NovelToon NovelToon
Pijar Hati

Pijar Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Isshabell

Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.

Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.

yuk baca kisahnya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 12 Alasan yang hilang

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang ini, waktunya jam makan siang. Cindy mengajak Ratih untuk makan siang di kantin kantor mereka.

"Rat," panggil Cindy menoleh pada Ratih yang duduk di meja kerja sebelahnya.

"Ya," jawab Ratih sambil tetap mengerjakan sesuatu di komputernya.

"Makan yuk, aku udah lapar ini...." Cindy memegangi perutnya.

Ratih tersenyum melihat tingkah Cindy. Dia menghentikan jari-jari tangannya yang sedang mengetik," kamu memang paling gak bisa nahan lapar sih."

"Tapi aku paling bisa nahan sakit hati loh...." seloroh Cindy yang tanpa sengaja membuat Ratih sedikit tersentak.

"Kamu tahu sesuatu?" tanya Ratih menyelidik menatap sahabatnya itu.

"Taulah...."

"Tau soal apa?"Ratih makin penasaran pada Cindy.

"Tau soal pak Dimas yang suka sama kamu."

"Deg," jantung Ratih hampir copot mendengar ucapan Cindy.

"Ahhhh...aku bercanda kok," Cindy terkekeh menepuk pundak Ratih.

Sontak Ratih menghembuskan nafasnya yang sempat tertahan beberapa detik karena kaget tadi.

"Syukurlah. Ternyata Cindy hanya bercanda," ucap Ratih dalam hatinya lega.

"Yuk ah. Aku udah lapar banget ini," Cindy menarik lengan Ratih berjalan keluar dari ruangan kantor mereka.

Mereka berdua berjalan menyusuri koridor-koridor kantor menuju ke kantin. Karena terburu-buru akhirnya mereka berdua berdesakan dengan Dimas di pintu kantin yang saat itu juga mau masuk ke kantin untuk makan siang.

"Aduh," tiba-tiba saja dengan sengaja Cindy mendorong tubuh Ratih ke arah Dimas menyebabkan Ratih menubruk tubuh Dimas yang berdiri tepat di sampingnya.

Reflek Dimas menangkap tubuh Ratih tapi dengan kasar Ratih melepaskan dirinya dari pelukan Dimas. Dia segera menggeser tubuhnya dan menjauh dari Dimas yang masih berdiri di tempatnya.

"Yuk Cin, cari tempat duduk di belakang sana," Ratih menggaet tangan Cindy agak kasar membuat Cindy terbirit-birit mengikuti langkahnya.

Cindy sempat menoleh pada Dimas sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya sopan.

Dimas menatap kepergian Ratih dan Cindy, dia tahu Ratih akan selalu menghindari pertemuan dengan dirinya. Dimas menyadari akan hal itu.

"Rat. Kamu kenapa sih?" tanya Cindy jutek saat mereka sudah mendapatkan tempat duduk.

"Gak apa-apa. Cuma aku gak suka cara kamu yang seperti tadi itu," Ratih menatap Cindy kesal.

"Lah. Aku tadi kan gak sengaja. Ya maaf kalau kamu akhirnya menubruk pak Dimas," Cindy terkekeh misinya berhasil.

Dari jauh terlihat Dimas sedang duduk di kursi yang tempatnya juga jauh dari tempat Ratih dan Cindy duduk. Dia sengaja mencari tempat duduk yang jauh dari Ratih.

"Rat. kamu kenapa sih gak suka banget sama pak Dimas?" tanya Cindy di tengah-tengah mereka menyantap makan siangnya.

Ratih tak menghiraukan pertanyaan Cindy. Dia terus saja menikmati makan siangnya dengan lahap.

"Ratih...aku bertanya dengan serius loh...." Ucap Cindy agak kesal melihat Ratih yang tak menghiraukan pertanyaan darinya tadi.

"Kamu juga yang kenapa Cindy? Kamu sepertinya gak suka kalau aku bersikap acuh pada Dimas," Ratih menghentikan makannya dan menurunkan sendoknya ke meja.

"Eh. Aku gak kayak gitu maksudku itu aku seneng kalau kamu deket sama pak Dimas, masalahnya aku merasa dapet banget feel nya gitu," Cindy tersenyum menatap Ratih.

"Mulai sekarang gak usah buat lelucon seperti itu lagi. Aku gak suka. Kamu tahu kan Cin kalau aku udah punya tunangan," ucap Ratih tegas.

