NovelToon NovelToon
Luka Di Penghujung Harapan. (Sukacita Kota Nablus)

Luka Di Penghujung Harapan. (Sukacita Kota Nablus)

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: Ummi Adzkia

yaseer, seorang anak yang hidup di negara konflik. keluarga petani zaitun, namun dia bermimpi untuk mengembangkan usaha orangtuanya dewasa kelak. Namun, karena konflik semakin parah, semua usahanya perlahan runtuh. hingga ketika konflik berhenti, yaseer berusaha sekuat tenaga nya beserta keluarga nya untuk membangun kembali. tapi tiba-tiba hantaman rudal dari penjajah meluluh lantakkan bahan utama usahanya. hingga akhirnya menghancurkan usahanya tak bersisa. akan kah yaseer bangkit kembali atau tamat dengan keadaan fustasi berat? yuk kita simak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummi Adzkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12. Baju "Baru"

Hari yang dijalani dengan keresahan akan anggota keluarga mu yang belum juga kembali sungguh sangat lambat bukan? Itulah yang di rasakan oleh Laila. Setelah kehebohan waktu sahur. Kini ada drama apa lagi yang akan terjadi?

Sehari, dua hari, tiga hari. Tidaklah di jalani dengan mudah. Sungguh ramadhan tahun ini semakin berat. Semakin akhir, tapi semakin berat untuk dijalani dengan normal.

Hanya bisa berharap semoga bisa merayakan hari raya dengan tenang saja itu merupakan impian besar. Dikarenakan kondisi dan situasi yang semakin mencekam ini seakan mengubur harapan mereka untuk merayakan kemenangan dengan meriah.

" Ummi, lebaran kan tinggal 5hari lagi. Kita bisa beli baju baru ga ya?" tanya Yaseer di suatu pagi.

" Insyaallah, berdoalah semoga ada rezeki kita untuk membelinya". Jawab ummi dengan senyum lembut tapi matanya menyimpan getar sendu.

Secara keseluruhan, Ramadan ditahun 1991 ini di Tepi Barat digambarkan sebagai waktu yang penuh dengan penderitaan, pembatasan pergerakan, dan perlawanan yang terus berlanjut di bawah pendudukan militer zionis.

Di tahun ini pun dilaporkan sekitar 10.000 warga Palestina di Tepi Barat memegang kartu identitas "hijau". Kartu ini membatasi pergerakan mereka hanya di sekitar tempat tinggal, mencegah mereka pergi ke Yerusalem atau wilayah lain untuk shalat Id atau bersilaturahmi. Keluarga Laila adalah salah satunya.

" Apakah kita juga tidak bisa berjalan-jalan lagi mi jika sudah mendapat kartu itu?" Tanya Haniya saat membicarakan rencana ketika hari raya.

" Ish... Kenapa sih ada kartu-kartuan segala. Memang nya kita lagi main bola. Pelanggaran dapat kartu. Menyebalkan sekali... " Gerutu Yaseer.

" Saatnya kita berhari raya lebih dekat dengan keluarga . Tanpa lelah dan juga uang yang banyak hanya untuk berjalan-jalan..." Terang ummi memberi bayangan.

" Kamu jangan main kembang api lagi. Uang nya mending kasih ummi buat beli roti.." Titah Haniya pada Yaseer.

" Aduh akak.. Yang kasih uang ke aku buat beli kembang api siapa....?" Geregetnya. 'Lagi lagi aku yang di peringatin' batinnya.

" Si babang zionis yang ramahnya minta ampun sama senjata nya itu!" lanjutnya.

" Mustahiiiilllll.... ". Dengan gayanya yang sengak.

" Ramah dari mana kamu bilang?". Sekak Haniya.

" Lagian heran. Senapan nya di kasih makan nyawa orang ga salah mulu. Itu kalo ada jin nya. Yakinlah gemuk dia..dapet tumbal terus". Gerutu Yaseer sambil mulutnya yang di manyun-manyun kan.

" Dasar zionis bau bangke...!" gerutunya pelan

" His.. Sudah. Istighfar Yaseer. Tidak baik mengumpati orang." Tegur Umminya.

