NovelToon NovelToon
Memorable Love

Memorable Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:131
Nilai: 5
Nama Author: Eva Hyungsik

Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CYTB 11

Stendy terus berusaha menghubungi Janice, dan juga berusaha untuk menemui wanita itu. Akan tetapi, Janice sudah menutup semua akses, agar Stendy tidak bisa menemuinya. Bahkan kedua orang tua Janice pun ikut membantunya. Jason bahkan sampai menyewa beberapa preman untuk berjaga di rumahnya, untuk menghadang Stendy yang selalu nekat ingin menerobos masuk ke dalam rumah. 

Janice belum menceritakan masalah yang dihadapinya dengan Stendy pada kedua orang tuanya. Namun, Jason tahu segala tentang keadaan sang putri.  Sementara Naomi seolah mengerti bahwa putri mereka sudah tidak ingin lagi  berhubungan  dengan Stendy. 

Memahami akan hal itu, Jason pun merasa senang. Sebab memang sejak lama ia tidak setuju jika Janice bersama Stendy. Walaupun Jason dan Naomi begitu mengenal Irene dan Fandy. Akan tetapi, entah mengapa Jason tidak setuju jika putri semata wayangnya menikah dengan Stendy. 

Sampai saat ini Janice, pun juga tidak tahu apa sebabnya sang ayah begitu tidak ingin dirinya bersama Stendy. Namun, Janice tidak ingin terlalu memikirkannya. Karena saat ini bagi Janice, menjalani hidup barunya lebih seru dibanding harus mengingat hubungannya bersama Stendy di masa lalu. 

Keberangkatan Janice, Jason dan Naomi sudah diatur begitu rapih oleh Calvin. Malam ini adalah keberangkatan mereka ke negara S, Saat ini Janice sedang sibuk merapikan pakaian dan beberapa barang yang penting untuk dibawa. Janice tidak terlalu banyak membawa pakaiannya, sebab Jason sudah mengingatkan dirinya, kalau semua kebutuhan mereka sudah tersedia dan lengkap di rumah baru mereka di negara tersebut. 

Janice menatap koper bawaannya, dia hanya membawa satu koper dan tas selempang yang biasa digunakannya. Pintu kamar terbuka dan Janice pun, segera menoleh. Ia tersenyum saat tahu siapa yang masuk ke dalam kamarnya. Begitupun dengan sosok pria yang sudah berdiri di ambang pintu kamar Janice. Calvin tersenyum dan menghampiri Janice. 

“Barang bawaannya sudah siap?” tanya Calvin yang sudah berdiri di hadapan Janice. 

Janice mengangguk dengan senyum yang belum pudar dari wajahnya. “Sudah, Kak. Tolong bantu aku bawakan koperku ke bawah,” pinta Janice dengan sopan. 

“Tentu, Tuan Putri.” Janice terkekeh kecil mendengar jawaban Calvin. 

Calvin adalah sosok pria yang sudah dianggap Janice seperti kakak kandungnya sendiri. Walau usia mereka terpaut lima tahun, dan berteman sejak kecil. Membuat Janice semakin menyayangi Calvin sebagai sosok kakak yang selalu melindunginya. Mendiang ayahnya Calvin dulu adalah pegawai di restoran milik Jason. Tuan Romi, yang dikenal sebagai ayahnya Calvin itu bekerja di restoran milik Jason sebelum masa kejayaan menghampiri kehidupan Jason. 

Restoran Jason memang didirikan sebelum pria itu menikah dan hingga akhirnya mempunyai dua restoran  di kota P seperti saat ini. Dengan kerja keras dan dukungan dari Romi serta beberapa karyawan yang dimiliki Jason. Akhirnya pria itu mulai berjaya sampai memiliki dua restoran. Tidak disangka oleh Jason, bahwa dirinya bisa terus menjalankan bisnis kulinernya sampai saat ini, dan bahkan dia akan mengembangkan sayapnya ke negeri orang. 

Seperti pepatah buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ya, seperti itu lah yang digambarkan oleh Jason mengenai Calvin. Sosok pemuda yang begitu giat bekerja dan bertanggung jawab. Sampai Jason pun sudah menganggap Calvin seperti anaknya sendiri. 

Calvin membantu Janice memasukkan kopernya ke dalam bagasi. Tidak lama Jason dan Naomi pun keluar. 

“Sudah siap?” tanya Jason. 

“Sudah,” 

“Ayo, cepat. Nanti kita tertinggal pesawat,” seru Naomi yang dibalas anggukan kepala oleh Jason dan Janice. 

