NovelToon NovelToon
Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Perperangan / Ahli Bela Diri Kuno / Penyelamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aku Pemula

Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.

Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.

Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 - Cemoohan Murid Senior

Matahari baru saja menyentuh cakrawala timur, cahayanya mengalir lembut ke desa Han yang masih diselimuti embun pagi. Di halaman bambu yang sederhana, Lin Feng baru saja menyelesaikan latihan pernapasan hariannya. Napasnya lebih teratur dibanding hari-hari sebelumnya, tubuh mungilnya sudah terbiasa dengan rutinitas baru. Ia tersenyum kecil, puas meski keringat menetes di pelipisnya.

Tetua Qingyun berdiri tak jauh darinya, menyaksikan dengan sorot mata yang campur aduk—bangga sekaligus cemas. Sejak Lin Feng menyebutnya “Guru”, ada beban baru yang ia pikul. Hatinya bergetar oleh ikatan itu, namun sekaligus tersadar: desa kecil ini tidak akan cukup untuk menampung masa depan bocah itu.

Ia menghela napas panjang. Tubuh tuanya terasa berat, luka lama yang selalu disembunyikan mulai berdenyut kembali. Malam sebelumnya, saat semua orang terlelap, ia sempat batuk darah. Namun ia tak ingin Lin Feng tahu.

“Lin Feng,” ucapnya pelan ketika anak itu selesai mengatur napas.

“Ya, Guru?” Lin Feng menoleh dengan mata bulat penuh semangat.

Qingyun menatapnya lekat-lekat, lalu berkata, “Sudah saatnya kita meninggalkan desa ini. Kau tak bisa selamanya berlatih di sini. Aku akan membawamu ke sebuah sekte… tempat di mana kau bisa melanjutkan jalanmu.”

Lin Feng terdiam, bibirnya terbuka sedikit. Sejak kecil, desa Han adalah seluruh dunianya. Tapi jika gurunya berkata harus pergi, maka ia akan mengikuti tanpa ragu. Ia mengepalkan tangan kecilnya. “Baik, Guru.”

***

Keesokan harinya, beberapa warga desa berkumpul di tepi jalan tanah ketika mereka berdua bersiap. Lin Feng membawa buntalan kecil berisi pakaian lusuh, sementara Tetua Qingyun memegang tongkat bambu yang menemaninya berjalan.

“Benarkah kau akan membawa anak itu keluar desa?” tanya seorang lelaki paruh baya dengan nada heran. “Dia masih terlalu kecil.”

“Lin Feng hanya akan menyusahkanmu, Tetua,” sahut yang lain sambil menggeleng.

Beberapa anak-anak desa menertawakan Lin Feng. “Hei, ke mana kau mau pergi? Kau bahkan tak bisa mengangkat pedang kayu!” ejek mereka.

Lin Feng menunduk, tapi ia menggenggam buntalannya lebih erat. Tetua Qingyun hanya tersenyum samar. “Anak ini akan berjalan di jalannya sendiri. Kalian tak perlu mengkhawatirkan.”

Dengan langkah perlahan, mereka meninggalkan desa. Angin pagi membawa suara bisik-bisik warga yang tak percaya. Namun Lin Feng tak menoleh ke belakang.

***

Hari-hari berikutnya, mereka menempuh jalan panjang melewati hutan, sungai, dan lereng perbukitan. Lin Feng yang kecil sering kelelahan, tapi ia tak pernah mengeluh. Setiap kali terjatuh, ia bangkit lagi sambil menggenggam tangan gurunya.

Tetua Qingyun, di sisi lain, mulai menunjukkan kelemahannya. Tubuhnya yang tua semakin sering gemetar, napasnya kadang tersengal. Beberapa kali ia berhenti di tepi jalan untuk mengatur pernapasan. Lin Feng menatapnya dengan cemas.

“Guru… apakah kau sakit?” tanya bocah itu pada suatu malam ketika mereka beristirahat di tepi api unggun kecil.

Qingyun tersenyum, meski wajahnya pucat. “Hanya lelah, Lin Feng. Jangan khawatir.”

Tapi ketika bocah itu tertidur, Qingyun menutup mulutnya rapat-rapat agar Lin Feng tak mendengar batuknya yang berdarah. Ia tahu waktunya tak panjang. Satu-satunya harapan kini hanyalah membawa Lin Feng ke tempat yang tepat.

Setelah berminggu-minggu perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah lembah luas yang dijaga tebing tinggi. Di sana berdiri bangunan-bangunan kayu dan batu dengan bendera berwarna biru berkibar di puncaknya—Sekte Langit Biru, tempat lama yang dulu pernah menjadi sekutu Qingyun.

Di gerbang depan, dua murid penjaga menatap heran. Seorang tetua renta dengan pakaian usang, ditemani bocah kecil lusuh yang matanya berbinar.

“Apa urusan kalian di sini?” tanya salah satu penjaga dengan nada curiga.

“Aku mencari Tetua Yunhai,” jawab Qingyun tenang. “Katakan padanya, Qingyun datang membawa seorang murid.”

Kedua penjaga saling berpandangan. Nama itu masih mereka kenal, meski samar-samar. Salah satu dari mereka berlari masuk untuk memberi tahu.

Tak lama, seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun muncul. Rambutnya separuh putih, namun tubuhnya tegap. Begitu melihat Qingyun, matanya melebar.

“Qingyun! Sungguh… kau masih hidup!” serunya dengan suara bergetar. Ia menghampiri dan menepuk bahu sahabat lamanya. “Kau tampak berbeda… begitu rapuh.”

