NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Pebinor

Dahaga Sang Pebinor

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.

Semua orang tahu Kirana sudah menikah.

Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.

Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.

Aiden Pradana.

CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.

Awalnya Aiden hanya penasaran.

Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.

Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.

Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.

Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Tidak Tertarik

Pukul delapan pagi, suasana lantai tiga puluh dua Pradana Group sudah sibuk seperti biasa. Para karyawan berlalu-lalang membawa dokumen, beberapa lainnya sibuk mengejar tenggat waktu yang semakin dekat.

Di tengah kesibukan itu, satu nama selalu menjadi bahan pembicaraan para pegawai baru. Kirana Maheswari, bukan karena wanita itu ramah, justru sebaliknya. Kirana dikenal sebagai sekretaris pribadi CEO yang sangat profesional dan sulit didekati. Ia tidak pernah ikut bergosip di pantry, tidak pernah terlihat makan siang beramai-ramai dan selalu pulang tepat waktu setelah pekerjaannya selesai.

"Aku baru nyapa dia tadi pagi," bisik seorang staf baru.

"Terus?"

"Cuma dijawab satu kata."

"Itu sudah bagus." Temannya langsung mengangguk.

"Hah?"

"Minggu lalu aku tanya cuaca."

"Lalu?"

"'Panas.'"

"Cuma itu?" Staf baru itu melongo.

"Cuma itu."

Mereka langsung tertawa pelan. Di saat yang sama, Kirana sedang berjalan menuju ruang CEO sambil membawa beberapa berkas penting. Langkahnya tenang dan teratur, ekspresinya datar seperti biasa.

Tok tok tok

"Masuk."

"Tuan Aiden, laporan investasi kuartal kedua." Kirana membuka pintu.

Aiden yang sedang memainkan pulpen langsung mengangkat kepala.

"Pagi, Kirana." Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Pagi," jawab Kirana datar.

"Kamu sudah sarapan?"

"Sudah." Kirana meletakkan berkas di meja.

"Lauknya apa?"

"Nasi." Wanita itu menatapnya sebentar.

"Nasi itu bukan lauk." Aiden berkedip.

"Kenyang."

Setelah mengatakan itu, Kirana berbalik dan berjalan keluar.

Pintu tertutup, ruangan mendadak sunyi. Beberapa detik kemudian Gavin yang duduk di sofa mulai tertawa.

"Apa?" Aiden menatap sahabatnya.

"Bos."

"Hm?"

"Barusan itu percakapan atau wawancara gagal?"

Aiden melempar pulpen ke arahnya dan Gavin tertawa lebih keras.

Setengah jam kemudian, Aiden masih membaca laporan atau setidaknya berusaha membaca karena pikirannya justru terus mengingat percakapan singkat tadi.

"Nasi." Aiden menggeleng. "Aneh."

"Siapa?" Gavin mendongak dari laptop.

"Kirana," jawab Aiden dengan terus membaca dokumen di tangannya.

"Tentu saja."

"Dia selalu menjawab seperlunya," ucap Aiden lagi.

"Karena dia sekretaris."

"Orang lain tetap bisa mengobrol," bantah Aiden.

"Orang lain bukan Kirana."

"Aku belum pernah bertemu wanita seperti dia." Aiden menyandarkan tubuhnya.

"Nah." Gavin langsung menutup laptop.

"Nah apa?"

"Gejala awal."

"Gejala apa?" tanya Aiden lagi.

"Ketertarikan."

"Jangan mengada-ada." Aiden mendengus.

"Bos bahkan hafal jawaban sarapannya." Gavin menunjuk wajahnya.

"Itu bukan hafal."

"Tiga puluh detik lalu Bos mengulang kata nasi sambil melamun."

Aiden terdiam dan Gavin langsung tertawa puas.

.

Sementara itu, di ruang kerjanya, Kirana sedang memeriksa jadwal rapat ketika ponselnya bergetar. Satu pesan masuk dari Rendra, Kirana langsung membukanya.

Lembur. Pulang malam.

Hanya itu, tidak ada penjelasan, tidak ada emotikon. Tidak ada kalimat lain. Tatapan Kirana sedikit meredup, sudah hampir dua bulan terakhir pesan-pesan dari suaminya selalu singkat. Dulu mereka sering bertukar cerita, sekarang bahkan makan malam bersama menjadi sesuatu yang langka.

Kirana menarik napas pelan lalu kembali bekerja. Karena pekerjaan jauh lebih mudah dihadapi daripada perasaan.

.

Siang hari, Aiden baru saja keluar dari ruang rapat. Saat melewati pantry, ia melihat Kirana sedang menuangkan air panas ke dalam gelas. Aiden langsung berjalan ke sana.

"Kirana."

"Iya, Tuan?" Wanita itu menoleh.

"Kamu makan siang di mana?" tanya Aiden.

"Di sini," jawab Kirana singkat.

"Sendiri?" tanya Aiden lagi.

"Iya."

"Kenapa?"

"Karena saya lapar." Kirana tampak bingung.

"Maksudku kenapa tidak bersama teman-teman?" Aiden menahan senyum.

"Saya lebih nyaman sendiri."

"Oh."

Kirana kembali menuangkan air dan Aiden masih berdiri.

"Ada lagi?" Kirana menoleh lagi.

"Ya."

"Apa?"

"Aku juga makan sendiri."

"Semoga kenyang." Kirana mengangguk.

Lalu ia pergi begitu saja dan Aiden hanya bisa membeku. Benar-benar pergi, tanpa memberi kesempatan untuk melanjutkan percakapan.

Dari meja pantry, beberapa karyawan yang mengintip langsung menunduk panik. Mereka pura-pura sibuk saat Aiden menoleh.

.

Sore harinya, Gavin masuk ke ruang CEO sambil membawa kopi.

"Bos."

"Hm."

"Tadi pantry."

"Jangan dibahas." Aiden langsung mendesah.

"Seluruh lantai sudah tahu," jelas Gavin.

"Hebat."

"Bos ditolak lagi."

"Aku tidak ditolak."

"Benar." Gavin mengangguk serius.

"Nah."

"Bos bahkan belum sempat mengajak makan."

Aiden memejamkan mata dan Gavin langsung menjauh. Ia tahu ekspresi itu adalah tanda bahwa sahabatnya sedang kesal, namun beberapa detik kemudian Aiden justru tersenyum.

"Kenapa senyum begitu?" Gavin langsung curiga.

"Aku punya ide," jawab Aiden dengan senyum kecil.

"Oh tidak." Gavin melebarkan matanya pada Aiden.

"Apa maksudmu 'oh tidak'?"

"Setiap Bos bilang punya ide, saya yang jadi korban."

"Besok ada kunjungan klien ke luar kota." Aiden berdiri dari kursinya.

"Terus?" Gavin semakin curiga.

"Aku butuh sekretaris ikut."

"Dan?"

"Aku pilih Kirana."

"Ya Tuhan." Gavin menatap langit-langit, pusing.

"Apa lagi?"

"Bos sedang mencari masalah."

Aiden hanya tersenyum. Masalahnya, untuk pertama kali dalam hidupnya, ada seorang wanita yang tidak terkesan oleh status, uang, maupun wajahnya dan entah kenapa, itu membuatnya semakin ingin mendekat.

.

.

.

Sementara di tempat lain, Rendra sedang duduk di sebuah kafe bersama seorang wanita cantik yang bukan istrinya. Pria itu tersenyum sambil menggenggam tangan wanita tersebut, sama sekali tidak menyadari bahwa kebohongan yang selama ini ia sembunyikan perlahan mulai mendekati titik terbongkar.

1
Dew666
🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!