Mereka pun segera masuk ke dalam mobil, Calvin duduk di kursi kemudi. Disebelahnya ada Jason, lalu di belakang kursi penumpang Naomi dan Janice duduk saling menggenggam tangan. 

“Semoga ditempat baru kita nanti, kehidupan kita semua semakin bahagia. Dan, semuanya berjalan lebih baik dari sebelumnya.” Naomi berkata seraya tersenyum pada Janice. 

Janice pun ikut tersenyum dan mengangguk, “Tentu. Semuanya akan baik-baik saja, dan kita akan hidup bahagia di tempat yang baru. Kita mulai semuanya seperti dari awal, Bu.” 

Jason dan Calvin yang mendengar percakapan keduanya pun meng-aamiin-kan dan tersenyum. 

Selang beberapa menit, mobil milik Jason keluar dari halaman rumah. Sebuah mobil BMW berwarna hitam berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah keluarga Arkana. 

Stendy keluar dari dalam mobil dengan raut wajah kesalnya. “Janice”  teriak Stendy sambil mengguncang pintu pagar rumah tersebut. 

Seorang pria bertubuh kekar, yang disewa Jason pun segera menghampiri saat mendengar keributan yang Stendy ciptakan. 

“CK, siapa kau dan mau apa datang ke sini?" tegur preman berbadan kekar dengan tato hampir memenuhi tubuhnya. 

Stendy tidak takut dengan pria itu, ia pun menatap sinis ke arah preman tersebut. 

“Janice, keluarlah! Aku mohon padamu beri aku kesempatan.” Stendy kembali berteriak dan mengabaikan apa yang barusan si preman katakan. 

Preman tersebut pun tertawa mengejek sambil menggelengkan kepalanya. Pria itu mendesah kasar sambil melipat  kedua tangannya di depan dada. 

“Percuma saja kau berteriak seperti itu. Nona muda tidak akan pernah mendengar teriakanmu. Pergilah!” usir preman itu dengan suara tegasnya. 

“Tidak. Aku tidak akan pernah pergi dari rumah ini sebelum Janice menemuiku!” tolak Stendy dengan suara yang membentak. 

Si preman berdecak kasar. “Dasar keras kepala!” sarkasnya. “Kau ini sudah ditolak oleh nona muda, karena kesalahanmu sendiri. Sekarang kau menyesal, kan? Makanya jangan pernah menyia-nyiakan seseorang  yang begitu mencintaimu!” 

Stendy terdiam mendengar ucapan si preman. Sedikit heran, mengapa preman itu tahu akan permasalahan dirinya dan Janice. Namun, Stendy tidak tahu betapa dekatnya Jason dengan preman yang ada di rumah keluarga Arkana. Preman yang disewa Jason untuk berjaga-jaga di rumahnya itu adalah orang-orang yang pernah mendapatkan bantuan dari Jason. Hingga mereka merasa berhutang Budi pada keluarga Arkana. Stendy menatap tajam ke arah pria bertato tersebut dengan tatapan tidak suka. 

“Jangan asal bicara kamu! Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Janice. Kau hanya preman kelas bawah yang disewa oleh paman Jason. Bahkan aku bisa membayarmu lebih darinya,” sahut Stendy dengan merendahkan si preman. 

Mendengar ucapan Stendy, preman tersebut bukannya merasa sakit hati. Melainkan tertawa terbahak-bahak. Lalu mendekat ke arah pagar, ekspresi wajahnya masih sama seperti awal melihat Stendy. Yaitu, meremeh dan seakan begitu mencemooh Stendy. 

“Hei, jangan pernah menganggap remeh preman sepertiku ini! Kau memang bisa membayar aku dan anggota lainnya dua kali lipat dari apa yang Tuan Jason berikan pada kami. Tapi, kami tidak akan pernah mau bekerjasama dengan orang seperti dirimu.” 

Stendy begitu kesal mendengar ucapan si preman yang begitu sombong, pikirnya. Sayangnya kini mereka terhalang pintu pagar rumah. Mungkin jika tidak, Stendy sudah memberi pukulan di wajah preman tersebut. 

Preman itu tersenyum sinis, “Kami tidak ingin bekerjasama dengan orang yang tidak bisa menghargai perasaan orang lain. Terutama perasaan wanita,” bisik telak si preman yang membuat Stendy bungkam. 

Namun, hanya beberapa saat saja. Stendy kembali mengguncang pagar besi tersebut. 

“Apa maksudmu, hah! Kau jangan sok, tahu mengenai diriku.” Stendy kembali berteriak. 

“Berhenti!” 