Qingyun tersenyum tipis. “Waktu tak pernah berbelas kasihan. Tapi aku datang bukan untukku. Aku datang… demi anak ini.” Ia mendorong Lin Feng maju.

Mata Yunhai menatap Lin Feng, lalu kembali menoleh pada sahabatnya dengan alis berkerut. “Seorang bocah? Kau ingin menitipkan dia di sekte ini?”

“Ya,” jawab Qingyun mantap. “Dia adalah muridku.”

Namun, sebelum Yunhai sempat menjawab, beberapa murid senior sekte yang kebetulan lewat berhenti dan menatap dengan tatapan meremehkan.

“Hah? Bocah sekecil itu menjadi murid seorang tetua?” salah satunya tertawa keras. “Dia bahkan terlihat lebih lemah daripada anak desa biasa!”

“Lihat pakaiannya… compang-camping. Apa sekte kita sekarang menerima pengemis juga?” sambung yang lain dengan senyum sinis.

Lin Feng mengepalkan tangan kecilnya, wajahnya memerah. Ia ingin membalas, tapi menahan diri.

Tetua Qingyun melangkah maju, suaranya berat namun penuh wibawa. “Jaga kata-katamu. Anak ini akan menjadi lebih kuat daripada kalian suatu hari nanti.”

Para murid itu tertawa lebih keras. “Lebih kuat dari kami? Jangan bercanda, Tetua. Dia bahkan tak bisa mengangkat pedang latihan!”

Lin Feng menggigit bibirnya, matanya berkilat. Untuk pertama kalinya, ia merasakan rasa sakit bukan dari tubuhnya, melainkan dari ejekan orang lain. Namun dalam hatinya, tekad kecil itu semakin membara.

***

Malam itu, Yunhai mempersilakan Qingyun beristirahat di salah satu paviliun tua. Tapi tubuh Qingyun semakin lemah. Ia berbaring dengan wajah pucat, Lin Feng duduk di sisinya dengan mata berkaca-kaca.

Dalam keheningan malam, Qingyun menatap murid kecilnya, dan bayangan masa lalu muncul dalam pikirannya. Ia melihat wajah seorang perempuan muda—muridnya dahulu, ibu Lin Feng. Mata penuh semangat itu, senyum tabah itu… dan suara terakhirnya saat menyerahkan bayi mungil ini.

"Guru, tolong lindungi dia… bawa dia ke jalan yang benar. Jangan biarkan nasib buruk menimpa anakku seperti menimpaku."

Qingyun menutup mata sejenak. Dadanya sesak bukan hanya karena luka, tapi juga rasa bersalah yang menumpuk bertahun-tahun. “Muridku… aku gagal menepati janjiku padamu. Aku tak bisa melindungimu. Aku hanya bisa menyaksikan kepergianmu dengan tangan kosong. Namun… kali ini aku tidak boleh gagal lagi. Aku akan menepati janji itu, meski harus mengorbankan nyawaku.”

Air mata menetes di sudut matanya, tapi ia segera menyeka sebelum Lin Feng menyadarinya.

Qingyun menoleh pada Yunhai yang duduk di sisi lain. Suaranya bergetar, tapi matanya tegas. “Sahabatku… aku tak punya banyak waktu. Aku mohon, terimalah dia sebagai murid sekte. Bimbing dia jika kau bisa. Aku percaya, darah dan takdir dalam dirinya… tidak biasa. Dengan begitu… aku bisa sedikit menebus kegagalanku pada murid perempuanku dulu.”

Yunhai terdiam lama, lalu menunduk dalam-dalam. “Aku berjanji, Qingyun. Anak ini akan mendapat tempat di sini.”

Lin Feng menggenggam tangan gurunya erat-erat. Air matanya menetes. “Guru… jangan tinggalkan aku.”

Qingyun menatap murid kecilnya, lalu tersenyum samar. “Jangan takut, Lin Feng. Dunia akan selalu mencemooh, tapi hanya hatimu yang menentukan jalanmu. Mulai hari ini, jalanmu baru saja dimulai. Jangan pernah berhenti melangkah.”

Di luar paviliun, angin malam berhembus kencang, seolah langit turut mendengar sumpah terakhir seorang tetua tua—sumpah seorang guru yang menyesali masa lalu, namun berharap menebusnya lewat murid kecil yang akan menjadi pewaris nasib besar.

Dan di bawah langit itu, Lin Feng mulai menapaki bab baru—di dalam sekte yang asing, di antara murid-murid yang mencibirnya, dengan tekad yang ditempa oleh ejekan dan penyesalan masa lalu sang guru.

1
Dian Pravita Sari
bosen selalu gak tamat cerita jgn mau bc noveltoooon krn gak jelas ceritanya
Aku Pemula: Terimakasih Kak atas kritikan nya

semoga novel ini bisa selesai ya, bantu terus dukung
total 1 replies
Aku Pemula
Hai kak, terimakasih sudah kasih komentar.

bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
Dian Pravita Sari
percuma kolom komentar
entar tp gak pernah di gubris
Aku Pemula: terimakasih ya kak sudah kasih komentar /Pray/
total 1 replies
Dian Pravita Sari
s
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa
Dian Pravita Sari
sudah ku duga cerita selalu gak tsmatmsnaktedibilitssn
Penggemar Pendekar
go go
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rohmat Ibn Sidik
lanjut
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!