NovelToon NovelToon
Back To Us, Zehar & Alesha

Back To Us, Zehar & Alesha

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Kelulusan dan Perayaan Kecil‑kecilan

☘️ FLASHBACK

Pagi itu, langit terlihat sangat cerah tanpa setitik awan pun. Sinar matahari menyinari seluruh bagian sekolah, membuat gedung‑gedung tua itu terlihat lebih bersinar dan megah dari biasanya.

Suasana di lingkungan SMA Negeri 2 terasa sangat berbeda dibanding hari‑hari biasa. Tidak ada suara gaduh siswa yang berlarian mengejar waktu masuk kelas, tidak ada teriakan guru yang menegur keterlambatan, melainkan suasana yang khidmat namun dipenuhi semangat dan harapan.

Hari ini adalah hari yang ditunggu‑tunggu selama tiga tahun terakhir, ini hari kelulusan.

Di lapangan utama yang luas, ribuan siswa berkumpul mengenakan seragam putih abu‑abu lengkap.

Barisan‑barisan kursi disusun rapi, menghadap ke arah panggung yang dihias dengan pita warna‑warni dan bunga segar.

Di salah satu barisan tengah, duduklah Zehar Pradipta dan Alesha Camellia.

Zehar duduk dengan punggung tegap, sesekali meluruskan kerah bajunya yang terasa sedikit ketat karena tegang. Matanya sesekali melirik ke samping, menatap Alesha yang duduk tenang di sebelahnya.

Alesha tampak anggun dan tenang, namun jari‑jarinya yang saling menggenggam di atas pangkuan menunjukkan bahwa ia juga menyimpan kegelisahan di dalam hati.

Sejak semalam, mereka sama‑sama tidak bisa tidur lelap, memikirkan hasil ujian akhir dan apakah perjuangan keras mereka selama ini akan membuahkan hasil yang diharapkan.

“Kamu tenang saja, Lesha,” bisik Zehar pelan agar hanya didengar olehnya.

Tangannya bergerak perlahan, menyentuh punggung tangan Alesha untuk menenangkan.

“Aku yakin hasilnya pasti baik. Kita sudah berusaha sebaik mungkin.”

Alesha menoleh, senyum tipis terukir di bibirnya.

“Aku tahu, tapi rasanya tetap saja deg‑degan. Rasa penasaran menunggu jawaban dari seluruh waktu yang kita habiskan bersama.”

Suara pembawa acara yang bergema melalui pengeras suara segera memecah percakapan singkat mereka. Acara pun dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan dan doa bersama.

Setelah itu, Kepala Sekolah naik ke atas panggung, berdiri tegap dengan wajah yang dipenuhi rasa bangga. Beliau mulai membacakan sambutan, menyampaikan pesan‑pesan perpisahan sekaligus harapan untuk masa depan setiap siswa.

Sampai akhirnya tibalah momen yang paling dinanti, yaitu pembacaan pengumuman hasil kelulusan dan peringkat siswa berprestasi.

“Sebelum mengumumkan nama‑nama yang lulus sepenuhnya, izinkan saya menyampaikan apresiasi tertinggi kepada siswa‑siswa yang telah menunjukkan dedikasi luar biasa selama tiga tahun terakhir ini,” ujar Kepala Sekolah dengan suara lantang dan jelas.

“Untuk kategori prestasi akademik, yang berhasil meraih nilai rata‑rata tertinggi dan selalu menjadi panutan dalam kedisiplinan serta semangat belajar, diraih oleh Alesha Camellia.”

Seketika itu juga, tepuk tangan riuh bergema memenuhi seluruh lapangan. Alesha tertegun sesaat, matanya terasa berkaca‑kaca karena terkejut sekaligus bahagia.

Zehar segera menepuk punggungnya dengan semangat, berbisik,

“Ayo, Lesha, cepat maju. Itu hasil yang sudah kamu nanti-nantikan.”

Dengan langkah yang sedikit gemetar namun tetap anggun, Alesha melangkah menuju panggung.

“Dan untuk kategori prestasi non‑akademik, khususnya di bidang olahraga serta kepemimpinan yang luar biasa, yang telah mengharumkan nama sekolah di berbagai kejuaraan daerah dan provinsi, sekaligus tetap mempertahankan nilai akademik yang sangat baik, diraih oleh Zehar Pradipta.”

Sekarang giliran Zehar yang maju. Hingga berdiri tepat di samping Alesha, gadis itu segera tersenyum lebar dan berbisik,

“Bagus sekali, Kapten. Aku bangga padamu.”

Zehar tersenyum malu, lalu meremas pelan tangan Alesha.

