[y/n] adalah seorang gadis yang hidup dalam topeng sempurna. Baginya, dunia adalah panggung sandiwara di mana senyumnya, ketenangannya, bahkan tatapan matanya hanyalah kepalsuan yang disusun rapi tanpa celah. Namun, benteng yang ia bangun bertahun-tahun mendadak retak saat ia menginjakkan kaki di sekolah barunya.
Seorang pemuda bernama Ariel—si berandal jenius yang ugal-ugalan namun memiliki insting tajam—menjadi satu-satunya orang yang mampu melihat di balik topeng tersebut. Di saat semua orang tertipu oleh keramahan [y/n], Ariel justru menantangnya untuk jujur.
Akankah hidup [y/n] berubah setelah rahasianya mulai terkelupas satu per satu? Mengapa ia begitu terobsesi dengan kepalsuan? Dan rahasia gelap apa yang sebenarnya ia sembunyikan di balik helai rambut birunya? Temukan jawabannya dalam perjalanan penuh rima, luka, dan perlindungan yang tak terduga...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mondᓀ‸ᓂ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kebebasan...
Bilang aja lu khawatir sama cewek cantik kayak gua kalau cari kerja sembarangan..." ucap [y/n] dengan nada sengaja dibuat manis, sambil menopang dagu dan menatap Ariel dengan tatapan jenaka.
Dia ingin membalas semua gangguan Ariel di kelas tadi. Dan sepertinya, serangannya berhasil seratus persen.
Uhuk!
Ariel yang baru saja menyedot susu cokelatnya langsung tersedak. Dia terbatuk-batuk kecil, wajahnya yang tadi sok dingin seketika berubah warna menjadi merah padam sampai ke pangkal lehernya. Dia buru-buru menjauhkan kotak susunya, berusaha mengontrol napas dan ekspresi wajahnya yang hancur berantakan.
"Pede banget lu... siapa juga yang bilang lu cantik?" gerutu Ariel dengan suara yang sedikit pecah. Dia membuang muka jauh-jauh ke arah pepohonan, tak berani menatap mata cokelat [y/n] yang sedang menertawakannya.
"Loh, kalau nggak cantik, ngapain lu ikutin sampe rumah? Ngapain lu jagain di rooftop? Ngapain juga repot-repot nyariin kerjaan di kafe kucing paman lu?" [y/n] makin gencar menggoda, rasa takutnya pada Ariel seolah menguap begitu saja melihat sisi manusiawi cowok itu.
Ariel berdecak keras, mencoba kembali ke mode "sangar"-nya, tapi gagal total karena telinganya masih memerah terang. "Berisik lu, Kecil. Gue cuma nggak mau lu diculik terus nanti gue yang disalahin karena lu anak baru di geng gue."
"Geng? Sejak kapan gua masuk geng lu?" tanya [y/n] sambil tertawa kecil, hatinya merasa sedikit lebih ringan.
"Sejak lu duduk di samping gue dan gue obatin lukanya," sahut Ariel datar, kali ini dia berani menoleh sedikit. "Di sekolah ini, kalau lu deket sama gue, berarti lu di bawah perlindungan gue. Paham?"
Ariel merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah gantungan kunci kecil berbentuk kepala kucing hitam yang terlihat sangat imut—kontras dengan penampilannya yang garang. Dia melemparkannya ke meja, tepat di depan [y/n].
"Pake ini di tas lu. Biar anak-anak lain tau kalau lu nggak bisa sembarangan diganggu," gumam Ariel. "Anggap aja itu... tanda pengenal."
[y/n] mengambil gantungan kunci itu, matanya berbinar. "Imut banget... makasih ya, Bujang."
Ariel berdiri dengan sentakan kasar, seolah kursi itu baru saja menyetrumnya. "Jangan panggil gue itu! Cepet abisin rotinya, bel bentar lagi bunyi. Gue mau ke toilet dulu."
Ariel berjalan cepat meninggalkan kantin belakang, langkahnya terlihat agak terburu-buru. [y/n] tahu, Ariel bukan ke toilet, dia cuma butuh tempat sepi buat menenangkan jantungnya yang habis "diserang" secara mendadak tadi.Setelah punggung Ariel benar-benar menghilang di balik tikungan lorong kantin, [y/n] langsung merosot di bangku kayu itu. Dia memegangi dadanya yang terasa berdegup sangat kencang, seolah-olah baru saja lari maraton berkilo-kilo meter.
