Angka bukan sembarangan Angka, Angka yang di pilih semuanya menunjukkan hadiah besar kecilnya yang di dapat.
Tapi jika kamu beruntung, kau akan mendapatkan hadiah besar.
Dan itulah yang di alami oleh Alneo setelah ia mendapatkan penyiksanya oleh ayah jika ia tidak mendapat uang.
Bukan hanya itu, yang membuatnya murka adalah Adik perempuan ingin di jual ayahnya pada rentenir untuk membayar hutang, saat ia mencoba menghalangi, ia malah mendapatkan pukulan berat oleh ayahnya hingga pingsan.
Dan saat itulah, ia mendapatkan sebuah sistem misterius yang mengubah hidupnya.
Ia memenjarakan ayahnya karena sang ayah agar tidak menganggu kehidupan mereka lagi.
Dengan sistem pilihan angka, ia bagaikan menemukan jetpot di hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Ia melihat Riani mulai menggerakkan jarinya. Perlahan matanya terbuka lebar.
"Riani?" panggil Alneo lembut, ia langsung menggeser duduknya mendekat ke tepi kasur. "Kamu sudah bangun, Dek?"
Riani mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia memegangi kepalanya, lalu menatap Alneo dengan tatapan bingung karena pandangan matanya jauh lebih jernih dan segar dibanding dulu.
"Kak... Alneo?" suara Riani terdengar serak, namun tidak ada lagi nada ketakutan atau sesak di dalamnya.
"Riani... Riani kenapa? Kok rasanya badan Riani enteng banget ya, Kak? Dada Riani juga sudah enggak sakit lagi buat napas," kata Riani sambil memegang dadanya.
Alneo tersenyum lebar. Ia mengusap rambut adiknya dengan penuh kasih sayang. "Itu karena Riani anak yang kuat. Obat yang Kakak kasih tadi sudah bekerja dengan baik. Sekarang Riani sudah sembuh."
Riani mencoba mendudukkan tubuhnya, dan benar saja, tidak ada lagi rasa lemas. "Wah... iya, Kak! Riani merasa sehat banget!"
Namun, saat Riani hendak mengayunkan kakinya ke pinggir kasur, pandangannya mendadak terpaku pada dinding di depannya. Matanya yang bulat melebar.
Mulutnya sedikit terbuka, menatap tidak percaya pada beberapa potong pakaian yang tergantung rapi di sana.
"Kak... itu... Itu... seragam SMP?" tanya Riani menunjuk ke arah baju tersebut.
Alneo ikut menoleh ke arah seragam itu, lalu kembali menatap adiknya dengan senyuman paling tulus.
"Iya, Riani. Itu seragam barumu. meskipun kita hanya hidup berdua, kamu tetap harus sekolah, kakak adalah wali mu sekarang, jadi kau adalah tanggung jawabku, mulai sekarang, Riani butuh apa, berita tahu saja pada kakak, kakak pasti akan memenuhinya," kata Alneo lembut.
Air mata Riani langsung tumpah, karena rasa haru yang luar biasa. Ia menatap kakaknya dengan pandangan tidak percaya. "Kakak... Kakak beli ini? Uang dari mana, Kak? Bukannya... bukannya kita tidak punya uang?"
Alneo langsung menggenggam kedua tangan adiknya, menggenggamnya dengan erat seolah sedang menyalurkan seluruh kekuatan dan keyakinannya.
"Riani, dengerin Kakak. Mulai hari ini, kamu tidak perlu memikirkan soal uang, soal ayah, atau soal bagaimana kita akan makan besok. Tugasmu sekarang cuma satu: belajar yang pintar, sekolah yang rajin, dan jadi anak yang bahagia," ucap Alneo dengan tegas.
Alneo menyeka air mata yang mengalir di pipi Riani menggunakan ibu jarinya.
"Kakak sudah berjanji pada diri Kakak sendiri, dan juga pada Ibu di atas sana. Selama Kakak masih bernapas, Kakak akan penuhi semua kebutuhanmu. Kakak tidak akan membiarkan siapa pun merenggut masa depanmu lagi. Mengerti?"
Riani langsung menghambur ke dalam pelukan Alneo, menangis sesenggukan di dada kakaknya.
"Terima kasih, Kak... Terima kasih banyak... Riani janji akan belajar dengan rajin, Riani enggak akan ngecewain Kakak..." katanya terisak.
Alneo memeluk erat tubuh adiknya, menepuk-nepuk punggungnya dengan penuh kasih.
Di dalam hatinya. Dengan bantuan sistem yang ia miliki, ia akan membangun dunia yang aman dan layak untuk adiknya, Riani.
Alneo membiarkan Riani menumpahkan seluruh air matanya di dadanya. Pelukan hangat itu berlangsung cukup lama, hingga akhirnya tangisan Riani mereda menjadi sesenggukan kecil.
"Sudah, jangan menangis lagi. Nanti matamu bengkak, malah tidak cantik saat mencoba seragam baru," goda Alneo sambil melonggarkan pelukan dan mencubit pelan hidung adiknya.
Riani tersenyum, buru-buru menyeka sisa air mata di pipinya dengan ujung lengan baju, lalu terkekeh pelan. "Kakak bisa saja."
"Nah, sekarang kamu mandi dan bersih-bersih dulu. Setelah itu, cobalah seragam barumu," ujar Alneo sambil bangkit berdiri dari lantai.
"Baik, Kak!" Riani menyahut dengan semangat yang sudah lama tidak Alneo lihat.
Gadis kecil itu melompat turun dari kasur dengan lincah, lalu keluar menuju kamar mandi.