“Kita sama‑sama berusaha, Alesha. Tanpa bantuanmu, mungkin aku tidak bisa bertahan menjaga nilai pelajaran di tengah kesibukan latihan dan pertandingan.”

Kepala Sekolah memberikan piagam dan sertifikat khusus untuk mereka. Lalu kembali mengambil alih pembicaraan, kali ini dengan nada yang lebih hangat dan pribadi.

“Ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan. Selama saya mengabdi di sekolah ini bertahun‑tahun, jarang sekali saya melihat hubungan antara dua siswa yang terjalin dengan cara yang benar dan positif. Zehar dan Alesha, kalian berdua menjadi contoh pasangan terbaik yang kami miliki tahun ini. Kalian saling mengingatkan untuk belajar, saling memotivasi untuk menjadi lebih baik, dan tidak melalaikan tanggung jawab kalian sebagai pelajar. Semoga sikap baik ini selalu kalian bawa ke jenjang kehidupan yang lebih tinggi.”

Pujian itu membuat wajah keduanya memerah serentak, namun di dalam hati mereka terasa sangat tenang dan yakin.

Selama ini banyak orang yang meragukan hubungan mereka, mengira akan mengganggu pelajaran, namun justru kebersamaan itu yang membuat mereka lebih bermanfaat.

Setelah seluruh rangkaian acara selesai dan siswa diperbolehkan membubarkan diri, keramaian semakin meningkat.

Teman‑teman sekelas, guru, dan wali murid berdatangan untuk memberi ucapan selamat. Zehar dan Alesha melambaikan tangan dan berterima kasih kepada semua orang, namun mereka berdua sama‑sama ingin segera menyendiri untuk melihat satu hal lagi yang paling penting.

Mereka berjalan beriringan menuju sisi lain gedung, tepat di depan ruang tata usaha. Di sana terpasang sebuah papan pengumuman besar yang tertutup rapat kain merah, yang baru saja dibuka sepenuhnya.

Di atasnya tertulis daftar nama‑nama siswa yang berhasil lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri dan swasta.

Dengan napas yang tertahan, mereka berdua mendekat. Jari‑jari Alesha bergerak menyapu deretan nama dari atas ke bawah, sementara Zehar berdiri di sampingnya, menatap dengan pandangan yang tajam dan penuh harap.

“Ini… ini namaku,” seru Alesha pelan namun jelas, matanya terbelalak tak percaya.

“Diterima di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Maju.”

Zehar segera menggeser pandangannya ke posisi yang ditunjuk Alesha, lalu menelusuri baris‑baris berikutnya. Detak jantungnya berpacu lebih cepat, hingga akhirnya matanya terhenti pada satu tulisan.

“Dan aku juga! Diterima di Fakultas Hukum, jalur prestasi olahraga… universitas yang sama, Alesha! Kita satu kampus!”

Rasa syukur dan bahagia meluap keluar. Tanpa sadar, Zehar memeluk bahu Alesha dengan lembut, lalu segera melepaskannya karena sadar masih berada di tempat umum.

Namun tatapan mereka saling bertaut, menyampaikan segala rasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata‑kata. Semua lelah, begadang, pengorbanan waktu, dan keringat selama tiga tahun terakhir terasa terbayarkan sepenuhnya hari ini.

“Kita benar‑benar bisa melakukannya, Zehar,” ucap Alesha dengan suara yang sedikit bergetar, matanya berkaca‑kaca namun tersenyum lebar.

“Iya, Alesha. Kita berhasil,” jawab Zehar sambil mengusap lembut ujung mata gadis itu.

“Ini baru permulaan. Kita akan melangkah bersama ke babak berikutnya.”

Mereka memutuskan untuk merayakan kabar gembira ini hanya berdua saja, tanpa mengajak siapa pun. Sudah menjadi kebiasaan mereka, momen‑momen penting selalu dibagikan di tempat yang paling sederhana namun paling berkesan.

Mereka berjalan kaki menyusuri trotoar yang mulai dipenuhi bayangan matahari sore, menyusuri jalan yang sudah sangat hafal oleh kedua kaki mereka.

Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit, hingga mereka sampai di tikungan jalan yang agak sepi, tempat Warung Bu Siti berdiri kokoh dengan atap sengnya yang sudah mulai memudar warnanya.

Begitu melangkah masuk, aroma masakan yang lezat langsung menyambut hidung mereka. Bu Siti yang sedang sibuk di balik meja segera mengangkat wajah, lalu tersenyum lebar begitu mengenali kedua pelanggannya itu.

