Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Suasana di warung kayu itu mendadak mencekam bagi Juan. Kedua ibu-ibu yang baru datang, salah satunya adalah Bu RT yang terkenal bermulut tajam, langsung mengambil posisi duduk di meja panjang yang letaknya hanya terpaut beberapa jengkal dari tempat Juan berada.
Tanpa dosa, mereka mulai mengambil beberapa tempe goreng dan bakwan dari nampan, sambil terus berteriak memanggil nama pemilik warung dengan suara melengking.
"Ayu! Ke mana sih ini orangnya? Ayu! Ini gorengannya masih anget, tapi orangnya malah nggak ada," seru Bu RT dengan suara cemprengnya yang menusuk telinga.
"Tumben-tumbenan si Ayu ini nggak ada. Biasanya selalu di warung, kerjaannya cuma nunggu warung aja sambil dandan," sahut ibu satunya lagi dengan nada curiga.
Pandangan tajam Bu RT kemudian beralih pada Juan yang duduk kaku di pojok. "Eh Juan, kamu tahu Ayu pergi ke mana?"
Juan tersentak, jakunnya naik turun dengan cepat saat ia berusaha menelan ludah yang terasa kering. Ia menggelengkan kepala pelan, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.
"Tadi Teh Ayu keluar sebentar, katanya ada keperluan ke belakang. Entah pergi ke mana lagi, saya tidak tahu, Bu," jawabnya berdusta.
Juan berusaha tampak biasa saja, namun punggungnya sudah dibasahi keringat dingin yang mengucur deras. Ia memegang cangkir kopinya dengan tangan yang sedikit gemetar, berusaha menutupi kepanikan yang luar biasa.
Di bawah meja, ia bisa merasakan panas tubuh Teteh Ayu yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari tubuhnya. Di dalam otaknya, skenario terburuk mulai berputar seperti film horor.
Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika para ibu-ibu ini nekat melongok ke bawah meja, mungkin untuk mencari kucing atau menjatuhkan sesuatu dan menemukan Teteh Ayu sedang berlutut dalam kondisi daster tersingkap, memberikan servis pagi untuk timun super miliknya.
"Mampus gue... Kalau ketahuan, bisa-ibsa diarak keliling kampung kita," umpat Juan dalam hati.
Ia membayangkan sanksi cuci kampung yang memalukan, atau yang lebih buruk lagi, diusir secara tidak hormat dari desa itu. Nama baiknya yang sedang ia bangun perlahan akan hancur seketika.
Namun, di bawah sana, Teteh Ayu tampaknya justru menikmati sensasi bahaya tersebut. Alih-alih diam ketakutan, janda sintal itu justru sengaja menggoda Juan.
Ia membiarkan timun super Juan yang masih hangat dan basah tetap berada di dekat bibirnya. Dengan keberanian yang gila, ia sesekali memberikan jilatan-jilatan kecil yang nakal dan hisapan lembut pada ujung timun itu, seolah-olah suara ibu-ibu di atas sana hanyalah musik latar bagi kemesuman mereka.
"Astaga, ini kenapa malah terasa nikmat banget," gumam Juan di dalam hatinya, berperang antara moral dan gairah.
Akibatnya, raut wajah Juan berubah-ubah secara drastis di depan kedua ibu-ibu itu, antara menahan kenikmatan yang menyentak di bawah sana dan rasa takut yang luar biasa akan tertangkap basah.
Matanya sesekali terpejam sebentar saat lidah Teteh Ayu menyapu bagian sensitifnya, lalu segera terbuka lebar saat suara tawa ibu-ibu itu menggelegar.
"Sialan, ini Teh Ayu bener-bener nekad banget," batin Juan sambil mencengkeram pinggiran meja itu hingga berderit kecil.
Juan hanya bisa mengumpat berkali-kali di dalam hati melihat aksi nekat janda kembang itu yang seolah menantang maut. Hampir tiga puluh menit berlalu yang terasa seperti selamanya bagi Juan.
