Seorang CEO muda yang ambisius seperti Kenzo Praditya tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi dengan Anindya, janda dari kakaknya sendiri.
"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku melakukan ini hanya demi wasiat Kakak," ucap Kenzo dingin di malam pertama mereka.
Anindya hanya bisa menelan kepahitan. Ia bertahan demi satu alasan, buah hatinya yang membutuhkan perlindungan keluarga Praditya.
Namun, tembok es yang dibangun Kenzo perlahan runtuh saat ia melihat ketegaran Anindya menghadapi badai fitnah dari luar.
Saat rasa peduli mulai berubah menjadi obsesi, Kenzo dihadapkan pada satu kenyataan pahit. Ia mulai mencintai wanita yang seharusnya tidak boleh ia miliki.
Simak Kisah Selanjutnya di Cerita Novel => Turun Ranjang.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Jakarta masih terjebak dalam cuaca yang suram, seolah langit enggan memberikan setitik pun harapan bagi mereka yang berada di dalam kediaman Praditya.
Di dalam ruang tamu yang luas, aroma alkohol yang tajam menyeruak, bercampur dengan asap cerutu yang menyesakkan. Kenzo duduk di lantai, bersandarkan pada kaki ranjang di kamar utama yang kini terasa begitu dingin dan luas.
Di hadapannya, sepuluh pengawal berdiri dengan kepala tertunduk. Tubuh mereka gemetar setiap kali Kenzo meneguk whiskey langsung dari botolnya.
"Satu minggu..." desis Kenzo. Suaranya serak, matanya merah karena kurang tidur dan pengaruh alkohol. "Satu minggu dan kalian belum memberiku satu pun nama kota? Satu pun koordinat?!"
"Tuan Kenzo, kami sudah memeriksa manifes penerbangan seluruh maskapai, bahkan kapal feri pribadi..."
PRANK....!!
Kenzo melemparkan gelas kristal di tangannya ke arah para pengawal. Gelas itu hancur berkeping-keping tepat di bawah kaki mereka.
"Aku tidak butuh alasan! Jika kalian tidak menemukannya besok, jangan harap kalian bisa melihat keluarga kalian lagi. Mengerti?! Cari dia sampai ke lubang semut sekalipun!"
"B-baik, Tuan!" Para pria berjas itu segera mundur teratur, lebih takut pada kegilaan Kenzo daripada maut itu sendiri.
Kenzo tertawa lirih, lalu jemarinya meraba seprai di sisi tempat tidur yang biasanya ditempati Anindya. Ia mencium bantal wanita itu, mencoba mencari sisa aroma yang kini telah memudar.
Obsesinya telah berubah menjadi racun yang menggerogoti kewarasannya. Baginya, Anindya bukan lagi sekadar istri, melainkan piala yang harus ia rebut kembali, tak peduli berapa banyak nyawa yang harus dikorbankan.
~~
Sementara itu, di sebuah hotel mewah di London, Tuan Praditya membanting tabletnya ke atas meja kerja. Wajahnya pucat pasi. Ia baru saja menerima laporan tentang perilaku Kenzo di Jakarta.
"Bajingan itu!" maki Tuan Praditya. "Aku mengirimnya ke Jakarta untuk menyelamatkan perusahaan, bukan untuk menjadi pemabuk yang menghabiskan sisa dana cadangan hanya untuk mencari wanita yang sudah membuangnya!"
Asisten pribadinya yang berada di London tertunduk. "Tuan Besar, pengeluaran Tuan Kenzo untuk menyewa informan gelap dan detektif swasta internasional sudah mencapai angka yang mengkhawatirkan. Bank mulai mempertanyakan likuiditas kita."
"Blokir semua kartu kredit pribadinya!" perintah Tuan Praditya tegas. "Sisakan hanya rekening operasional kantor. Jika dia ingin menjadi gila, jangan bawa-bawa namaku. Aku harus menyelesaikan audit ini sebelum polisi benar-benar menahan kami semua karena bocoran data keuangan itu."
