NovelToon NovelToon
Koki Kesayangan Raja Naga

Koki Kesayangan Raja Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Risa Jey

Li Yunru tidak pernah menyangka, bahwa cincin perak berukir naga yang menjadi hadiah saat membeli seekor kelinci akan mengubah seluruh hidupnya—menyeretnya ke dunia kuno tempat manusia dan beastmen hidup berdampingan.

Belum sempat memahami situasi, Li Yunru malah terikat sebagai pasangan hidup Raja Naga Putih wilayah utara, Bai Muzhi. Berkat cincin misterius itu, mimpi Li Yunru untuk menjadi koki akhirnya terwujud. Namun, kedatangannya ke dunia itu ternyata bukan kebetulan.

Sedikit demi sedikit, tabir asal-usulnya mulai terbuka. Dan musuh-musuh yang selama ini bersembunyi ikut bergerak. Di tengah bahaya, rahasia dan takdir yang menantinya ... mampukah Li Yunru bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keracunan

Beberapa hari berlalu sejak Li Yunru tinggal di Istana Shing.

Udara dingin wilayah Baiyun perlahan mulai terasa biasa baginya. Ia juga sudah hafal beberapa jalan di dalam istana, bahkan mengenali sebagian pelayan yang sering ditemuinya.

Bai Muzhi juga banyak menjelaskan tentang dunia ini, termasuk fakta bahwa pria itu sudah mengetahui dirinya berasal dari dunia lain.

Tidak ada yang spesial selama beberapa hari terakhir di Istana Shing. Meski para pelayan dan penjaga istana sangat penasaran dengan Li Yunru, tidak ada yang berani bersikap tidak sopan padanya.

Semua orang memperlakukannya dengan hormat. Bagaimanapun juga, seluruh istana sudah mengetahui bahwa Li Yunru memiliki hubungan khusus dengan Bai Muzhi.

Jadi, Li Yunru memutuskan untuk berjalan-jalan di hutan yang ada tak jauh dari Istana Shing.

Di tangannya tergantung seekor ayam utuh yang sudah dibersihkan, sementara keranjang anyaman bambu menggantung di lengannya.

"Tuan, mengapa kamu membawa ayam? Apakah kamu akan memasak sesuatu di hutan?"

Ruu yang mengikutinya penasaran dengan satu ekor ayam utuh yang telah dibersihkan.

Li Yunru mengangguk. "Cuacanya bagus hari ini. Mungkin aku bisa menemukan beberapa bahan makanan di hutan yang masih asri. Aku penasaran dengan bahan makanan liar di dunia ini seperti apa," jawabnya santai.

Satu ekor kelinci dan seorang gadis manusia memasuki hutan yang tidak terlalu lebat. Untungnya Bai Muzhi berkata tidak ada binatang buas di hutan dekat istana, sehingga aman-aman saja untuk dijelajahi.

Angin sepoi-sepoi berhembus, membawa aroma tanah lembap dan dedaunan segar, membuat suasana terasa tenang.

"Ngomong-ngomong, apakah kamu tidak terkejut dengan zaman modern sebelumnya?" imbuhnya yang penasaran. Akhirnya ia memiliki waktu yang pas untuk membicarakan hal tersebut.

"Tidak. Pria tua itu—maksudku leluhur suku naga putih, sudah membawaku ke berbagai dunia aneh. Dia bilang ingin mencarikan pasangan untuk naga putih itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, kabur pun tidak ada gunanya."

Ruu hanya khawatir dirinya akan berakhir di perut naga tua itu. Telinganya yang panjang sempat merunduk sejenak, seolah mengingat pengalaman yang tidak menyenangkan.

"Lalu mengapa kamu menatapku hari itu? Mungkin saja aku tidak akan membelimu."

"Sudah kukatakan, aku melihat energi spiritual hijau dari tubuhmu. Dan aku yakin kamu pasti ditakdirkan dengan dunia ini. Lagi pula, kamu ... tampaknya memiliki darah keturunan ras peri," jelas Ruu yang melompat-lompat santai untuk mengimbangi langkah Li Yunru.

"Rasanya tidak mungkin. Aku hanya manusia biasa. Tapi memang aneh bahwa masakanku bisa menjadi makanan spiritual."

Selama beberapa hari terakhir, Li Yunru sudah berkali-kali mencoba memasak di istana.

Anehnya, semua masakannya memancarkan aroma yang lebih harum dari biasanya. Bahkan membuat pelayan istana—terutama yang bertugas di bagian dapur diam-diam menelan ludah.

Bai Muzhi mengatakan bahwa makanan itu mengandung energi khas ras peri hutan—mampu menyembuhkan luka dan mendetoks racun.

"Seperti apa kehidupan ras peri hutan?" tanyanya tanpa sadar.

