"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."
Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.
Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.
"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."
Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drift di Tengah Malam
Rolls-Royce Boat Tail yang kami tumpangi meluncur tenang membelah jalanan protokol Jakarta yang mulai sepi. Di dalem, suasananya enak banget; aroma terapi lavender, musik jazz pelan, dan Bu Lastri yang udah mulai pelor (nempel molor) sambil melukin tasnya.
Tapi di spion tengah, mata Pak Maman yang tadinya sayu langsung berubah tajem.
"Tuan Muda, ada tiga mobil SUV hitam di belakang. Mereka ngikutin dari depan resto tadi dan kayaknya mau nutup jalan kita di flyover depan," lapor Pak Maman tenang banget, suaranya kayak lagi laporan cuaca.
Gue nengok dikit ke belakang. Bener. Ada tiga mobil yang lampunya sengaja dimatiin, nyoba ngurung kami.
"Siapa, Ka? Reno lagi?" Nadia nanya, dia mulai pegangan ke handgrip mobil.
"Siapa lagi kalau bukan si bocah itu, Nad. Dia nggak kapok-kapok mau ngetes skill Pak Maman," gue nyender santai. "Pak Maman, jangan dibikin lecet ya mobilnya. Ini baru dipoles soalnya."
"Siap, Tuan Muda. Ibu dan Nyonya mohon pake sabuk pengamannya ya, kita mau simulasi jadi pilot sebentar."
Nadia langsung masang sabuk, sementara gue dengan sigap masangin sabuk ke Bu Lastri yang masih ngigo soal "perhiasan emas".
VROOM!
Tiba-tiba satu SUV dari kiri mencoba memepet. Pak Maman cuma muter setir dikit—sedikit banget—tapi mobil kami geser dengan presisi gila. Pas SUV itu mau nabrak, Pak Maman malah ngerem mendadak, bikin mobil musuh itu malah bablas dan hampir nabrak pembatas jalan karena kehilangan keseimbangan.
"Aduh! Arka, itu kenapa mobil sebelah jadi kayak gasing gitu?!" Nadia teriak kaget tapi takjub.
"Itu namanya teknik 'nyari penyakit', Nad," sahut gue sambil ketawa.
Dua mobil lainnya mulai emosi. Mereka ngebut dan nyoba ngepung depan-belakang. Di depan ada perempatan besar yang lampunya baru aja mau merah. Pak Maman justru injek gas lebih dalem.
"Pak Maman, lampu merah itu!" Nadia panik.
"Tenang, Nyonya. Naga nggak pernah berhenti di lampu merah," jawab Pak Maman kalem.
Tepat satu detik sebelum lampu jadi merah total, Rolls-Royce itu meliuk cantik, drift tipis tapi halus banget—beneran halus sampe kopi di cup holder gue nggak tumpah setetes pun. Sementara itu, dua mobil SUV di belakang kami nggak sempet ngerem dan terpaksa berhenti mendadak karena ada bus TransJakarta yang melintas tepat di depan hidung mereka.
CIIIITT! BRAK!
Mereka nggak tabrakan sama bus, tapi dua SUV itu saling cium bemper karena telat ngerem. Di spion, gue liat mereka cuma bisa pukul-pukul setir di tengah perempatan, diklaksonin ratusan kendaraan lain.
Gue ketawa puas. "Pak Maman, nice move. Besok bonusnya saya kirim ke rekening ya."
"Terima kasih, Tuan Muda."
Nadia narik napas lega, dia bener-bener heran. "Kalian berdua ini... sebenernya supir atau mantan pemeran Fast & Furious sih? Kok bisa santai banget?"
Gue nengok ke Nadia, terus gue bisikin. "Dulu sebelum aku ketemu kamu, Pak Maman ini pelatih stunt driver di luar negeri, Nad. Jadi urusan dikejar begini mah remeh buat dia."
Bu Lastri tiba-tiba bangun gara-gara guncangan dikit tadi. "Aduh... udah sampe mana? Arka! Kenapa mobilnya goyang-goyang?! Lu nyetir nggak bener ya?!"
Gue nyengir. "Enggak, Bu. Tadi ada lobang dikit. Ibu lanjut tidur aja, bentar lagi sampe ke rumah dinas Atmaja buat 'beresin' koper."
Mendengar kata "rumah dinas", Nadia langsung diem. Dia tau, setelah ini bakal ada konfrontasi terakhir sama Kakek Wijaya.
"Arka," panggil Nadia pelan. "Kamu beneran mau ngusir Kakek malam ini juga?"
Gue natap jalanan di depan yang mulai gelap. "Bukan aku yang ngusir, Nad. Hukum yang ngusir. Mereka udah terlalu lama tinggal di rumah yang bukan haknya, pake uang yang bukan miliknya. Malam ini, keadilan balik ke tangan kamu."
