NovelToon NovelToon
Istri Rampasan Mafia Dingin

Istri Rampasan Mafia Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Pengantin Pengganti
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membayar Harga Mahal

"Aku ini tamu terhormatmu, Tuan Batara! Aku ini adik dari istrimu... maksudku, aku ini wanita yang seharusnya berada di sampingmu!"

Batara tetap diam. Dia hanya terus mengisap cerutunya, membiarkan keheningan yang mencekam menyiksa mental Talitha selama beberapa saat. Ketika abu cerutunya mulai memanjang, dia akhirnya membuka suara. Dua kata, pendek namun sarat akan intonasi yang menuntut kepatuhan.

"Tahu salahmu?"

Talitha mendongakkan kepalanya, mencoba mempertahankan sisa-sisa keangkuhannya sebagai putri kesayangan keluarga Munic. "Aku tidak bersalah, Tuan Batara! Aku datang ke Maldav ini hanya untuk meminta penjelasan yang menjadi hakku! Aku ini tunanganmu yang sah, calon istrimu yang seharusnya dijodohkan oleh ayah kita! Sonya... Sonya itu hanya wanita haram, kakak tiri yang berpenyakitan dan tidak berguna! Dia hanya sampah pembawa sial, sebentar lagi juga dia akan mati karena penyakitnya itu! Tuan tidak mau repot-repot mengurus mayatnya di mansion ini bukan? Aku melakukan ini demi kebaikanmu, Tuan Batara!"

Mendengar celotehan panjang lebar dari wanita di depannya, ekspresi wajah Batara sama sekali tidak berubah. Tidak ada kemarahan yang meluap, tidak ada bentakan. Dia hanya mengetukkan jemarinya di lengan sofa, lalu mengulangi pertanyaan yang sama dengan nada suara yang persis sama, tanpa perubahan emosi sedikit pun.

"Tahu salahmu?"

Tekanan udara di dalam ruangan itu mendadak turun drastis. Talitha menelan ludahnya yang terasa getir. Ketegasan dan sikap irit bicara Batara justru jauh lebih menakutkan daripada jika pria itu memaki-makinya dengan kata-kata kasar. Dia tahu, jika dia terus membantah, nyawanya bisa berakhir di ruangan ini.

"I-Iya... iya, aku salah, Tuan," ucap Talitha akhirnya, suaranya mulai bergetar ketakutan melihat mata hitam Batara yang tak berkedip menatapnya. "Aku salah... seharusnya aku bisa lebih bersabar. Jika Tuan Batara memang ingin bermain-main dulu dengan kakak tiriku yang murahan itu sebelum pernikahan resmi kita, aku tidak akan cemburu lagi. Aku berjanji tidak akan mengganggunya sampai Tuan bosan dengannya. Benar begitu kan, Tuan? Tolong lepaskan aku sekarang..."

Batara tidak memberikan jawaban verbal. Dia hanya melirik sedikit ke arah Jevan yang berdiri di sampingnya, lalu memberikan sebuah kode anggukan kecil yang nyaris tidak terlihat oleh mata biasa.

Namun, Jevan yang sudah mendampingi Batara selama belasan tahun langsung memahami perintah sunyi tersebut. Jevan melangkah ke sudut ruangan, mengambil sebuah ember besi besar yang sudah disiapkan sejak satu jam lalu, ember yang dipenuhi oleh air es dan potongan-potongan balok es yang mengapung di permukaannya.

Tanpa peringatan atau ekspresi wajah, Jevan maju ke depan Talitha dan menyiramkan seluruh isi ember es tersebut tepat ke atas kepala dan tubuh wanita itu.

BYURRR!!!

"AAAARGH!!! DINGIN!!! HENTIKAN!!!"

Talitha menjerit histeris, tubuhnya yang terikat di kursi berguncang hebat karena syok termal yang luar biasa. Air es yang sangat membekukan itu membasahi gaun mahalnya, mengalir masuk ke dalam pori-pori kulitnya, membuat seluruh otot tubuhnya seketika mengalami kram dan gemetar yang teramat sangat. Potongan balok es yang keras berjatuhan di pangkuannya, menambah rasa sakit fisik yang menyiksa.

"Tuan Batara! Dingin! Aku mohon hentikan! Aku bisa mati kedinginan!" ratap Talitha dengan air mata yang kini benar-benar pecah karena rasa sakit dan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulangnya.