Para ibu-ibu itu akhirnya selesai dengan sarapan pagi mereka, setelah puas bergosip tentang harga cabai dan urusan ranjang tetangga lain. Sambil mengelap sisa minyak di bibir dengan ujung kain sarung, mereka berteriak lagi.
"Juan, nanti bilangin ke si Ayu ya, kami langsung ke ladang dulu. Utangnya dicatat dulu di buku, nanti siang atau sore kami balik lagi buat bayar semuanya!" seru mereka sambil beranjak pergi meninggalkan warung dengan langkah berat.
Begitu bayangan kedua ibu itu benar-benar menghilang di tikungan jalan setapak, Juan langsung mengembuskan napas panjang yang sangat berat.
Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, mengelus dadanya yang berdegup kencang seolah baru saja lolos dari eksekusi mati.
"Teh, keluar! Keluar sekarang!" perintah Juan dengan suara tertahan namun tegas, matanya masih waspada melirik ke jalanan.
Teteh Ayu perlahan merangkak keluar dari kolong meja yang pengap.
Namun, sebelum benar-benar muncul ke permukaan, ia masih sempat memberikan satu jilatan terakhir yang panjang dari pangkal hingga ujung timun super Juan, membuat pria itu berjengit kaget dan mendesah tertahan.
Dengan wajah yang merah padam dan sedikit berkeringat, Teteh Ayu duduk berhadapan dengan Juan, merapikan dasternya dan rambutnya yang berantakan.
Ia tersenyum sangat genit, matanya berkilat penuh kemenangan. Bibirnya yang basah tampak berkilat terkena cahaya pagi.
"Kamu tahu nggak, Juan? Hasrat Teteh malah makin memuncak pas ibu-ibu itu datang tadi. Rasanya campur aduk antara nikmat sama takut ketahuan... adrenalin itu bikin Teteh makin bergairah di bawah sana," bisiknya tanpa rasa bersalah sedikit pun, bahkan tangannya masih sempat mengelus paha Juan dari bawah meja.
Juan hanya bisa menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan pola pikir wanita di depannya ini.
"Teteh gila ya? Kalau tadi mereka lihat, kita nggak bakal berakhir baik, Teh. Bisa habis kita dihajar massa atau dipaksa kawin di depan balai desa," ujar Juan dengan nada memperingati.
Teteh Ayu hanya tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat rendah dan menggoda. Ia tidak peduli dengan peringatan Juan dan terus melemparkan tatapan-tatapan nakal seolah ingin melahap Juan sekali lagi tepat di atas meja warung itu.
Tak ingin terjebak lebih lama dalam situasi yang berisiko tinggi bagi jantungnya, Juan segera menghabiskan sisa kopinya dalam satu tegukan besar yang panas.
Ia bangkit dari duduknya, merapikan resleting celananya yang sempat terbuka, dan berpamitan.
"Sudah, Teh. Aku harus pergi sekarang, urusanku sudah telat. Heri dan Tarjo pasti sudah menunggu di persimpangan."
Namun, saat Juan hendak melangkah keluar, Teteh Ayu dengan cepat menarik pergelangan tangan Juan.
Ia menarik tubuh Juan mendekat hingga dada mereka bersentuhan, dan sekali lagi melumat bibir pemuda itu dengan ciuman yang singkat namun sangat dalam dan basah.
Teteh Ayu benar-benar sudah tergila-gila dengan pesona jantan dan daya tahan luar biasa yang terpancar dari diri Juan.
Sambil melepaskan tautan bibir mereka yang lengket, Teteh Ayu berbisik dengan nada yang sangat menjanjikan dan penuh gairah, "Jangan lupa ya, Juan... Teteh tunggu kamu pulang malam nanti. Teteh bakal siapkan servis yang lebih gila dari ini. Jangan buat Teteh kesepian lagi."
Juan hanya tertegun sejenak, menatap mata wanita yang penuh api nafsu itu sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan warung dengan perasaan yang masih berkecamuk dan aset-nya yang masih terasa berdenyut akibat permainan panas di kolong meja tadi.