NovelToon NovelToon
Zayn'S Obsession

Zayn'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ValerieKalea

Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana di Balik Diam

Malam itu benar-benar berakhir, tapi bukan berarti semuanya selesai.

Mobil Sheila melaju perlahan hingga akhirnya berhenti tepat di depan rumah Aurora. Lampu teras sudah menyala, memberi sedikit rasa hangat di tengah sisa ketegangan yang masih terasa di dada.

Aurora membuka sabuk pengamannya, lalu menoleh ke arah Sheila, “Makasih ya udah anterin aku.”

Sheila mengangguk, menatapnya sejenak, “Hati-hati ya. Kalau ada apa-apa, langsung kabarin aku.”

Aurora tersenyum kecil, “Iya.”

Ia membuka pintu mobil, lalu turun.

Belum sempat ia melangkah lebih jauh, suara kaca mobil terbuka terdengar dari belakang.

Aurora menoleh ke arah mobil Zayn.

Kaca mobilnya turun setengah. Tatapan Zayn langsung tertuju padanya.

“Masuk” ucap Zayn singkat.

Aurora sedikit mengernyit, “Pak…?”

“Udah malam. Jangan lama di luar” kata Zayn tanpa mengubah ekspresi.

Nada suara Zayn tetap datar, tapi ada sesuatu yang tidak bisa diabaikan.

Aurora menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk kecil, “Iya, Pak.”

Ia kembali menoleh ke Sheila, melambaikan tangan kecil. Setelah mobil Sheila benar-benar pergi, Aurora langsung berjalan cepat masuk ke dalam rumah.

Pintu rumah Aurora tertutup.

Dan dari luar, Zayn masih diam beberapa detik sebelum akhirnya menutup kembali kacanya dan menjalankan mobilnya menjauh.

Keesokan paginya datang seperti biasa. Terlalu biasa, bahkan setelah apa yang terjadi semalam.

Aurora sudah berdiri di depan rumah saat mobil Rayden berhenti di depannya. Ia masuk tanpa banyak bicara.

“Pagi, Sayang” sapa Rayden santai.

“Pagi juga” balas Aurora.

Beberapa menit pertama diisi dengan keheningan ringan. Namun kali ini, Rayden yang membuka percakapan lebih dulu.

“Ra” panggil Rayden.

Aurora menoleh, “Hmm?”

Rayden menghela napas pelan, lalu berkata, “Soal kemarin, kita belum sempet lanjut bahas.”

Aurora mengernyit, “Yang mana?”

Rayden meliriknya sebentar, “Pernikahan kita.”

Aurora terdiam.

“Aku serius. Kalau bisa bulan depan kita jalanin. Nggak usah resepsi dulu juga nggak apa-apa. Yang penting sah” lanjut Rayden.

Aurora menelan ludah pelan.

“Ra?” panggil Rayden lagi.

Aurora memaksakan senyum kecil, “Iya, kita pikirin lagi ya.”

Rayden mengangguk, meskipun jelas ia berharap jawaban yang lebih pasti.

Mobil terus melaju. Dan entah kenapa, pembicaraan di dalam mobil tidak terasa ringan.

Sesampainya di kantor, Aurora langsung menuju mejanya.

Ia duduk, mencoba kembali ke rutinitas. Namun pikirannya masih sesekali kembali ke kejadian semalam.

Tentang Rakha, tentang delapan belas tahun yang lalu, dan tentang Zayn.

Aurora menghela napas pelan. Ia ingin tahu, tapi ia juga tahu, itu bukan sesuatu yang mudah ditanyakan.

Akhirnya, ia memilih diam. Dan kembali bekerja.

Di sisi lain, di dalam ruangan Zayn. Zayn berdiri di dekat jendela.

Ponselnya berada di telinga.

“Nama Rayden Sadipta.”

Suara Evan terdengar jelas dari seberang, “Alamatnya jalan Anggrek Selatan No. 17.”

Zayn diam, mendengarkan.

“Kerja sebagai Business Development di perusahaan Arkana Group. Kantornya di kawasan Sudirman.”

Zayn menyipitkan mata sedikit.

“Dan satu lagi…” lanjut Evan.

Zayn tidak menjawab, tapi jelas menunggu.

“Dia sama Aurora rencana nikah bulan depan.”

Hening.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Zayn menjawab singkat, “Cukup.”

Telepon terputus.

Zayn menurunkan ponselnya perlahan. Tatapannya kosong, tapi pikirannya jelas tidak.

Beberapa saat kemudian, suara interkom berbunyi.

“Aurora. Masuk.”

Aurora langsung berdiri dan berjalan ke ruangan Zayn.

“Ada apa, Pak?” tanya Aurora.

Zayn menatapnya singkat, lalu berkata, “Hubungi Arkana Group. Kita buka peluang kerja sama.”

“Mereka punya perkembangan bagus di sektor bisnis. Kita lihat potensinya.”