Gue liat tablet di tangan gue. Ada pesan dari Kian: 'Reno sudah sampai di kediaman Wijaya. Dia sedang mencoba menghasut Kakek untuk menjual seluruh aset tersisa ke pihak Selatan.'
Gue ngepalin tangan. "Pak Maman, percepat sedikit. Jangan sampe tanda tangannya sempet kering di kertas itu."
Rolls-Royce itu berhenti dengan suara gesekan ban yang halus di depan gerbang besar kediaman Wijaya. Suasana rumah itu tampak terang benderang, tapi hawa ketegangan tercium sampai ke luar.
"Kalian tunggu di sini. Pak Maman, jaga Nadia dan Ibu," ucap gue sambil turun dari mobil.
"Aku ikut, Ka!" Nadia turun dengan wajah tegas. "Ini rumah Papa. Aku berhak ada di sana pas mereka semua pergi."
Gue natap Nadia, lalu mengangguk. "Oke. Tapi tetep di belakang gue."
Kami melangkah masuk. Di ruang tamu yang luas, Kakek Wijaya duduk di kursi kebesarannya, di dampingi Paman Bram yang mukanya kusut. Di depan mereka, Reno lagi nyodorin beberapa lembar dokumen tebal dengan bolpoin emas di tangan.
"Kek, tanda tangan aja. Cuma Naga Selatan yang bisa nyelamatinn sisa saham Atmaja sekarang. Arka itu cuma gertak sambal, dia nggak bakal berani macem-macem kalau kita udah dapet backingan Surya Kencana," bujuk Reno, suaranya licin banget kayak oli bekas.
Kakek Wijaya gemeteran, tangannya udah mau megang bolpoin itu. "Tapi Reno... ini aset terakhir kita. Kalau ini dijual ke Selatan, kita nggak punya apa-apa lagi di Jakarta."
"Daripada disita negara atau diambil Arka secara paksa? Mending kita dapet cash sekarang, terus pindah ke Singapura!" Reno makin maksa.
BRAK!
Gue tendang pintu ganda itu sampe terbuka lebar. Semua orang di ruangan itu melonjak kaget.
"Jangan ditandatangani, Kek. Kecuali Kakek mau masuk penjara karena kasus pencucian uang dan pengalihan aset ilegal," suara gue menggema dingin.
Reno berdiri, mukanya merah padam. "Lu lagi?! Bangsat! Berani-beraninya lu masuk ke sini tanpa izin! Security! Mana security?!"
"Ganti rugi buat security lu udah gue bayar di depan, Reno. Sekarang mereka lagi asyik ngopi sama orang-orang gue," gue jalan santai mendekat ke meja, tangan gue masih di dalem saku kaos oblong.
Gue lempar satu map biru ke atas meja, tepat di atas dokumen Reno. "Itu surat dari pengadilan. Per jam 12 malam tadi, seluruh aset di bawah bendera Atmaja Group, termasuk rumah ini, sudah kembali secara sah ke tangan ahli waris tunggal: Nadia Atmaja."
Paman Bram langsung lemes, dia ambruk ke sofa. Kakek Wijaya ngelepas bolpoin emasnya sampe jatuh ke lantai.
"Nggak mungkin! Itu dokumen palsu!" teriak Reno, dia nyoba nyamber map itu tapi tangan gue lebih cepet nyengkram pergelangan tangannya.
Gue pelintir dikit—nggak sampe patah, cuma biar dia tau rasanya sakit. "Reno, lu mau main politik sama Naga Selatan? Surya Kencana aja tadi baru aja 'salam' sama gue di resto. Dia nggak bakal bantu lu. Lu cuma pion yang dibuang karena udah terlalu berisik."
Gue nengok ke Kakek Wijaya. "Kek, aku masih hormat karena Kakek orang tua. Tapi malam ini, silakan kemas barang-barang kalian. Nadia mau rumah ini dikosongkan sebelum matahari terbit."
Nadia maju, berdiri di samping gue. Matanya tegak natep Kakeknya. "Kek, aku kasih waktu tiga jam. Ambil baju-baju kalian, tapi jangan sentuh satu pun barang peninggalan Papa. Kalau ada yang kurang satu barang aja... aku nggak segan lapor polisi."
Suasana jadi sunyi senyap. Keangkuhan keluarga Wijaya runtuh seketika di hadapan seorang supir berkaos oblong dan istri yang selama ini mereka injak-injak.
Reno natep gue dengan dendam kesumat. "Lu pikir ini selesai, Arka? Naga Selatan nggak bakal diem!"
Gue cuma senyum tipis, tipis banget sampe kelihatan ngeledek. "Bilang sama mereka, Naga Utara nggak pernah cari musuh... tapi kalau dikasih, ya gue santap sampe ke tulang-tulangnya."