NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Figuran

Pembalasan Sang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bearbee

Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.

Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.

Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.

Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.

Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.

Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

"Semua personel sudah bersiap di posisi masing-masing, Kapten."

Suara seorang pria berpakaian serba hitam terdengar tegas, nyaris tanpa intonasi, seolah ia sendiri menahan gelombang adrenalin yang mulai membuncah.

"Baik. Tetap waspada. Jangan biarkan keramaian malam ini membuat kalian lengah. Target kita bukan orang biasa. Ia licik, penuh perhitungan, dan gemar mempermainkan lawannya. Jangan pernah meremehkannya," ujar sang Kapten melalui earpiece yang menempel di telinganya, nadanya dingin dan penuh tekanan.

Di balik rimbun semak taman kota yang tertutup bayangan lampu jalan, tiga pria berpakaian hitam lengkap dengan rompi anti-peluru dan senjata tersembunyi berkumpul dalam formasi rapat. Salah satu di antaranya adalah Jacob, sementara pria yang memimpin operasi malam ini, Oscar Aryan Radcliffe, dikenal sebagai salah satu perwira elit ketentaraan sekaligus kapten pasukan khusus angkatan darat. Sosok yang reputasinya melegenda di lingkaran militer.

Jacob menoleh, menatap Oscar sejenak. "Terima kasih, sudah mau turun tangan di operasi ini," ujarnya dengan nada tulus, meskipun matanya tetap mengawasi sekeliling.

Oscar hanya mengangkat bahu, seolah keterlibatannya bukanlah sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. "Tidak masalah. Paman Dean yang memintanya langsung, kau tahu aku tak mungkin menolaknya. Lagipula, kasus ini… cukup memancing rasa penasaranku." Nada suaranya tetap datar, tapi matanya terpaku pada sosok perempuan yang sedang berjalan menuju sebuah bangku taman. Violet. Gerak-geriknya tampak gugup, namun setiap langkahnya mengikuti posisi yang telah disepakati, sebuah umpan hidup yang sengaja dipasang untuk memancing predator keluar dari persembunyiannya.

Jacob mengembuskan napas panjang. "Pelakunya… benar-benar lihai. Terlalu berani. Seolah ia sengaja menantang kita untuk menangkapnya. Semua petunjuk yang kami miliki hanya mengarah pada satu simbol, mawar merah."

Oscar terkekeh pendek, sinis. "Mawar merah? Apa dia seorang tukang kebun yang kehilangan akal? Atau seorang seniman kematian?" Nada suaranya mengandung sindiran dingin. Ia sudah membaca seluruh dokumen kasus, menelaah pola pembunuhan yang nyaris sempurna. Dingin, presisi, tanpa ampun.

Namun, baik Oscar maupun Jacob tak pernah menduga bahwa sang pelaku duduk tak jauh dari mereka, menyatu dengan keramaian, mengamati mereka seperti seekor cheetah yang menatap mangsa. Tenang, sabar, namun mematikan.

Alma duduk anggun di bangku, tatapannya mengarah lurus ke kerumunan petugas yang sedang berjaga. Bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, nyaris tak terlihat. "Lihat mereka," ucapnya pelan pada Jean, "Sangat berhati-hati, seolah berada di tengah medan ranjau. Tapi aku penasaran… bagaimana kalau semua usaha mereka malam ini berakhir sia-sia?"

Jean melirik sekilas ke arah yang dimaksud, lalu menjawab tenang, "Mungkin mereka akan memperluas wilayah pencarian. Bukan tidak mungkin mereka akan membentuk tim khusus, dan… aku rasa detektif terkenal itu akan turut dilibatkan."

Alma mengangkat alisnya. "Detektif yang kabarnya telah memecahkan serangkaian kasus pembunuhan berantai itu?"

"Benar, Nona."

Alma tersenyum samar, lalu mengubah posisi duduknya, menatap Jean dengan sorot mata yang menyala bagai bara api di balik senyum malaikatnya. "Kalau begitu…" ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya melandai namun mengandung nada menantang, "…mau bermain petak umpet denganku?"

Jean tak perlu penjelasan panjang. Ia memahami maksud majikannya hanya dari kilatan mata itu. Ia membungkuk singkat, menunggu instruksi yang keluar dalam bentuk bisikan halus di telinganya. Begitu pesan tersampaikan, ia menegakkan tubuh, mengangguk penuh hormat. "Baik, Nona."

Jean pun berbalik, melangkah pergi tanpa suara, meninggalkan Alma sendiri.

