Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.
Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.
Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya
Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??
Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis
Silahkan dukung kami🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Mata Maya memerah karena amarah, dia tidak terima ayah yang begitu dia cintai dihina seperti itu.
Dia mengayunkan tangannya hendak menampar sang kakak tapi ditepis Biah dengan keras sehingga membuatnya mengadu kesakitan.
"Jangan pernah sentuh aku dengan tanganmu itu Maya". Ucapnya dengan datar dan suara rendah penuh peringatan.
"Kamu pikir karena dirimu dibela oleh ayahmu itu, kau bisa bertindak seenaknya padaku seperti dia dan ibumu".
Biah kini melangkah lebih dekat menatap mata sang adik dengan sangat tajam bahkan jika tatapan bisa menggores maka dia akan tergores dengan sangat tajam
"Pulanglah sebelum kesabaranku habis dan katakan padanya aku tidak akan menyerahkan putra sulung ku dan anak kedua ku padanya karena mereka adalah anak-anakku, dia tidak punya hak akan hal itu".
Ayahnya memang menginginkan kedua anaknya itu, si sulung Umar dan anak adiknya Ukasyah untuk dia ambil dan jadikan penerus keluarga karena hanya dirinya dan sang adik yang memiliki anak lelaki sedangkan saudara dari ibu tirinya hanya memiliki anak perempuan.
Dia menentang dengan tegas dan keras, dia tidak ingin anaknya dibesarkan oleh keluarga yang sangat ambisius dan suka memanfaatkan orang lain belum lagi hanya tahu menyalahkan orang lain.
"Dia adalah ayahmu juga Biah, jangan lupakan itu, darah yang mengalir dalam tubuhmu ada darahnya juga". Desis Maya dengan penuh penekanan.
Buah hanya tersenyum tipis, sejujurnya ketika mendapatkan perlakuan tidak adil dari ayahnya dia berusaha untuk tetap menganggap lelaki itu ayahnya karena biar bagaimanapun yang dikatakan adiknya adalah kenyataannya tapi setiap kali mengingatnya hati kembali mengeras.
"Itu benar dan aku tidak menyangkalnya tapi perlakuannya pada kami membuat kami sudah menganggapnya tidak ada bersama perginya ibu kami, kami masih memiliki ayah tapi serasa yatim piatu".
"Jangan keterlaluan, aku akan melaporkan kamu pada ayah karena ucapanmu ini, dia pasti akan sangat marah dan memaksa merampas apa yang dia inginkan, kamu pasti lebih tahu seperti apa ayah itu".
Biah mengangguk kemudain mengangkat bahunya tidak peduli atas sikap adiknya.
"Aku tidak akan datang dan tidak akan menyerahkan kedua anakku apapun yang terjadi, jika dia menggunakan hukum dan kekuasaan yang dimilikinya, katakan padanya dia akan melihat singa yang selama ini dia terlantarkan akan mencabik-cabik dirinya tanpa ampun, itu janji seorang ibu dan seorang kakak".
Biah berjalan kearah sofa dan menunjuk kearah keluar dan menatap tajam sang adik.
"Pergilah, saya masih banyak urusan". Usirnya dengan tajam
Maya menghentakkan kakinya dengan kasar, amarahnya sudah sampai di ubun-ubun dan ingin melampiaskan pada kakaknya tapi tidak bisa karena dia tidak mau merusak citra keluarganya, kakaknya itu tidak pernah bercanda soal perkataannya jadi dia akhirnya pergi dengan kekesalan.
"Ya allah". Biah memegang dadanya yang terasa perih dan sakit.
Ingatannya terlempar pada saat dirinya masih berusia 6 tahun saat itu.
"Kamu dan kedua adikmu akan tinggal di rumah nenek dari ibumu". Ucap sang ayah tanpa basa basi.
Dia datang kerumah istrinya setelah istrinya wafat dan membawa seorang wanita cantik berpakaian dokter sedang menggandeng tangan nya.
"Ayah, ini rumah ibu, dan ayah sudah berjanji padanya untuk menjaga kami setelah dia pergi". Ucap sang anak dengan polos.
Anak perempuan sulung itu menatap tajam perempuan yang berada disamping ayah nya, walau dia tahu jika ayahnya diizinkan menikah tapi bukan berarti ayahnya bisa berbuat seenaknya apalagi ini rumah utama ibunya yang dibeli oleh hasil keringat ibunya.