" Duh mereka mah wajib di umpati ummi. Di kutuk jadi batu pun boleh. Biar jadi pajangan di kota tua." elak Yaseer.

" Ngarang... Tapi ok sih. Haha..." Haniya tertawa lepas .

Obrolan anaknya jadi penghibur tersendiri. Bagi Laila tak mengapalah tidak bisa bepergian. Toh mereka juga tak memiliki harta berlebih untuk sekedar berjalan-jalan keluar kota. Hanya untuk bisa mengisi meja saat ifthar dan sahur saja merupakan rezeki yang istimewa.

Ketiadaan suami membuat nya lebih bekerja keras walau hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan. Tak jarang mereka hanya berbuka dengan kurma dan selapis roti, atau bahkan hanya kurma saja di kala sahur.

' Betapa beratnya hidup kami Ali tanpa keberadaan mu' lirih batin Laila.

Benar-benar para pendudukan zionis ini memberlakukan jam malam yang sangat panjang membuat ekonomi warga nyaris habis tak bersisa. Jangan kan membeli baju baru untuk hari raya. Untuk makan pun mereka harus banting tulang memeras otak untuk mendapatkannya. Bukan hanya uang yang nyaris sulit di dapat, tapi nyawa pun tak jarang nyaris lepas hanya untuk sebungkus roti untuk keluarga.

Bayangkan saja siapa yang sanggup hidup di bawah tekanan dan juga darurat pangan seperti mereka? Kalau bukan karena perlindungan Allah dan dasar iman dan taqwa mereka yang mendarah daging. Tak akan lah mereka bisa bersyukur dengan apa yang ada di hadapan mereka.

Menangis atau emosi akan keadaan itu wajar. Namun situasi begitu, mereka selalu mengucap hamdalah. Puji syukur karena mereka masih bisa diberi selamat hidup, masih bisa mengunyah kurma walau sebutir, masih bisa tidur nyenyak walau seringkali di ganggu suara letupan bom atau senjata.

(Author sih kayaknya udah pindah rumah deh. Dan ganti baju pasien putih-putih. Na'udzubillah..)

Betapa beratnya hidup mereka. Di bayangkan pun rasanya bisa menyusup dalam mimpi buruk yang memporandakan hati dan pikiran kita.

****

" Nanti lebaran aku mau pakai baju yang mana ya?" Pikir Haniya di depan lemarinya yang berderet pakaian nya.

" Kalo beli baru kayaknya ga mungkin deh. Ini baju aku masih banyak. Di mix n match kayak yang di tv-tv itu, aku bisa ga ya?" Sambil matanya menatap kosong baju-bajunya dan jarinya menggaruk pelipis.

" Coba deh. Mumpung masih siang. Belum ada persiapan buat ifthar juga." putusnya.

Di keluarkan nya baju itu satu persatu. Di padu padankan. Atasan dan bawahan, kerudung dan pernak perniknya. Gamis dan hijab nya. Hingga sampai mendekati asar, di dapatnya lah 2 pasang baju "lama" tapi terlihat baru karena model dan warna nya yang berbeda dari bawaan nya. Di simpannya baik-baik karena lebaran hanya tinggal 3 hari lagi.

****

" Dek, udah dapet baju baru belum?" tanya Haniya pada Abia. Saat Abia masuk ke kamarnya.

" Kata ummi, pakai baju yang kemarin aja masih bagus-bagus". Jawab Abia biasa aja.

" Mau akak bikin jadi spesial ga baju nya.?" Tawar nya lagi.

" Akak mau ngapain gitu?" Tanya Abia penasaran.

" Yuk kita bongkar lemari kamu. Kita cari yang ok ok". Ajak Haniya dengan menyatukan ibu jari dan telunjuknya.

Abia hanya manut saja. Percayakan pada akak kesayangannya.

Mereka berdua memilah dan memilih baju-baju Abia. Kebanyakan sih ada yang sudah rusak. Maklumlah anak segitu masih pecicilan dan masih suka kotor-kotoran.