Tuan Praditya memijat pelipisnya. Ia menyadari bahwa putranya sudah kehilangan kendali. Kenzo tidak lagi peduli pada takhta Praditya, ia hanya peduli pada mangsa yang berhasil meloloskan diri.
~~
Di belahan dunia lain, Dubai sedang berada di puncak kemegahannya. Anindya berdiri di depan cermin besar di kantornya. Ia mengenakan dress formal berwarna emerald green yang kontras dengan kulitnya yang bersih.
Rambutnya disanggul modern, memperlihatkan anting berlian pemberian Arlan yang berkilauan.
Ia bukan lagi Anindya yang rapuh. Kini, ia dikenal sebagai Dian Rahardjo, Direktur Utama 'Arlan International Trading' yang misterius namun jenius.
"Nyonya, tamu Anda sudah tiba di ruang perjamuan," Sarah masuk dengan senyum sopan. "Mr. Zayed Al-Maktoum sudah menunggu."
Anindya mengangguk. Ia memperbaiki posisi blazer-nya dan melangkah keluar.
Mr. Zayed adalah salah satu CEO paling berpengaruh di Dubai. Perusahaannya bergerak di bidang konstruksi dan energi. Kerjasama dengan Zayed berarti legitimasi penuh bagi perusahaan Anindya di tanah Arab ini.
Saat Anindya memasuki ruang perjamuan mewah yang menghadap ke air mancur Dubai Mall, seorang pria berdiri dari kursinya. Pria itu memiliki postur tubuh yang luar biasa gagah, tingginya nyaris 190 cm.
Kulitnya putih bersih, kontras dengan jambang tipis yang tertata rapi di rahangnya yang tegas. Tatapan matanya yang berwarna cokelat gelap seolah mampu menembus siapa pun yang dipandangnya.
Zayed Al-Maktoum, pria yang dikenal dingin dan tak tersentuh oleh pesona wanita mana pun, terpaku sejenak saat melihat Anindya berjalan ke arahnya.
"Selamat siang, Mr. Zayed. Terima kasih sudah meluangkan waktu," ucap Anindya dalam bahasa Inggris yang elegan sembari mengulurkan tangan.
Zayed menyambut tangan Anindya, namun ia menahannya sedikit lebih lama dari sekadar jabat tangan formal.
"Sebuah kehormatan bagi saya, Madam Dian. Saya sudah banyak mendengar tentang 'kebangkitan' mendadak perusahaan Anda. Namun, laporan tidak menyebutkan bahwa pemimpinnya memiliki kecantikan yang melampaui senja di gurun."
Anindya menarik tangannya dengan halus, tersenyum sopan tanpa sedikit pun menunjukkan rona merah di pipinya. "Pujian yang berlebihan, Sir. Saya lebih suka jika kita membahas potensi keuntungan di pelabuhan baru nanti."
Zayed terkekeh rendah. Suaranya berat dan berwibawa. "Tegas dan cerdas. Anda berbeda dari wanita-wanita yang biasanya saya temui di meja perundingan."
Sepanjang makan siang, Zayed tidak bisa melepaskan pandangannya dari Anindya. Ia terpesona bukan hanya karena kecantikan fisik wanita itu, tetapi karena wibawa dan ketenangan yang dipancarkannya.
Zayed, yang biasanya menjadi predator di meja bisnis, kini merasa tertantang oleh tembok tinggi yang dibangun Anindya di sekeliling hatinya.
Setelah pertemuan berakhir, Zayed mengantar Anindya hingga ke depan mobil limousine-nya.
"Madam Dian, jika Anda memiliki waktu luang akhir pekan ini, saya ingin mengundang Anda dan putra Anda untuk melihat koleksi kuda pacu saya di istana pribadi," ucap Zayed dengan nada yang lebih lembut, sebuah ajakan yang jarang ia berikan pada mitra bisnis mana pun.
Anindya menoleh, menatap Zayed dengan tatapan yang tenang namun tegas. "Terima kasih atas undangannya, Mr. Zayed. Tapi akhir pekan saya adalah waktu eksklusif untuk putra saya."
Zayed tertegun. Ia melihat binar kesedihan sekaligus keteguhan di mata Anindya. Alih-alih merasa tersinggung, Zayed justru semakin kagum.
