Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.
Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.
Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.
Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Sugar Daddy KR
Kekacauan yang meledak di dalam diri Lingga terasa seperti sengatan listrik. Rasa panas dingin yang ia rasakan sebelumnya kini berubah menjadi sensasi mendidih, berkumpul di suatu tempat di perutnya dan dengan cepat menyebar ke seluruh tubuhnya. Perasaan terhadap Ayu adalah larangan, kehancuran, dan gairah yang ganas.
Dia harus segera masuk ke kamar tamu, atau aku akan gila, pikir Lingga dengan putus asa.
"Kau... kau sudah menelepon Ken?" Lingga memaksakan suaranya keluar, terdengar lebih dalam dan serak dari yang ia inginkan. Matanya bergetar, mati-matian berusaha tidak melihat ke bagian leher ke bawah.
Ayu, tanpa menyadari perang batin yang melanda CEO-nya, mengangguk. "Sudah, Tuan. Dia hanya bilang teknisi yang datang pasti bisa mengatasinya. Dan dia bilang saya harus pastikan saya tidak membuat Anda repot."
Lingga tersenyum masam, mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menyandarkan siku di lututnya, mencoba mencari posisi yang bisa menyamarkan ketegangan di tubuhnya.
"Oh, Ken. Tentu saja. Ken adalah aset, dia tahu apa yang penting. Dia tahu batasannya." Lingga segera mengambil buku tebal di meja kopi, pura-pura meninjau isinya. "Duduk, Ayu. Setidaknya jangan berdiri seperti kau siap kabur setiap saat."
Ayu duduk di sofa tunggal di seberang Lingga, kakinya terlipat rapi di samping. Kaos putih itu tampak semakin transparan di bawah cahaya lampu downlight ruang tamu.
Jangan tatap. Jangan tatap. Fokus pada buku. E\=mc^2. Pipa bocor.
"Jadi, tentang... temanmu dari SMA," Lingga memecah keheningan yang terasa mencekik. Ini adalah usaha putus asa untuk mengalihkan pikiran, dan secara tak terduga, ini juga merupakan cara untuk mengukur kedalaman hasratnya yang terlarang.
Ayu mengangkat alisnya, terkejut dengan perubahan topik yang tiba-tiba. "Teman SMA saya, Tuan?"
"Ya. Aku melihat file background check lama," Lingga berbohong dengan lancar, mempertahankan wajah CEO-nya yang dingin.
"Kau pernah terlibat dalam proyek amal besar di sekolah. Ada nama seorang pria di sana. Rian? Dia terlihat... akrab."
Ayu mengerutkan kening. "Rian? Ya, dia kapten tim basket. Kami hanya teman sekelas, Tuan. Kami berinteraksi karena dia mengumpulkan dana untuk tim, dan saya mengurus administrasi sumbangan."
"Hanya teman sekelas?" Lingga mendesak, meletakkan buku dengan suara yang sedikit keras. "Dia mengirimimu bunga saat wisuda. Itu tertulis di laporan investigasi. Bunga mawar merah. Itu bukan kode pertemanan, Ayu."
Ayu menatap Lingga dengan ekspresi yang sulit diartikan—sedikit geli, sedikit lelah karena ia harus menjelaskan urusan pribadinya yang sudah berlalu. "Tuan Lingga, dia mengirim bunga ke semua anggota tim komite yang membantunya mencapai target dana. Itu mawar putih, bukan merah. Saya masih menyimpan kartunya."
Lingga menarik napas lega, hampir terdengar seperti desahan.
Sialan. Kenapa dia merasa begitu lega? Ini tidak profesional. Lingga merasa seperti detektif yang gagal.
"Bagus," komentar Lingga, memasang wajah seolah dia baru saja menganalisis data keuangan yang menguntungkan.
"Itu bagus. Mawar putih... itu berarti apresiasi, bukan hasrat. Kita tidak mau kau terganggu oleh drama masa lalu yang murahan saat kau sedang fokus pada takeover Tuan Dirga."
Ia kembali menatap buku, tetapi kata-kata itu terasa hampa. Dia hanya tidak ingin ada pria lain—siapa pun—yang memiliki potensi untuk lebih dari sekadar rekan kerja dalam hidup Ayu.
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Lingga merasa tenggorokannya kering.
"Kau yakin... kau baik-baik saja dengan pakaian itu?" Lingga bertanya, suaranya terdengar canggung.
Ayu melihat ke kaus kebesaran di tubuhnya. "Lumayan, Tuan. Sangat nyaman. Terima kasih."
