NovelToon NovelToon
Ambil Saja Suamiku, Mbak Mantan!

Ambil Saja Suamiku, Mbak Mantan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:19k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.

Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa

Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.

Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Inara 11

Keesokan paginya, tepat pukul enam, ketukan tegas di pintu kamar menyudahi malam sunyi yang menyiksa itu. Sesuai perkataan Mahesa, supir utusan Mama Karina sudah menjemput.

Di dalam mobil menuju kediaman utama keluarga Dirgantara, Inara duduk bersandar pada pintu, menatap hampa ke arah jalanan fajar yang basah oleh sisa hujan. Di sampingnya, Mahesa sibuk membalas pesan di ponsel yang tanpa perlu Inara tebak, pastilah dari Clarissa yang menuntut penjelasan mengapa pria itu meninggalkannya semalam.

Sesampainya di mansion megah keluarga Dirgantara, aroma harum masakan rumah menyambut mereka. Mama Karina langsung menghambur memeluk Inara dengan kehangatan seorang ibu yang begitu tulus.

"Inara sayang! Ya ampun, mantu Mama kok kelihatan agak tirus begini? Mahesa, kamu nggak kasih makan istri kamu dengan bener, ya?" canda Mama Karina sambil mencubit lengan putranya.

Mahesa langsung tersenyum hangat senyum palsu andalannya.

"Mana mungkin, Ma. Inara saja yang belakangan ini sedang sibuk membantu proyek besar di kantor." Pria itu kemudian merangkul pundak Inara, mencengkeramnya dengan tekanan peringatan yang halus namun tegas.

"Iya kan, Sayang?"

Inara memaksakan sudut bibirnya terangkat.

"Iya, Mama. Mas Mahesa selalu memperhatikan makan Inara, kok."

Makan siang dan obrolan keluarga itu berlangsung hangat bagi Mama Karina, namun menjadi siksaan batin yang panjang bagi Inara. Setiap kali mata mertuanya menatap penuh harap ke arah perutnya, Inara merasa seperti seorang penipu besar.

Hingga sore menjelang, saat Mahesa dan Inara berpamitan untuk pulang, Mama Karina tiba-tiba menahan tas jinjing Inara.

"Lho, mau pulang ke mana? Nggak boleh," ucap Mama Karina dengan nada mutlak yang tidak bisa dibantah.

"Mulai malam ini sampai tiga hari ke depan, kalian harus menginap di sini. Mama sudah menyuruh pelayan memindahkan barang-barang kalian dari rumah sebelah."

Deg.

Jantung Inara bertalu panik. Dia langsung melirik Mahesa yang raut wajahnya sempat menegang selama satu detik sebelum akhirnya kembali tenang.

"Ma, pakaian kerja kami.."

"Semua sudah dipindahkan ke kamar lama kamu, Mahesa. Tidak ada alasan," potong Mama Karina sambil tersenyum penuh arti.

"Mama sengaja. Di rumah kalian yang besar itu, kalian berdua terlalu sibuk dengan dunia masing-masing. Di sini, Mama mau memastikan kalian benar-benar punya waktu berdua. Kamar kamu sudah Mama dekorasi ulang. Mama juga ingin ada kalian tiga hari saja, Nak! Mama mohon tiga hari saja kalian menginap di sini ya!"

Keduanya tak bisa menolak apalagi tatapan mata Mama Karina penuh harap.

Pukul delapan malam, di sinilah mereka sekarang. Terkunci di dalam kamar masa kecil Mahesa yang luas, namun terasa begitu sempit dan mencekam.

Kamar ini berbeda dengan kamar di rumah mereka yang memiliki ranjang terpisah atau kamar hotel yang menyediakan sofa panjang yang empuk. Kamar ini didesain ulang oleh Mama Karina khusus untuk "pasangan muda". Ranjang king size di tengah ruangan mendominasi, sementara sofa yang ada di sudut ruangan hanyalah sofa santai satu dudukan tanpa sandaran kaki. Mustahil bagi pria berbadan tegap seperti Mahesa untuk tidur di sana.

Kecanggungan yang luar biasa pekat langsung memenuhi setiap sudut ruangan.

Inara berdiri kaku di dekat lemari pakaian, sementara Mahesa berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang, berulang kali mengusap wajahnya dengan frustrasi. Aroma parfum jasmine yang biasanya menempel di jas Mahesa kini menguap, digantikan oleh wangi maskulin asli pria itu yang bercampur dengan keharuman seprai baru yang disiapkan ibunya.

