Mereka pikir semuanya telah berakhir sejak kematian Leonardo Valerio. Namun dunia gelap tidak pernah benar-benar melupakan darah yang pernah berkuasa.
Leonardo Valerio memang telah mati, tapi warisan darahnya belum berakhir. Saat ancaman mulai mengincar Alessandro, Nadira dipaksa kembali ke dunia gelap yang pernah menghancurkan hidupnya.
Di balik bayangan, musuh lama bangkit, rahasia lama terbuka, dan sifat dingin Leonardo perlahan muncul dalam diri putranya.
Karena darah mafia tidak pernah benar-benar hilang, dan sang pewaris akhirnya mulai bangkit.
**RED ASHES SEASON II**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Dikubur
Hujan turun tipis membasahi jalanan Jakarta malam itu.
Dari balik kaca gedung pencakar langit, Alessandro berdiri diam sambil menatap lampu kota, yang berkilauan seperti lautan api.
Tangannya memegang gelas whiskey setengah penuh, wajahnya tenang, terlalu tenang untuk pria berusia dua puluh tujuh tahun, yang baru saja menutup transaksi miliaran rupiah tanpa sedikit pun ada raut wajah gugup.
Di belakangnya, layar besar di ruang kerja masih menampilkan grafik saham perusahaan teknologi miliknya.
VALERION TECH.
Nama yang sengaja ia pilih tanpa berpikir panjang bertahun-tahun lalu. Dan sekarang ia mulai membenci nama itu.
"Meeting Tokyo besok pagi sudah dikonfirmasi, Tuan Alessandro."
Suara asistennya memecah keheningan, Alessandro tidak menoleh.
"Batalkan meeting itu."
Pria paruh baya itu terlihat bingung, "Tapi investor Jepang sudah tiba di Jakarta, Tuan."
"Aku bilang batalkan."
Nada suaranya rendah, tapi cukup membuat ruangan mendadak terasa dingin.
Asistennya langsung menunduk, "Baik, Tuan."
Begitu pintu tertutup kembali, Alessandro menghembuskan napas panjang. Belakangan ini ia sulit tidur, sulit berpikir, dan yang paling menganggu adalah mimpi lama yang mulai kembali muncul.
Ruangan gelap, bau darah, suara tembakan, dan seorang pria bermata dingin, yang selalu berdiri membelakanginya.
Leonardo Valerio, yang tak lain ayahnya sendiri. Nama yang selama bertahun-tahun berusaha ia kubur dalam hidupnya.
Tetapi semakin ia mencoba melupakan, semakin dunia seperti memaksanya mengingat.
Ponsel di meja tiba-tiba bergetar, nomor tak dikenal. Alessandro mengangkat tanpa banyak berpikir.
...📞...
"Ya?"
Selama beberapa detik tidak ada jawaban, lalu suara berat seorang pria terdengar samar.
^^^"Sudah lama, Tuan Muda Valerio."^^^
Tubuh Alessandro langsung menegang, tatapannya berubah dingin dalam sekejap.
"Siapa ini?"
Pria di seberang tertawa kecil.
^^^"Ternyata darah itu memang tidak pernah hilang."^^^
Klik.
Sambungan terputus, ruangan mendadak terasa sunyi. Alessandro menatap layar ponselnya lama, jantungnya berdetak keras.
Bukan karena takut, tapi karena nama Valerio. Nama yang sudah beberapa tahun, tidak pernah ada yang berani mengucapkannya terutama di hadapannya.
Bahkan Nadira selalu melarang siapa pun untuk membahas masa lalu keluarga mereka.
Perlahan rahang Alessandro mengeras, ia membuka laci meja dan mengeluarkan pistol hitam yang tersimpan rapi di dalamnya.
Tatapannya kosong saat jemarinya menyentuh senjata itu, tangannya terasa terlalu familiar. Seolah kekerasan memang sudah mengalir dalam darahnya sejak lahir.
Pukul satu dini hari, Alessandro akhirnya tiba di rumah.
Rumah besar modern di kawasan elite Jakarta itu, terlihat tenang dari luar. Namun begitu ia masuk, aroma teh melati langsung menyambutnya.
Nadira masih belum tidur, wanita itu duduk di ruang tengah sambil membaca buku, mengenakan cardigan putih sederhana.
Usianya bertambah, tetapi matanya masih menyimpan kelembutan yang sama seperti dulu.
Dan juga ketakutan yang tidak pernah benar-benar hilang.
"Kamu pulang terlambat lagi," ucap Nadira pelan.
Alessandro meletakkan jasnya sembarangan. "Ada sedikit pekerjaan."
"Kamu kelihatan begitu lelah."
"Aku baik-baik saja, Ma."
Nadira menutup bukunya perlahan, "Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Alessandro terdiam sesaat, entah kenapa ia merasa ragu untuk menceritakan telepon tadi.
Tetapi wajah pria itu akhirnya mengeras.
"Seseorang sudah memanggilku dengan nama itu."
Nadira langsung membeku, gelas teh di tangannya bergetar kecil. Untuk beberapa detik, wanita itu tidak berkata apa-apa.
Namun Alessandro bisa melihat jelas perubahan ekspresi di wajah ibunya.
Panik.
Takut.
Dan trauma lama yang tiba-tiba bangkit kembali.
"Siapa dia?" suara Nadira hampir berbisik.
"Aku juga tidak tahu, Ma. Tapi dia memanggilku Tuan Muda Valerio."
