Bos mafia yang konon kejam dan tanpa ampun ternyata bisa memiliki sisi lembut dan perhatian. Atau, protagonis wanita selalu dianiaya oleh bos mafia, namun dalam perlawanannya ia secara bertahap dihargai, dan akhirnya meraih kebebasan serta cinta sejati. Bagaimana rasanya dipaksa menggantikan kakak atau adiknya untuk menikahi bos mafia yang ditakuti? Cerita seperti apa yang akan terjalin dalam prosesnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilau Manhattan dan Ujian Pertama
Persiapan untuk pameran seni musim panas di Barrett Grand Gallery yang terletak di jantung Manhattan menguras seluruh energi Elena selama dua minggu terakhir. Di bawah arahan administrasinya yang ketat, manajemen lama yang korup telah dibersihkan tanpa sisa.
Christian dan timnya memastikan seluruh aspek keamanan galeri diperketat hingga ke tingkat ekstrem. Nicholas tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun; bagi pria itu, keselamatan Elena adalah prioritas di atas segala bisnis yang ia jalankan.
Malam pembukaan pameran pun tiba. Gedung galeri yang megah dengan arsitektur modern berlapis kaca itu dipenuhi oleh kilatan lampu dari para jurnalis dan fotografer. Ratusan sosialita, kritikus seni, pengusaha Wall Street, hingga para petinggi hadir memenuhi ruangan. Mereka tidak hanya datang untuk melihat koleksi lukisan kontemporer yang dipamerkan, melainkan didorong oleh rasa penasaran yang masif untuk melihat sosok istri dari Nicholas Barrett.
Di dalam ruang transit privat di lantai dua galeri, Elena berdiri di depan cermin besar. Malam ini, dia tampak luar biasa memukau. Nicholas secara khusus memesankan sebuah gaun malam sutra premium berwarna merah muda yang berpotongan elegan.
Gaun itu melekat pas di tubuhnya, dengan aksen sabuk emas kecil di pinggang yang menegaskan siluet tubuhnya yang anggun. Rambut panjangnya ditata sanggul modern yang rapi, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya yang dipulas riasan natural namun berkelas.
*Tok, tok.*
Pintu terbuka, dan Nicholas melangkah masuk. Pria itu mengenakan setelan tuksedo hitam tiga potong buatan desainer ternama Italia yang membuatnya terlihat luar biasa tampan, gagah, dan memancarkan aura otoritas yang mutlak. Mata abu-abunya seketika menggelap penuh gairah dan kekaguman saat melihat penampilan Elena.
Nicholas berjalan mendekat, langkah kakinya bergaung pelan di atas lantai kayu. Dia berhenti tepat di belakang Elena, meletakkan kedua tangan besarnya di atas bahu telanjang istrinya yang halus.
"Kau tampak begitu indah malam ini, Elena," bisik Nicholas dengan suara serak yang seksi di dekat telinganya.
"Warna merah muda ini... warna ini benar-benar diciptakan khusus untukmu."
Elena tersenyum, menyandarkan kepalanya ke belakang secara manja di dada bidang Nicholas. "Aku sedikit gugup, Nicholas. Di bawah sana ada banyak orang yang mengenalku sebagai 'Alana' dari majalah gosip di masa lalu. Bagaimana jika mereka menyadari ada yang berbeda?"
Nicholas memutar tubuh Elena agar menghadap sepenuhnya ke arahnya. Dia merengkuh pinggang kecil Elena dengan tangan kirinya yang kekar, menariknya mendekat hingga dada mereka menempel sempurna. Tangan kanannya yang besar naik, menangkup pipi Elena dengan kelembutan yang kontras dengan statusnya sebagai penguasa kegelapan.
"Dengar aku, Elena-ku," ucap Nicholas, mengunci pandangan abu-abunya pada mata abu-abu kecokelatan Elena.
"Kau tidak perlu takut pada siapa pun di bawah sana. Mereka semua datang karena mereka menghormati kekuasaanku, dan mulai malam ini, mereka harus tunduk pada keanggunanmu. Tunjukkan pada mereka bahwa kau adalah Nyonya Barrett yang sesungguhnya. Aku akan selalu berdiri tepat di belakangmu, menjagamu dari setiap badai."
Nicholas menunduk, mengecup bibir Elena dengan lumatan dalam yang singkat namun sarat akan kekuatan dan janji perlindungan. Sentuhan itu seketika melarutkan seluruh rasa gugup di dada Elena, menggantikannya dengan gelombang kepercayaan diri yang membakar.
---
Ketika mereka berdua melangkah turun melewati tangga melingkar utama menuju aula pameran, seluruh ruangan seketika hening. Ratusan pasang mata tertuju pada pasangan penguasa tersebut. Nicholas berjalan dengan langkah tegap, tangan kirinya menggenggam jemari lembut Elena yang terjalin erat di sela jarinya.
"Selamat malam, Mr. dan Mrs. Barrett," sapa Walikota yang hadir bersama istrinya, melangkah mendekat dengan senyuman formal yang penuh rasa hormat.
"Walikota," sapa Nicholas pendek dengan anggukan kepala yang tegas.
"Pameran yang luar biasa, Mrs. Barrett. Saya sangat mengagumi lukisan abstrak di sudut sayap barat. Kudengar manajemen baru galeri ini langsung berada di bawah pengawasan Anda sendiri?" tanya istri Walikota dengan nada meneliti, mencoba mencari tahu apakah rumor tentang 'Alana Vance' yang bodoh dan gila harta itu benar.
