NovelToon NovelToon
Janda Desa Kesayangan Presdir

Janda Desa Kesayangan Presdir

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Janda / Tamat
Popularitas:250.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.

Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.

Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.

Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter² — Lidah Desa.

Pagi di desa selalu datang dengan cara yang sama. Ayam berkokok, kabut terangkat perlahan, dan suara orang-orang yang merasa berhak atas cerita hidup orang lain.

Lastri merasakannya sejak langkah pertama keluar rumah orang tuanya.

Ia berjalan menyusuri jalan tanah menuju warung untuk membeli kebutuhan dapur. Biasanya sapaan akan datang lebih dulu, senyum tipis serta anggukan kecil dari orang-orang sekitar. Kini, yang datang lebih dulu adalah diam mereka. Diam yang berat, dipenuhi mata-mata yang memeriksa, menimbang, lalu menjatuhkan vonis tanpa suara.

“Si Janda datang,” bisik seseorang, tidak cukup pelan untuk disebut bisikan.

Lastri tetap melangkah, ia sudah belajar bahwa berhenti hanya akan memberi waktu bagi luka untuk memilih tempat paling dalam.

Di warkop Mak Rinah, beberapa laki-laki berkumpul. Tangan mereka sibuk mengaduk kopi, lidah mereka lebih sibuk lagi.

“Zaman sekarang ya,” kata seseorang, suaranya dibuat prihatin. “Istri malah buka aib suami sendiri.”

“Katanya demi kebenaran,” sahut yang lain, berdecak pelan. “Tapi kan bisa dibicarakan baik-baik, ini malah diumbar ke internet! Nggak tahu malu.”

“Kasihan Pak Kades,” lanjut suara itu. “Sudah mengabdi untuk desa kita, malah dijatuhkan oleh istrinya sendiri.”

Lastri hanya tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip garis lurus orang yang menahan diri agar tidak berkata apa-apa.

Di warung, Lastri bertemu Bu Narti. Perempuan itu menatap Lastri sekilas, lalu cepat-cepat membayar belanjaannya.

“Kamu kuat juga ya denger orang-orang ngomongin kamu, Las,“ katanya akhirnya.

Lastri mengangguk. “Kuat itu pilihan, Bu. Kalau saya lemah, siapa yang akan melindungi saya?”

Bu Narti tidak menjawab. Ia menghindari tatapan Lastri, seolah kekuatan itu menular dan bisa membuatnya ikut terseret.

Ketika Lastri pulang, halaman rumah sudah ramai. Dua orang perangkat desa berdiri di dekat pagar. Wajah mereka resmi, sikap mereka dingin.

“Kami hanya mengingatkan,” kata salah satunya, tanpa basa-basi. “Keluarga ini sebaiknya menjaga sikap, jangan bikin kegaduhan lagi.”

Ayah Lastri keluar, punggungnya sedikit membungkuk tapi suaranya tetap tegas. “Anak saya sudah diceraikan, apalagi yang harus kami jaga?”

Perangkat desa itu tersenyum tipis. “Nama baik desa.”

Lastri melangkah maju. “Nama baik yang mana? Yang dibangun dari kebohongan atau yang dirusak oleh kejujuran?”

Tak ada jawaban, tapi mereka pergi dengan pesan yang tidak tertulis "diamlah, atau kami akan membuat hidupmu lebih sulit!"

Siang itu, gosip berubah menjadi tindakan.

Ibu Lastri yang biasanya diminta membantu menyiapkan konsumsi pengajian, kini tidak lagi dipanggil. Ayahnya yang sering diminta pendapat soal sawah desa, kini dilangkahi. Seolah-olah keberanian Lastri adalah penyakit yang bisa menular ke darah orang tuanya.

“Sudahlah, Nak,” kata ibunya pelan saat sore turun. “Biarkan saja.”

Lastri menggenggam tangan ibunya. “Justru karena Lastri anak Ibu, jadi Lastri nggak bisa diam saja.”

Malamnya, Malvin duduk di penginapan kecil dekat balai desa. Lampu redup, kipasnya berdecit. Di tangannya ponsel terbuka, menampilkan potongan komentar, video yang sudah beredar luas di desa itu—Desa Dermaga.

Ia membaca pelan. Bukan videonya yang membuat dadanya terasa berat, melainkan cara orang-orang menulis tentang Lastri. Tentang perempuan yang mereka kenal sejak kecil, kini diperas menjadi satu kata... janda.

Malvin menutup ponsel, ia teringat tatapan Lastri di sawah. Begitu tenang, tidak meminta dikasihani.