"Mas..." Inara memberanikan diri bersuara, memecah keheningan yang mencekik.

"Bagaimana tidurmu malam ini? Biar aku yang tidur di lantai menggunakan selimut tebal. Atau di sofa itu!"

Mahesa berbalik dengan cepat. Tatapannya menajam, sarat akan kemarahan yang tertahan karena rencana kebebasannya bersama Clarissa selama tiga hari ke depan hancur berantakan.

"Jangan konyol, Inara," desis Mahesa berjalan mendekat.

"Kamar ini tidak menggunakan karpet tebal seperti di hotel. Kalau pelayan masuk besok pagi untuk mengantar teh dan melihatmu tidur di lantai, Mama akan langsung tahu ada yang tidak beres dengan pernikahan kita."

"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Inara lirih, matanya melirik cemas ke arah satu-satunya ranjang di kamar itu.

Mahesa mendengus sinis. Dia berjalan ke arah ranjang, merebahkan tubuhnya di sisi sebelah kanan, lalu menarik selimut hingga sebatas dada.

"Tidur di sini. Di sebelah kiri," perintah Mahesa dingin tanpa menatap istrinya.

"Tapi ingat batasanmu. Jaga jarakmu setidaknya setengah meter dari saya. Jangan berani-berani menyentuh saya atau memanfaatkan situasi ini untuk mencari perhatian."

Inara menelan kepahitan yang kembali disodorkan suaminya. Dengan gerakan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara, dia naik ke atas ranjang di sisi sebelah kiri. Dia berbaring miring menghadap ke luar kasur, memunggungi Mahesa sekaku mungkin. Tubuhnya diringkuk, menempel erat di tepi ranjang yang paling ujung, seolah-olah menyentuh pria di belakangnya adalah sebuah dosa besar.

Lampu kamar telah dimatikan, hanya menyisakan temaram lampu tidur berwarna kuning redup.

Suara detik jam terdengar begitu nyaring di tengah kesunyian. Inara bisa merasakan embusan napas hangat Mahesa yang teratur dari arah belakangnya, meskipun jarak mereka terpisah oleh bentangan selimut kosong. Kedekatan fisik yang begitu intim ini berada di bawah satu selimut yang sama. Terasa seperti siksaan psikologis yang paling kejam bagi Inara.

Hatinya bergejolak hebat. Di satu sisi, rasa cintanya yang bodoh membuat dadanya berdesir hangat hanya karena bisa menghirup aroma tubuh Mahesa dari jarak sedekat ini. Namun di sisi lain, akal sehatnya berteriak, mengingatkan bahwa pria yang berada di ranjang yang sama dengannya saat ini sedang mengutuk kehadirannya dan merindukan wanita lain.

Drrt...

Di tengah keheningan itu, ponsel Mahesa di atas nakas bergetar pelan di malam yang larut. Di ruangan yang sunyi ini, Inara bisa mendengar dengan jelas gesekan kain saat Mahesa bergerak mengambil ponselnya.

Cahaya layar ponsel Mahesa menerangi sebagian kamar yang gelap. Inara tidak menoleh, namun dia bisa melihat pantulan cahaya itu di dinding di depannya. Sedetik kemudian, suara ketukan jari Mahesa yang sedang mengetik pesan terdengar beruntun.

Pria itu sedang mengirimkan pesan pengantar tidur untuk Clarissa, meyakinkan wanita itu bahwa tubuhnya boleh saja terjebak di ranjang ini bersama Inara, namun seluruh jiwa dan pikirannya tetap milik Clarissa.

Inara menggigit bantalnya kuat-kuat, menahan isakan yang mendadak mendesak keluar dari tenggorokannya. Di bawah selimut yang hangat di rumah mertuanya yang penuh kasih, Inara merasa kedinginan setengah mati.

Dia menyadari, sedekat apa pun jarak fisik mereka malam ini hingga bisa mendengar detak jantung satu sama lain, Mahesa telah membangun dinding pembatas tak kasat mata yang teramat teba. Sebuah dinding yang menegaskan bahwa Inara selamanya akan tetap sendirian dan terisolasi di dalam kamar pengantin palsu ini.

Sreeeeettttt

Tiba-tiba tangan Mahesa melingkar di perut Inara. Membuatnya tersentak dan beberapa detik membuat napasnya tercekat. Perlahan dia mencoba untuk menyingkirkan tangan Mahesa.