Aurora sedikit terkejut, “Maksudnya…?”

“Kita mau kerja sama.”

Aurora mengangguk pelan. Tidak curiga.

Baginya itu terasa masuk akal. Perusahaan besar memang sering membuka kerja sama.

“Kalau bisa besok ketemu sama pemiliknya” lanjut Zayn.

Aurora langsung mencatat, “Baik, Pak.”

Aurora keluar dari ruangan, ia langsung mengambil ponselnya.

Ia menghubungi Rayden, “Sayang, aku butuh nomor CEO atau yang biasa handle kerja sama di kantor kamu.”

Rayden tidak banyak tanya. Ia langsung memberikan nomor, “Namanya Pak Arkana”

“Okey. Makasih, Sayang” balas Aurora.

Telepon ditutup.

Aurora langsung menghubungi nomor itu, “Selamat siang, saya Aurora, sekretaris dari Averon Group” ucapnya profesional.

Aurora menjelaskan maksudnya secara singkat. Dan begitu nama perusahaan disebut respon di seberang langsung berubah.

“Tentu saja. Kita bisa bertemu besok” jawab Pak Arkana.

Aurora sedikit terkejut dengan kemudahannya.

“Di mana, Pak?”

“Kita bertemu di restoran saja. Lebih nyaman untuk bahas kerja sama.”

Aurora mengangguk, meskipun tidak terlihat, “Baik, Pak. Anda atur saja mau ketemu di mana.”

“Besok jam sembilan di Velora Resto” ucap Pak Arkana di seberang.

“Baik, Pak” jawab Aurora.

Telepon ditutup.

Aurora langsung tersenyum kecil. Ia tidak menyangka ini akan lebih mudah dari yang ia kira.

Ia kembali ke ruangan Zayn dan menyampaikan hasilnya.

Zayn hanya mengangguk, seolah sudah menduga, “Buat proposal” ucapnya.

Aurora langsung mencatat.

“Dua.”

Aurora menoleh, “Dua, Pak?”

“Satu untuk perusahaan kita. Satu lagi untuk perusahaan mereka.”

Aurora mengernyit sedikit, “Saya kurang paham detail perusahaan mereka, Pak.”

“Cari tahu” jawab Zayn singkat.

Aurora ragu sejenak, “Tapi berkas saya yang lain-”

“Kerjakan ini dulu.”

Nada suaranya tidak tinggi. Tapi tidak bisa ditolak.

Aurora akhirnya mengangguk, “Baik, Pak.”

Waktu berjalan cepat.

Aurora benar-benar fokus mengerjakan proposal itu.

Mencari data, menyusun strategi, menyatukan semuanya dalam bentuk yang meyakinkan.

Bukan hal mudah, tapi ia tetap menyelesaikannya.

Sore hari pun tiba.

Aurora berdiri di depan meja Zayn, menyerahkan dua berkas, “Sudah, Pak.”

Zayn mengambilnya tanpa banyak bicara. Ia membuka sekilas, lalu menutupnya kembali.

“Kamu bisa pulang.”

Aurora langsung mengangkat kepala, “Pak?”

“Biasanya kalau masih ada kerjaan aku disuruh lembu, tapi kok ini...” batin Aurora.

“Besok jam sembilan. Jangan telat.”

Aurora masih sedikit bingung, tapi tetap mengangguk, “Baik, Pak.”

Aurora berbalik, hendak keluar.

“Saya antar kamu pulang.”

Langkah Aurora langsung terhenti. Ia menoleh perlahan, “Pak, saya bisa pulang sama-”

“Sheila nggak masuk hari ini.”

Aurora terdiam. Ia memang tahu itu. Dan entah kenapa, ia tidak punya alasan lagi, “Iya, Pak.”

Perjalanan pulang berjalan dalam keheningan.

Seperti biasa, tidak ada percakapan, tidak ada musik. Hanya suara mesin mobil dan pikiran masing-masing.

Sampai di depan rumah Aurora, mobil berhenti.

Aurora membuka sabuk pengaman, “Terima kasih, Pak.”

Zayn tidak menjawab.

Aurora turun, lalu masuk ke rumah, dan menutup pintunya.

Dan mobil hitam itu kembali berjalan.

Malam itu, di rumahnya sendiri, Zayn berdiri di depan meja kerjanya.

Dua proposal berada di depannya. Ia membuka yang pertama. Proposal milik perusahaannya. Proposalnya terlihat normal.

Lalu yang kedua, perusahaan Arkana Group. Zayn membacanya perlahan.

Ia membaca secara detail strukturnya. Semuanya tersusun rapi. Namun tanpa ragu, ia mengambil pena dan mulai mengubahnya.

Angka-angka diganti, strategi diputar, keuntungan dialihkan.

Semua diubah secara perlahan, rapi, Dan sengaja.

Zayn menutup berkas itu setelah selesai. Tatapannya dingin.

Karena kali ini, ini bukan sekadar kerja sama. Ini langkah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!