NovelToon NovelToon
CINTA YANG TAK SEPADAN

CINTA YANG TAK SEPADAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.

Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEJUTAN UNTUK NAYA DARI RENO

Saat detik itu juga, ​Naya berusaha keras menguasai gemuruh di dadanya, memaksakan sebuah senyuman tipis agar Bik Retno tidak menangkap kabut kesedihan yang mendadak menutup matanya. Kemudian, tanpa menjawab pertanyaan sensitif itu, Naya pun memilih untuk mengalihkan perhatian, menepuk-nepuk pelan pantat Kikan sambil membawanya berjalan mengitari ruang tengah.

​Berada di dalam dekapan Naya yang hangat dipadu dengan usapan ritmis di punggungnya, kantuk Kikan tampaknya sudah tidak bisa ditahan lagi. Isak tangisnya benar-benar hilang, digantikan oleh napas yang perlahan mulai teratur. Gadis kecil itu pun akhirnya menyerah pada rasa lelah. Kelopak mata bulatnya terpejam rapat, menyisakan jejak basah di pipinya yang tembam.

​Lalu, melihat Kikan yang sudah tertidur lelap, Naya pun melangkah perlahan menuju kamar anak di lantai bawah. Disana, ia merebahkan tubuh mungil itu di atas ranjang bermotif kartun dengan sangat hati-hati, seolah sedang meletakkan barang pecah belah yang paling berharga. Setelah menyelimuti Kikan hingga sebatas dada, Naya berdiri sejenak, memandangi wajah damai bocah itu dengan binar keibuan yang tulus.

​Di dalam keheningan lorong rumah yang sepi, dada Naya mendadak berdenyut oleh rasa rindu yang teramat dalam.

Dulu... Ibu mungkin melakukan hal yang sama seperti ini ketika aku menangis, batin Naya lirih. Sudut matanya mulai terasa panas, digenangi cairan bening yang siap tumpah kapan saja.

Pikiran itu membawanya pada kilasan masa kecil, tentang hangatnya pelukan seorang ibu yang selalu menjadi penawar bagi setiap rasa sakitnya. Namun sekarang, keadaan sudah jauh berbeda. Dunianya yang dewasa menuntutnya untuk selalu terlihat kuat, menyembunyikan segala luka di balik topeng ketegaran.

Tapi sekarang, ketika tangis ini berusaha keras aku tahan sendirian... siapa yang bakal memelukku selain Ibu? Aku kangen Ibu...

Pertahanan Naya akhirnya runtuh. Setetes air mata lolos melewati pipinya, membawa serta seluruh rasa lelah dan kesepian yang selama ini ia pendam rapat-rapat. Dengan ujung jemarinya yang bergetar, ia bergegas mengusap air mata itu, menghapusnya dengan cepat tepat ketika indra pendengarannya menangkap derum halus suara mobil yang masuk ke halaman rumah

​Naya lalu beranjak, berbalik dan melangkah mundur. Jemarinya bergerak sangat pelan untuk menarik gagang pintu, memastikan tidak ada suara klik sekecil apa pun yang bisa mengusik tidur nyenyak sang balita.

​Tepat saat pintu kamar Kikan tertutup rapat, sayup-sayup terdengar derum halus suara mesin mobil yang berbelok masuk ke dalam area halaman rumah. Suara ban yang bergesekan dengan lantai carport segera disusul oleh suara mesin yang dimatikan.

​Itu pasti Hana, batin Naya dalam hati.

​Ia mengembuskan napas lega. Akhirnya, sahabatnya itu pulang juga dari kepungan macet dan tumpukan pekerjaan kantor yang melelahkan.

Naya lalu merapikan sedikit pakaiannya yang agak kusut akibat menggendong Kikan, lalu berjalan menuju ruang depan untuk menyambut kedatangan sang pemilik rumah.

​Cklek.

​Pintu utama terbuka bertepatan dengan langkah kaki Naya yang baru saja tiba di ruang depan. Tanpa melihat siapa yang datang, ia langsung membuka suara dengan nada lega yang kentara.

​"Han, akhirnya kamu pul—"

​Kalimat Naya mendadak bisu. Kata-katanya tercekat begitu saja di tenggorokan.

​Sosok yang melangkah masuk melintasi ambang pintu bukanlah Hana, melainkan Reno. Namun, bukan kehadiran Reno yang membuat napas Naya tiba-tiba berhenti. Satu hal yang paling mengejutkan adalah seorang pria yang berjalan tepat di samping Reno.

​Ada sosok yang benar-benar berbeda dengan masa lalunya. Pria itu berdiri tegak, memancarkan aura maskulin yang matang dan penuh wibawa. Cara berpakaiannya pun sangat rapi, tak kalah berkelas dengan Reno meskipun ia tampil tanpa mengenakan jas formal. Pria itu mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda pucat dengan motif garis-garis tipis membungkus pas tubuh tegapnya, dengan bagian lengan yang digulung rapi hingga sebatas siku. Dan, kemeja itu dimasukkan dengan sempurna ke dalam celana bahan berpotongan slim fit berwarna hitam pekat yang disetrika licin, ditopang oleh sepatu pantofel kulit hitam yang berkilat bersih. Potongan rambutnya pun bergelombang alami dan memberikan kesan modern, namun tetap memancarkan karisma seorang pria dewasa yang mapan.

