"Hanya karena arloji murah ini, kau membuang tiga tahun hubungan kita?"
Vandiko Elhaz hanyalah pemuda miskin yang bekerja keras demi masa depan kekasihnya, Clarissa. Namun, di hari ulang tahun Clarissa, Vandiko justru dipermalukan di depan kaum elit dan dicampakkan demi seorang pewaris kaya.
Di titik terendah hidupnya, di bawah guyuran hujan dan hinaan yang membakar dada, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya
Sejak malam itu, hidup Vandiko berubah total.
Orang-orang yang dulu meludahi kakinya, kini mengemis di depan kantornya.
Wanita yang dulu mencampakkannya, kini menangis memohon kesempatan kedua.
Dengan kekayaan tak terbatas dan sistem yang terus memberinya misi rahasia, Vandiko akan menunjukkan pada dunia: Siapa yang sebenarnya berkuasa?
"Dulu kau bilang aku sampah? Sekarang, bahkan seluruh hartamu tidak cukup untuk membeli satu jam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Pembersihan Besar-Besaran
Suara deru angin di ketinggian lantai 88 Menara Elhaz mendadak hilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekam
Di dalam ruangan itu Vandiko Elhaz berdiri tegak di tengah kepungan dua wanita yang paling ia percayai. Isabella Wijaya yang terengah-engah di lantai dan Gia yang menodongkan moncong pistolnya dengan tangan yang bergetar hebat .
"Lakukan, Gia," ucap Vandiko dengan suara yang begitu tenang, hampir seperti bisikan kematian
"Jika kau pikir peluru itu bisa menghentikan apa yang telah dimulai, tarik pelatuknya sekarang."
Gia menggigit bibirnya hingga berdarah, Air mata jatuh dari pelupuk matanya
namun moncong senjata itu tetap lurus ke arah jantung Vandiko
"Tuan... mereka akan membunuh adikku
Keluarga Wijaya bukan manusia, mereka adalah iblis!"
Isabella perlahan berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya dengan gaya angkuh.
"Sudah terlambat untuk drama, Vandiko. Menara Elhaz sudah dikunci dari luar
Pasukan khusus Wijaya Group sudah berada di lift, dan Sentinel of Void di langit itu? Itu bukan milikmu
Itu adalah senjata penghancur massal yang kami retas untuk melenyapkanmu dan seluruh bukti keberadaan Sistem ini dari muka bumi."
Vandiko tidak membalas ucapan Isabella, Ia justru memejamkan mata .
Di dalam kesadarannya, ia berkomunikasi dengan Sistem yang kini bergetar hebat, membakar pembuluh darahnya dengan energi murni
[Ting! Kondisi Psikologis Pengguna Mencapai Titik 'Nihil'.]
[Mode 'Kaisar Tanpa Mahkota' Diaktifkan.]
[Mengambil Alih Seluruh Satelit dan Jaringan Global dalam Radius 100 KM...]
"Arka benar," gumam Vandiko pelan "Uang hanyalah mainan, Kekuatan adalah ilusi
Yang nyata hanyalah...
kehendak untuk berkuasa."
Tiba-tiba, mata Vandiko terbuka, Pupil matanya berubah menjadi warna emas yang menyilaukan
Pada saat yang sama, seluruh lampu di kota padam secara serentak
Kegelapan total menyelimuti, kecuali Menara Elhaz yang kini berpendar dengan cahaya biru neon yang keluar dari sela-sela dinding kacanya
[Ting! Perintah Diterima: Aktifkan Protokol 'Shadow Save'.]
"Gia, lihat ponselmu," perintah Vandiko
Gia yang masih menodongkan pistol gemetar melihat layar tablet taktis di pergelangan tangannya, Matanya membelalak
Sebuah video real-time menunjukkan pasukan Black Sentinel yang setia pada Vandiko baru saja menyerbu fasilitas rahasia Wijaya Group
Dalam video itu, mereka terlihat menggendong seorang gadis kecil—adik Gia—keluar dari tabung eksperimen.
"Adikmu sudah aman
Chip di otaknya sudah dinonaktifkan oleh frekuensi sistemku," kata Vandiko datar
"Sekarang, turunkan senjatamu sebelum aku kehilangan kesabaran."