"Ibumu sendiri yang mengizinkannya ayah menikah, jadi diam dan patuhlah, kamu cuma anak kecil yang tidak perlu ikut campur urusan orangtua". Bentaknya dengan wajah garang.
Biah mengepalkan tangannya kuat-kuat, ayah tidak berhak mengusirnya dari sini karena ini rumah warisan ibunya.
"Ayah diizinkan ibu karena ibu menyetujui syarat yang diajukan ibu, tapi kenapa sekarang ayah jadi ingkar janji?, jangan jadi manusia tidak tahu Terima kasih Ayah, ini rumah ibu ayah tidak berhak melakukan ini pada kami". Ucapnya berusaha menjaga sopan santunnya.
Dia masih menghargai lelaki ini karena biar bagaimanapun lelaki adalah ayahnya dan ibunya selalu mengatakan untuk menyayangi dan menghargainya.
"Kurang ajar". Desisnya.
Berikutnya terdengar suara tamparan keras sehingga Biah tersungkur dengan keras dan membentur sofa tamu dirumah itu.
"Ayah". Cicitnya menatap sang ayah dengan mata melotot tidak percaya.
" Jangan banyak bicara, ibumu sudah mati dan sudah membusuk didalam tanah, rumah ini dan semua miliknya jadi milik ayah, kalian Harus ikut nenek kalian, jangan membantah, kalau tidak ayah akan pastikan kamu tidak akan bertemu dengan adik bungsumu itu". Bentaknya dengan suara menggelegar.
Biah hanya memegang pipinya dan menatap nanar sang ayah dengan penuh kebencian. Cinta dan kekagumannya yang begitu besar kepada ayah runtuh seketika ketika ayahnya melakukannya.
"Baik ambillah, tapi jangan bawah adikku, aku sendiri yang akan mengurus dan merawatnya, aku tidak akan membiarkan dia tumbuh bersama lelaki egois seperti anda tapi ingat perkataanku ini pak Adam Hermawan yang terhormat".
"Setelah ini, anggaplah kami sudah mati dan jangan pernah mencari kami lagi, jika bukan karena adikku membutuhkan darahmu untuk sembuh maka aku tak akan sudi meminta tolong kepadamu".
Adiknya kini tengah berada dirumah sakit karena kehilangan banyak darah karena dia tertabrak mobil dan darah ayahnya lah yang bisa menyelamatkannya, dia tidak menyangka ayahnya memanfaatkan semua ini untuk mendepak mereka dari rumah ibunya.
"Bagus, akhirnya kau tahu diri juga". Ucapnya dengan sombong dan penuh kemenangan.
Sedangkan perempuan di sampingnya menatap penuh kekaguman pada rumah besar dan mewah didepannya, walau dia memiliki segalanya, rumah ini bahkan lebih dari keluarganya miliki dan jika mereka mendapat aset dari istri suaminya yang baru dia
Biah berjalan meninggalkan sang ayah dan masuk ke kamarnya untuk menghubungi sang nenek sambil mengemasi barangnya bersama sang adik.
2 jam kemudian, sang nenek datang dan membawa mereka pergi tanpa berpamitan kepada lelaki yang ternyata menyakiti ketiga cucunya.
Setelah bertahun-tahun hidup bersama sang nenek, ayahnya datang untuk melihatnya walau dia keberatan
"Ikut ayah begitu juga kedua adikmu dan kamu harus kuliah hukum sedangkan adikmu nanti akan masuk ke akademi kemiliteran". Ucap sang ayah tanpa basa basi saat itu.
Biah hanya memandang datar kearahnya tanpa sedikitpun mengindahkan keinginannya.
"Saya tidak peduli, saya sudah mendapatkan cita-cita saya dan saya sudah mendapatkan beasiswa untuk itu". Jawabnya dengan dingin.
"Kamu anak ayah, kamu harus patuh dan tunduk, jangan membantah ayah". Bentaknya dengan penuh emosi.
Wajahnya memerah karena anak tertuanya ini selalu membantahnya bahkan memandangnya dengan jijik seolah dirinya adalah hama
" Sayangnya saya tidak peduli apa yang anda katakan barusan".