Saat Ayu mengatakan itu, ia secara refleks menggerakkan tangan untuk merapikan kaus yang melorot di bahu kanannya. Pada saat itulah, ia baru sepenuhnya menyadari situasi pakaian dalamnya. Dalam kepanikan pipa bocor, ia langsung mengenakan pakaian yang diberikan Lingga tanpa berpikir.
Wajah Ayu seketika memerah karena malu. Tanpa sadar, kedua tangannya terangkat ke dada, secara insting menyilang di atas permukaan kaus yang tipis dan kebesaran, seolah mencoba menutupi atau meratakan keindahan alami tubuhnya yang tiba-tiba terasa sangat terekspos.
Gerakan itu justru menekankan garis payudaranya yang membusung indah di balik kain putih, menarik perhatian langsung ke area yang paling ingin dihindari Lingga.
Melihat gerakan reflek Ayu, Lingga membeku. Ia sudah berusaha keras mengendalikan matanya, tetapi gerakan tiba-tiba dan rasa malu yang terpancar di wajah Ayu itu menjadi pemicu yang menghancurkan pertahanannya.
Pandangannya terpaku pada tangan Ayu yang menutupi dirinya—sebuah isyarat kerentanan dan kesadaran diri yang tak tertahankan.
Lingga merasakan tarikan kuat dan mendesak di dadanya, diikuti oleh rasa sakit karena hasrat yang dilarang. Kekacauan batinnya berubah menjadi kesadaran fisik yang tajam—tubuhnya menegang, anggota tubuhnya kaku, dan napasnya tertahan di paru-paru. Rasa gairah terlarang yang ia coba tekan kini muncul dengan kekuatan penuh.
Sial! Kenapa kau harus melakukan itu?
"Ya, itu," Lingga berdeham keras. "Itu kaus favoritku. Aku biasanya tidur di dalamnya. Jadi... kau harus segera mencucinya saat kau kembali ke apartemenmu."
Ayu menahan senyum. "Tentu, Tuan. Tapi sepertinya Anda punya banyak kaus putih polos lainnya. Apakah semua kaus itu favorit Anda?"
Lingga, yang merasa terpojok dan semakin sulit mengendalikan pandangannya yang terus tertarik pada siluet terlarang di balik kain, segera berdiri.
"Tidak. Yang ini sangat favorit. Aku tidak tahu kenapa, tapi dia sangat nyaman dan... dingin. Aku hanya ingin memastikannya kembali dalam kondisi semula," Lingga berkata dengan tergesa-gesa. Ia berjalan menuju minibar. "Kau mau teh?"
"Teh boleh, Tuan. Terima kasih."
Lingga menyiapkan teh dengan tangan yang sedikit gemetar. Punggungnya menghadap Ayu.
Kontrol dirimu, Lingga. Dia asistenmu. Dia rentan. Dia baru saja mengalami keadaan darurat.
"Ayu," Lingga memanggil dari minibar, suaranya terdengar tegang. "Aku... aku akan tidur di ruang kerjaku malam ini. Kau akan jauh lebih aman di kamar tamu. Jangan ragu untuk mengunci pintu. Dan... ini," Lingga kembali dengan dua cangkir teh, menaruhnya di meja.
"Jika kau butuh apa-apa, jangan sungkan," tambahnya, tetapi nadanya sama sekali tidak mengundang. Itu lebih terdengar seperti peringatan untuk tidak memanggilnya.
Ia mengambil cangkir tehnya, menghabisi isinya dalam dua tegukan cepat, seolah itu adalah obat yang pahit.
"Aku akan kembali ke sana dalam satu jam. Teknisi akan tiba. Kau tidur saja," kata Lingga, tanpa menunggu balasan, ia berbalik dan hampir berlari menuju koridor menuju ruang kerjanya.
Saat dia mencapai pintu, dia berhenti, memegang kenop pintu yang dingin. Dia memejamkan mata, membiarkan hasrat yang terpendam itu menguasai dirinya sejenak, sebuah pelepasan kecil dari ketegangan yang mematikan.
Aku mendambakannya. Aku menginginkannya, dan aku tidak seharusnya.
Dia menoleh sedikit ke belakang, hanya melirik sekali lagi ke arah Ayu yang duduk di sofa, terlihat polos dan damai dalam kaus kebesarannya.
"Selamat malam, Ayu," bisiknya, hampir tidak terdengar. Kemudian, dia masuk ke ruang kerjanya dan mengunci pintu.
Ayu mengerutkan keningnya.
"Tuan Lingga kenapa? Aneh banget."
***
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....