​Tian... batin Naya melongo. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat.

​Seluruh persendiannya terasa kaku. Otaknya berputar keras, berusaha mencerna pemandangan di depannya. Kenapa bisa seperti ini? Apa dunia sedang mempermainkan aku lagi? Skenario gila apa lagi ini Tuhan? Sulit dipercaya!

​"Eh, Nay? Kamu di sini?" Sapaan Reno yang ramah seketika memecah keheningan, mengejutkan Naya dari keterpakuannya.

​Mendengar suara Reno, pria di sebelahnya pun ikut menorehkan pandangan lurus ke arah Naya. Sepasang mata tajam itu melebar sesaat, memancarkan keterkejutan yang sama besarnya sebelum akhirnya melembut.

​"Ini... Naya?" sapa Tian. Suaranya terdengar berat, dalam, dan dipenuhi nada tidak percaya.

​Naya membeku. Setelah tiga tahun lamanya pria itu menghilang dari radarnya, tiga tahun di mana mereka tidak pernah lagi saling menyapa, bahkan hanya sekadar bertukar senyum sekilas saat tak sengaja berpapasan, kali ini Tian benar-benar menyapanya. Bukan dengan formalitas biasa, melainkan dengan tatapan yang sepenuhnya berbeda. Tatapan terpana yang tertuju lekat pada penampilannya.

​Jelas saja, mungkin Naya yang ada di ingatan masa lalu Tian dan Naya yang berdiri di hadapannya sekarang nampak jauh berbeda. Naya yang sekarang tidak lagi tampak kekanak-kanakan. Ia berdiri anggun dalam balutan setelan baju kerja guru yang sangat profesional. Di balik blazer yang terancing rapi itu, Naya tampak begitu matang, anggun, dan berkelas, menciptakan jarak tak kasat mata yang membuat Tian sempat ragu apakah wanita hebat di depannya ini adalah Naya yang dulu pernah ia kenal.

​Oh, shit! gerutu Reno dalam hati, seketika menyadari satu hal yang membuat tengkuknya mendadak dingin.

​Sebuah ingatan mendadak berputar cepat di kepalanya, mengingat kembali cerita Hana beberapa waktu lalu tentang sahabatnya itu. Hana pernah bercerita dengan menggebu-gebu sekaligus sedih, bahwa Naya sempat menaruh perasaan yang amat dalam pada Tian. Hana juga menceritakan bagaimana hancurnya Naya, dan betapa kerasnya wanita itu berjuang mengumpulkan sisa-sisa hatinya untuk melupakan sosok Tian yang telah memilih menikah dengan orang lain.

Kini, ​Reno merutuki kebodohannya sendiri. Membawa Tian kemari benar-benar murni karena urusan profesional, sama sekali tidak ada maksud untuk memperkeruh atau mengoyak kembali luka lama wanita yang datang ke rumahnya tanpa sepengetahuan dirinya itu.

Ya. Secara kebetulan yang luar biasa rumit, Tian ternyata adalah rekan bisnis kerja barunya sekarang. Proyek besar yang sedang dipegang Reno melibatkan perusahaan Tian, dan malam ini mereka berniat melanjutkan diskusi santai di rumahnya.

​Bagaimana ini? Mati aku kalau Hana tahu, bisa diamuk habis-habisan, batin Reno mulai panik, melirik cemas ke arah Naya yang masih mematung.

​"Kenapa, Bro? Ada yang ketinggalan di mobil?" tanya Tian yang menyadari perubahan ekspresi wajah Reno yang mendadak tegang dan memucat.

​Reno tersentak, cepat-cepat menguasai diri dan memaksakan sebuah senyuman formal yang kaku. "Uhm... enggak ada, Bro. Nggak apa-apa. Masuk yuk," ucap Reno buru-buru mengajak Tian melangkah lebih dalam ke ruang tamu, berusaha memotong kontak mata yang sempat terjalin intens antara Tian dan Naya sebelum atmosfer di ruangan itu semakin canggung dan menyesakkan.

****

1
Rahmi Mamimima
Typo ini.. Harusnya aku yg pduli sm kamu
Rahmi Mamimima
Kasian, naya udah g punya sahabat baik lagi

Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Rahmi Mamimima
Wadduuhh gimana si kecil? Apa dy ikut dlm kcelakaan itu?
Rahmi Mamimima
Ah masa iya stlh obrolan itu tdk ad obrolan lgi ntara nya dan zaki
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri
Rahmi Mamimima
🤣🤣🤣😄Org lagi jatuh cinta kok malah mau d bw k psikiater
Rahmi Mamimima
Jatuh cinta beneran si naya sm muridnya
Rahmi Mamimima
Ibunya sdh mninggl? Apa krna anaknya g jdi mnikah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!