"Entahlah, Tuan. Aku belum lahir saat mereka dinyatakan mengasingkan diri dari benua ini."

Keduanya tidak masuk terlalu dalam. Setelah menemukan sungai terdekat, Li Yunru memutuskan untuk menjadikan tempat tersebut sebagai titik awal.

Air sungai itu jernih, memperlihatkan bebatuan halus di dasar. Sementara ikan-ikan kecil berenang lincah di antara arus yang tenang.

Ia mengambil keranjang anyaman bambu dan berkeliaran di sekitar hutan. Sesekali ia berjongkok, mengamati tumbuhan liar yang tampak asing baginya, lalu menggeleng karena tidak yakin apakah itu bisa dimakan.

Namun setelah berkeliling cukup lama, ia tidak menemukan sesuatu yang bisa dimasak. Mungkin karena ini kawasan utara yang sedikit lebih dingin, beberapa sayuran dan buah tertentu tidak tumbuh. Hanya semak-semak hijau dan tanaman liar yang tampak mendominasi.

"Setidaknya aku masih bisa menanam sesuatu di ruang spiritual," gumamnya. Ia lalu menatap Ruu yang mengekorinya sejak awal. "Gendut, daripada mengikutiku tanpa alasan, lebih baik bantu aku mencari makanan hasil alam," imbuhnya.

"Aku bahkan tidak bisa membedakan antara daun lobak dan wortel. Tugasku hanya melindungimu, Tuan."

Li Yunru memutar bola matanya dan menggertakkan gigi. "Yang benar saja! Kalau begitu kamu hanya jadi beban! Kerjalah sedikit untukku, atau tidak ada wortel untuk dimakan di masa depan!"

"Bukankah sejak zaman kuno, hewan peliharaan seharusnya dilayani? Oh, aku tak sengaja mendengar, orang-orang di zaman itu memanggil kalian adalah babu." Ruu sama sekali tidak takut dengannya. "... Lagi pula, aku suka daging."

"Katakan sekali lagi bahwa aku adalah babu, kurebus dagingmu!" Ekor mata kanan Li Yunru berkedut kesal.

Hewan peliharaan spiritual para pemeran utama wanita dalam novel lain biasanya berguna dan banyak pengetahuan, mengapa miliknya hanya tahu cara makan daging?

Di antara dedaunan hijau, matanya menangkap beberapa buah merah cerah yang menggantung rendah. Permukaannya mengilap terkena cahaya matahari.

"Buah apa itu? Bisakah dimakan?"

Ruu melihat ke arah pohon yang tidak terlalu tinggi. Kedua telinganya terangkat. "Aku pernah makan satu, rasanya lumayan."

"Bisakah aku mencobanya?"

"Coba saja."

Li Yunru pun akhirnya penasaran dan memetik satu. Setidaknya ada banyak buah merah yang mirip apel itu, menggantung di dahan rendah sehingga memudahkannya untuk memetik.

Warnanya merah cerah, sedikit mengilap dan aromanya sangat harum. Ia bisa membayangkan betapa manisnya buah tersebut. Namun baru saja mengambil satu gigitan, keningnya berkerut.

Rasanya sedikit sepat, pahit dan agak aneh. Tidak manis sama sekali. Kemudian dia merasa kepalanya pusing tujuh keliling hingga akhirnya jatuh terduduk di tanah.

"Kelinci gendut, buah ini tidak beracun, 'kan?"

"Hah? Harusnya tidak ...?"

Ruu tiba-tiba membeku. Kedua telinganya terangkat tinggi. Ia menatap Li Yunru dan berteriak dengan nada bersalah.

"Tunggu—Tunggu sebentar ...! Tuan! Jangan makan! Beracun! Beracun! Buah itu beracun! Kamu bisa keracunan jika memakannya!"

Ekspresi Li Yunru berubah. Ia melotot pada kelinci yang memegang kedua telinganya yang sudah terkulai seolah-olah baru saja melakukan dosa besar.

"Telat untuk memberi tahu! Aku sudah keracunan! Dasar kelinci gendut!"

Ruu tiba-tiba saja panik saat melihat wajah pucat Li Yunru. "Bagaimana ini? Bagaimana ini? Jika kamu mati, naga putih itu akan marah besar dan menjadi duda mati!"

"Kelinci gendut! Yang harusnya kamu khawatirkan adalah aku yang akan mati. Mengapa kamu mengkhawatirkannya?" Ia benar-benar akan mati konyol oleh kelinci itu.

"Ah, aku lupa. Apakah kamu baik-baik saja, Tuan? Sesak napas? Ingin muntah darah? Kaki mati rasa? Sakit perut?" Rentetan pertanyaan itu justru membuat Li Yunru terdiam.

Gadis itu sempat memejamkan mata beberapa saat. Namun anehnya, rasa pusing yang tadi menyerang perlahan menghilang.

