Emma Taylor terpaksa harus melunasi hutang pamannya kepada seorang pria asing kaya raya yang tinggal di rumah besar Anggrek Residen.
Jatuh tempo pembayaran sudah sangat dekat bagi paman Broeri untuk membayar hutang tersebut namun dia tidak mempunyai uang sepeser pun saat dia ditagih oleh pria asing kaya raya itu yang bernama Noah Jones.
Terpaksa Emma yang harus menanggung hutang tersebut kepada Noah Jones pemilik rumah Anggrek Residen.
Karena Emma Taylor juga tidak mempunyai uang buat melunasi hutang paman Broeri maka dia dipaksa membayar dengan rahimnya.
Bagaimana nasib Emma Taylor selanjutnya, sanggupkah dia melunasi hutang milik paman Broeri Goldman atau dia memilih melarikan diri.
Mari kita simak kelanjutan kisah ini dalam novel berjudul Rahim Bayaran Milik Emma.
Salam buat semua pemirsa 🎂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Nasib Buruk Emma Taylor
Emma Taylor terkesiap kaku, wajahnya membeku ketika Noah Jones memberitahukan semuanya.
Memaksakan dirinya buat menerima tawaran dari Noah Jones yang menginginkan rahimnya untuk dibuahi.
Emma Taylor berteriak keras, ia berubah histeris, ia lemparkan barang yang ada di dekatnya ke arah Noah Jones.
"Duk! Duk!"
"Pergi kau, sialan!" jerit Emma tak tertahankan emosinya. "Kubur mimpimu itu karena aku tidak sudi menerima permintanmu, Noah keparat!"
Pelipis Noah Jones berdarah akibat tergores benda tumpul yang dilemparkan oleh Emma Taylor.
Sorot mata Noah Jones berubah tajam, ia melirik Emma dari balik lengannya.
"Aku tidak sudi menerima tawaran mu itu, demi apapun juga!" teriak Emma kalap.
Rahang Noah mengeras, bibirnya mengatup rapat, di hadapannya tampak Emma Taylor berteriak-teriak marah.
"Duk! Duk!"
Suara teriakan Emma Taylor terdengar keras, muncul sejumlah orang dewasa berpakaian hitam dari arah luar, mereka masuk berhamburan dengan paniknya.
Mereka melihat Emma Taylor mengamuk histeris.
"Tuan Noah." ucap salah satu dari mereka.
"Aku baik-baik saja, tenang!" sahut Noah. "Jangan lukai dia!"
"Tapi Tuan Noah, anda diserang."
Orang-orang dewasa mencoba mendekati Emma untuk menghentikannya. Namun Noah Jones segera menahan mereka.
"Dengarkan aku! Jangan bertindak apapun juga padanya! Biarkan aku yang menanganinya!" ucap Noah.
Serentak mereka menoleh pada Noah Jones dan menghentikan laju langkah mereka semua.
"Tangkap aku!" teriak Emma.
Emma kembali menghujani Noah Jones dengan benda-benda yang ada di dekatnya.
"Jangan pikir kalian akan berhasil melakukanya. Kau pikir aku boneka yang rahimnya seenak kalian jual belikan!"
Teriakan Emma lebih lantang dari sebelumnya.
"Duk! Duk! Duk!"
Orang-orang Noah Jones bergegas menghadang ke depan, menjadikan badan mereka tameng.
Emma semakin gencar melemparkan benda-benda ke arah mereka.
"Greb!"
Noah Jones menangkap pergelangan tangan Emma dengan cepatnya.
"Apa kau gila?" bisik Noah. "Kau bisa terluka jika terus-menerus menyerang mereka."
"Apa pedulimu?!" sahut Emma dengan sorot mata nyalang. "Keparat kau!"
Emma berusaha menyerang Noah akan tetapi pria tampan itu mampu mengendalikan Emma.
"Lepaskan aku!" jerit Emma sembari meronta-ronta.
Noah Jones tampak tenang, ia hanya menatap dingin pada Emma yang mencoba melepaskan genggaman tangannya.
"Pergi!" teriak Emma sengit.
"Diam, Emma!" sahut Noah dingin.
"Kau tak akan pernah bisa membawaku! Ini rumahku!"
"Sayangnya, kau harus ikut bersamaku!" sahut Noah. "Dan aku akan memaksamu untuk ku, Emma!"
"Enak saja!" bentak Emma. "Aku bukan barang yang seenaknya kau bawa pulang ke rumahmu!"
Emma menendang paha Noah hingga pria itu kesakitan.
"Kau!" ucap Noah dengan menyipit kan mata."
"Kau minta lebih maka Aku berikan!" sahut Emma. "Rasakan ini!"
Emma menendang Noah sekali lagi, dengan gerakan cepat, Noah Jones mampu menghindari serangan itu. Ditahannya ayunan kaki Emma lalu ia tangkap lengan Emma kemudian menguncinya.
"Lepaskan aku!" jerit Emma histeris.
"Tidak akan pernah, dan jangan coba-coba melawanku." sahut Noah.
"Lepaskan aku!" teriak Emma yang terjepit oleh dekapan Noah Jones.
Noah Jones menoleh pada anak buahnya, sembari memerintah.
"Bersihkan ruangan ini. Dan bawa pria bodoh itu ke panti sosial!"
"Baik, bos." sahut mereka serentak kemudian mendekati Broeri Goldman yang tergeletak tak sadarkan diri.
Emma melirik ke arah orang-orang Noah Jones Dan bereaksi cepat.
"Apa yang akan kalian lakukan pada paman Broeri???" teriaknya. "Jangan sentuh dia. Menjauh lah dari paman Broeri!"