" Nah, baju ini sama jilbab ini bagus, masih pas juga di badan kamu. Trus atasan yang ini dengan kulot ini pun bagus nanti pakai cardigan ini. Wah cantiknya.... " decak kagum Haniya akan pilihan mix n match nya.

Abia bersorak gembira. Akhirnya dia punya baju baru lagi. (baju baru lihat kali Abia, girang banget..hehe)

" Alhamdulillah. Kita udah bisa lebaran dengan baju baru ya kak..." Belum puas juga Abia memandangi baju "baru"nya.

Haniya mengangguk. Dia jadi berfikir untuk me mix n match pakaian ummi dan Yaseer juga. Rasanya puas sekalian akan ide-ide nya. Kelebihan orang yang suka memperhatikan dalam diam itu, ini salah satunya.

" Sudah yuk, kita bantu ummi di dapur. " Ajak Haniya sambil menggandeng Abia.

****

" Ummi sudah masak?" tanya Haniya ketika sampai di dapur. Ia mendapati umminya sedang membaca Alquran.

Laila menghentikan bacaan nya dan melihat ke arah Haniya di sampingnya.

" Alhamdulillah. Ummi udah masak air untuk bikin minuman hangat nanti." jawab nya sambil mengusap kepala Haniya dan Abia.

" Untuk makan kita, ud..udah aada mi?" tanya Haniya pelan dan terbata.

" Insyaallah.. Ada." Ummi tetap pasang senyum tenang.

' Ya Allah... Hamba pasrahkan rezeki hamba malam ini pada Mu. Engkau Maha Kaya lagi Maha Bijaksana' doa Laila pasrah.

Haniya hanya mengangguk saja. Tidak menanyakan lagi, karena tau ummi nya tidak memiliki tepung lagi. Dan ia pun tidak tau harus mengolah apa.

" Oh iya ummi.. Aku dan Abia sudah punya baju baru buat di pakai lebaran nanti" Kata Haniya semangat mengalihkan.

" Oya..? Wah.. Alhamdulillah... Akak dapat dari mana?" Tanya ummi, tidak yakin.

" Sebenarnya bukan baju sih mi, tapi tadi akak coba-coba cocokin baju lama kita. Gitu kan kak?". Abia yang menjawab.

Haniya mengangguk membenarkan. Laila merasa tersentuh dengan kreatif anak nya. Ia sangat berterima kasih pada Haniya, telah mengurangi salah satu beban hati nya " baju baru".

" Ummi juga sudah ada baju untuk lebaran nanti?" tanya Abia polos.

Laila tidak menjawab, hanya mengangguk pelan saja. Baju nya adalah baju yang sehari-hari dia biasa pakai. Sejak masih ada suaminya pun, Laila sangat jarang berbelanja baju. Jadi tak banyak koleksi bajunya. Dan semua sudah sering sekali di pakai.

" Assalamualaikum...!!". Lantang Yaseer.

Mereka bertiga terkejut seketika mendengar salam Yaseer yang sangat lantang.

" Waalaikumussalam warahmatullah..." Jawab ketiganya sambil mengelus dada. Yaseer hanya nyengir saja karena sudah mengagetkan semua nya.

" Hehehe.... Maaf... " Sambil berjalan menghampiri ummi dengan wajah cerianya..

" Kamu itu kalo salam itu yang bener. Bukannya doa keselamatan malah bikin jantungan..!" tegur Haniya sambil menggeplak lengan Yasser.

" Eh .. Bawa apa tuh...?" Haniya langsung melirik apa yang di bawa Yaseer.

" Eiits ... Sabar... Ini hadiah buat ummi... Hehe..ini mi, silakan di buka....". Kelah Yaseer menepis tangan Haniya. Dan menyerahkan bingkisan dalam karung kecil itu pada ummi nya.

" Masyaallah... Ini untuk ummi..?" tanya ummi sambil menerima bingkisan yang bungkus karung itu.

Laila pun membuka dan mengeluarkan isinya. Di dalam nya terdapat sekotak kurma, sebungkus tepung 1 kilo, sebotol yogurt 1 liter dan satu palstik berupa kain. Laila sampai membekap mulutnya tak percaya.

