Kristella Duan tak menyangka jika pekerjaannya sebagai penulis novel erotis membawanya terjebak dalam pusaran obsesi mafia kejam Dominic Stralerr. Ketua klan mafia terbesar yang hanya bisa bergairah karena membaca novel yang dia buat.
Bagaimana Kristella di tekan untuk membuat cerita- cerita hanya untuknya, dan demi membangkitkan gairahnya yang telah mati. Hingga sebuah ide gila muncul yang Kristella kira bisa membuatnya lepas dari tekanan tersebut, namun justru membuatnya semakin terjerat dan tak bisa lepas.
"Bagaimana kalau kita praktekan saja secara langsung, Tuan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum Waktunya
"Tuan, sedang apa anda disini?" Dominic menatap tajam dengan gerakan tangan, mengkode Bobby agar diam, hingga Bobby merapatkan bibirnya yang baru saja akan kembali bicara, sementara Ella menatap bingung keduanya.
"Siapa yang kau panggil, Tuan?" tanyanya pada Bobby.
"Kau—" ucapan Ella menggantung saat menatap Dominic yang berwajah datar. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang dengan mata yang membulat sempurna. Dia tuan rumah ini? Mr.D?
"Tidak, aku salah bicara," ucap Bobby membuat perhatian Ella kembali padanya wajahnya yang tegang nampak lebih lemas. "Aku kira dia Tuan Do— maksudku Mr.D," lagi dia meralat ucapannya saat Dominic mengedutkan alisnya. "Siluetnya memang sedikit mirim Mr.D." Bobby menghela nafasnya.
Ella mengangguk, lalu menatap Dominic. "Kau benar," gumamnya. Matanya memicing seolah tengah menyelidik. Dia tak tahu wajah Mr. D, tapi sepertinya memang kalau di lihat dari perawakannya memang mirip. Ella tak pernah melihat wajah Mr.D, namun meski di cahaya remang tinggi tubuh Mr.D memang terlihat seperti pria pengawal di depannya ini.
"Apa yang kau lihat?" Dominic bersuara membuat Ella yang sedang memperhatikannya mengedip cepat. Satu hal yang Ella sadari saat menatap pria pengawal ini lamat- lamat, dia sangat tampan.
"Ti—dak." Ella membuang muka.
"Bukankah kau ingin bertemu Bobby?"
Ella menelan ludahnya kasar. Seolah seperti diingatkan Ella mengangguk cepat. "Benar, Tuan Bobby, aku mau menyerahkan ini." Ella memberikan tablet di tangannya dan segera di raih Bobby. "Tolong segera berikan pada Mr. D," katanya dengan pelan seolah takut Dominic mendengarnya.
"Hmm." Bobby berdehem setelah melirik Dominic yang masih berdiri di belakang Ella.
"Baiklah, kalau begitu aku kembali dulu. Terimakasih, ya Tuan pengawal." Ella menaikan tangannya ke arah Dominic lalu bergerak ke kiri dan ke kanan, dan menurunkan tangannya saat menatap Bobby.
"Permisi, Tuan Bobby." Ella mengangguk hormat mengambalikan sikap formalnya, lalu pergi.
Dominic masih memperhatikan punggung Ella hingga benar-benar mengecil.
"Apa ini, Tuan?"
Bobby mengerutkan keningnya saat Dominic bahkan tak menoleh padanya dan terus memperhatikan Ella.
"Dia mengira aku pengawal." katanya dengan acuh.
"Apa?" Bobby menatap kepergian Ella.
"Kau sendiri tidak percaya, kan? Tapi dia percaya begitu saja."
Tentu saja, mana ada pengawal berpenampilan seperti Dominic sekarang. Piyama kimono Dominic bahkan terbuat dari sutra mahal yang di pesan khusus dan hanya satu- satunya. Dan juga dengan ketegasan sikap Dominic tidak mungkin membiarkan pengawal berpenampilan terbuka seperti Dominic sekarang berkeliaran di rumahnya. Ella terlalu polos.
"Lalu, bagaimana nanti kalau dia tahu jika anda adalah Mr.D?"
"Pasti melihat raut wajahnya akan sangat menyenangkan." Dominic menyeringai seolah menanti hal itu terjadi. Tentu saja mungkin Ella akan mati karena terkejut.
Dahi Bobby masih mengernyit menatap Dominic. Dia rasa ini bukan hanya sekedar permainan kecil, terlalu banyak yang Dominic lewatkan tentang Ella, hal yang biasanya tak pernah terampuni, tapi Dominic beberapa kali membiarkan kelancangan Ella.
Dan sejak kapan Dominic suka bermain?
"Anda tertarik pada Ella, Tuan?" Dominic menoleh cepat ke arah Bobby, menatap tajam membuat Bobby menelan ludahnya kasar.
Bagaimana bisa dia mengucapkan itu?
"Maaf, Tuan."