Alma menunduk sejenak, jemarinya membelai arloji mungil di pergelangan tangannya. Sebuah hadiah ulang tahun dari Isabella, yang kini terasa bagai penanda waktu untuk sebuah pertunjukan rahasia. Jarum panjang dan pendek bertemu pada pukul 09:48. Waktu yang ia tunggu nyaris tiba.

Matanya menatap lurus ke depan, menembus kerumunan dan cahaya lampu taman yang bergoyang diterpa angin malam.

"Permainan dimulai…" bisiknya.

Senyum itu, yang bagi orang awam mungkin terlihat indah, sesungguhnya menyimpan ketegangan mencekam, seperti senandung kematian yang hanya bisa didengar oleh mereka yang menjadi targetnya.

Di sisi lain, Oscar memperhatikan arloji miliknya sendiri. "Tiga belas menit sebelum pukul sepuluh. Semua tim bersiap. Fokus pada pergerakan di sekitar Violet," ujarnya melalui saluran komunikasi.

Jacob mengangguk, matanya menyapu kerumunan, namun ia merasa ada sesuatu yang janggal. Tatapan yang menusuk dari suatu titik, tapi setiap kali ia mencari, yang ia temukan hanyalah wajah-wajah biasa.

"Kau merasa kita sedang diawasi?" gumamnya pada Oscar.

"Jacob…" Oscar menoleh sekilas, menatap rekannya dengan tatapan serius. "Dalam permainan seperti ini, kita bukan pemburu. Kita hanya bidak yang sedang diuji oleh pemain aslinya."

Masih di posisi yang sama Alma menahan tawa kecil yang nyaris tak terdengar. Ia sudah melihat pergerakan semua pihak malam ini, dan setiap langkah mereka hanya membuatnya semakin yakin. Mereka takkan pernah menangkapnya… setidaknya bukan malam ini.

🥀🥀🥀

Alma bangkit dari kursinya, gerakannya tenang namun penuh perhitungan. Ia melangkah perlahan menyusuri jalan setapak di taman malam itu, keranjang piknik berisi mawar segar tergantung manis di lengannya. Senyum yang ia suguhkan begitu mempesona, memikat setiap pasang mata yang bertemu dengannya. Satu per satu, ia membagikan beberapa tangkai mawar kepada orang-orang yang ia lewati. Dari pria dewasa yang sedang duduk bersama pasangannya, hingga anak-anak kecil yang berlarian riang di sekitar taman.

Aroma lembut bunga mawar berpadu dengan hawa malam yang sejuk, menciptakan suasana damai yang nyaris membuat siapa pun lupa bahwa di balik ketenangan ini, sebuah operasi penangkapan tengah berlangsung.

Namun, langkahnya terhenti ketika terasa tarikan lembut di bagian belakang cardigan biru yang ia kenakan. Alma menoleh, dan di sana berdiri seorang gadis kecil berusia sekitar tujuh tahun. Mata bulatnya memancarkan kepolosan, bibir mungilnya bergerak pelan ketika berkata, "Kakak… apa kakak sedang membagikan bunga? Bolehkah aku meminta satu untuk ibuku di sana?"

Gadis itu menunjuk ke arah seorang wanita yang duduk di atas tikar, tampak menunggu sambil memeluk bayi kecil. Alma mengenali tatapan itu, tatapan tulus yang jarang ia temui di tengah kerumunan malam ini. Ia sempat teringat bahwa gadis ini mungkin melihatnya membagikan bunga tanpa meminta bayaran sebelumnya.

Alma berjongkok, menyamakan tinggi pandangan mereka. Ia mengusap pelan rambut si gadis, lalu tersenyum hangat. "Tentu saja. Tapi sebelum itu… bolehkah kakak meminta tolong padamu?"

Gadis kecil itu memiringkan kepala, penasaran. "Minta tolong apa?"

Alma mengeluarkan lima tangkai mawar dari keranjangnya, tangannya bergerak hati-hati seolah menyerahkan sesuatu yang berharga.

"Tolong kakak bagikan bunga ini. Kamu boleh mengambil satu untuk ibumu, sisanya tolong berikan kepada orang-orang yang ada di sebelah sana."

Ia menunjuk ke arah tertentu. Tepat di mana beberapa polisi berpakaian sipil berkumpul, di antara mereka ada Angel, yang malam ini ikut dalam operasi.

"Baiklah!" jawab si gadis penuh semangat. Ia menggenggam bunga-bunga itu erat, lalu berlari kecil menuju arah yang ditunjukkan Alma.