[y/n] menghela napas panjang, mencoba mengusir oksigen yang seolah mendadak menipis di sekitarnya.
"Gilak... gua tadi bisa-bisanya kepikiran buat ganggu Ariel... jantung gua rasanya mau meledak..." batin [y/n] sambil menatap kosong ke arah kotak susu cokelat yang masih tersisa separuh.
Dia teringat wajah Ariel yang memerah padam dan bagaimana cowok paling ditakuti seantero SMA Pelita itu sampai tersedak susu karena digoda "cantik". Sebuah tawa kecil kembali lolos dari bibir [y/n].
"Tapi... tingkahnya tadi lucu banget hahah," gumamnya lirih.
[y/n] mengambil gantungan kunci kucing hitam pemberian Ariel.
Dia mengusap permukaan plastik yang halus itu dengan ibu jarinya. Siapa sangka, di balik reputasi Ariel sebagai "criminal sekolah" yang hobinya bertarung dan bikin masalah, cowok itu punya sisi yang begitu telaten mengobati luka dan sangat perhatian dalam diam.
Bagi [y/n], Ariel bukan lagi sekadar berandalan kasar. Dia adalah satu-satunya orang yang tahu "bau" luka yang ia simpan, dan satu-satunya orang yang memberinya perlindungan tanpa menuntut senyum palsu sebagai bayarannya.
[y/n] segera memasangkan gantungan kunci itu di resleting tas backpack-nya. Dia tersenyum kecil melihat benda imut itu menggantung di sana—sebuah tanda bahwa sekarang, dia tidak lagi berjalan sendirian di bawah bayang-bayang rumahnya yang hancur.
"Oke, [y/n]. Waktunya balik ke kelas dan siap-siap buat kerja sore nanti," bisik [y/n] pada dirinya sendiri, memberikan semangat baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Saat dia berdiri dan hendak berjalan kembali ke kelas, dia tidak menyadari bahwa di balik pilar bangunan tak jauh dari sana, Ariel sebenarnya masih berdiri diam, mengintip sekilas untuk memastikan [y/n] benar-benar menghabiskan rotinya sebelum akhirnya cowok itu benar-benar pergi dengan senyum tipis yang tak terlihat siapapun..
Langkah [y/n] terasa ringan saat turun dari angkot. Tangannya sesekali menyentuh gantungan kunci kucing pemberian Ariel di tasnya, seolah benda itu memberinya kekuatan tambahan untuk menghadapi "monster" di dalam rumahnya sore ini. Dia sudah menyiapkan mental untuk bau alkohol dan makian ibunya.
Namun, begitu dia sampai di depan gang rumahnya, jantungnya mencelos.
Sebuah mobil polisi dengan lampu rotator yang masih menyala redup terparkir tepat di depan pagar rumahnya yang berkarat. Beberapa tetangga berdiri di kejauhan, berbisik-bisik sambil menatap ke arah rumah [y/n].
Seorang polisi wanita dengan seragam rapi berdiri di teras, tampak sedang mencatat sesuatu. Begitu melihat [y/n] yang mematung dengan wajah pucat, polisi itu melangkah mendekat.
"Kamu [y/n]?" tanya polisi wanita itu dengan nada bicara yang berusaha dibuat lembut.
[y/n] hanya bisa mengangguk kaku. "I-iya, Bu. Ada apa ya? Ibu saya mana?"
"Ibu kamu, Bu Rela, sudah kami amankan ke kantor polisi sekitar satu jam yang lalu," jelas polisi itu tenang. "Ada laporan dari salah satu tetangga mengenai tindakan kekerasan pada anak yang dilakukan secara berulang.
Kami sudah mengumpulkan bukti-bukti di dalam rumah... termasuk pecahan botol dan kondisi rumah yang tidak layak."
Dunia [y/n] seolah berputar.
Dia melirik ke arah rumah Pak RT di seberang jalan, menduga mungkin dialah yang melapor karena sudah tidak tahan mendengar suara keributan setiap malam.
"Ibu kamu akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Untuk sementara, kamu aman di sini. Ini kartu nama saya, kalau ada apa-apa atau kamu butuh pendampingan, segera hubungi saya," lanjut polisi wanita itu sambil memberikan secarik kertas, lalu berpamitan dan masuk ke mobil polisi.
