NovelToon NovelToon
Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Obsesi / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah AllRey..

Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.

Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa Lalu yang Tidak Mau pergi

Joyce betul-betul merasa mati gaya, tidak tahu bagaimana harus bersikap. Tiba-tiba saja bibirnya terasa kelu.., padahal biasanya dia pandai bicara. Keduanya kembali terdiam. Demikian juga dengan Ardian..

Aneh. Padahal Ardian adalah CEO yang terbiasa berbicara di depan ribuan orang. Dan Joyce seorang MC profesional yang hidup dari kemampuan berkomunikasi. Namun saat berhadapan seperti ini... justru keduanya sedikit canggung. Sampai akhirnya Joyce bertanya pelan.

"Bagaimana kencan butanya?"

Ardian tampak terkejut. Kemudian tertawa kecil.

"Kamu tahu itu kencan buta?"

Tidak ada jawaban dari Joyce..

"Bukan aku yang merencanakan.. Nenek yang mengatur?"

"Kok bisa tahu kalau tadi kami kencan buta.. Terlihat ya..?"

Joyce tersenyum tipis. Dia tahu bagaimana gelagat laki-laki itu dengan teman kencannya

"Insting saja. Lagian bahasa tubuh anda berdua terlihat kaku.."

"Padahal kalian berdua terlihat seperti pasangan serasi yang saling melengkapi." Joyce berusaha untuk berbasa basi. Apa yang dia katakan, berbeda dengan apa yang ada dalam hatinya.

Melihat senyuman Joyce.. tiba-tiba Ardian merasa senang. Rasa jengkel dan jengah ketika tadi bersama Jessica, menguap begitu saja. Laki-laki itu merasa, untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Ardian melihat senyum Joyce yang benar-benar tulus.

Bukan senyum profesional. Bukan senyum untuk menutupi luka. Tetapi senyum yang lahir secara alami. Serasa mereka berdua sudah saling mengenal lama.

Dan tanpa sadar... Ardian tidak ingin senyum itu menghilang.

"Terima kasih analisanya. Tapi.. kencannya gagal," katanya akhirnya. Namun tidak terlihat ada penyesalan atau kekecewaan dalam perkataannya.

Joyce sedikit tertawa. Dalam hatinya tidak tahu, ada kebahagiaan yang tiba-tiba datang

"Baru satu jam sudah gagal?"

"Dua puluh menit pertama sebenarnya sudah cukup. Kamu terlalu mengada-ada, jika kami layaknya pasangan serasi.. Pasangan konyol menurutku.."

Joyce menahan tawanya. Ardian memperhatikannya beberapa saat. Lalu bertanya dengan hati-hati.

"Dan kamu?"

Joyce mengerti maksud pertanyaan itu. Tentang Arka. Laki-laki di depannya tahu persis apa yang terjadi dengannya malam itu. Tentang pengkhianatan. Tentang luka yang masih belum sepenuhnya sembuh.

"Aku sedang belajar melepaskan." dengan lirih, akhirnya Joyce menjawab. Joyce tersenyum kecut, dan hal itu tertangkap oleh Ardian.

Tatapan Ardian melembut.

"Berhasil?"

Joyce menatap langit sore Jakarta yang mulai berubah gelap. Kemudian menjawab pelan.

"Belum."

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Namun di dalam hati Ardian... ia mulai menyadari sesuatu yang berbahaya. Awalnya ia hanya penasaran pada Joyce. Lalu menjadi tertarik Dan sekarang..., ia mulai peduli.

Sementara di tempat lain, seseorang sedang memperhatikan foto mereka yang baru saja diambil diam-diam dari dalam mobil.

Arka.

Rahangnya mengeras saat melihat Joyce berdiri bersama Ardian. Tadi dia berencana mau nongkrong di cafe itu, sekalian melakukan checking laporan dari tim marketing. Namun keberadaan Joyce dengan CEO Aethera Corporation menghentikan niatnya..

Perasaan kehilangan yang selama ini ia abaikan akhirnya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih buruk.

Cemburu.

******************

Di dalam mobil BMW hitam yang terparkir tidak jauh dari kafe, Arka menggenggam ponselnya erat. Dia mengamati foto di ponsel, yang dia ambil beberapa waktu lalu, secara candidi. Foto di layar menunjukkan Joyce dan Ardian berdiri berhadapan di depan pintu kafe. Hal itu sangat menganggu dan membuatnya resah. Namun dia tidak memiliki keberanian untuk menganggu mereka, apalagi ketika ingat bagaimana CEO Aethera Corporation melindungi Joyce di malam itu.