"Seorang pria yang beruntung, meski dia sudah tidak ada. Saya akan menunggu sampai pintu itu terbuka sedikit saja, Madam." bisiknya lirih.
Mobil Anindya melaju meninggalkan Zayed yang masih berdiri menatap keberangkatannya.
Di dalam mobil, Sarah menatap Anindya dengan takjub. "Nyonya, Mr. Zayed adalah pria paling diinginkan di seluruh Dubai. Anda baru saja menolaknya dengan sangat halus."
Anindya mengelus cincin pernikahannya yang kini ia gantungkan di kalung di balik pakaiannya. "Hati ini sudah mati untuk cinta yang baru, Sarah. Fokusku sekarang adalah memastikan Elang tumbuh besar tanpa takut pada bayang-bayang ayahnya."
~~
Kembali ke Jakarta, jam menunjukkan pukul tiga pagi. Kenzo terbangun dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia bermimpi Anindya berdiri di depannya, namun saat ia mencoba menyentuhnya, Anindya berubah menjadi butiran pasir yang terbang tertiup angin.
"ANIIIIIN!" teriak Kenzo frustrasi.
Ia melempar botol minumannya ke arah cermin hingga hancur. Kenzo berjalan sempoyongan menuju meja kerjanya. Di sana, terdapat laporan dari salah satu informannya di bandara kecil luar kota.
"Tuan, ada catatan penerbangan jet pribadi tak terdaftar yang lepas landas di hari yang sama dengan hilangnya Nyonya. Tujuan terakhirnya... tidak tercatat, tapi rutenya mengarah ke Barat."
Mata Kenzo yang sayu tiba-tiba berkilat dengan kegilaan baru. "Barat...? Eropa?"
Kenzo mengambil ponselnya, mengabaikan peringatan ayahnya. Ia menghubungi seseorang di dunia bawah tanah.
"Aku punya uang. Berapa pun. Cari jet pribadi itu. Lacak koordinat terakhirnya. Jika kau menemukannya, aku akan memberimu setengah dari saham pribadiku."
Di Dubai, Anindya sedang mencium kening Elang yang tertidur lelap. Ia tidak tahu bahwa predator itu mulai mengendus jejaknya. Namun, Anindya yang sekarang bukan lagi domba yang ketakutan.
Jika Kenzo berani melangkah ke Dubai, ia akan memastikan pria itu masuk ke dalam sangkar emas yang tidak akan pernah bisa dibuka kembali.
Perang ini belum berakhir. Sang predator baru saja mencium aroma mangsanya, namun ia tidak menyadari bahwa mangsanya kini telah menjadi pemburu yang jauh lebih mematikan.
...----------------...
To Be Continue ....
**Halo pembaca kesayangan Miss Ra...**
**Wah, kisah Anindya dan Kenzo lagi makin seru, nih! Tapi perjuangan mereka nggak akan sampai ke puncak tanpa bantuan dari pasukan setia kalian. Yuk, kita sama-sama kawal cerita ini sampai masuk jajaran 20 Bab Terbaik!**
**Siap dapet kejutan? Miss Ra sudah menyiapkan hadiah spesial buat kalian yang nggak pernah absen ngasih dukungan. Cek detailnya di bawah ini ya.**
**Cukup luangkan waktu 5 detik di setiap bab**
**Kasih Jempol, satu klik kalian adalah energi buat Miss Ra lanjut nulis!**
**Tinggalkan Komentar, Makin ramai kolom komentar, makin tinggi retensi ceritanya.**
**Pantengin Terus, jangan sampai terlewat satu bab pun supaya performa ceritanya tetap stabil di puncak!**
**Dukungan kalian adalah nyawa bagi Anindya dan Kenzo. Yuk, kita buat cerita ini bersinar lebih terang lagi!**
**Selamat menyelami liku-liku takdir Anindya hari ini. Semoga kalian baper berjamaah ya! I love you sekebon buat kalian semua yang selalu ada.**
**Sampai jumpa di bab selanjutnya...**
**See You**....