NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Dingin

Menikah Dengan Dosen Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / CEO / Nikah Kontrak / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:675
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Alya, mahasiswi tingkat akhir yang cerdas dan mandiri, tengah berjuang menyelesaikan skripsinya di tengah tekanan keluarga yang ingin ia segera menikah. Tak disangka, dosen pembimbingnya yang terkenal dingin dan perfeksionis, Dr. Reihan Alfarezi, menawarkan solusi yang mengejutkan: sebuah pernikahan kontrak demi menolong satu sama lain.

Reihan butuh istri untuk menyelamatkan reputasinya dari ancaman perjodohan keluarga, sedangkan Alya butuh waktu agar bisa lulus tanpa terus diburu untuk menikah. Keduanya sepakat menjalani pernikahan semu dengan aturan ketat. Tapi apa jadinya ketika batas-batas profesional mulai terkikis oleh perasaan yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Perjalanan pulang dari supermarket terasa canggung. Mobil melaju mulus di jalanan kota, tapi suasana di dalamnya seolah penuh dengan pertanyaan yang tidak terucap. Aku hanya bisa menatap keluar jendela, sementara Reihan fokus pada kemudinya.

Begitu mobil masuk ke halaman rumah, aku buru-buru turun sambil membawa kantong belanjaan. “Aku taruh dulu di dapur,” ucapku cepat, berusaha menghindari percakapan yang aku tahu pasti akan datang.

Tapi suara Reihan menghentikan langkahku.

“Alya.”

Aku menoleh pelan. Dia berdiri di belakangku, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana, sorot matanya menusuk tajam.

“Siapa Farel?”

Aku menghela napas dalam-dalam. Sudah kuduga. “Aku udah bilang, Mas. Dia sahabatku waktu SMA dulu. Nggak lebih.”

“Teman biasa?” Nada suaranya meragukan. “Aku lihat cara dia menatapmu, Alya. Itu—”

“Mas!” potongku, sedikit lebih keras dari yang kumaksud. Aku menatapnya balik, berusaha menahan getaran di suaraku. “Ingat nggak isi perjanjian kita? Kita menikah hanya karena kontrak. Artinya, kita nggak saling ikut campur soal urusan pribadi masing-masing.”

Reihan terdiam, sorot matanya tak berubah.

“Mas punya kehidupan Mas sendiri, aku juga begitu,” lanjutku pelan.

“Jadi… kalau aku ketemu teman lamaku, itu bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan. Karena bukankah sejak awal kita sepakat, nggak ada yang boleh menuntut lebih?”

Suasana hening. Hanya terdengar detik jam dinding di ruang tamu.

Wajah Reihan tampak menegang, seolah ada kata-kata yang ingin ia ucapkan tapi tertahan. Akhirnya ia hanya bergumam pendek,

“Baiklah.”

Lalu ia berjalan ke arah kamarnya tanpa menoleh lagi.

Aku berdiri diam di dapur, menatap belanjaan yang masih belum sempat kuatur. mood ku sudah hancur aku ngga berselera lagi membereskan ini. Ini konsekuensi dari pernikahan kontrak. Tidak boleh ada perasaan, tidak boleh ada campur tangan.

.

.

.

.

Keesokan paginya, aku bangun lebih awal. Setelah mencuci muka aku bergegas turun ke dapur, belanjaan semalam yang belum sempat aku bereskan kini sudah tertata rapi.

Biasanya aku hanya menyiapkan sarapan seadanya untuk diriku sendiri, tapi entah mengapa pagi ini aku ingin memasak nasi goreng Seafood.

Aroma bawang putih dan kecap manis mulai memenuhi dapur. Aku tersenyum tipis, mencoba menghibur diri dengan kesibukan kecil ini.

Suara langkah pelan terdengar dari arah tangga. Reihan muncul, dia sudah rapi dengan pakaiannya mungkin sudah mau berangkat . Ia berhenti di ambang pintu dapur, memperhatikanku sejenak.

“Kamu masak?” tanyanya datar.

Aku menoleh sebentar, lalu kembali mengaduk nasi di wajan. “Iya. Aku masak nasi goreng seafood, mas ngga alergi kan"

" Tidak"

Ia tidak berkomentar lagi, lalu duduk di meja makan sambil memainkan iPad.

Aku menyajikan dua piring nasi goreng, lalu duduk berseberangan dengannya. Lalu menyantap makanannya masing-masing.

.

.

.

.

Setelah sarapan, aku segera kembali ke kamarku,mandi, merapikan berkas-berkas skripsi. Hari ini aku memang sudah ada jadwal bimbingan dengan Reihan di kampus. Rasanya aneh sekali… sarapan bareng sebagai “istri”, lalu beberapa jam kemudian harus bertingkah seolah-olah aku hanyalah mahasiswanya.

Ahh andai saja kamu tidak menikah kontrak sudah ku paskitan skripsiku sudah selesai sejak awal.

Aku menatap bayanganku di cermin. Blouse sederhana warna putih dengan celana hitam, ditambah blazer tipis.

"Perfect"

" Hari ini kamu harus bisa Alya, semangat"

.

.

.

.

Kampus siang itu cukup ramai. Mahasiswa lalu lalang dengan kertas, laptop, dan raut wajah tegang khas pejuang skripsi. Aku berjalan ke ruang dosen, jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya.

Di koridor, aku bertemu dengan Nia dan Lala.

“Eh, Al! Kamu juga mau bimbingan ya?” sapa Nia.

Aku tersenyum tipis. “Iya, kebetulan jadwal hari ini.”