' Ya Allah.. Baru saja aku pasrahkan rezeki kami. Dan sekarang Engkau telah mengirimnya melalui anak ku. Masyaallah.. Alhamdulillahi rabbil 'aalamiin.' batin nya menjerit takjub.

" Masyaallah... Alhamdulillahi rabbil aalamiin.... Darimana kamu dapat ini nak?". Tanya ummi butuh kebenaran. Takut di dapat dari hasil yang tidak halal. Mengingat hanya di bungkus dalam karung kecil.

" Tapi ummi jangan marah ya... " pinta Yaseer berlutut di hadapan ummi nya.

" Bukan dari hasil mencuri kan nak?". Laila terkesiap atas prasangka nya sendiri. Karena tingkah Yaseer yang berlutut meminta maaf.

" Ish ummi ini loh suudzon aja... !" bantah Yaseer langsung berdiri dengan mulut manyun.

" Aku loh, udah bisa baca Qur'an, punya hafalan. Ngapain aku mencuri ummi. Aku tau itu dosa. gimanapun keadaan kita. Kata baba, kita harus tanggung jawab dengan apa yang kita punya. Memeliharanya. Aku cuma punya hafalan Alquran sedikit. Aku memeliharanya dengan baik. Ga boleh aku kotori dengan mencuri ummi... Hiks... " Terang Yaseer cepat tak terima. Berlinang air matanya terkejut atas prasangka umminya.

Umminya seketika memeluk Yaseer. Merasa bersalah atas prasangka nya. Dia tau anaknya tidak mungkin mencuri. Tadi hanya respon spontan saja karena tingkah Yaseer yang berlutut sambil meminta maaf.

Yaseer dan ummi nya menangis bersama. Yaseer yang kecewa, Laila yang merasa bersalah minta maaf. Haniya dan Abia pun saling berpelukan ikut menangis.

Setelah mengeluarkan emosi nya dan merasa tenang. Ummi melonggarkan pelukan nya. Dan menangkup wajah Yaseer yang basah. ,

" Maaf sayang. Umi tidak bermaksud menuduh kakak yang tidak-tidak. Ummi hanya kaget ketika kakak berlutut dan meminta maaf. Maaf ya sayang... ". Pinta umminya betul-betul merasa bersalah.

Yaseer pun mengusap matanya. Tak ingin berlama-lama menangis. Ia hanya mengangguk memaafkan kan umminya.

" Aku tadi ikut bekerja ummi, di dekat sauq ada yang sedang beres-beres gudang. Karena mau tutup sementara hari raya. Sebagai upahnya, aku meminta barang aja. Dan mereka ngasih aku ini semua. Karena cuma ada plastik, jadi hanya dibungkus plastik. Di perjalanan talinya putus. Aku Nemu karung bekas itu. Jadi ku pake aja." terang Yaseer panjang lebar.

Ummi nya terenyuh mendengar penjelasan Yaseer. Tak disangka anak seusia dia sudah mengerti akan bekerja dan menghasilkan. Dipeluknya lagi kepala anaknya itu. Diusapnya sayang.

" Kenapa ga minta uang aja kak?" tanya Abia heran.

" Kalo uang. Mungkin ga seberapa. Dan juga barang-barang sekarang mahal. Lagian mau ditukar jadi apa?" jawab Yaseer bijak.

" Oh... Iya ya... Kakak pintar ya..." Abia angguk-angguk kepala memuji kakaknya dengan senyum cerah.

" Iya dong.. Udah selesai sedih-sedih nya. Ini ada hadiah buat ummi. Spesial.. " alih Yaser sambil menjauh dari ummi mengambil bungkusan kain dan menyerahkannya.

" Apa ya?" kata ummi. " Terima kasih ya nak... " haru ummi nya. Di buka nya bungkusan itu. Dan dikeluarkan isinya.

" Wah.... Masyaallah.... Cantik sekali...." Matanya berkaca-kaca.

Haniya, Abia dan Yaseer tersenyum bahagia. Alhamdulillah rezeki Allah memang tidak di sangka - sangka. Bisa datang dari mana saja kapan saja.

