NovelToon NovelToon
Aku Bukan Anak Tiri

Aku Bukan Anak Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Romansa / Misteri
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Rosanda_27

Kasih Permata Sari—
gadis yang lahir tidak sempurna, dengan satu kaki yang tak berfungsi.

Sejak kecil, ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari ibunya, Rani, yang menganggapnya sebagai aib keluarga. Satu-satunya tempat Kasih bersandar hanyalah ayahnya, Raka—hingga sebuah malam mengubah segalanya.

Kecelakaan itu merenggut nyawa Raka.
Dan sejak saat itu, Kasih tumbuh bukan dengan cinta—melainkan trauma.

Kini, di balik sosoknya yang tenang dan kuat, tersembunyi rahasia besar.
Ia bukan sekadar siswi berprestasi—
Kasih adalah pemilik perusahaan besar… tanpa seorang pun mengetahuinya.

Kehidupannya mulai berubah saat dua orang masuk ke dunianya.

Edghan—yang perlahan mendekat, mencoba memahami dua sisi Kasih yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
Dan Zevan—seseorang dari masa lalu yang kembali, membawa kebenaran yang selama ini tersembunyi.

Kebenaran tentang keluarganya.
Tentang kecelakaan itu.
Dan tentang dirinya sendiri.

Di balik kebenaran yang perlahan terungkap—
siapa yang sebenarnya paling mengenal Kasih?

Dan di antara dua pilihan yang datang bersamaan—

siapa yang akan berhasil mendapatkan hatinya…
sebelum semuanya terlambat? 🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosanda_27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Raisa Clarissa Pratama

Pagi itu datang dengan cahaya yang berbeda.

Sinar matahari menyelinap masuk melalui celah tirai, jatuh lembut di lantai ruang tamu.

Rumah yang biasanya sunyi kini dipenuhi suara baru—tawa kecil yang jernih, langkah kaki mungil yang belum stabil, dan celotehan tanpa arti yang justru menghangatkan suasana.

Raisa, anak kecil berusia satu tahun itu duduk di atas karpet, memainkan boneka kain dengan penuh antusias. Tangannya yang kecil meremas boneka itu, lalu tertawa lepas, seolah dunia hanyalah tempat yang aman dan penuh kasih.

Tawa itu… hidup.

Berbeda.

Rani duduk tak jauh darinya. Tatapannya tertuju penuh pada Raisa—lembut, hangat… bahkan sesekali bibirnya melengkung membentuk senyum yang tulus.

Senyum yang… tak pernah muncul untuk seseorang yang lain.

Di ambang pintu kamar—

Raka berdiri, Kasih berada dalam gendongannya.

Tubuh bayi itu kecil. Terlalu tenang untuk usianya. Napasnya halus, matanya terbuka perlahan, menatap kosong tanpa arah yang jelas.

Tak ada tawa.

Tak ada celoteh.

Hanya diam.

Raka menatap ke ruang tamu, melihat Rani… tertawa, melihat Raisa… dipeluk, disentuh, dicium pipinya dengan penuh kasih.

Dan di tangannya—

Kasih hanya diam, dadanya terasa sesak.

Ada sesuatu yang retak di dalam dirinya.

Beberapa jam sebelumnya…

Pintu rumah terbuka.

“Rani…”

Suara itu membuat Rani menoleh cepat.

“Mas Hendra…” ucapnya pelan, lalu segera bangkit dan memeluk kakaknya.

Pelukan itu hangat.

Tulus.

Seolah ia benar-benar merindukannya.

Di belakangnya, Mbak Nisa tersenyum sambil menggendong Raisa. Anak kecil itu langsung mengulurkan tangan ke arah Rani, tertawa kecil tanpa ragu.

Dan tanpa berpikir panjang—

Rani menyambutnya, menggendongnya, dan memeluknya, seolah itu adalah hal paling alami di dunia.

Tanpa ada keraguan.

Tanpa ada jarak.

Raka yang berdiri di dekat sana hanya diam.

Matanya sempat melirik ke arah kamar.

Ke arah tempat di mana bayi mereka berada—

sendiri.

Percakapan berjalan hangat, namun perlahan berubah, nada suara menjadi lebih hati-hati.

Hingga akhirnya—

“Kami ingin menitipkan Raisa ke kamu, Ran…”

Kalimat itu menggantung di udara.

Dan untuk sesaat—

waktu terasa berhenti.

Rani terdiam.

Namun bukan karena ragu sepenuhnya.

Ada sesuatu yang lain.

Sesuatu yang justru… terasa seperti jawaban.

Matanya kembali melihat Raisa dalam gendongannya.

Anak itu tertawa kecil, memainkan ujung rambutnya.

Hati Rani bergetar—

bukan karena beratnya keputusan, tapi karena… hangatnya rasa itu.

Rasa yang tidak pernah ia rasakan saat memeluk anaknya sendiri.

“Iya, Mas,” jawabnya akhirnya.

Tanpa sadar—

tanpa jeda panjang—

tanpa benar-benar menoleh ke arah kamar tempat Kasih berada.

Perpisahan terjadi cepat, dan ketika mobil itu pergi, Raisa menangis dengan keras, sambil memanggil ibunya.

Rani langsung menggendongnya.

Mengayun.

Menenangkan.

Suaranya lembut.

Sentuhannya hangat.

Dan untuk pertama kalinya—

sejak ia melahirkan—

ia benar-benar bertindak seperti seorang ibu.