Begitu mobil itu menjauh dan para tetangga mulai membubarkan diri dengan tatapan kasihan, [y/n] perlahan membuka pagar rumahnya.
Krieeet...
Rumah itu terasa sangat asing. Sunyi. Tidak ada teriakan "CEPET MASAK!", tidak ada suara botol pecah. Benar-benar hening. [y/n] melangkah masuk ke ruang tamu yang berantakan, menatap bekas-bekas garis polisi di beberapa sudut.
Dia terduduk di lantai yang dingin, menyandarkan punggungnya di pintu.
"Akhirnya... bebas," bisik [y/n] lirih.
Airmata yang tadinya ia tahan mati-matian akhirnya tumpah juga. Harusnya dia senang, tapi kenapa dadanya sesak sekali? Dia sendirian sekarang. Benar-benar sendirian di rumah yang penuh luka ini.
Tiba-tiba, ponsel di sakunya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, tapi dia tahu itu siapa.
[Ariel]: Lu di mana? Kafe Paman gue udah buka. Jangan bilang lu lupa jalan. Gue tunggu 10 menit, atau gue jemput lu ke neraka itu sekarang.
[y/n] menatap layar ponselnya dengan mata sembab. Di tengah kehancuran ini, setidaknya masih ada satu orang yang menunggunya di luar sana.[y/n] menyeka air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan.
Dia berdiri, menatap sekeliling ruang tamu yang berantakan untuk terakhir kalinya hari itu. Aroma alkohol masih tertinggal, tapi teriakan yang biasanya menyiksa telinganya sudah hilang.
Hening. Dan hening ini terasa menakutkan sekaligus melegakan.
Dia masuk ke kamar, mengganti seragam sekolahnya dengan kaus polos dan celana jins yang nyaman. Dia meraih tasnya, memastikan gantungan kunci kucing dari Ariel masih terpasang kuat di sana. Benda kecil itu seolah menjadi satu-satunya jangkar yang membuatnya tidak hanyut dalam kesedihan.
[y/n] menarik napas panjang, memenuhi paru-parunya dengan udara yang terasa sedikit lebih ringan dari biasanya. Dia melangkah keluar, mengunci pintu rumah "neraka" itu, dan berjalan menyusuri gang.
"Meo Kafe"—sebuah papan kayu berbentuk kepala kucing menyambut [y/n] di ujung jalan yang tak jauh dari kompleksnya. Suasananya hangat, lampu-lampu kuning temaram terlihat dari balik kaca besar, dan aroma kopi bercampur kue kering tercium sampai ke trotoar.
[y/n] berdiri di depan pintu kaca, ragu-ragu sejenak. Dia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin, mencoba menghilangkan jejak sembab di matanya.
Kring!
Suara lonceng di atas pintu berbunyi saat [y/n] melangkah masuk.
"Telat dua menit," sebuah suara berat yang sangat ia kenali menyambutnya.
Ariel sedang berdiri di balik meja bar kayu, tangannya sibuk mengelap sebuah gelas. Dia tidak memakai seragam sekolah lagi, melainkan sebuah celemek hitam dengan logo kucing putih di dadanya. Rambutnya yang biasanya berantakan kini disisir sedikit lebih rapi, meski aura "berandalan"-nya tetap tidak hilang.
Ariel mendongak, matanya yang tajam langsung mengunci sosok [y/n]. Dia terdiam sejenak, memperhatikan wajah [y/n] yang terlihat sedikit pucat dengan mata yang agak kemerahan.
Ariel meletakkan gelasnya, lalu berjalan keluar dari balik bar.
Dia berdiri tepat di depan [y/n], menatapnya lurus-lurus tanpa memedulikan beberapa pelanggan yang sedang asyik bermain dengan kucing di pojok ruangan.
"Lu kenapa?" tanya Ariel rendah. Suaranya tidak ketus seperti biasanya, ada nada khawatir yang terselip di sana. "Muka lu kayak habis liat hantu. Atau... 'monster' itu berulah lagi?"
[y/n] mencoba memaksakan senyum, tapi bibirnya bergetar. "Enggak, Riel. Monster itu... udah pergi. Polisi baru aja jemput dia."
Seketika, suasana di antara mereka membeku. Ariel tertegun, tangannya yang tadi hendak mengambil celemek tambahan untuk [y/n] tertahan di udara.