“Wah, selamat datang Zehar dan Alesha! Hari ini wajah kalian bersinar sekali, ada kabar apa?” tanya Bu Siti sambil mengelap tangannya di celemek kain yang dikenakannya.

“Kami lulus dengan nilai terbaik, Bu,” jawab Zehar dengan nada riang.

“Dan kabar yang lebih menyenangkan, kami berdua diterima di universitas negeri yang sama.”

Bu Siti menepuk tangannya sendiri dengan gembira.

“Wah, alhamdulillah! Kabar yang paling menggembiaran. Pantas saja, kalian rajin dan sopan, pasti akan mendapatkan hasil yang baik. Hari ini biar Ibu yang traktir ya. Akan saya buatkan nasi goreng spesial lengkap dengan kerupuk udang, dan es teh manis yang dingin.”

Mereka duduk di meja pojok yang selalu menjadi tempat favorit mereka, meja yang sudah menyaksikan banyak percakapan, tawa, hingga doa‑doa mereka selama masa sekolah.

Tak lama kemudian, pesanan tersaji di atas meja. Aroma nasi goreng yang harum langsung tercium, membuat perut mereka yang sejak pagi belum terisi makanan seolah menjerit minta diisi.

Sambil menyantap makanan itu, mereka bercerita tentang segala yang telah dilalui. Tentang haru saat upacara, tentang rasa kaget membaca pengumuman, hingga membayangkan kehidupan kuliah yang akan datang.

“Bayangkan saja, nanti kita bisa bertemu di kantin kampus, atau berjalan pulang bersama lagi seperti ini,” kata Alesha sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.

Zehar mengangguk semangat.

“Iya. Meskipun jadwal kuliah kita mungkin berbeda, aku akan selalu menyempatkan waktu. Kita harus tetap belajar dengan giat, supaya masa depan yang kita cita‑citakan bisa tercapai. Aku ingin nanti bisa melindungimu dan keluarga kita, dan kamu bisa meraih cita‑citamu menjadi wanita karir yang hebat.”

Alesha menatapnya dengan pandangan penuh kekaguman.

“Terima kasih selalu mendukungku, Zehar. Tanpa kamu, mungkin aku akan merasa berat menjalani semuanya.”

Enam bulan kemudian, tepat saat hasil ujian semester pertama keluar dan keduanya kembali mendapatkan nilai yang sangat memuaskan, mereka pun kembali melangkahkan kaki ke tempat yang sama.

Suasananya tidak berubah, meja yang sama, pemilik warung yang sama, dan rasa masakan yang tetap lezat seperti dulu.

Kali ini mereka merayakan keberhasilan pertama mereka di dunia perkuliahan, dengan cara yang sama, sederhana, hangat, dan penuh keyakinan.

Di bawah cahaya lampu temaram warung yang mulai redup seiring malam yang tiba, mereka duduk berhadapan, membayangkan masa depan yang cerah terbentang di depan mata.

 

1
Siti Sarfiah
cinta yg lama hilang akhirnya tersambung kembali👍💪
Siti Sarfiah
lancar kan urusannya kalau mengalah dari egois lanjutkan lagi cinta yg terputus dan perbaiki kembali
Siti Sarfiah
maju pakpol , buang jauh" egomu bisa nyesal kalau d ambil orang
Siti Sarfiah
itulah sama" egois🤭💪
Siti Sarfiah
pakpol yg buang" waktu , bilang saja ingin mengenang masa lalu😄👍
Siti Sarfiah
cinta lama bersemi kembali😍👍💪
Siti Sarfiah
dengan bertugasnya AKP zehar d daerah yg d tuju akan aman selalu👍💪
Siti Sarfiah
mantap ibu Dirut yg jenius👍
Elisabeth Ratna Susanti
semoga pak Zehar beneran tulus ya
Rosella
udh, 🙏
kalah saing kmu erhan
Rosella
baguss
Rosella
Zaskia sadar krna di bayarin tuh utang, coba kalau ga d bayarin, apa masih Nerima Zehar 😏
Rosella
sepakat din🙏
Rosella
keren juga Dinda 😍.
real sahabat ini mah😍
Elisabeth Ratna Susanti
harus tetap tegak berdiri 👍🥰
Rosella
aku paling suka karakter Zehar. apa yang dia ucapkan pasti positif. keren thor.
kalau bisa up banyak y. plis 🙏
Rani: tengkyu.

siapp,😍
demi readers rela up banyak kok😍
total 1 replies
Rosella
sudah pasti terpecah belah lah. gila aja anak sendiri di jadikan bahan untuk balas Budi.😏
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
ibu aja yg nikah sama erhan noh. kehormatan apaan, ngorbanin anak
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
egois bnget si ibu
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
idih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!