Batara mematikan cerutunya di asbak kaca yang berada di dekat meja sofa. Dia berdiri dari duduknya, gerakannya lambat namun penuh keagungan seorang penguasa kegelapan yang mutlak. Dia melangkah mendekati sebuah meja peralatan di sisi ruangan, mengambil sepasang sarung tangan karet hitam, lalu memakainya dengan sangat tenang dan presisi, memastikan setiap jengkal tangannya tertutup sempurna.

Melihat Batara memakai sarung tangan itu dan mengambil sebuah pisau kecil bermata ganda yang sangat tajam berkilau di bawah temaram lampu, nyali Talitha runtuh sepenuhnya. Wajahnya berubah menjadi seputih kertas.

"T-Tuan... apa yang mau kau lakukan? Jangan... aku mohon, jangan lukai aku!" jerit Talitha, mencoba menarik tubuhnya ke belakang, namun rantai besi yang mengikatnya mengeluarkan suara gemerincing yang sia-sia.

Batara melangkah maju hingga berdiri tepat di depan Talitha. Tanpa memedulikan tangisan histeris wanita itu, tangan kirinya yang bersarung tangan bergerak secepat kilat mencengkeram rahang Talitha dengan kekuatan yang luar biasa. Cengkeraman itu begitu kuat hingga tulang rahang Talitha terasa seperti mau remuk, memaksa mulutnya terbuka sedikit dan mengunci kepalanya agar tidak bisa bergerak seinci pun.

Batara mengangkat tangan kanannya yang memegang pisau kecil. Dia memainkan mata pisau yang dingin itu di atas permukaan kulit pipi kanan Talitha yang mulus, menekan ujungnya sedikit hingga menciptakan garis putih yang siap mengeluarkan darah kapan saja.

"Dengar," ucap Batara, suaranya sangat rendah, sedalam jurang, dan berbisik tepat di depan wajah Talitha yang dipenuhi keringat dingin dan air mata. "Sonya... adalah milikku. Hak mutlakku. Siapa pun yang menyentuhnya... mati."

"Tuan... tolong... aku adik tirinya... aku—"

JLEB!!!

"AAAAAAARRRRRGGGGGHHHHH!!!!!!"

Suara raungan kesakitan yang teramat sangat memekakkan telinga memenuhi seluruh ruangan bawah tanah tersebut.

Tanpa ada keraguan atau perubahan ekspresi di wajah tampannya, Batara menancapkan pisau kecil itu dalam-dalam ke bahu sebelah kanan Talitha, menembus lapisan kulit, daging, hingga mengenai ujung tulang belikatnya. Darah segar berwarna merah pekat seketika menyembur keluar, membasahi gaun hitam dan air es yang menggenang di tubuh Talitha.

Tubuh Talitha menegang hebat, matanya membelalak lebar dengan urat-urat kemerahan yang menonjol karena rasa sakit yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan seluruh tubuhnya berguncang hebat di atas kursi.

Batara menatap aliran darah itu dengan pandangan datar yang kosong, seolah-olah dia baru saja menusuk seonggok daging mati di pasar, bukan seorang manusia. Dengan gerakan yang dingin dan efisien, dia menarik kembali pisau itu dari bahu Talitha tanpa belas kasihan, membuat darah kembali mengucur deras.

"Jangan macam-macam!" peringat Batara dengan nada suara yang datar namun mengandung otoritas mutlak yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun di dunia ini.

Pria itu melangkah mundur satu tindakan. Tanpa melihat ke arah Talitha yang kini menangis tersedu-sedu dengan kepala terkulai lemas karena menahan perih yang luar biasa di bahunya, Batara melepas sepasang sarung tangan plastiknya yang terkena bercak darah. Dia melemparkan pisau kecil beserta sarung tangan plastik itu ke dalam tong sampah besi di sudut ruangan dengan gerakan penuh rasa menjijikan, seolah-olah dia baru saja berurusan dengan kuman atau kotoran yang menjijikkan yang bisa menodai kebersihannya.

Jevan segera maju selangkah, menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan Batara. "Tuan Besar, apakah Anda ingin saya menyelesaikan eksekusinya sekarang?"

Batara membalikkan badannya, melangkah menuju pintu keluar ruang isolasi tanpa menoleh lagi. "Biarkan dia hidup. Berikan pelajaran pada keluarga Munic tentang posisi mereka."