"astaga! Padahal dia sendiri yang tak mau dekat-dekat. Tapi dia sendiri yang malah seperti ini," kesal Inara saat tangan Mahesa semakin erat memeluk perutnya.

plaaaakkk

"Apa-apaan kamu?" kesal Mahesa saat Inara memukul Tangannya.

"Maaf tanganmu keluar jalur! Tolong singkirkan. Jangan sampai tangan suci kamu ini menyentuhku dan membuat wanita kesayangan kamu murka!" ucap Inara yang tak mau nantinya di salahkan.

Mahesa melihat tangannya yang melingkar di perut Inara. Dan buru-buru melepaskannya.

"Ck! Pantas saja, padahal aku sedang bermimpi memeluk Clarissa!" jawabnya santai tanpa meminta maaf. Inara bahkan memberikan pembatas dengan giling di antara mereka karena kesal. Hatinya sakit, bahkan dalam mimpi pun, suaminya masih memimpikan Clarissa. Secknta itu Mahesa kepada mantan istrinya.

1
Muft Smoker
sambutan yg bagus bukan mahesaa ,, Selamat buat kehancuran mu mahesaaa ,, Dan menempuh hidup baruuuu bersama Clarissa yg katanya mencintai ada apa ya ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
sunaryati jarum
Lega rasanya lihat Mahesa dikuliti kebobrokan akhlaknya, dan yang membongkar ayah kandungnya sendiri.Bravo, selamat.jadi Lelaki Kismin,Mahesa.Emak masih menanti bagaimana kehidupan kamu setelah semua fasilitas yang kau nikmati selama ini,dicabut.
Ambu Rinddiany Thea
hayuuu guys kita numpeng ngerayaiiin kehancuran nya s mahesa 🤭🫣
Ririn Susanti
M A M P U S
Hary Nengsih
itu blum ada penderitaan inara selama ini dh nyakitin segalanya ,,jangn sampe balikan ma inara
🐯⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁ニタ🧸💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Akhirnya Mahesa jatuh ke dalam dasar jurang, selamat menikmati akibat keegoanmu n kejahatanmu terhadap Inara. Begitu kamu sadar...berlianmu telah hilang, pergi jauh darimu dan tidak bisa kamu raih lagi....
nely_48
waduuuh mahesa beneran d usir oleh bpak n ibu nya ❓ hancur sampe jd bubuk kopi itu mh s mahesa, hanya demi sang mantan istri durjana nya
Arin
Satu kata untuk mu Mahesa..... Sokor.... sekarang saatnya menikmati jerih payahmu membahagiakan selingkuhan mu itu😁😁😁Ambilah dia yang kau anggap sempurna melebihi Inara. Tak taunya kembali hanya demi hartamu, tapi setelah tau kau tidak punya apa-apa lagi..... sebentar lagi dia juga pergi lagi.....
Rieya Yanie
nikmatilah hasil tipu daya bersama wanita pujaanmu mahesa
hasana
ketawa karena mahesa mulai menderita boleh kali yaaa 🤭🤭🤭
Yam_zhie: astaga 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ma Em
Syukur Alhamdulillah Inara sdh bebas dari Mahesa dan sekarang Inara sdh pergi , jgn sampai Mahesa bisa bertemu Inara lagi biarkan Mahesa dgn perempuan idaman nya dan paling Mahesa cintai sekarang Mahesa sdh miskin apakah Clarisa mau bersama Mahesa .
Dew666
🩵🩵🩵
Mundri Astuti
hmmmmmm ....apa loe cari" Inara lagi...
sana bawa tuh cewek benalu...
Rahma
Alhamdulillah akhirnya keadilan buat Inara dtg jg, silahkan nikmati hasil dr kelakuanmu mahesa
Oma Gavin
Alhamdulillah mahesa kere dan pastinya clarisa ngga mau lagi dan cari mangsa baru kaya .eskipun sdh tua om" gendut ngga masalah yg penting ada duitnya
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
silahkan pertanggungjawabkan semua bersama clarissa ya mahesaa
nely_48
Gavin kau bantu lindungi inara ya, sampe keadaan inara tenang n pulih dr trauma nya
Muft Smoker
waaaah ada apa niih ,,
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Dew666
🩵🩵🩵
sunaryati jarum
Harus sabar melihat kejutan untuk Mahesa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!