“Waduh, semoga mood Pak Reihan lagi bagus. Kemarin ada yang sampai nangis keluar ruangan loh,” celetuk Lala sambil meringis.

Aku tertawa canggung. " kalo gw mah udah kebal"

" Eh-eh gimana semalam"

"Gimana apanya"

" Ya elah Al itu loh, yang semalam pulang bareng sama dospem, masa Lo langsung lupa sih"

"Ya gitu deh ngga ada yang spesial "

"Masa gue ngga percaya, pokoknya nanti Lo harus cerita titik"

Kami sempat mengobrol sebentar, lalu aku pamit lebih dulu. Kakiku melangkah ke ruang Reihan.

Tok. Tok. Tok.

"Permisi pak"

“Silakan masuk,” terdengar suara tegas dari dalam.

Aku menarik napas, lalu masuk.

Di balik meja kerjanya, Reihan duduk dengan kemeja rapi dan ekspresi serius.

“Duduk,” katanya singkat tanpa menoleh lama.

Aku duduk, mengeluarkan draft skripsi dari map. “Ini, Pak. Draft revisi yang Bapak minta minggu lalu.”

Reihan mengangkat wajah, matanya sekilas menatapku lebih lama dari biasanya. Lalu ia mengambil naskahku,

" Buatkan say kopi"

" Hah" aku sedikit ngelag apa katanya tadi.

" Buatkan saya kopi, saya haus"

"Ohh-oh iya pak"

Aku langsung ke luar menuju pantry tempat bisanya dosen membuat minum atau makan. Membuatkannya kopi sesuai dengan yang bisanya aku buat.

" Mudah-mudahan dia suka"

" Lagi buat kopi, buat siapa"

Aku menoleh ke sumber suara ada Bu Diana yang baru datang.

" Ehh iya buk, buat pak Reihan "

" Kamu siapanya pak Reihan " todongnya

" pak Reihan kebetulan dosen pembimbing saya buk"

" Ohh ya udah sana"

'dih apaan sih ni orang' pikirku. Menurut rumor yang beredar Bu Diana ini suka sama pak Reihan tapi bertepuk sebelah tangan. Kasihan.

Tok tok

"Permisi pak"

"Masuk "

"Taruh di atas meja"

“Duduk,” katanya singkat

Suasana sunyi. Hanya suara kertas yang dibalik dan detak jam dinding. Aku menunggu dengan cemas, jari-jariku memainkan ujung pulpen.

“Bagian latar belakang sudah lebih baik,” katanya akhirnya. “Tapi metodologinya masih terlalu umum. Perbaiki sesuai catatan saya di sini.”

Aku mengangguk cepat. “Baik, Pak.”

“Dan…” ia berhenti sejenak, menatapku dengan sorot tajam, “…tolong lebih fokus. Jangan banyak pikiran . Saya tidak mau mahasiswa bimbingan saya gagal sidang hanya karena pikirannya ke mana-mana.”

' gimana ngga overthinking, tiap hari liat tampang rupanya aja udh stres "

Aku menunduk, “I-iya, Pak. Saya akan lebih fokus.”

Reihan tidak menanggapi lebih lanjut. Ia kembali menulis beberapa catatan di kertas revisiku, lalu menyodorkannya. “Kamu punya waktu seminggu. Minggu depan kita bahas lagi.”

Aku bersiap berdiri, tapi tiba-tiba pintu ruang dosen terbuka.

“Permisi, Pak Reihan!” suara ceria terdengar.

Aku menoleh—dan hampir saja ternganga.

Farel.

Dia berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja kasual dengan senyum lebar.

“eh, maaf ternyata lagi ada mahasiswa ya,” katanya sambil melirik ke arahku. “Eh, Alya? Kamu lagi bimbingan sama Pak Reihan?”

Aku menelan ludah, tersenyum canggung. “I-iya… Ehh tapi udah selesai kok"

"Emm kalo gitu saya pergi dulu, permisi"

"Hati-hati ya Al" ucap farel.

Aku hanya tersenyum sekilas dan mengangguk.

Setelah keluar dari ruangan itu aku mengambil nafas dalam-dalam.

Apaan tadi itu. Apa mungkin Farel kenal dengan Reihan tapi kenapa aku ngga tau. Dulu aku sering main kerumahnya dan hampir mengenal semua kerabat maupun temannya. Ya Tuhan apa lagi ini jangan sampai Farel tau tentang kami bisa panjang nanti ceritanya.

1
Nurhikma Arzam
semangat thor next nya. 😁
Nurhikma Arzam
saran aja ini, please thor aku agak bingung povnya yg awalnya sudut pandang orang ketiga jadi sudut pandang orang pertama. kalau bisa kasih peringatan untuk peralihan pov ha
Erwinda: ihh makasih banget kak sarannya 🥰
total 1 replies
Nurhikma Arzam
awas jatuh cinta Al
Nurhikma Arzam
bagus semangat thor semoga kamu bisa menyelesaikan tulisan ini dan jadi penulis yang keren kelak. jangan menyerah
Nurhikma Arzam
Farel calon calon sad boy haha
Nurhikma Arzam
roman-romannya Reihan ini naksir duluan keknya sama Alya hmm
Nurhikma Arzam
semangat, saran aja ya kak ujung percakapannya jangan lupa pakai tanda titik biar lebih enak di baca☺
Nurhikma Arzam
Halo thor semangat upnya ya. jangan lupa mampir di cerita aku juga 😁
Pandaherooes
Ceritanya seru banget, semangat terus thor!
Gấu bông
Gila seru abis!
Arisu75
Alur ceritanya keren banget!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!