Keesokan harinya Malvin sengaja duduk di warung kopi Mak Rinah, lalu memesan secangkir kopi hitam.

“Orang baru ya?” tanya Mak Rinah, sambil menuang air panas.

“Iya,” jawab Malvin. “Katanya desa ini warganya rukun-rukun, ya.”

Mak Rinah terkekeh. “Rukun itu kalau sependapat.”

Malvin mengangkat alis. “Kalau beda?”

“Ya siap-siap disingkirkan,” jawab Mak Rinah ringan, seolah sedang membicarakan cuaca.

Disingkirkan, seperti Lastri kah? Pikir Malvin.

Sore hari, Malvin melihat Lastri kembali ke sawah. Ia berjalan agak jauh di belakang, tidak ingin mengganggu wanita janda itu.

Lastri berhenti di pematang, perempuan berusia 25 tahun itu menatap padi yang mulai menguning. Di wajahnya, ada lelah yang tidak diberi tempat untuk jatuh.

“Perempuan menarik,” gumam Malvin tanpa suara.

Sementara di balai desa, Surya duduk dengan para tokoh masyarakat. Wajahnya serius, nada bicaranya sangat santun.

“Kita harus menjaga ketertiban, jangan sampai ada yang merusak kepercayaan. Termasuk... jangan mudah percaya fitnah keji yang dilontarkan oleh seorang perempuan!“

Nama Lastri tidak disebut, tapi semua orang tahu siapa yang dimaksud. Dari pihak Surya, bantuan pun dibagikan. Ada paket sembako yang ditata rapi, disertai amplop tipis yang berpindah tangan dengan senyap. Tidak ada kata yang diucapkan, namun maksudnya terang benderang. Simpati dibeli, keberpihakan diarahkan, agar tekanan pada Lastri tak pernah benar-benar surut.

1
Mr. Dinatha
bisa di wakilkan oleh wali hakim jika wali sah tidak ada ataupun ada uzur yang membuatnya gugur sebagai wali
Mr. Dinatha
wkwkwk...
Lastri udah nggak kuku ya?🤔🤔🫣😁😁
Landasan sudah siap untuk landing pesawat Capt 🤣🤣🤣
Mr. Dinatha
novelnya emang halu..
tapi kok kelakuan kebanyakan oknum pejabat dan katanya oknum anggota dewan negara Kanohadibuat Real Thor?🫣🫣😁😁
Mr. Dinatha: oh iya.. maaf..🙏
bagusnya bisik bisik aja di status medsos ya?🤣🤣🤣
total 2 replies
Mr. Dinatha
Kayaknya si bapak sharelok kuburan deh🤣🤣🤣
Mr. Dinatha
wkwkwk...
vin.. 2 adekmu emang luck nut 🫣🫣🤣🤣
Mr. Dinatha
sesuai perkembangan tatanan bahasa Indonesia.. istilah ibu tiri sudah mulai Ditinggalkan.. menjadi ibu sambung yang bermakna lebih positif.
mungkin di novel juga lebih baik menggunakan istilah ini
Mr. Dinatha
wkwkwk...
ngontrak aja sekalian vin😁😁😁
Mr. Dinatha
Pucuk dicinta Saat kawin pun tiba 😁
ehhh.. nikah 🤣🤣
Mr. Dinatha
kasihan desa ini.
warganya penuh dengan nilai kemunafikan..
Diberikan tanah yang subur tapi mereka lupa akan ajaran agamanya
Mr. Dinatha
Kalo menurut saya bukan ketakutan sih Thor.
labih kedasar sifat munafik yang dipelihara turun temurun..
sehingga kata jujur dan berjuang untuk bersama merupakan sebuah barang antik nan langka 😁
Mr. Dinatha
heran..
kenapa umumnya yang judes dan merendahkan status janda itu adalah wanita.. apa mereka tidak berpikir bahwa mereka juga berpotensi besar menjadi Janda
Wenty Lucia Wardhani
keren si Thor
Suyati
tanks mba re
Suyati
mudah"an Alexa suka ma lastri
guntur 1609
keren novel mu Thor aku sangat suka
guntur 1609
rasain kau kalvin. kau kejam
guntur 1609
makasih thir atas infonya
guntur 1609
ohh brti malvin hot duda.. sabar ya Alexa. papa lagi sibuk cari mama baru tk mu🤣🤣🤣🤣🤭😄
guntur 1609
polisikan saja knp apa. dengan kasus pencemaran nama baik
guntur 1609
ni definisi ustadz gadungan tuh. m gkn dia juga salah satu pengikutnya di kades 🐒 tu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!