"Berikan padaku." Dominic mendengus mengulurkan tangannya membuat Bobby dengan segera menyerahkan tablet pemberian Ella.
Setelah mendapat tablet tersebut Dominic pergi dengan langkah lebar kembali ke arah kamarnya meninggalkan Bobby yang hanya bisa menggeleng pelan.
....
Plak!
Telapak tangan mendarat di b#kong sintal Estel membuat permukaannya memerah sebab tamparan yang entah untuk ke berapa kalinya mendarat disana.
Bibirnya meringis, namun matanya berputar menjadi putih sebab rasa nikmat yang mengalir dari tamparan tersebut dan membuat v#ginanya semakin berkedut.
"Ah, Jery ... aku tak kuat lagi!" jeritnya tertahan.
Jery merasakan miliknya di remas kuat saat v#gina Estel berkedut menandakan wanitanya telah menyerah sepenuhnya dan membiarkan gelombang dasyat itu datang.
Gerakan yang awalnya pelan namun tegas menjadi lebih cepat dan sedikit kasar, "Aku datang, Sayang!" di susul tubuhnya yang mengejang sebab rasa nikmat yang tak terbendung kala gelombang itu datang.
Bongkahan sintal yang merah menandakan liarnya percintaan mereka, nafas keduanya terengah dengan tubuh besar Jery yang masih menindih Estel.
"Luar biasa," desahnya saat menarik diri membiarkan sisa- sisa cairan cinta itu meleleh dan nampak memikat.
....
Dominic menelan ludahnya saat tubuhnya menegang sempurna beberapa menit, lalu kembali layu saat dia selesai dengan bacaannya.
"Sial!"
Dominic memejamkan matanya kesal. Keringat di dahinya yang muncul sebab ketegangan yang terjadi, namun itu berakhir saat dia bahkan belum memuntahkan bukti gairahnya.
"Brengsek!" umpatnya lagi. Tangannya mengepal erat membuktikan nafsu amarah yang tinggi, mengalahkan nafsu gairah yang telah layu.
Dominic segera pergi ke arah kamar mandi lalu mengguyur tubuhnya dengan air dingin demi meredakan rasa marah dalam dirinya. Lagi- lagi dia gagal.
15 bab yang Ella berikan tidak berarti.
Selesai dengan mandinya Dominic keluar dengan handuk kimono yang melekat. Dominic menunduk melihat dirinya, dimana lukanya kembali basah sebab harusnya dia memang tidak mandi dahulu agar lukanya cepat kering.
Double shit!
Benar- benar hari sial.
Dominic menekan ponselnya membuat bunyi 'tuuut' panjang terdengar menandakan dia tengah menghubungi seseorang. Tanpa menghentikan kegiatannya mengenakan pakaian membiarkan benda pipih itu tergeletak di atas meja dengan mengaktifkan mode speaker.
"Ya, Tuan." Suara tegas Bobby terdengar di sebrang sana saat bunyi 'tuut' panjang berhenti.
"Kemari dalam dua menit." Dominic mematikan teleponnya, lalu duduk dengan tenang.
Dominic menatap ke arah jendela dimana mata hari terlihat memunculkan sinarnya, musim salju akan segera berakhir membuat beberapa salju yang tersisa mulai mencair, beberapa pekerjanya nampak terlihat membersihkan sisa salju di luar agar tak terlalu tebal.
"Tuan?" Suara Bobby terdengar, namun Dominic tak menoleh.
"Berikan itu padanya. Tetap saja tak berguna," ucapnya dengan tenang, namun tetap sarat kekesalan, matanya masih menatap keluar jendela membuat Bobby tak bisa memperhatikan bagaimana raut Dominic saat ini.
Bobby menatap tablet di atas ranjang, lalu pada Dominic. "Kalau begitu bukankah sudah waktunya kita singkirkan dia, Tuan?"
Dominic terdiam sesaat lalu menggeleng. "Belum satu bulan."
"Tapi, Tuan. Jika terus begini bukankah dia sendiri akan menyerah? Bagaimana kalau dia justru lari sebelum waktunya habis?" Mengingat bagaimana Dominic terus menolak naskah- naskah yang Ella berikan, pasti Ella sendiri akan merasa kesal. Bagaimana jika Ella nekat lari dan membawa rahasia rumah ini beserta rahasia besar Dominic.
"Bukan hal sulit menangkapnya lagi, kan? Saat itu aku tidak akan menghalangimu lagi untuk membunuhnya."
Dominic menoleh dan menatap Bobby yang dengan patuh mengangguk lalu pergi membawa tablet di atas ranjang.
kan kamu yg ngawalin....
jadi ketagihan kan itu Dom..🤭
ada musuh atau emang sengaja diledakin sama Dom buat ngehapus jejak 🤔🤔
kamu malah bikin Ella jadi takut sama kamu..
bakal kangen dunks kak ....
aq dah vote kamu nih..
semoga retensi kamu bagus ya..