Alma berdiri kembali, matanya mengikuti langkah gadis kecil itu hingga menghilang di antara kerumunan. Bibirnya melengkung tipis, menyimpan sesuatu yang tak terbaca oleh orang lain. Waktunya semakin sempit. Ia melangkah menuju titik strategis, posisi di mana Oscar dan timnya tak akan mampu melihat jelas kondisi Violet. Umpan yang ia siapkan sederhana namun efektif. Membagikan mawar kepada kerumunan, menciptakan penghalang alami yang menutupi pandangan.

Jantungnya berdetak teratur. Ia mulai menghitung di dalam kepala.

Tiga… dua… satu…

DUARRR!

DUAR!

DUARRR!

Rentetan kembang api melesat dan meledak di langit malam. Cahaya merah, emas, dan biru mewarnai gelapnya malam dengan percikan yang memukau. Sorak kagum pecah dari setiap sudut taman, seluruh perhatian publik kini terangkat ke langit. Tepat seperti yang Alma perhitungkan.

Namun, di tengah riuh itu, melalui earpiece-nya, Oscar mendengar suara panik salah satu anak buahnya.

"Kapten! Violet… Violet menghilang!"

Oscar yang berada di sisi lain taman sontak memutar tubuhnya, matanya menyapu kerumunan yang kini kacau oleh sorak dan gerakan orang-orang.

"Apa maksudmu menghilang?! Tadi dia ada di posisi aman!"

Suara di seberang terdengar terengah.

"Kami kehilangan visual! Tadi dia ada di bawah pengawasan dua anggota, lalu tiba-tiba hilang! Orang-orang berdesakan, kami tak bisa bergerak cepat!"

Oscar mengeraskan rahang, pandangannya menajam ke arah titik yang terakhir kali ia ketahui sebagai posisi Violet. Tapi dari sudutnya sekarang, yang terlihat hanya punggung-punggung orang asing, bunga mawar yang melintas di antara tangan, dan cahaya kembang api yang memantul di mata-mata penuh rasa ingin tahu. "Cari di perimeter timur dan barat. Jangan biarkan dia keluar dari taman. Angel, kau dengar? Tutup jalur keluar!"

Suara Angel terdengar di saluran, tenang namun tegas. "Mengerti. Tapi Kapten… aku rasa ini sudah diatur. Terlalu rapi untuk sebuah kebetulan."

Oscar berusaha menembus kerumunan, namun setiap langkah terasa lambat. Jeritan kagum penonton bercampur dengan teriakan komando dari timnya di radio.

"Kapten! Jalur barat sudah terlambat..."

"Sial!" Oscar memukul udara, frustrasi.

Dan di kejauhan, Alma berdiri dengan wajah teduh, seolah tak ada kaitan dengan kekacauan yang terjadi. Jemari halusnya memainkan sisa mawar di keranjang, senyumnya nyaris tak terlihat, namun cukup untuk menandai bahwa ia tahu persis apa yang baru saja ia ciptakan.

🥀🥀🥀

Oscar berdecak pelan, nada frustasinya begitu jelas terdengar. Mereka baru saja kehilangan Violet… di depan mata mereka sendiri.

"Cepat! Cari lebih cermat lagi. Ini belum lama. Lihat apakah ada seseorang yang mencurigakan," ujarnya memberi perintah tegas, nada suaranya meninggi.

"Baik, Kapten…" suara tanggapan terdengar dari earpiece-nya, diiringi bunyi langkah cepat para bawahannya yang berpencar.

Tak lama kemudian, seorang pria berpakaian kasual menghampirinya dengan napas sedikit terengah.

"Kapten, di sisi timur ada petugas yang menemukan petunjuk. Mereka melihat seorang pria mencurigakan dan sedang mengejarnya."

"Baiklah." Oscar menyipitkan mata. "Yang lainnya? Ada kabar?"

Tidak ada jawaban. Hening yang menyebalkan itu hanya dipecahkan oleh keramaian samar dari arah taman. Namun perhatian Oscar tiba-tiba teralihkan pada lengan bawahannya itu. Di sana, di genggaman santainya, terdapat setangkai mawar merah segar.

"Darimana kau mendapatkan itu?" tanya Oscar tajam, nada curiga mengiris.

"Oh ini?" Pria itu menunduk sekilas pada bunganya, lalu tersenyum samar. "Seorang gadis kecil membagikannya kepada kami barusan."

