Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Langkah mereka terus menembus Hutan Aethelgard yang kini terasa semakin berbeda dari hutan yang Alexandria kenal selama ini, bukan lagi sekadar sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang seolah memiliki kesadaran sendiri, diam-diam memperhatikan, menimbang, bahkan seperti menunggu sesuatu dari mereka, dan semakin jauh mereka meninggalkan pondok itu, semakin jelas bahwa jalur yang mereka pijak bukan jalur biasa yang bisa dilewati siapa saja.
Akar-akar pohon besar menjalar ke permukaan membentuk lorong alami yang sempit, tanah di bawah kaki terasa lebih padat namun anehnya juga lebih dingin, sementara cahaya matahari yang tadi masih menyelinap kini tertahan oleh lapisan dedaunan yang semakin rapat, menyisakan bayangan-bayangan bergerak yang membuat suasana terasa hidup dengan cara yang tidak nyaman.
Leonard berjalan sedikit di depan, langkahnya tetap tenang tapi tubuhnya jelas siaga, setiap inderanya bekerja tanpa perlu diperintah, sementara tangannya tetap menggenggam Alexandria dengan erat, bukan hanya untuk menuntun arah, tapi sebagai pengingat bahwa ia tidak akan membiarkannya menghadapi apa pun sendirian.
“Masih kuat?” tanyanya tanpa menoleh, nada suaranya terdengar ringan tapi ada lapisan perhatian yang tidak bisa disembunyikan.
Alexandria menarik napas dalam, menyesuaikan langkahnya agar tetap sejajar, lalu mengangguk sambil tersenyum kecil. “Masih, cuma... tempat ini terasa aneh, seperti kita sudah tidak benar-benar berada di hutan yang sama lagi.”
Leonard melirik sebentar, matanya menyapu sekitar dengan cepat sebelum kembali ke depan. “Karena memang kita sudah mendekati jalur lama, jalur yang digunakan untuk berpindah antara dunia, dan tempat seperti ini tidak pernah benar-benar kosong.”
Alexandria menelan pelan, merasakan kata-kata itu tidak sekadar penjelasan, tapi peringatan yang halus. “Berarti... ada sesuatu yang menjaga?”
Leonard tersenyum tipis, kali ini lebih seperti pengakuan daripada usaha menenangkan. “Bukan menjaga... memastikan siapa yang layak lewat.”
Kalimat itu belum sempat diproses sepenuhnya ketika langkah Leonard tiba-tiba terhenti, tubuhnya menegang tanpa peringatan, dan dalam satu gerakan refleks ia menarik Alexandria sedikit ke belakang, memposisikannya di sisi tubuhnya tanpa melepaskan genggaman.
“Di belakangku,” ucapnya pelan, tapi tegas, nada yang tidak memberi ruang untuk ditolak.
Suasana berubah begitu cepat hingga terasa hampir tidak nyata, bukan karena suara keras atau ancaman yang terlihat jelas, tapi justru karena keheningan yang terlalu dalam, hingga setiap gesekan kecil terdengar tajam, termasuk suara yang muncul dari arah berbeda, teratur, perlahan, dan terlalu disengaja untuk dianggap kebetulan.
Bayangan pertama muncul dari balik batang pohon besar di sisi kiri, tubuhnya tinggi dan kurus dengan warna kulit keabu-abuan yang hampir menyatu dengan lingkungan, matanya kosong tanpa pantulan cahaya, dan gerakannya terlalu halus, seperti meluncur tanpa benar-benar menyentuh tanah.
Napas Alexandria tertahan tanpa sadar. “Leonard… itu apa?”
“Penjaga jalur,” jawab Leonard pelan, matanya tidak bergeser sedikit pun.
Dua sosok lain muncul dari sisi berbeda, perlahan membentuk lingkaran setengah yang menyempit, dan meski mereka belum menyerang, tekanan yang mereka bawa terasa nyata, seperti udara di sekitar mereka ikut berubah menjadi lebih berat.
Leonard melangkah maju satu langkah, bahunya sedikit merendah, posturnya berubah halus menjadi lebih siap. “Kami tidak mencari masalah, kami hanya ingin lewat.”
Salah satu makhluk itu memiringkan kepala, seolah mencoba memahami, lalu suara keluar dari mulutnya, serak, kosong, namun cukup jelas. “Yang datang… harus membuktikan.”
Alexandria mengernyit, jantungnya mulai berdegup lebih cepat. “Membuktikan apa?”
Tidak ada jawaban. Makhluk itu langsung bergerak cepat.