Stendy menghentikan gerakannya, dan menoleh ke arah sumber suara. Begitupun dengan preman yang sejak tadi berhadapan dengan Stendy. Preman itu membungkukkan tubuhnya sedikit, ketika melihat seseorang dengan pakaian yang cukup rapi. Tubuh pria itu juga tidak luput dari tato yang menghiasi setengah tubuhnya. Wajahnya cukup tampan, hanya saja ada bekas luka cukup lebar  di pipi kirinya. Pria itu juga berambut gondrong, berjalan mendekat dengan beberapa orang di belakangnya. 

“Kakak, maaf sudah membuat keributan.” 

Pria yang diketahui sebagai ketua dari preman yang di sewa oleh Jason itu pun mengangkat satu tangannya. Memberi isyarat bahwa dirinya–lah yang akan menangani Stendy. 

“Kau sudah bekerja dengan baik, Rom.” Pria itu menepuk pundak Romeo, preman yang menghadapi Stendy. 

Ketua preman itu menatap dingin pada Stendy. Lalu ia pun berjalan mendekat ke arah Stendy. Kedua tangannya sudah berada di saku celananya. 

“Jadi kau pria brengsek yang sudah menyakiti hati Nona Janice,” 

Stendy mengernyitkan kedua alisnya mendengar tuduhan pria tersebut. “Itu hanya salah paham,” sanggah Stendy. 

Si ketua preman menyeringai sinis, “Ternyata kau memang brengsek,” pria itu berdecak kasar. 

Setelah berkata seperti itu, ketua preman tersebut pun berbalik badan dan meninggalkan Stendy yang masih berdiri di depan gerbang. Melihat itu pun Stendy semakin kesal, sebab merasa ia terabaikan. 

“Hei! Jangan pergi. Aku ingin bertemu Janice.” Stendy kembali berteriak. Namun, teriakannya seolah seperti angin lalu. 

Stendy menendang pintu pagar besi tersebut hingga terdengar suara cukup keras. Akan tetapi para preman sewaan Jason itu terus mengabaikan Stendy. Tidak lama sebuah mobil berhenti di dekat mobil Stendy. Irene keluar terlebih dahulu dari dalam mobil. 

“Stendy,” panggil Irene. 

Stendy menoleh dan mendapati Irene yang berjalan mendekati dirinya, lalu disusul oleh Fandy yang baru saja keluar dari dalam mobil. 

“Mana Janice? Apakah kamu sudah bertemu dengannya?” tanya Irene. 

Fandy melihat wajah Stendy terlihat frustasi pun, menoleh menatap ke arah dalam rumah Jason. Tatapannya terkunci pada beberapa orang yang berjaga di depan pintu sambil duduk dengan penampilan seperti preman. 

“Siapa mereka?” tanya Fandy dengan tatapan yang terus tertuju pada dua orang yang sedang duduk bersantai dan beberapa orang berdiri berjaga di beberapa sudut pekarangan rumah Jason. 

Irene pun mengikuti arah pandang suaminya. Dahinya pun berkerut, ini memang pertama kalinya mereka melihat preman sewaan Jason. Sebelumnya baik Irene maupun Fandy tidak pernah melihat, bahkan tidak pernah tahu siapa mereka. 

“Mereka preman sewaan Paman Jason,” sahut Stendy yang juga menatap nyalang ke arah beberapa preman yang tadi sudah membuatnya kesal. 

Fandy dan Irene cukup terkejut mendengar jawaban Stendy. Mereka berdua saling pandang, kemudian beralih menatap Stendy. 

“Untuk apa Jason sampai menyewa mereka?” tanya Irene bingung. 

“Apakah mereka sengaja  di sewa untuk mencegahmu menemui Janice?” Bisik Fandy seraya menoleh menatap Stendy. 

Irene kembali tercengang mendengarnya, jika itu benar dilakukan dengan sengaja oleh Jason. Itu artinya mereka sudah benar-benar tidak bisa bertemu dengan Janice. 

“Iya. Mereka selalu menghalangiku setiap aku datang kesini untuk menemui Janice,” jawab Stendy. 

Fandy mendesah kasar mendengarnya, sementara Irene hanya bisa diam dengan wajah yang terlihat murung. 

“Sebaiknya kita pulang,” usul Fandy. 

“Tidak. Aku belum bertemu dengan Janice,” tolak Stendy. 

Fandy kembali menghela nafasnya, “Itu tidak akan mungkin. Janice tidak akan pernah menemuimu lagi, Stendy.” Ucapan Fandy membuat Stendy kesal, ia pun menatap sang ayah dengan tatapan tidak suka. 

“Jika Ayah dan Ibu ingin pulang, pulang saja! Aku masih ingin disini. Aku yakin Janice mau menemuiku setelah melihat usahaku ini. Dia pasti  akan luluh dengan sikapku sekarang,” ujar Stendy penuh percaya diri. 