Dan kini, kembali matanya melihat interaksi antara Joyce dan Ardian.. Tidak ada sentuhan. Tidak ada gestur romantis. Tidak ada yang salah dari percakapan mereka.

Namun justru itulah yang mengganggunya. Dia tahu persis bagaimana Joyce selalu melindungi dirinya.. untuk tidak physical touch dengan laki-laki yang tidak ada kedekatan emosional. Dia ingat, bagaimana sulitnya dulu untuk mendekatinya.

Cara Ardian menatap Joyce. Cara Joyce tersenyum. Semuanya terlihat terlalu nyaman.Terlalu alami.

Dan untuk pertama kalinya sejak pertunangannya dengan Celine, Arka merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pikirkan. Takut kehilangan.

"Bodoh., kenapa aku bisa meninggalkan gadis sebaik itu.. "

Arka melempar ponselnya ke kursi sebelah.

Bukankah dia sendiri yang memilih jalan ini?

Bukankah dia yang berdiri di atas panggung pertunangan sambil memasangkan cincin ke jari perempuan lain?

Lalu kenapa sekarang dadanya terasa sesak melihat Joyce berbicara dengan pria lain?

Ponselnya bergetar. Nama yang muncul membuat ekspresinya berubah. Celine ❤️.. Arka menatap layar beberapa detik sebelum menjawab.

"Hallo."

"Ka, kamu di mana?"

"Ada urusan."

"Kamu lupa ya? Kita ada dinner sama Mama malam ini."

Arka memejamkan mata. Ia benar-benar lupa, dan kali ini dia sedang tidak mau berdebat dengan Celine.

"Maaf."

Di seberang sana, suara Celine terdengar lebih pelan.

"Kamu baik-baik aja?"

Arka tidak langsung menjawab. Karena untuk pertama kalinya... ia sendiri tidak tahu jawabannya. Dia hanya diam, sampai akhirnya Celine mengakhiri panggilan,

**************

Sementara itu. Menggunakan silver bird, Joyce akhirnya tiba di apartemennya menjelang malam. Ardian tadi yang mencarikan taksi untuknya. Sepertinya Ardian tahu diri, untuk tidak mem pressure Joyce, sehingga memilih mencarikan mobil untuk pulang, daripada dia sendiri yang mengantarnya.

"Hari yang panjang." ucap Joyce sambil mengambil nafas panjang.

Dan entah kenapa jauh lebih melelahkan dibanding biasanya. Ia meletakkan tas di sofa lalu berjalan menuju balkon. Angin malam Jakarta berembus lembut. Pikirannya kembali pada percakapan singkat bersama Ardian sore tadi.

Lelaki itu berbeda. Tidak memaksa. Tidak menghakimi. Dan tidak pernah berusaha masuk ke dalam hidupnya dengan cara yang berlebihan. Justru itulah yang membuat Joyce nyaman.

"Tuan Ardian Mahendra.. betul-betul laki-laki bertanggung jawab.." ucapnya lirih

"Meski seorang CEO.. tapi tetap humble. Tanpa gengsi, menghampiri dan menyapaku duluan.."

"Padahal tadi aku malah sengaja tidak mau menyapanya dulu.."

Ponselnya tiba-tiba berbunyi.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang belum tersimpan. Joyce mengerenyitkan dahinya, dan langsung membuka pesan..

Selamat malam, Ms. Joyce.

Saya harap Anda sudah sampai rumah dengan selamat.

— Ardian

Joyce membeku beberapa detik. Dia tidak mengira sedikitpun jika CEO Aethera Corporation mengirimnya pesan. Apalagi belum sampai dua jam, mereka baru saja mengobrol di depan cafe.

Lalu tanpa sadar tersenyum kecil. Pesan itu sederhana. Sangat sederhana.

Namun cukup membuat hatinya yang beberapa minggu terakhir terasa gelap menjadi sedikit lebih hangat. Setelah beberapa saat berpikir, Joyce membalas.

Sudah, Pak Ardian.

Terima kasih sudah menanyakan. Ini sudah bersantai di balkon apartemen..

Tak sampai satu menit pesannya terkirim.. Balasan masuk.

Syukurlah.

Dan untuk yang tadi...

Saya benar-benar gagal dalam kencan buta itu.

Hi.. hi.. sebenarnya tidak perlulah tuan menyampaikan pada saya..

Lah.. kan aku juga perlu mempertahankan reputasiku. Daripada ada yang menerka, atau tanpa aku tahu.. sudah menjadi berita di Twitter...

Joyce tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Tawa yang tulus.

1
Mundri Astuti
Adrian kebangetan lembek, berarti sama" cucunya Oma Ratih kah ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!