"Kurasa ... Aku mulai membaik."

Awalnya Li Yunru memang merasa sangat pusing hingga tubuhnya lemah. Namun tak lama kemudian, semua efek dari buah tersebut hilang. Tubuhnya juga tidak lagi lemas, bahkan terasa sedikit hangat, seolah ada aliran energi lembut yang mengalir di dalam tubuhnya.

"Aku baik-baik saja," katanya seraya menghela napas lega. "Syukurlah, aku tidak jadi mati."

"Bagaimana mungkin? Manusia biasa harusnya kehilangan nyawa setelah memakan buah merah ini."

"Apa? Kamu ingin aku mati?"

"Bukan begitu!"

Ruu segera menggeleng keras, telinganya ikut bergoyang. Ia melihat bahwa racun yang masuk ke tubuh Li Yunru mulai memudar oleh energi spiritual hijau yang ada di tubuhnya.

Mungkinkah gadis manusia ini benar-benar keturunan peri hutan?

Hanya ras peri hutan yang tidak mempan oleh jenis racun apa pun.

Setelah terkejut selama beberapa saat, Li Yunru bangkit dan menepuk debu di pakaiannya. Ia memetik dan memasukkan beberapa buah merah ke dalam keranjang bambunya. Sudut bibirnya perlahan terangkat.

"Mengapa kamu memetiknya lagi?" Ruu menjadi curiga.

1
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
wahh, teka-tekinya semakin membesar 🙀🙀 semoga segera dipertemukan ya Yunru ortu mu dan juga Peijun untuk bertemu ibunya🥺
A
masih lah. kan ada adudu
Marsya
klau diliat2 keisengannya,itu si elang botaklah🤣🤣🤣🤣🤣
Marsya
aiaiai.....,sang merak muncul thor😉😉😉😉😉
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
🤣🤣 ya ya sama-sama kelompok burung kalian, ayam dan merak 🤣

ayo Yunru botakin aja Lan Peijun🤣🤣
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
ternyata itu artinya Ben, kupikir itu typo atau apa /Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
gak boleh, Yunru harus tetap sama Bai Muzhi, gak boleh yang lain/Curse//Curse/
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
nona ben??? siapa kak??
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
/Facepalm//Facepalm/ aduhhh... tadi dielus, dicium, sekarang di plak plak plak🤣🤣
Sonya Kapahang
TIDAAAAAKKKKKKKK.. aku yg tidak setuju klo Yunru sm si Merak juga...
Yunru hrs tetap sm Tuan Naga satu²nya.. ga boleh ada yg lain.. apalagi Merak bau.. bikin botak aj itu Merak...
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
/Facepalm//Facepalm/ pria narsistik lagi🤣🤣
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
sudah kena bawang dan keluar darah, eh di tambah malah dilepaskan dari ketinggian oleh elang 🤣, aduh kasian banget, tapi itu memang cocok buat Yan Diming, sepertinya itu masih kurang untuk memberinya pelajaran 🤣

Yunru kamu udah mulai berani ya minta cium dulu 🤣/Facepalm//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
kok aku baca ini, geli ya 🤣 aku ngebayangin dia bicara seperti itu sambil mendayu-dayu🤣/Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥: beneran loh kak, sambil ngebayangin dia bergerak gemulai dengan suara mendayu-dayu🤣
total 2 replies
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
sabar ya maxing🤣🤣, kamu malah merekomendasikan untuk Yunru membuat peraturan tertulis🤣
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥: wajib kak khusus Hong Maxing buat peraturan tertulis biar dia gak lupa 🤣🤣
total 2 replies
Marsya
korban pertama naga diduduki,korban kedua elang dibotaki,korban ketiga rubah diracuni,skarang korban keempat ular dipukuli,🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭😉😉😉👍👍👍👍
Author Risa Jey: waktunya cari mangsa baru /Hey//Hey/
total 1 replies
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
🤣🤣🤣 kasian, itu artinya cermin air gak boleh lihat wajah Yunru🤣
Author Risa Jey: ada hubungannya dengan si kelinci nanti, mengapa itu cermin maunya lihat dia terus 😅
total 1 replies
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
hahaha🤣🤣 ngatain diri sendiri/Facepalm/
Sonya Kapahang
Yah.. belum tau dia siapa Yunru.. udh kena serang 2 kali tp msh ga kapok..
Author Risa Jey: kalau kapok, bukankah dia pengecut? 🤣🙏
total 1 replies
Sonya Kapahang
Terlalu percaya diri kamu Ruu..
Klo kata Yunru, Narsistik sekali kelinci gendut ini 😒😒😒
Author Risa Jey: Maklum, dibesarkan Bai Muzhi sebelumnya. Ya gini jadinya /Cleaver/
total 1 replies
Sonya Kapahang
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Liatin aj noh pantatnya si Ruu yg montok dan seksih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!