Fandy memutar bola matanya malas, baru akan hendak membalas ucapan Stendy. Tiba-tiba ucapan Irene membuat Stendy terdiam dengan pikiran yang berkecamuk. 

“Itu tidak  mungkin dan tidak akan terjadi, Nak. Janice tidak akan pernah menemuimu. Karena dia sudah dibawa pergi oleh kedua orang tuanya,” bisik Irene yang membuat Fandy dan Stendy menatap wanita itu. 

Irene mendesah kasar, dan berkata lirih sambil menatap suaminya. “Kita pulang. Kita bahas di rumah saja,” ucap Irene yang membuat Fandy mengangguk pelan. 

Fandy pun menepuk pundak Stendy, agar putranya itu menuruti ucapannya. 

Stendy termenung di dalam kamarnya, meratapi perasaannya yang semakin merasa bersalah pada Janice. Setelah mereka kembali ke rumah utama, kedua orang tuanya menyampaikan sesuatu hal yang mampu membuat dirinya tertegun sekaligus terkejut. Dimana sang ibu memberitahukannya tentang kepergian Janice. Ucapan sang ibu pun masih terngiang dalam ingatannya. 

“Jason benar-benar menepati janjinya. Dia sudah membawa pergi putrinya, jadi Ibu minta padamu untuk tidak mengharapkan atau mengusik kembali kehidupan Janice.” 

Stendy kembali terhenyak mendengar ucapan dari bibir wanita yang sangat ia sayang. “Aku tidak mengusik kehidupan Janice, Bu. Aku hanya ingin dia kembali padaku,” sahut Stendy dengan raut wajah kesalnya. 

Irene menghela nafasnya pelan. “Kamu harus tahu, bagaimana pamanmu itu tidak akan mudah mengubah apa yang sudah menjadi keputusannya. Apalagi ini mengenai Janice, putri semata wayangnya. Jason sangat menyayangi putrinya,” Irene kembali mendesah kasar. 

Kemudian, ia kembali melanjutkan ucapannya. “Pamanmu pernah berkata pada Ibu, bahwa sampai kapanpun dia tidak akan pernah merestui hubungan kalian.” 

Stendy begitu terkejut mendengar ucapan sang ibu. Kepalanya menggeleng pelan, dengan mulut sedikit terbuka. 

“Tapi, saat itu paman…” 

Ucapan Stendy terpotong setelah Fandy angkat bicara. “Itu karena kami telah menyetujui keinginannya. Tambah lagi, Jason tidak ingin melihat Janice kecewa padanya. Lantaran ia tahu, kalau Janice sangat mencintai dan begitu menginginkan kamu,” 

“Pamanmu itu memberi syarat kepada kami sebelum kamu dan Janice bertunangan,” sambung Irene yang juga merasa harus ikut bicara. 

“Syarat?” beo Stendy. “Syarat apa?” tanya Stendy. 

Irene dan Fandy pun saling menatap sebelum keduanya kembali bicara. Stendy masih menunggu kedua orangtuanya menjawab pertanyaannya. 

“Jason memberi syarat, jika suatu saat Janice menghubungi dirinya dan meminta kembali melanjutkan kuliahnya. Maka, saat itu juga Jason akan membawa Janice pergi jauh dari kehidupan kamu dan keluarga kita ini. Namun, jika Janice tetap bertahan padamu dan kalian menikah. Maka Jason akan merestui pernikahan kalian berdua,” 

Mendengar sebuah fakta yang baru Stendy ketahui, tentu sangat mengejutkan dirinya. Stendy berusaha mengatur nafasnya, kepingan ingatan bersama Janice kembali terngiang di pikirannya. Hingga ia sadar, kalau akhir-akhir ini Janice selalu menghindarinya dan sikapnya tidak seperti biasanya. 

Stendy tertawa miris mengingat semua tentang Janice. Tangannya mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu terlihat begitu frustasi. Irene dan Fandy sebagai orang tua pun merasa kasihan pada putra mereka. Namun, mereka sadar kepergian Janice atas andil putranya sendiri. 

Keheningan pun tercipta, baik Stendy maupun kedua orang tuanya sama-sama sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. 

“Ayah, Ibu…” 

Fandy dan Irene menatap Stendy setelah pria itu memanggilnya. Stendy pun menatap mata kedua orang tuanya. 

“Mengapa paman Jason memberi syarat itu kepada Ayah dan Ibu? Mengapa Paman tidak menyetujui pertunanganku dengan Janice. Padahal kalian berteman sangat baik.” 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!