Emma terlihat cemas saat orang-orang Noah Jones mulai membawa paman Broeri Goldman dalam keadaan tak sadarkan diri.
Sorot mata Emma mengikuti gerakan mereka ketika pamannya dibawa pergi dari rumah ini.
"Paman Broeri. Bangun paman!" teriakan Emma mencoba menyadarkan pamannya namun suaranya nyaris tak terdengar oleh Broeri Goldman.
Noah Jones hanya menahan nafas saat ia melihat Emma sembari berkata.
"Mari kita pergi dari sini, Emma Taylor!"
Emma bereaksi keras, ia berusaha melepaskan diri dari dekapan lengan Noah Jones yang membawanya keluar rumah.
Terlihat Emma memberontak, sekuat tenaga ia melawan Noah namun sia-sia saja sebab Emma kalah kuat dari Noah.
Noah Jones membawa Emma Taylor menuju sebuah mobil jeep hitam kemudian memasukkannya ke dalam mobil tersebut.
"Kita kembali ke rumah sekarang, White!" perintahnya ketika naik ke mobil.
"Baik, Tuan Noah Jones." sahut seorang pria berwajah tegas di belakang setir mobil.
"Aku benar-benar lelah." ucap Noah sembari mengapit tubuh Emma Taylor.
Emma Taylor tak berdaya dalam dekapan lengan Noah, ia terbaring di jok belakang mobil bersama pria itu.
"Apa anda perlu hiburan, biar saya panggilkan terapis spa langganan saya?" tawar pria yang dipanggil White.
"Tidak, White. Terimakasih." sahut Noah sembari melirik tajam ke Emma Taylor.
Ujung dagunya naik sedikit kemudian ia tersenyum tipis.
"Aku sudah punya hiburan sekarang." lanjutnya.
White tersenyum ketika ia mendengar jawaban Noah Jones. Dan mobil mulai bergerak cepat.
Iring-iringan mobil hitam melaju kencang, meninggalkan halaman rumah Emma Taylor yang asri.
Suasana musim semi terasa disekitar perjalanan, sepanjang jalan, pemandangan disuguhi oleh bunga-bunga di pepohonan yang mulai tumbuh bermekaran dengan rindangnya.
Pandangan Noah Jones teralihkan, sekilas ia menikmati pemandangan diluar mobil.
"Sudah musim semi saja, waktu tak terasa berlalu secepat ini." ucapnya.
"Yah, Tuan Noah. Setelah musim dingin yang panjang, semua orang bisa menikmati hangatnya musim semi. Dan waktu siang hari menjadi lebih panjang daripada malam hari." kata White sembari menyetir.
"Baguslah, Aku suka waktu panjang di siang hari daripada malam hari. Ada pekerjaan lebih penting sekarang yang harus aku kerjakan." ucap Noah lalu menoleh ke arah Emma yang terbaring meringkuk di dekatnya.
"Apa rencana anda?" tanya White sambil melirik ke spion depan.
"Aku masih mengagendakan rencana itu sebab aku belum punya rencana apapun untuk aku kerjakan." sahut Noah.
"Masalah mengenai Nyonya
Charlotte, bagaimana selanjutnya?" tanya White dari arah kemudi mobil.
"Ada apa dengannya?" balas Noah bertanya.
"Beliau sudah menunggu kedatangan anda bahkan menelpon saya berulang-ulang kali." jawab White.
Noah Jones menatap dari sudut matanya ke arah White dan menjawab.
"Urusan Nenek Charlotte biar aku saja yang menghandle, dia akan menunggu dan mengerti kesibukan ku." sahut Noah Jones. "Pastinya nenek akan bersedia bersabar dengan tuntutannya."
"Saya mengerti." ucap White lalu fokus pada jalan di depan mobil.
Hening lima detik ketika mobil melaju kencang di jalanan aspal licin.
Perhatian Noah Jones kembali tertuju pada Emma Taylor, ia dudukkan perempuan itu dengan tetap mengunci kedua lengannya.
Emma Taylor bereaksi keras, ia mulai melawan Noah. Dengan sigapnya Noah berhasil mengalahkannya.
"Cobalah tenang, nona!" perintah Noah.
"Tidak akan. Lepaskan aku sekarang juga!" sahut Emma meronta-ronta.
"Sebentar lagi kita sampai tujuan, dan aku akan memberitahu kan padamu sesuatu yang lebih penting." ucap Noah Jones.
"Apa peduliku." sahut Emma melotot tajam.
"Bukan masalah besar yang harus kau cemaskan sebab aku hanya menunjukkan padamu yang seharusnya aku tunjukkan untukmu." ucap Noah.
"Dan kau mencoba memerasku dengan cara licikmu, Tuan Noah Jones. Kau pikir kau berkuasa terhadapku. Asal kau tahu saja bahwa aku bukan perempuan lemah yang bisa kau kendalikan seperti yang kau pikirkan." sahut Emma ketus.
Noah Jones menatap dingin, ekspresi nya datar ketika ia memandang wajah cantik milik Emma Taylor di hadapannya.
Tatapan Noah Jones membuat Emma sedikit gentar, bahkan membuat Emma khawatir sehingga ia palingkan wajahnya dari Noah.
Namun tatapan kedua mata berwarna biru itu berubah tampak teduh ketika ia melihat reaksi gugup Emma, tatapan itu agak redup bahkan terkesan hangat dari sebelumnya.
Terdengar suara serak dari Noah Jones saat ia berbicara pada Emma Taylor.
"Kau boleh berbicara semaumu sekarang. Dan aku tidak akan melarangnya. Kembali perlu kau ingat dan sadari saja bahwa kau adalah milikku, Emma." ucap Noah datar.