Wajah Nadira langsung memucat, ia berdiri terlalu cepat hingga kursinya bergeser keras.
"Tidak," napasnya memburu. "Tidak... mereka tidak mungkin menemukanmu secepat ini."
"Mereka? Maksudnya?"
Nadira menunduk seolah baru sadar telah mengatakan sesuatu yang salah, ruangan mendadak terasa berat.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Alessandro dingin.
Nadira menggeleng cepat, "Kamu tidak perlu tahu."
"Aku berhak tahu semuanya, Ma. Aku sudah dewasa, dan aku bukan anak kecil lagi."
"Justru itu yang membuat Mama takut dengan semua ini."
Kalimat itu membuat Alessandro terdiam, Nadira mendekat, memegang wajah putranya dengan tangan gemetar.
"Dengarkan Mama baik-baik," suaranya lirih nakun penuh tekanan. "Kalau seseorang mulai mencari nama Valerio lagi, itu artinya dunia lama ayahmu mulai bangkit."
Tatapan Alessandro berubah gelap, "Ayah sudah lama mati."
"Memang benar, ayahmu sudah lama mati. Tapi seorang mafia tidak pernah benar-benar mati."
Seketika suasana menjadi hening, hanya ada suara hujan di luar yang semakin jelas.
Nadira perlahan menunduk, "Ayahmu punya terlalu banyak rahasia, dan terlalu banyak musuh."
"Kalau begitu, kenapa Mama menyembunyikan semuanya dariku?" ucap Alessandro dengan tatapan tajam.
"Karena Mama hanya ingin, kamu hidup seperti manusia biasa. Tidak ada campur tangan ya dengan dunia gelap seperti ayahmu."
Jawaban itu hampir keluar dari bibir Nadira, namun ia tidak mampu mengatakannya. Sebab jauh di dalam dirinya, ia tahu bahwa Alessandro tidak benar-benar biasa.
Tatapan dingin itu, cara ia menekan emosi, cara semua orang perlahan tunduk padanya. Semakin hari, putranya semakin mirip dengan Leonardo. Dan itu menghancurkan Nadira sedikit demi sedikit.
"Mulai besok," ucap Nadira pelan. "Tinggalkan kota Jakarta untuk sementara."
Alessandro langsung menggeleng, "Aku tidak akan lari dari semua ini. Jika aku lari, maka sama saja aku dengan seorang pengecut."
"Kamu tidak tahu, dunia seperti apa yang saat ini sedang mendekat padamu."
"Aku juga bukan anak kecil lagi, Ma."
Untuk beberapa detik, Nadira seperti melihat Leonardo berdiri di hadapannya. Pria yang dulu pernah ia cintai, dan paling ia takuti.
Nadira melepaskan wajah Alessandro, matanya mulai berkaca-kaca.
"Mama sudah kehilangan ayahmu karena dunia gelap itu," bisiknya. "Jadi Mama tidak mau kehilangan kamu juga."
Alessandro menatap ibunya lama, ada sesuatu dalam dadanya yang terasa sesak.
Ia mencintai Nadira, wanita itu adalah satu-satunya alasan ia masih mencoba hidup normal.
Tetapi semakin banyak rahasia yang disembunyikan, semakin besar keinginannya untuk mencari tahu semuanya sendiri.
Ponselnya kembali bergetar, nomor tidak di kenal kembali menghubunginya.
Kali ini hanya pesan singkat.
"WARISAN TIDAK BISA DIKUBUR, ALESSANDRO. KARENA MEREKA SUDAH MENUNGGU RAJA YANG BARU."
Tatapan Alessandro langsung berubah dingin, Nadira yang melihatnya perlahan ikut menegang.
"Ada apa, Nak?"
Alessandro tidak langsung menjawab, ia hanya mematikan layar ponselnya. Namun sesuatu dalam dirinya mulai bergerak.
Sesuatu yang selama beberapa tahun ia tekan jauh di dalam kegelapan.
Insting.
Amarah.
Dan rasa penasaran yang berbahaya.
"Apa pun yang sedang terjadi," ucapnya pelan. "Maka aku akan tetap menyelesaikannya."
Nadira menggeleng cepat, "Tidak. Mama mohon jangan cari mereka."
Tapi sudah terlambat, karena tanpa Nadira sadari, dunia gelap itu sudah lebih menemukan Alessandro.
Di tempat lain, sebuah ruangan remang dengan layar komputer yang menyala redup.
Seorang pria bertubuh tinggi, berdiri menghadap jendela sambil memegang sebuah rokok.
Tatapan matanya begitu dingin, bekas luka panjang terlihat samar di sisi lehernya.
Viktor Karev.
Di belakangnya, salah satu anak buah menyerahkan tablet hitam.
"Target sudah menerima pesannya."
Viktor melihat foto Alessandro di layar, wajah mudah, tatapan tenang, dan aura dingin yang sangat familiar.
Pria itu tersenyum tipis, senyum yang lebih menyeramkan daripada kemarahan.
"Leonardo," gumamnya lirih. "Putramu ternyata tumbuh jauh lebih menarik dari yang kubayangkan."
Pria itu menatap langit malam Jakarta.
"Asal kamu tidak mengecewakanku, Tuan Muda Valerio," lanjutnya.
Lalu layar monitor di ruangan itu menyala, menampilkan simbol merah berbentuk mahkota.
Simbol organisasi lama, yang seharusnya sudah mati beberapa tahun yang lalu.
RED ASHES.
Dan malam itu, nama Valerio mulai bangkit dari kuburnya.