" Cobain deh mi..dipake.." Seru Abia.

Ummi dengan malu-malu pun mencoba hadiahnya. Sebuah jilbab instan dengan hiasan Payet bunga - bunga kecil di tepi kainnya. Di pegang dari kainnya , sepertinya sangat nyaman.

" Masyaallah.. Ummi cantik.. Jadi lebih muda... ". Komentar Haniya bangga.

"Itu bisa banget untuk lebaran nanti ummi, bisa juga buat salin kerudung ummi yang biasa ummi pake ke pasar."

" Ya enggak ke pasar juga dong kak... untuk pergi ke pengajian..." bantah Yaseer tak setuju.

" Iya - iya... Ke pengajian. yang ngisi ust Yaseer bin Ali.... " Haniya mengiyakan saja.

" Aaamiin... Aku jadi ustadz. Nanti pinjam baju Koko punya Abang atau punya baba. Pake sorban. Pasti keren... " Imajinasi Yaseer mode on.

" Jazaakumullah khoiran katsiiran ya nak. Hadiah yang sangat cantik. Ummi suka. Ummi terima ya...". Ucap ummi mengelus kepala putranya.

" O ya harus mi. Kalo ga di terima aku tuker pake tepung aja lagi ke pasar". Seru Yasser maksa.

" O iya tepung. ayo kita buat roti. Masih ada waktu.. ". Ajak umminya baru tersadar.

Alhamdulillah ifthar kali ini tak hanya air minum hangat saja. Terima kasih Yaseer atas kerja kerasmu.

1
Ummi Adzkia
aku jadi ikutan nyesek... semangat ya Yaseer ...
Ummi Adzkia
tadinya mau bikin konflik berdarah. tapi ga tega hati ini.. hiks...
Ummi Adzkia
selalu begitu ya. bikin kesepakatan tapi di langgar sendiri.. dari dulu begitu sama kayak bestie nya. mau heran tp udah ada di Al-Qur'an.
Ummi Adzkia
gimana tuh? Abia perutnya nangis, Yaseer rock n roll, Hania keroncongan apa dangdutan....?
Ummi Adzkia
siap 💪💪Allahu Akbar !!!!
Ummi Adzkia
Yaseer ini pemerhati juga. semoga ilmu nya bisa kepake buat masyarakat 👍
Ummi Adzkia
apaan coba. gaje banget lho si zion inih.. /Slight/
Ummi Adzkia
innalillahi... semoga Abia dan Haniya baik-baik saja ya. aamiin.
Ummi Adzkia
mereka hanya di suruh ngungsi ya. bukan suruh pindah. berarti hanya sementara. tapi ga tau juga nnti nya. 🙏
happy reading 💪
Ummi Adzkia
coba ada yang bisa bayangin situasi nya kek gimana? komen yah🙏😄
Ummi Adzkia
nah loh apaan tuh??
Ummi Adzkia
di saya mah hari Jumat. kami mulainya hari Rabu 18 feb.
happy Ied Mubarak
Protocetus
lebaran nanti hari sabtu
Protocetus
salken 💪
Ummi Adzkia: happy reading. semoga suka ya
total 1 replies
Ummi Adzkia
Alhamdulillah. terkadang kepasrahan kita pada Allah bisa mendatangkan. rezeki. happy reading di karya ku ya.

komen baik nya ditunggu ya.
Ummi Adzkia
ketemu malaikat mau apa heh?.. mau minta THR apa mau ketemu baba? Abia ngeri juga minta nya.😄
Ummi Adzkia
itu Haniya iseng juga ya. pasti panik juga itu ummi ...
Ummi Adzkia
kira-kira Abang gimana nasib nya ya?. komen yuk
Ummi Adzkia
beli kurmanya cod ya Abia. ada2 aja ni si Abia.
Ummi Adzkia
gini nih yang bikin makin panik. lagi makan tiba2 dum.. rudal meluncur bebas ke atas rumah2 dan gedung2 tinggi. ga kebayang yg tinggal di sana kek gmn. .. /Sweat/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!