Namun Leonard sudah lebih dulu bergerak, ia menghindar dengan pergeseran kecil lalu menangkap pergelangan makhluk itu dengan presisi, memutar tubuhnya, dan melemparkannya ke batang pohon dengan benturan keras yang memecah keheningan.
Dua lainnya langsung menyusul, menyerang dari sisi berbeda, dan kali ini Leonard tidak lagi menahan diri, tubuhnya bergerak cepat dan efisien, setiap gerakan mengalir tanpa ragu, seperti sesuatu yang sudah lama tertanam dan kini bangkit kembali sepenuhnya.
Ia menangkis, menghindar, membalas, tapi dalam beberapa detik ia menyadari sesuatu yang tidak biasa—serangan mereka tidak diarahkan untuk membunuh.
Alexandria juga melihatnya, matanya mengikuti pola gerakan itu dengan cepat. “Leonard, mereka tidak menyerang titik vital, mereka benar-benar menguji kamu!”
Kesadaran itu membuat Leonard langsung mengubah ritme, ia tidak lagi sekadar bertahan atau menyerang, tapi mulai membaca, menunggu momen yang tepat, dan ketika salah satu makhluk kembali melompat ke arahnya, Leonard justru maju, menangkap bahunya dan menjatuhkannya dengan teknik bersih yang terkontrol, cukup kuat untuk melumpuhkan tanpa menghancurkan.
Makhluk itu tidak bangkit lagi.
Dua lainnya berhenti.
Keheningan turun kembali, tapi kali ini berbeda, tidak menekan, melainkan seperti mengamati hasil.
Perlahan mereka mundur.
Satu langkah, lalu satu lagi.
Dan sebelum menghilang sepenuhnya ke dalam bayangan pohon, suara itu terdengar kembali, lebih dalam, lebih jelas.
“Layak… melangkah.”
Suasana kembali seperti semula, tapi Alexandria tahu ini bukan lagi hutan yang sama seperti beberapa menit yang lalu.
Ia menghembuskan napas panjang, bahunya sedikit turun, lalu tanpa sadar mendekat ke Leonard, tangannya menyentuh lengannya memastikan bahwa semuanya benar-benar selesai.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya, masih ada sisa tegang di suaranya.
Leonard mengangguk pelan, napasnya mulai stabil, lalu melirik ke arah bayangan yang tadi menjadi tempat makhluk itu menghilang. “Aku baik… tapi ini baru permulaan.”
Alexandria menatapnya sebentar, lalu menghela napas sambil menggeleng kecil. “Jujur ya, kalau permulaannya saja sudah seperti ini, aku agak takut sama yang berikutnya, tapi anehnya aku juga tidak ingin mundur.”
Leonard tersenyum tipis, kali ini lebih hangat. “Itu artinya kamu sudah siap, meskipun belum sepenuhnya nyaman.”
Alexandria mendengus pelan. “Nyaman itu urusan belakangan, yang penting kamu jangan tiba-tiba berubah jadi lebih menyeramkan dari Mereka.”
Leonard mengangkat alis, pura-pura tersinggung. “Aku tersinggung, aku ini versi yang paling jinak.”
“Jinak?” Alexandria menatapnya dengan ekspresi tidak percaya, lalu menyenggol lengannya ringan. “Aku sudah lihat kamu berubah jadi macan, jangan pura-pura tidak berbahaya.”
Leonard tertawa pelan, dan suara itu cukup untuk mengendurkan sisa ketegangan yang tadi menggantung.
Tanpa perlu kata tambahan, mereka kembali melangkah, kali ini berdampingan, langkah mereka lebih selaras, lebih sadar, dan tanpa mereka sadari, kabut tipis mulai muncul di antara pepohonan di depan, bergerak perlahan seperti sesuatu yang hidup, menyelimuti jalur yang mereka tuju.
Udara berubah.
Lebih dingin.
Lebih berat.
Dan jauh di dalam kabut itu, sesuatu berdenyut pelan, seperti jantung yang sudah lama menunggu untuk kembali berdetak.
Leonard memperlambat langkahnya, matanya menyipit menatap ke depan, sementara Alexandria tanpa sadar menggenggam tangannya lebih erat.
“Leonard…” bisiknya pelan.
Leonard tidak langsung menjawab, tapi genggamannya membalas lebih kuat, lalu ia menarik napas dalam sebelum berkata dengan nada rendah yang penuh kepastian.
“Ya… kita sudah dekat.”
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan pondok, Alexandria tidak hanya merasa sedang berjalan menuju sesuatu—
ia benar-benar merasakan bahwa takdir mereka sedang menunggu tepat di depan.