Seketika Oscar berdesis, nyaris memaki. Sial… Dia memang pernah menertawakan simbol konyol si pelaku yang selalu meninggalkan mawar merah di lokasi kejadian, seolah-olah ingin bermain-main. Namun kali ini. Tidak diragukan lagi, ini adalah petunjuk besar. Pandangannya menyapu taman, memperhatikan. Dan benar saja, di antara kerumunan, banyak orang juga menggenggam mawar serupa. Setahunya, di taman ini tidak ada satupun penjual bunga.

"Cari tahu siapa yang sebenarnya membagikan mawar ini," perintah Oscar, suaranya mengeras.

Meskipun beberapa anak buahnya tampak ragu, mereka tetap mematuhi instruksi itu.

Jacob, yang sejak tadi mengamati, akhirnya bersuara. "Apa kau curiga… pelaku itu yang sengaja membagikan bunga-bunga ini?"

"Mungkin." Oscar mengangguk singkat, meski matanya tetap menajam. "Tapi aku belum mau mengambil kesimpulan terlalu cepat."

Tak butuh waktu lama sebelum petugas tadi kembali, kali ini dengan raut tegang. "Kapten… kami menemukannya."

Oscar dan Jacob langsung bergerak menuju lokasi yang dimaksud. Langkah mereka semakin cepat saat melihat sosok yang dimaksud, seorang gadis muda dengan keranjang piknik, berdiri tenang di antara kerumunan.

Tanpa membuang waktu, Oscar mencengkeram lengan gadis itu dan memaksanya berbalik.

Alma terkejut bukan main. Jantungnya berdegup keras ketika mendapati tiga pria asing dengan tatapan tajam mengelilinginya.

"Ma… maaf… apakah ada yang bisa saya bantu?" tanyanya pelan, berusaha menjaga nada suaranya tetap sopan meski jelas ketakutan.

Oscar mengangkat sebelah alisnya. "Kau yang membagikan mawar itu?"

Alma mengangguk pelan, bingung, matanya berkedip-kedip. Namun rasa nyeri mulai terasa karena genggaman Oscar yang semakin mengencang di lengannya.

"Lepaskan tanganmu darinya."

Suara berat dan dingin itu memotong udara seperti sebilah pisau.

Oscar menoleh, dan mendapati seorang lelaki muda berpostur tegap dengan tatapan penuh ancaman. Kaiden. Tanpa banyak bicara, dia menepis tangan Oscar dari lengan Alma, lalu menarik gadis itu berdiri di belakangnya, melindunginya seakan menghadang bahaya.

Sebenarnya, baik Kaiden, Leon, maupun Calvin hanya datang ke taman ini untuk menonton pertunjukan, sesuai rencana Calvin. Namun pemandangan pertama yang mereka lihat justru Alma yang dikepung tiga pria mencurigakan.

Leon melangkah maju hingga berdiri di sisi Alma. Pandangannya menelusuri raut wajah gadis itu untuk memastikan kondisinya, sebelum beralih pada Oscar.

"Apa yang kakak lakukan padanya?" tanyanya tajam.

Oscar mengerutkan kening, merasa situasi ini semakin aneh. "Leon? Kenapa kau ada di sini?"

"Harusnya aku yang bertanya. Lagi pula ini tempat umum. Siapa pun boleh berada di sini," jawab Leon datar namun penuh sindiran.

"Aku sedang bertugas."

"Tugas?" Kaiden menimpali dengan tawa sinis. "Tugas macam apa yang membuat seorang warga sipil ketakutan?"

Oscar memutar pandangan dari Kaiden ke Leon. "Kalian mengenal gadis ini?"

"Tentu saja," jawab Leon cepat, nyaris bersamaan dengan Kaiden.

Hening sejenak, namun bukan hening yang menenangkan. Melainkan hening yang tegang, seolah udara di sekitar mereka menipis. Tatapan tajam berpindah-pindah, dan tidak ada yang berniat mengalah lebih dulu.

Calvin, yang berdiri agak di belakang, hanya bisa melongo melihat reaksi kedua temannya. Matanya bergantian memandang Leon dan Kaiden, lalu Alma yang tampak tertekan. Jadi… ini penyebab ketegangan di antara mereka? batinnya. Alma. Gadis yang, entah bagaimana, juga mulai mengusik pikirannya sendiri.

1
Winda Napitupulu Moment
semangat trus yah thor... 💪💪💪💪
Lippe
apa alma ini karena trauma masa lau jadi punya kepribadian ganda?

atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?
Rina Yuli
wow luarr biasa lu bikin cerita best thor 👍👍👍👍
Winda Napitupulu Moment
seru ceritanya thorr... ditunggu crazy updatenya...🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!