"Hehhh," Cindy mendengus kesal seperti nya dia tidak suka dengan Regan tunangan Ratih.

...----------------...

Beberapa jam kemudian saat jam kantor sudah usai.

Suara gema langkah kaki Ratih terdengar pelan di area basement parkir yang mulai sepi. Ia mempercepat langkahnya, ingin segera masuk ke dalam mobil, menyalakan AC, dan menyendiri dari penatnya hari ini. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sebuah siluet tinggi bersandar di pintu kemudi mobilnya.

Dimas.

Ratih menghela napas berat, rasa lelahnya mendadak berlipat ganda. "Dim, tolong. Aku mau pulang. Aku capek banget hari ini."

Dimas menegakkan tubuhnya. Tatapannya tidak lagi setenang biasanya. Ada gurat keputusasaan yang sangat jelas di wajahnya. "Ratih, sebentar saja. Tolong dengerin aku sekali ini aja. Soal sepuluh tahun lalu—"

"Aku enggak mau dengar, Dimas," potong Ratih cepat, bahkan sebelum Dimas menyelesaikan kalimatnya. Ia meraba saku tasnya, mencari kunci mobil dengan gerakan panik.

"Keluargaku bangkrut bukan karena kecelakaan bisnis biasa, Ratih!" suara Dimas meninggi, bergema di keheningan basement. "Ayahnya Regan... mereka yang merencanakan semuanya. Mereka menjebak ayahku sampai kami kehilangan segalanya. Aku terpaksa pergi karena...."

"Cukup, Dimas!" Ratih menutup kedua telinganya dengan tangan, memejamkan mata rapat-rapat. "Aku bilang cukup!"

Napas Ratih memburu. Ia tidak ingin mendengar satu kata pun lagi. Bukan karena ia tidak peduli, tapi karena ia takut. Ia takut jika penjelasan Dimas masuk akal, hatinya akan goyah. Ia takut jika ia mengetahui kebusukan keluarga Regan, ia tidak akan sanggup lagi berpura-pura memakai cincin tunangan ini demi menyelamatkan ayahnya.

Dimas melangkah mendekat, perlahan menurunkan tangan Ratih dari telinganya dengan lembut namun tegas. "Kenapa kamu selalu lari dari kebenaran, Ratih? Kamu berhak tahu kenapa aku ninggalin kamu tanpa pamit."

Ratih menatap mata Dimas yang berkaca-kaca. Detik itu, benteng di hatinya hampir saja retak. Namun, bayangan wajah dingin Regan dan ancamannya tentang sang ayah kembali terngiang di kepalanya.

Dengan kasar, Ratih menyentakkan tangannya hingga genggaman Dimas terlepas.

"Kebenaran apa, Dim? Kebenaran kalau kamu pengecut?" desis Ratih dengan suara tertahan, menahan air mata yang mendesak keluar. "Sepuluh tahun lalu kamu pergi tanpa berjuang. Dan sekarang, setelah aku hampir memulai hidup baru, kamu datang mau jadi pahlawan? Semuanya udah terlambat."

"Ratih..."

"Aku enggak butuh alasan kamu yang hilang itu, Dimas. Aku enggak butuh penjelasan apa pun lagi," Ratih membuka pintu mobilnya dengan cepat. "Alasan itu enggak akan bisa memutar balik waktu, dan enggak akan bisa mengubah kenyataan kalau bulan depan aku akan menikah dengan Regan."

Sebelum Dimas sempat membalas, Ratih sudah masuk ke dalam mobil dan mengunci pintunya dari dalam. Ia segera menyalakan mesin dan melajukan mobilnya membelah keheningan basement, meninggalkan Dimas yang hanya bisa menatap lampu belakang mobil Ratih yang perlahan menghilang di kegelapan.

Di dalam mobil, Ratih akhirnya menangis sejadi-jadinya, mencengkeram erat setir mobil dengan jemari yang masih dilingkari cincin dari Regan.

Ramainya jalanan yang saat ini sedang Ratih lalui tak mampu mengalahkan berisiknya batinnya yang sedang kalut saat ini. Ingin rasanya dia pergi sejauh-jauhnya dari kota ini agar dia tidak bertemu lagi dengan Dimas dan tidak terlibat hubungan yang rumit dengan Regan tunangannya.

Ratih menghela nafas panjang yang terasa sangat berat sekali. Dia menelungkupkan kepalanya diatas kemudi mobil saat mobilnya berhenti tepat di lampu merah persimpangan jalan yang menuju ke arah apartemen tempatnya tinggal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!