"Dipahami, Tuan Besar," jawab Jevan dengan tegas.

Setelah sosok tegap Batara menghilang di balik pintu besi bawah tanah, Jevan membalikkan tubuhnya menghadap Talitha yang kini tampak hancur berantakan. Jevan melangkah mendekati kursi Talitha dengan tatapan mata seorang algojo yang siap menjalankan tugas berikutnya.

"Kau beruntung Tuan Besar masih menginginkan keluargamu membayar utang mereka secara utuh, Nona Talitha," ucap Jevan, suaranya terdengar dingin dan tajam di keheningan ruangan. "Namun, tindakanmu hari ini telah memastikan bahwa hidupmu dan keluargamu di Laviata tidak akan pernah tenang lagi. Mulai detik ini, setiap helai rambut Nyonya Sonya yang rontok karena perbuatanmu... akan dibayar dengan satu inci daging dari tubuhmu sendiri."

Jevan menoleh ke arah dua penjaga yang berdiri di dekat pintu. "Panggil tim medis klan untuk menjahit lukanya tanpa obat bius. Pastikan dia tetap sadar untuk merasakan setiap detiknya. Setelah itu, kurung dia di sel paling pojok sampai ada perintah selanjutnya dari Tuan Besar."

"Siap, Tuan Jevan!" jawab kedua penjaga itu dengan serentak, langsung bergerak maju melaksanakan perintah tanpa ada sedikit pun keraguan di wajah mereka.

1
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
oh ternyata Ibu Yooka yang menjadi pengasuh Batar, pantes aja jalau dia paham sama sifat Batara
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
Astaga Batara kamu tega banget sih jadi cowok mentang2 di takuti seenaknya ajs sama perempuan, apa kamu gak kasihan sama Sonya yang ketakutan
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
pantes aja si Jenna kasar banget ternyata dia punya obsesi terhadap bosnya sendiri
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
Talitha harusnya kamu tuh berfikir kenapa orang memilih Sonya, harusnya kanu jadikan pelajaran bukan malah hidup dengan kedengkian
Muft Smoker
kak jgn sampe deeh si batara tdur sama thalita ,,
kasihan Sonya gx pnrh bahagia ,,
lgan si Sonya lemah amat kak ,,
kasih kekuatan super kek si Sonya ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: 😭😭😭😭😭😭
total 3 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
ladalah Jenna masih ada disana kirain sudah dibuang jauh jauh dan ini Sonya kau terlalu lemah sekali kapan kau jadi kuat dan berani 🤔😔😔
SENJA
yaelaaah lemah banget lu kan isteri mafia, hadeeeh berubah dikit kek
SENJA
kirain jena udah dipecat hadeeh
SENJA
jangan terpedaya batara si lacur lagi sandiwara
SENJA
lacur emang lah kau sampah 😤
RANDI Satriandi
tuhh kan.. bener plot twist. ternyata Sonya udh duluan donor darah
🏘⃝Aⁿᵘ𝐇⃟⃝ᵧꕥᴍɪss_dew 𝐀⃝🥀 ♉🤎: 🤣🤣🤣🤣 tau aja
total 1 replies
RANDI Satriandi
kok curiga saya.. Sonya abis donorkan darah untuk jevan diam².. biasanya othor yang satu ini bikin plot twist/Applaud//Applaud/
🏘⃝Aⁿᵘ𝐇⃟⃝ᵧꕥᴍɪss_dew 𝐀⃝🥀 ♉🤎: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/iya gitu
total 1 replies
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
berani bersikap kurang ajar seperti ini, karena iri hati kah 😂
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
air mata buaya Betina 😑 penuh kepalsuan
Muft Smoker
kak bikin aj dstu mati lampu ,, ad sosok penjaga yg postur tubuh ny sama dg batara ,, yg masuk menggantikn batara ,, pas udh beres lampu nyalah ,, syik syak syok gx tuh si thalita ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂😂
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
😑 masa pakai darah Thalita, nnti makin besar kepala diaa
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
harusnya gak perlu panggil tuan 🤭🤭
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
gak perlu takut lagii, kmu istri Batara, harusnya mreka yg takut sama kamuu
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
pantas saja ada musuh di balikk selimut 😑
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Batara kena jebakan kahh ini? 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!