Tiga abad lalu, "The Eclipse Protocol" diaktifkan—sebuah proyek rahasia umat manusia untuk mematikan matahari demi menghentikan perang global. Rencananya berhasil, tapi efek sampingnya jauh lebih mengerikan: dunia jatuh ke dalam kiamat es abadi.
Kini, sisa peradaban manusia hidup di sembilan "Sovereign Spires"—menara kota raksasa yang ditopang energi geotermal dan dikelilingi kubah pelindung. Di luar sana, "The Drowned Lands" menjadi kuburan bagi siapa pun yang berani keluar.
Kian Veyr adalah produk gagal dari sistem ini. Seorang jenius taktis yang dipecat dari pasukan elit karena menolak menjalankan perintah yang akan mengorbankan ribuan warga sipil demi "kebaikan yang lebih besar".
Dia kini hidup sebagai pemulung informasi, menjual data rute aman ke para pedagang gurun hitam. Hingga suatu hari, dia menemukan peta usang yang menunjukkan adanya "Koordinat Kesebelas"—wilayah yang tidak tercatat di peta resmi Dewan Menara.
Peta itu menyebut tempat itu sebagai "Titik Nol",
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kentos46, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KOORDINAT MAUT DI LUAR BATAS
Lampu indikator pada dasbor baja Iron Crawler bernomor lambung 07 berkedip merah secara agresif.
Di luar jendela kaca anti-tekanan setebal sepuluh sentimeter, kegelapan absolut menelan semesta. Tidak ada langit biru, tidak ada bintang, dan tidak ada matahari. Yang ada hanyalah debu-debu hitam yang berterbangan di udara, berpendar samar setiap kali tersorot oleh lampu merkuri raksasa milik kendaraan berat tersebut.
Dunia lama telah runtuh, atau setidaknya begitu doktrin mutlak yang disebarkan oleh para penguasa Sovereign Spires—sembilan menara raksasa yang menembus atmosfer, tempat sisa umat manusia berlindung dari kematian.
Di luar jangkauan cahaya menara, dunia dianggap sebagai kuburan massal yang tak layak huni.
Namun, Kian tetap bergeming di kursi kemudi.
Kedua tangannya mencengkeram tuas hidrolik dengan kestabilan yang mengerikan, hampir tanpa getaran. Sementara itu, mata kirinya—yang bukan lagi jaringan daging, melainkan sebuah implan lensa mekanis kuno bernama The Probability Lens—terus berputar cepat.
Tiga lingkaran roda gigi perunggu di dalam bola mata buatannya berdesis halus, memproses data lingkungan dalam bentuk untaian angka digital berwarna biru yang terproyeksi langsung di dinding pandangannya.
«[Analisis Geografis: Distorsi Massa Tanah Terdeteksi.]
[Probabilitas Reruntuhan Menara Kuno Bangkit: 89%]
[Suhu Udara Eksternal: -12 Derajat Selsius.]»
Di kursi belakang kemudi, seorang gadis remaja dengan rambut pendek yang kaku duduk terikat sabuk pengaman berkaki empat.
Viona.
Napas gadis itu memburu, dan keringat dingin membasahi pelipisnya yang pucat.
Di dalam tas kulit yang dipeluknya erat-erat, terdapat sebingkai plat logam hitam kuno—cetak biru rahasia menuju The Eleventh Coordinate (Koordinat Kesebelas). Sebuah wilayah mitos di ujung peta dunia yang konon menyimpan kendali atas Lentera Kosmis, satu-satunya kunci untuk menghapus kegelapan abadi.
Karena plat itu pula, Viona kini menyandang status buronan tingkat tinggi yang harus diekssekusi mati oleh militer Menara Pusat.
"Kian! Mesin piston kiri kita terlalu panas! Tekanan uap sudah melewati batas aman!" teriak Viona di tengah raungan mesin diesel berdaya seribu tenaga kuda yang memekakkan telinga.
"Jika kita tidak mengurangi kecepatan sekarang, katup pembakaran akan meledak dan kita akan lumpuh di tengah jalan!"
"Kita tidak bisa melambat," sahut Kian.
Suaranya datar, sedingin es, tanpa ada riak kepanikan sedikit pun.
"Jika kita melambat, kita akan terkubur hidup-hidup di bawah tanah ini."
Tepat setelah kalimat itu selesai diucapkan, bumi di depan mereka bergemuruh hebat.
CRACK!
Tanah berpasir hitam di bawah sorot lampu sorot tiba-tiba merekah, naik ke atas seperti ombak lautan yang murka.
Sebuah bukit batu obsidian setinggi seratus meter mencuat dari perut bumi secara tidak alami. Struktur batu itu bergeser, saling mengunci, memahat dirinya sendiri menjadi sebuah formasi labirin raksasa yang langsung menutup jalur pelarian kendaraan mereka.
Geografi Hidup telah bangun.
Di luar batas cahaya menara, tanah tidak pernah mati. Ia bermutasi, bergerak, dan memangsa siapa saja yang berani menginjaknya.
Itu adalah teror alam yang sengaja disembunyikan oleh pemerintah dari masyarakat kota.
Belum sempat Viona menjerit, celah-celah bukit batu yang baru bangkit itu mulai memancarkan getaran aneh.
Udara di sekitarnya melintir, mendistorsi cahaya lampu kendaraan.
Tiga siluet hitam melesat keluar dari bayang-bayang batu dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Mereka adalah Kinetic Husks.
Manusia-manusia ekspedisi masa lalu yang gagal mengontrol energi kinetik tubuh mereka saat terjebak di dalam kegelapan.
Kini, tubuh mereka telah mengalami kematian selular—berubah menjadi makhluk hampa udara tanpa wajah, berkulit legam sekeras baja, dan bergerak memantul secepat peluru kendali.
"Viona, ambil alih kemudi! Jaga momentum roda rantai jangan sampai slip!"
Kian berdiri dari kursi kemudi tanpa menunggu jawaban.
Dia meraih sebatang tombak mekanis berbahan titanium dari kompartemen senjata di sampingnya.
Kian menghentak tuas palka atas.
Pintu besi meluncur terbuka, dan angin kegelapan yang pekat serta bertekanan tinggi langsung menampar wajahnya.
Hawa dingin yang menggigit mencoba membekukan paru-parunya, namun Kian menarik napas dengan ritme yang sangat teratur.
Ini adalah Internal Kinetic Resonance.
Kian tidak menggunakan sihir atau kekuatan gaib. Dia memanipulasi energi kinetik dari setiap guncangan kendaraan berat yang dinaikinya, menyerap getaran ekstrem itu melalui telapak kakinya, dan menyalurkannya langsung ke seluruh urat otot tubuhnya.Ini baru bagian awal yang sudah dirapikan formatnya. Untuk seluruh bab sampai Gideon muncul, hasilnya akan sangat panjang dan sebaiknya dibagi menjadi beberapa bagian agar tidak terpotong.