Hari pertama.

Raisa tidak berhenti menangis, Ia mencari seseorang yang tak ada, dan Rani… ada di sana.

Menggendongnya berjam-jam tanpa lelah.

Menenangkannya dengan sabar.

Bahkan ketika tangannya pegal, ia tidak mengeluh.

Di kamar—

Kasih menangis pelan, hampir tak terdengar.

Tangis kecil yang terputus-putus, seolah bahkan ia pun… tidak berani meminta lebih.

Namun Rani tidak datang.

Tidak sekali pun.

Yang datang adalah Raka.

Dengan langkah cepat.

Dengan wajah panik.

Dengan tangan yang gemetar saat menggendongnya.

“Maaf… maaf ya…” bisiknya berulang kali.

Hari kedua.

Rumah menjadi lebih hidup, Raisa mulai tertawa lagi, Ia mengikuti Rani ke mana pun, memanggil… walau belum jelas.

Dan setiap kali itu—

Rani menjawab.

Dengan senyum.

Dengan suara lembut.

Dengan pelukan.

Namun—

di sisi lain rumah—

Kasih kembali terbaring, sendiri, tangannya bergerak kecil, kakinya… diam, matanya terbuka.

Tatapannya menatap langit-langit.

Tak ada yang membalas tatapannya.

Tak ada wajah yang mendekat.

Tak ada suara yang memanggil namanya.

Bahkan—

namanya pun jarang disebut.

Raka masuk, mengangkatnya perlahan.

Bayi itu diam.

Selalu diam.

Dan justru itulah yang paling menyakitkan.

“Menangislah…” bisik Raka lirih.

“Tolong… menangis…”

Tapi Kasih hanya menatapnya.

Tenang.

Sepi.

Seolah ia sudah belajar—

bahwa tangisnya tidak akan mengubah apa-apa.

Hari ketiga.

Perbedaan itu semakin jelas, Rani duduk di lantai, tertawa bersama Raisa, menyuapinya makan, mengelap mulutnya dengan lembut, bahkan mencium keningnya dengan penuh kasih.

Di saat yang sama—

Kasih terbangun dari tidurnya, tangannya bergerak kecil, mulutnya terbuka seperti ingin menangis.

Namun suara itu tidak keluar, hanya desah pelan.

Tak cukup keras untuk didengar.

Tak cukup penting untuk dicari.

Raka datang.

Selalu Raka.

Ia menggendongnya, memeluknya lebih erat dari biasanya, matanya memerah.

“Maafkan Ayah…” bisiknya.

“Maaf… karena Ayah tidak bisa membuat Ibumu melihatmu…”

Sore itu—

untuk pertama kalinya Raka mencoba bicara.

“Ran…”

Rani menoleh sebentar.

“Iya?”

“Aku…” Raka terdiam.

Matanya menatap Raisa yang sedang tertawa di pelukan Rani.

Lalu—

ke arah kamar, tempat Kasih berada sendiri.

Ia ingin mengucapkan sesuatu, namun kata-kata itu tidak pernah berhasil keluar.

Karena ia tahu—

Rani belum siap mendengar.

Atau mungkin…

tidak ingin mendengar.

“Tidak apa-apa,” ucapnya akhirnya.

Kalimat yang terasa seperti menyerah.

Malam itu Raisa tertidur dalam pelukan Rani, dipeluk erat, diusap lembut, ditemani hingga benar-benar terlelap.

Rani menatap wajah kecil itu lama.

Ada rasa damai di sana.

Rasa penuh.

Rasa… cukup.

Namun di kamar sebelah—

lampu redup menyala, Raka duduk sendirian.

Kasih tertidur di pangkuannya.

Tidak dipeluk sebelumnya.

Tidak ditenangkan sebelumnya.

Hanya tertidur… karena lelah.

Karena tidak ada yang datang.

Raka menatap wajah kecil itu.

Lama.

Sangat lama.

Tangannya mengusap pipinya perlahan.

“Dunia mungkin tidak menyambutmu…” bisiknya pelan.

“…bahkan dari rumahmu sendiri.”

Suaranya pecah.

“…tapi Ayah janji…”

“…Ayah tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian.”

Ia mencium kening Kasih dengan penuh hati-hati, seolah takut melukainya.

Seolah takut—

kehilangan satu-satunya yang masih ia miliki.

Dan malam itu—

di bawah satu atap yang sama—

dua anak tertidur.

Satu dalam pelukan penuh kasih.

Satu… dalam diam yang tak pernah dipilihnya.

Dan seorang ibu—

tanpa sadar—

telah memilih.

1
Mitha Aj
puas bngt liat raisa kesal
Mazree Gati
tuh kan gara2 bertopeng jadi pembohong kaya authorrr,,,terutama pada dr nita
Mazree Gati
baju klo bahunya kebuka jadi sangat mahal ya
Mazree Gati
kenapa pake topeng bikin bertele tele, ,,skip,,,nunggu endingnya aja,end,,,
Rosanda_27: Sabar kak, ini masih awal, ceritanya enggak bakalan seru kalo masih di awal identitasnya terungkap.
total 1 replies
Mazree Gati
nengok sebentar,, najong kata gitu aja di ulang ulang,,oon
Mazree Gati
baru baca bab ini uda ga respek,, kasih terlalu lemah, ,end,,,
Ssl Mda
suka bgt sm kasihhh 🤭🤭
Lysia Novianna
kasian wehh😐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!