Elena memasang senyuman paling anggun miliknya. Nada suaranya terdengar sangat tenang, teratur, dan penuh dengan kecerdasan administrasi yang matang saat dia menjawab.
"Terima kasih atas apresiasinya, Madam. Ya, saya secara pribadi menyusun ulang konsep kurasi untuk pameran musim panas ini. Kami ingin memberikan panggung yang lebih luas bagi para seniman lokal yang memiliki kedalaman emosi dalam karyanya, bukan sekadar nilai komersial semata. Arus kas dan manajemen operasional galeri ini juga telah kami restrukturisasi agar lebih transparan dan efisien."
Mendengar jawaban yang begitu taktis, elegan, dan berkelas tersebut, istri Walikota tampak tertegun dan mengangguk kagum. Sementara itu, di sampingnya, Elena bisa merasakan genggaman tangan Nicholas di jemarinya mengencang secara halus sebuah kode implisit bahwa suaminya sangat bangga dengan cara dia menangani kelas sosial atas Manhattan.
Namun, kedamaian malam itu kembali diuji ketika sesosok pria paruh baya dengan pakaian formal yang agak berantakan melangkah memotong jalur mereka. Dia adalah Julian Vance, paman kandung Elena dari pihak Arthur Vance yang selama ini mengelola beberapa bisnis bayangan keluarga Vance di luar kota. Pria itu tampak frustrasi karena seluruh aset keluarga Vance yang telah disita habis oleh Christian atas perintah Nicholas minggu lalu.
"Alana! Akhirnya aku menemukanmu!" seru Julian dengan suara yang agak keras, memicu perhatian beberapa tamu di sekitar mereka. Pria itu tidak tahu tentang penyamaran Elena, dia mengira wanita di depannya adalah Alana yang asli yang kini telah menjadi wanita kaya raya.
"Kau harus berbicara pada suamimu! Nicholas telah menghancurkan bisnis kita! Arthur dilarang masuk ke kota ini, dan kami jatuh miskin karena ulah suamimu! Kau tidak bisa melupakan keluargamu sendiri setelah hidup mewah di sini!"
Atmosfer di sekitar mereka seketika mendingin secara drastis. Christian yang berdiri beberapa meter di belakang Nicholas langsung meletakkan tangannya di balik jasnya, siap menarik senjata api jika pria tua itu bertindak agresif. Nicholas menyipitkan matanya, memancarkan aura kematian yang sanggup membuat seisi ruangan merinding ketakutan.
Namun, sebelum Nicholas sempat melangkah maju untuk menghancurkan pria tua itu, Elena menahan lengan suaminya. Dia melangkah maju satu langkah, berdiri di depan Nicholas, melindungi suaminya dari keributan tersebut. Elena menatap Julian dengan sepasang mata abu-abu kecokelatan yang menatap dingin tanpa ada setitik pun rasa takut yang tersisa dari masa lalunya.
"Pertama, nama saya adalah Elena Barrett, bukan Alana," ucap Elena dengan nada suara yang sangat tenang namun memiliki penekanan yang tajam bak mata pisau.
"Kedua, Mr. Vance... seluruh penyitaan aset yang dilakukan oleh keluarga Barrett adalah konsekuensi hukum yang sah atas pengkhianatan dan utang darah yang dilakukan oleh Arthur Vance di masa lalu. Keluarga Vance telah menggunakan seluruh hidup saya sebagai tumbal untuk melunasi kesalahan kalian. Jadi, jangan pernah berani datang ke tempat saya dan menuntut belas kasihan atas kemiskinan yang kalian ciptakan sendiri karena keserakahan kalian."
Elena menegakkan punggungnya, memancarkan aura dominasi seorang Ratu mafia yang sejati. "Christian, tolong bawa pria ini keluar dari properti saya. Dia mengganggu keindahan pameran seni malam ini."
"Baik, Nyonya Barrett," sahut Christian dengan senyuman puas.
Dua penjaga berbadan besar langsung mencengkeram lengan Julian Vance dengan paksa, membekap mulutnya sebelum pria itu sempat berteriak, dan menyeretnya keluar lewat pintu belakang galeri dengan efisiensi yang menakutkan.
Para tamu di sekitar mereka yang menyaksikan insiden singkat tersebut langsung berbisik-bisik penuh kekaguman. Mereka menyadari satu hal malam ini: istri Nicholas Barrett bukanlah boneka pajangan yang lemah. Wanita itu memiliki taringnya sendiri yang sanggup mencabik siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Nicholas melangkah mendekat, merangkul pinggang Elena dari belakang, dan berbisik dengan tawa rendah yang sarat akan rasa cinta yang masif di pelipis istrinya.
"Kau benar-benar seorang Barrett yang sejati, nyonya. Aktingmu... oh tidak, ketegasanmu barusan benar-benar membuatku semakin gila dirimu."
Elena menoleh, menatap mata abu-abu suaminya dengan senyuman paling bahagia yang pernah dia miliki. "Aku hanya menjaga apa yang menjadi milik kita, Nicholas."
Di bawah kilauan lampu kristal Manhattan dan tatapan hormat dari seluruh petinggi kota, sang pengantin pengganti telah berhasil melewati ujian pertamanya di dunia luar. Dia bukan lagi bayangan; dia adalah cahaya baru yang menerangi jalan sang penguasa kegelapan pantai timur.