Pistol di tangan Gia jatuh ke lantai dengan suara denting yang keras
Ia jatuh berlutut, menangis tersedu-sedu karena lega sekaligus merasa berdosa
"Maafkan aku, Tuan... Maafkan aku..."
Wajah Isabella memucat pasi
"Bagaimana mungkin? Fasilitas itu dilindungi oleh perisai elektromagnetik tercanggih!"
Vandiko berjalan mendekati Isabella
Setiap langkahnya membuat gravitasi di ruangan itu terasa semakin berat, membuat Isabella sulit untuk bernapas
"Isabella, kau bilang keluargamu adalah penjaga gerbang para Naga? Maka hari ini, aku akan meruntuhkan gerbang itu dan membakar naga-naganya."
Vandiko mengangkat tangan kanannya ke langit. Di luar jendela, mesin raksasa Sentinel of Void yang tadinya hendak menyerang Menara Elhaz mendadak berputar arah
Moncong meriam energinya kini terkunci pada gedung pusat Wijaya Group yang berada beberapa kilometer dari sana.
"Retas?" Vandiko tersenyum sinis
"Kau tidak bisa meretas sesuatu yang diciptakan oleh entitas yang tidak kau mengerti, Arka memberiku akses penuh karena dia tahu, aku tidak akan ragu untuk menarik pelatuknya."
"Vandiko, jangan! Ada ribuan orang di gedung itu!" teriak Isabella ketakutan
"Ribuan orang yang memakan uang dari hasil penderitaan orang lain seperti aku?" balas Vandiko
"Biarkan mereka melihat bagaimana rasanya 'kompensasi' yang sesungguhnya"
Vandiko mengepalkan tangannya
BOOM!
Sebuah kilatan cahaya putih melesat dari langit, menghantam gedung pusat Wijaya Group dengan presisi yang mengerikan
Tidak ada ledakan api yang berantakan; gedung itu seolah-olah terhapus dari realitas, berubah menjadi partikel debu dalam hitungan detik, Kekaisaran finansial terbesar di negeri itu lenyap tanpa sisa
Isabella jatuh terduduk, jiwanya hancur melihat kehancuran keluarganya dalam sekejap mata .
Vandiko berbalik arah, menatap ke arah laut lepas. Mata Dewa miliknya kini bisa menembus hingga ke dasar Palung Di sana, ia melihat sesuatu yang mulai terbangun karena guncangan energi tadi
Sebuah mata raksasa terbuka di kegelapan bawah laut
[Peringatan! Subjek Zero Telah Terbangun!]
[Level Ancaman: Bencana Global]
[Misi Baru: Pergilah ke Palung dan Segel Kembali Sang Pencipta Kiamat]
Vandiko menarik napas panjang
Ia mengambil jas hitamnya yang tersampir di kursi, mengenakannya kembali dengan rapi
Ia tidak lagi terlihat seperti pemuda yang dikhianati kekasihnya
Ia kini terlihat seperti dewa perang yang siap menjemput takdirnya .
"Gia, hapus air matamu," ucap Vandiko sambil berjalan menuju lift pribadi yang akan membawanya ke hanggar bawah tanah. "Siapkan Sentinel-01
Kita punya naga sungguhan yang harus diburu."
Isabella yang masih terpaku di lantai hanya bisa menatap punggung Vandiko yang menjauh, Ia baru menyadari bahwa selama ini bukan Vandiko yang masuk ke dalam permainan mereka, melainkan mereka yang masuk ke dalam neraka yang diciptakan Vandiko
Di dalam lift, Vandiko membuka ponselnya. Ada satu pesan baru dari nomor tak dikenal yang masuk.
"Bagus, Adik Kelas...
Pembersihan awal selesai
Sekarang, tunjukkan padaku...
apakah kau bisa membunuh sesuatu yang tidak bisa mati?"
Vandiko menghapus pesan itu
"Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya."
Lift berdenting, terbuka di sebuah hanggar raksasa di mana sebuah kapal selam tempur hitam dengan teknologi yang tidak masuk akal sudah menunggu
Vandiko melangkah masuk, siap menghadapi kegelapan yang paling dalam