orang yang sama.
Arka.
Nara duduk di pinggir tempat tidur.
Lampu kamar redup.
Ponsel di tangannya.
Dia membuka galeri.
Foto-foto lama.
Satu per satu.
Tertawa.
Bersandar.
Tatapan yang dulu penuh arti.
Nara tersenyum.
Air matanya jatuh lagi.
Pelan.
“Kenapa sih kita jadi kayak gini…”
Bisiknya sendiri.
Tidak ada yang menjawab.
Karena beberapa pertanyaan… memang tidak punya jawaban.
Di tempat lain
Arka juga tidak benar-benar baik-baik saja.
Dia sudah pindah.
Kota baru.
Tempat baru.
Lingkungan yang berbeda.
Semuanya berjalan cepat.
Terlalu cepat.
Meeting.
Target.
Tekanan.
Hidup yang dulu dia pikir akan dia kejar…
akhirnya dia dapatkan.
Tapi tidak ada Nara di dalamnya.
Dan itu membuat semuanya terasa… kosong.
Malam itu, Arka duduk sendiri di apartemennya.
Laptop terbuka.
Tapi tidak benar-benar dia lihat.
Pikirannya kembali ke kereta.
Ke malam itu.
Ke kata terakhir Nara.
“Semoga… kita udah jadi orang yang lebih baik.”
Arka tertawa kecil.
Pahit.
“Gue jadi lebih baik buat siapa, Nar…”
Tidak ada jawaban.
Dia membuka ponselnya.
Scroll.
Nama Nara masih ada.
Jarinya berhenti.
Lama.
Dia ingin mengetik sesuatu.
Apa saja.
“Lo lagi apa?”
Sederhana.
Seperti dulu.
Tapi dia tidak jadi.
Karena untuk pertama kalinya…
dia sadar
tidak semua orang yang kita rindukan…
punya hak untuk kita ganggu lagi.
Dia mengunci layar.
Menaruh ponsel di meja.
Dan membiarkan rasa itu… tetap ada.
Hari demi hari berlalu.
Tanpa mereka.
Tanpa pertengkaran.
Tanpa tawa.
Tanpa “kita”.
Hanya dua orang…
yang pernah saling memiliki
sekarang belajar… hidup tanpa satu sama lain.
Nara mulai terbiasa.
Tidak lagi membuka chat setiap malam.
Tidak lagi menunggu pesan.
Tapi bukan berarti dia sudah sembuh.
Dia hanya… belajar hidup dengan luka itu.
Karena ternyata
beberapa kehilangan tidak pernah benar-benar pergi.
Mereka hanya berubah bentuk.
Menjadi kenangan.
Menjadi diam.
Menjadi sesuatu yang sesekali muncul…
tanpa diundang.
Dan setiap kali itu terjadi
rasanya tetap sama.
Sesak.
Kereta itu sudah lama berhenti.
Perjalanan itu sudah selesai.
Tapi di dalam hati mereka…
ada sesuatu yang masih berjalan.
Perlahan.
Diam-diam.
Menuju tempat yang mungkin… tidak pernah mereka bayangkan.
Dan di antara dua perhentian itu
mereka tidak lagi bersama.
Tapi masih… saling tinggal.